LOGINAzalea Steffani Leandra adalah seniman muda berbakat yang menjalani hidup sederhana dan teratur hingga suatu malam kejadian yang tak terduga pun terjadi, tanpa sengaja dan tanoa diminta ia menjadi saksi pembunuhan di galeri tempatnya bekerja. Pelaku pembunuhan itu adalah Lucas Zander Maxime, bos mafia dingin dan berkuasa dari keluarga paling ditakuti, The Obsidian Crown. Dalam dunia Lucas, satu aturan tak pernah dilanggar: saksi harus dihilangkan. Namun, aturan itu runtuh ketika Lucas teringat permintaan terakhir ayahnya yang sekarat—melindungi seorang wanita bernama Azalea, tanpa alasan dan tanpa penjelasan, hanya peringatan bahwa jika Azalea mati, semuanya akan hancur. Maka alih-alih membunuhnya, Lucas memilih menyandera Azalea, mengawasinya dari dekat, dan diam-diam melindunginya. Keputusan ini sekaligus ia manfaatkan untuk menolak perjodohan yang telah diatur keluarganya dengan Seraphina Caldwell, pewaris keluarga mafia ternama The Crimson Veil. Kepada dunia mafia, Lucas menyatakan ia memilih wanita biasa daripada wanita berdarah mafia. Namun kebenaran tidaklah seperti itu, perlahan semuanya terungkap dan jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan. Jejak masa lalu, dokumen tersembunyi, dan nama yang dihapus dari sejarah keluarga Caldwell mengarah pada satu kenyataan mengejutkan: Azalea adalah pewaris sejati keluarga Seraphina Caldwell—putri yang selama ini dinyatakan hilang dan sengaja disembunyikan demi melindunginya dari dunia mafia. Lucas baru menyadari kebenaran itu setelah ayahnya meninggal, memahami bahwa perintah melindungi Azalea adalah amanat terakhir yang krusial. Seiring waktu, tugas perlindungan berubah menjadi ikatan terlarang yang dipenuhi hasrat, ketakutan, dan pengkhianatan. Azalea jatuh hati pada pria yang seharusnya ia takuti—penyelamat sekaligus ancaman. Sementara itu, The Crimson Veil tak akan menerima penolakan perjodohan dan siap menumpahkan darah untuk merebut kembali pewaris mereka. Di tengah kekerasan dan rahasia kelam, Azalea harus memilih: melarikan diri dari takdir, atau menerima kebenaran tentang dirinya dan pria berbahaya yang berdiri di sisinya.
View MoreAzalea Steffani Leandra menahan napasnya. Ia meringkuk di balik bingkai kanvas kosong yang menjulang tinggi—kanvas itu kini menjadi satu-satunya perlindungan yang ia miliki. Tubuhnya kaku, seolah menyatu dengan lantai dingin galeri.
Di hadapannya, seorang pria berdiri tenang. Jas hitamnya rapi. Tidak ada noda darah di sana, seakan kekerasan yang baru saja terjadi bukan urusannya. Di lantai, seorang pria tergeletak tak bergerak. Darah mengalir perlahan, merusak warna putih pada ubin galeri, menggantikan aroma cat minyak dengan bau amis yang membuat perut Azalea mual. Tangannya menekan mulut, menahan napas yang nyaris pecah. Jangan bergerak. Jangan bersuara. Keheningan terasa berat—menekan dada, mengunci tenggorokan. “…Keluar.” Satu kata itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu rendah tapi cukup untuk membuat orang yang mendengarnya ngeri. Jantungnya berdetak keras, tidak seperti biasanya. Ia tidak bergerak. “Aku tahu kamu di sana.” Nada suaranya tetap sama—tenang, dingin, tanpa emosi. Langkah kaki terdengar pelan, terukur, mendekat. “Di balik kanvas besar itu,” lanjutnya. “Bau manusia berbeda dengan bau darah.” Azalea menelan ludah. Tangannya mencengkeram bingkai kayu hingga kukunya memutih. Tidak ada tempat lari. Tidak ada jalan keluar. “A-aku…” suaranya pecah. “Aku tidak melihat apa-apa. Aku bersumpah.” Langkah itu berhenti tepat di hadapan kanvas. “Kalimat itu,” ucap pria itu pelan, “biasanya diucapkan orang yang melihat terlalu banyak.” Kanvas ditarik dengan satu gerakan kasar. Azalea tersentak. Ia menahan jeritan yang hampir lolos, tubuhnya refleks mundur hingga punggungnya menabrak dinding. “Tolong,” katanya cepat, suaranya bergetar. “Aku tidak akan bicara.” Tatapan pria itu jatuh padanya. Wajahnya tampan, rapi, nyaris tak bercela. Namun matanya kosong—gelap dan tenang, seperti permukaan laut sebelum badai. Tidak ada kemarahan. Tidak ada keraguan. Hanya penilaian. “Namamu.” Bukan pertanyaan melainkan perintah. “A-Azalea,” jawabnya lirih. “Azalea Steffani Leandra.” Untuk sesaat, pria itu terdiam. Tatapannya tidak berubah, namun ada jeda—terlalu singkat untuk disebut reaksi, terlalu lama untuk diabaikan. Ia mengamatinya dari ujung rambut hingga kaki, seperti seseorang yang sedang menimbang sebuah keputusan sederhana. “Kamu bekerja di sini,” katanya. Azalea mengangguk cepat. “Iya. Aku asisten kurator. Aku lembur.” “Kesalahan,” ucapnya singkat. Air mata mulai menggenang di mata Azalea. “Aku hanya ingin pulang. Tolong biarkan aku pulang.” Pria itu melangkah mendekat satu langkah. Azalea refleks menahan napas. “Lihat aku.” Nada itu tidak keras, tapi mustahil ditolak. Dengan ragu, Azalea mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. “Kamu tidak berteriak,” katanya. “Tidak pingsan.” “Aku takut,” Azalea berbisik. “Tapi aku tidak bodoh.” Tidak ada respons. Tidak ada senyum. Tidak ada perubahan ekspresi. Hanya keheningan yang membuat dadanya semakin sesak. “Apakah…” Azalea menelan ludah. “Apakah kamu akan membunuhku?” Pria itu menatapnya lama. “Jika aku mau,” katanya akhirnya, “kamu sudah mati.” Kalimat itu diucapkan tanpa nada ancaman. Tanpa emosi. Seolah itu hanya fakta sederhana. Azalea memejamkan mata sejenak. “Kalau begitu… kenapa aku masih hidup?” Ada jeda. Pria itu mendekat hingga jarak mereka nyaris tak ada. Suaranya turun, dingin dan rendah. “Karena kamu harus tetap hidup.” Azalea membuka mata dengan cepat. “Harus?” “Kamu melihat sesuatu,” lanjutnya. “Dan aku tidak membiarkan apa yang kamu lihat tersebar.” “Ini tidak adil,” katanya lirih. “Aku tidak meminta semua ini.” “Tak ada yang meminta,” jawabnya. “Itu sebabnya kamu berada di sini.” Ia berdiri kembali dan mengulurkan tangan. “Bangun.” Azalea menatap tangan itu ragu. “Aku… bebas?” Jawabannya datang tanpa ragu. “Tidak.” Tangannya gemetar saat akhirnya menerima uluran itu. “Lalu… apa aku sekarang?” Pria itu menariknya berdiri, lalu menunduk sedikit hingga wajah mereka sejajar. “Kamu,” katanya pelan, “akan berada di bawah pengawasanku.” Ia melepaskan tangan Azalea dan berbalik. “Dan selama itu,” lanjutnya tanpa menoleh, “kamu hidup.”“Kenapa kau datang sendirian kali ini?”Tidak perlu menoleh, Lucas sudah tahu siapa pemilik bunyi sepatu itu, siapa lagi kalau bukan Seraphina, calon istri yang telah ditentukan oleh ibunya tanpa meminta persetujuan nya. Seraphina berhenti di tengah langkahnya.“Hanya membawa makan malam,” jawabnya ringan. “Apakah itu kejahatan sekarang?”Ia berdiri di aula utama markas The Obsidian Crown, tempat yang selalu terasa seperti ruang sidang tak terlihat. Di tangannya ada sebuah kotak makan elegan—terlalu sederhana untuk seseorang dengan nama sebesar Seraphina.Ia tersenyum lembut. Senyum yang selama ini selalu berhasil membuat para tetua percaya bahwa ia hanyalah wanita yang patuh pada takdir keluarga.Lucas duduk di kursinya di ujung meja panjang. Satu tangan bertumpu di sandaran, sikapnya santai namun matanya tajam seperti bilah pisau.“Biasanya ibuku yang mengirimmu,” katanya akhirnya. “Atau setidaknya mengawasi.”Nada suaranya tidak berubah, tetap datar. Seraphina menutup jarak bebe
“Ulangi,” katanya pelan. Pria di hadapannya menelan ludah. “Lucas Zander Maxime terlihat di sebuah galeri seni sore ini. Tanpa pengawal. Terjadi insiden kecil. Identitasnya… terungkap.” Seraphina tidak bereaksi. Hanya satu alisnya terangkat, hampir tak terlihat. “Dan wanita itu?” tanyanya. “Masih di sana. Tidak terluka.” Keheningan jatuh seperti debu. Jadi benar. Ia berjalan perlahan ke meja marmer, menekan layar transparan dengan ujung jarinya. Foto galeri muncul—bangunan tua, jendela besar, papan Open yang terlalu polos untuk dunia mereka. “Wanita biasa,” gumam Seraphina. “Itulah yang ia katakan pada semua orang.” Ia menoleh. “Kau boleh pergi.” Begitu pintu tertutup, senyumnya muncul—bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang baru memastikan bidak terakhir sudah berada di papan. Lucas akhirnya melanggar aturannya sendiri. Dan itu berarti satu hal: ia akhirnya memiliki celah. Seraphina duduk, menyilangkan kaki dengan anggun. Ingatannya melayang
Markas The Obsidian Crown berdiri seperti biasa—dingin, megah, dan sunyi dengan cara yang tidak pernah benar-benar tenang. “Bos.” Suara itu datang dari samping. Dante. Tangan kanan yang telah menemaninya bertahun-tahun. Pria yang melihat Lucas naik dari pewaris dingin menjadi pemimpin paling ditakuti di jaringan mafia Eropa. Dante tidak bertanya. Ia hanya mengamati—dan ia tahu. “Kau terlambat,” kata Dante pelan. “Aku tahu,” jawab Lucas singkat. Biasanya, satu kata itu cukup. Biasanya, Lucas akan langsung menuju ruang strategi, duduk di kursinya, dan dunia kembali berputar sesuai perintahnya. Namun hari ini, ia berhenti di tengah lorong. “Apakah ada laporan?” tanyanya. Dante mengangguk. “Ada. Dan… aku pikir kau ingin mendengarnya sekarang.” Nada itu membuat Lucas menoleh. Ada sesuatu di mata Dante—bukan panik, bukan ragu, melainkan kewaspadaan yang jarang muncul tanpa alasan kuat. Mereka masuk ke ruang kecil yang hanya digunakan untuk laporan sensitif. Tidak ada kamera. Tida
Dua minggu.Waktu yang tidak lama, namun cukup untuk mengubah cara seseorang bernapas.Lucas Zander Maxime menghitungnya tanpa sadar. Empat belas hari sejak terakhir kali ia melihat Azalea—bukan lewat laporan, bukan lewat bayangan samar di kepalanya, tetapi benar-benar melihatnya berdiri di hadapannya. Empat belas hari sejak rumahnya kembali terasa seperti bangunan kosong, meski penuh orang bersenjata.Hari itu berbeda.Tidak ada jadwal penyerangan. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada darah yang harus dibersihkan dari lantai marmer.Untuk pertama kalinya setelah lama, Lucas memilih keluar dari persembunyian.Ia tidak membawa pasukan. Tidak ada Dante. Tidak ada pengawal yang mengikuti dari kejauhan. Ia mengenakan jaket sederhana, celana gelap, dan topi hitam dengan logo yang asing—bukan topi yang biasa ia pakai.Ia ingin menjadi orang lain.Atau setidaknya, terlihat seperti orang biasa.Galeri itu masih sama.Bangunan tua dengan jendela besar dan pintu kayu yang sedikit berderit saat d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.