Se connecterClarissa baru sadar ada yang berubah…bukan dari Leo tapi dari dirinya sendiri.Ia berdiri di depan jendela kamar, menatap halaman rumah yang sepi. Ponselnya di tangan, layar menyala. Sebuah nomor tidak di kenal muncul menghubunginya. Clarissa mengernyitkan kening, menatap lama nomor asing itu. Di dorong oleh rasa penasaran, akhirnya Clarissa pun memutuskan untuk menjawab panggilan dari nomor asing tersebut. Namun belum sempat ia mengangkatnya, layar ponsel meredup. Sinyal di ponselnya menghilang.Clarissa kembali mengerutkan keningnya."Wi-Fi mati?" gumamnya."Tidak."Suara itu datang dari belakang. Tenang. Rendah. Terlalu dekat.Clarissa menoleh. Leo berdiri di ambang pintu, tangan berada di dalam saku celana, wajahnya terlihat datar. Tatapan matanya jatuh pada ponsel yang berada di tangan Clarissa, lalu naik ke wajah cantik gadis itu. "Aku yang matikan akses nomor itu," katanya santai.Clarissa terdiam beberapa saat, kemudian ia bertanya penasaran. "Kamu kenal nomor asing yang
"Bagaimana, pah? Apakah sudah ada kabar tentang Raya? Perasaan mama kok gak enak, ya?" Merry melangkah mendekati suaminya. Wajahnya terlihat khawatir, karena anak angkatnya tidak ada kabar sampai detik ini juga. Bagaimana pun juga, Mery tidak tahu jika Raya adalah penyebab putrinya kecelakaan dan kehilangan ingatannya. Merry hanya tahu, jika Raya adalah gadis kecil yang menyelamatkan putrinya dulu, saat kebakaran. Ronald terlihat menghela nafasnya kasar, dia meraih secangkir kopi yang terlihat masih mengepulkan asapnya. "Belum, mah. Kita berdoa saja, semoga Raya baik-baik saja di sana," jawab Ronald, lalu menyesap kopi hitamnya perlahan. "Tapi, pah. Mama khawatir banget sama keadaan Raya. Mama takut Raya kenapa-kenapa," lirih Merry sembari memainkan jari jemarinya, berusaha untuk menghilangkan pikiran negatifnya tentang sang anak angkat. "Papa juga khawatir, mah. Tapi mau bagaimana lagi, anak buah papa belum bisa menemukan keberadaannya," kata Ronald seraya menatap istrinya. "Ja
Clarissa tidak benar-benar sadar bagaimana ia bisa kembali ke dalam kamar itu.Yang ia ingat hanya dada Leo yang keras, lengannya yang mengunci tubuhnya seperti borgol hidup, dan suara detak jantung laki-laki itu, terdengar keras, cepat, seperti seseorang yang baru saja berlari cepat. Pintu kamar itu di tutup. Di kunci, bukan sekali. Tapi dua kali."Jangan bergerak," suara Leo rendah, nyaris bergetar."Jangan berpikir. Jangan mengingat apa pun dulu." Lanjut laki-laki tampan nan dingin itu. Clarissa didudukkan di tepi ranjang. Leo berlutut di depannya, memegang wajahnya dengan kedua tangan.Jempolnya menekan pelipis Clarissa, seolah ingin menahan sesuatu agar tidak bocor keluar."Kepalamu masih sakit, baby?" tanyanya cepat.Clarissa mengangguk. Napasnya putus-putus."Ada… potongan," katanya terbata. "Aku dengar dia memanggilku… dengan nama itu lagi."Rahang Leo kembali mengeras. Matanya menatap gelap kedua bola mata wanita yang sedang berperang dengan masa lalunya. "Assa," gumam Leo
Leo menghantam tubuh Arsen ke dinding. Retakan terdengar. Tulang mungkin patah."Aku membangun ulang dirinya," kata Leo penuh amarah. "Aku menyelamatkannya ketika kau gagal melindunginya dulu. Bahkan, kau saja tidak bisa menemukan dia selama bertahun-tahun. Sungguh konyol!"Ucapan Leo tentu saja menusuk ke dalam dada Arsen. Selama bertahun-tahun, dia memang tidak bisa menemukan keberadaan Assanya, dan saat ia menemukan satu petunjuk, namun petunjuk itu kembali menghilang bak di telan bumi. Ia memang tidak bisa melindungi Assanya, bahkan ketika Assa kecelakaan dan mengalami hilang ingatan, Arsen sama sekali tidak mengetahuinya. Yang ia tahu hanyalah, Assa menghilang, tidak ada kabar, tidak ada berita. Arsen tetap tersenyum meski sudut bibirnya berdarah. Ia menatap Leo, tatapan matanya gelap dan penuh amarah. "Aku pasti bisa menemukan Assa jika seseorang tidak menyembunyikannya," kata Arsen dingin. "Bukan seseorang yang menyembunyikannya, itu semua karena kau yang terlalu bodoh! Bah
Suara itu datang lagi. Bukan teriakan.Bukan tembakan.Tapi tepukan tangan pelan yang bergema di halaman rumah.Clarissa terbangun dengan napas tersengal. Dadanya terasa sesak, seolah mimpi buruk baru saja menamparnya dari dalam."Assa…"Panggilan nama itu kembali hadir dalam mimpinya. Kepalanya berdenyut hebat. Ia memegangi pelipisnya, tubuhnya gemetar.Gambaran samar muncul, hujan deras, bau darah, tangan seseorang yang menggenggamnya erat."Assa, kamu sangat keras kepala sekali. Sudah aku katakan, jangan main hujan-hujanan, nanti kamu akan sakit.""Assa, jangan lari. Nanti kamu akan jatuh.""Jangan lihat ke belakang. Jangan, Assa! Kamu akan jatuh! "Clarissa menjerit kecil.Pintu kamar langsung terbuka dengan keras.Leo muncul, wajahnya berubah total. Tidak ada kelembutan. Tidak ada pengekangan. Yang tersisa hanya amarah dingin dan naluri pembunuh."Clarissa," panggilnya cepat.Ia langsung memeluk gadis itu, pelukannya terlalu erat, hampir menyakitinya. Tangannya merangkul kepala
Clarissa berdiri di depan jendela ketika pintu kamar kembali terbuka.Langkah kaki itu sangat ia kenal.Tidak berat. Tidak tergesa. Tapi penuh kuasa.Leo.Ia belum menoleh, namun tubuhnya langsung menegang. Seolah setiap sel di dalam dirinya telah menghafal kehadiran laki-laki itu. Bahkan tanpa suara."Kamu tidak mengunci pintu," suara Leo rendah, tenang, namun berbahaya.Clarissa menoleh perlahan. Tatapan mereka bertemu. Ada jeda singkat, cukup untuk membuat udara di antara mereka memanas."Aku tahu kamu akan kembali," jawab Clarissa jujur.Leo menutup pintu. Kali ini, ia menguncinya.Klik.Suara kecil itu terdengar jauh lebih keras dari seharusnya."Aku selalu kembali," katanya sambil berjalan mendekat. "Tapi, masalahnya… aku tidak suka melihatmu berdiri sendirian seperti itu."Clarissa menelan ludahnya kasar, keningnya mengernyit bingung. "Kenapa?""Karena dunia tidak pantas melihatmu," jawab Leo tanpa ragu. "Dan karena aku tidak suka ketika ada jarak antara kita." Lanjutnya lagi.







