Bayangan di Balik The Obsidian Crown

Bayangan di Balik The Obsidian Crown

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-24
Oleh:  Audreynatasha20Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
36Bab
286Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Azalea Steffani Leandra adalah seniman muda berbakat yang menjalani hidup sederhana dan teratur hingga suatu malam kejadian yang tak terduga pun terjadi, tanpa sengaja dan tanoa diminta ia menjadi saksi pembunuhan di galeri tempatnya bekerja. Pelaku pembunuhan itu adalah Lucas Zander Maxime, bos mafia dingin dan berkuasa dari keluarga paling ditakuti, The Obsidian Crown. Dalam dunia Lucas, satu aturan tak pernah dilanggar: saksi harus dihilangkan. Namun, aturan itu runtuh ketika Lucas teringat permintaan terakhir ayahnya yang sekarat—melindungi seorang wanita bernama Azalea, tanpa alasan dan tanpa penjelasan, hanya peringatan bahwa jika Azalea mati, semuanya akan hancur. Maka alih-alih membunuhnya, Lucas memilih menyandera Azalea, mengawasinya dari dekat, dan diam-diam melindunginya. Keputusan ini sekaligus ia manfaatkan untuk menolak perjodohan yang telah diatur keluarganya dengan Seraphina Caldwell, pewaris keluarga mafia ternama The Crimson Veil. Kepada dunia mafia, Lucas menyatakan ia memilih wanita biasa daripada wanita berdarah mafia. Namun kebenaran tidaklah seperti itu, perlahan semuanya terungkap dan jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan. Jejak masa lalu, dokumen tersembunyi, dan nama yang dihapus dari sejarah keluarga Caldwell mengarah pada satu kenyataan mengejutkan: Azalea adalah pewaris sejati keluarga Seraphina Caldwell—putri yang selama ini dinyatakan hilang dan sengaja disembunyikan demi melindunginya dari dunia mafia. Lucas baru menyadari kebenaran itu setelah ayahnya meninggal, memahami bahwa perintah melindungi Azalea adalah amanat terakhir yang krusial. Seiring waktu, tugas perlindungan berubah menjadi ikatan terlarang yang dipenuhi hasrat, ketakutan, dan pengkhianatan. Azalea jatuh hati pada pria yang seharusnya ia takuti—penyelamat sekaligus ancaman. Sementara itu, The Crimson Veil tak akan menerima penolakan perjodohan dan siap menumpahkan darah untuk merebut kembali pewaris mereka. Di tengah kekerasan dan rahasia kelam, Azalea harus memilih: melarikan diri dari takdir, atau menerima kebenaran tentang dirinya dan pria berbahaya yang berdiri di sisinya.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1: Aroma Darah dan Cat Minyak

“Keluar.”

Suara itu rendah, tenang, tapi mampu membuat siapa saja di ruang itu keringat dingin.

Azalea Steffani Leandra menahan napasnya, tubuhnya meringkuk di balik bingkai kanvas kosong yang menjulang tinggi. Tidak ada lagi tempat lain untuk bersembunyi selain kanvas itu.

Jangan bergerak.

Jangan bersuara.

“Siapa pria itu?” ucapnya dalam hati, masih menahan agar ia tidak bersuara.

Jantungnya berdetak terlalu keras. Matanya sedang melihat seorang pria tergeletak tak bernyawa. Ubin yang tadinya berwarna putih bersih berganti jadi warna merah pekat. Dan udara di ruang galeri berubah menjadi bau amis.

Azalea menekan mulutnya dengan kedua tangan, menahan rasa mual yang naik ke tenggorokannya. Galeri yang biasanya hidup dengan suara pengunjung dan diskusi seni kini terasa seperti makam besar yang sunyi.

“Aku tahu kamu di sana.”

Suara itu terdengar lagi.

Tetap tenang. Tetap dingin.

Langkah kaki terdengar pelan di lantai galeri, tapi setiap langkahnya membuat jantungnya berdetak semakin kencang, kacau tidak beraturan

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan napasnya.

Mungkin… mungkin pria itu tidak benar-benar tahu.

Mungkin dia hanya menebak.

Namun langkah itu terus mendekat.

“Di balik kanvas besar itu,” lanjut pria itu pelan. “Bau manusia berbeda dengan bau darah.”

Azalea menelan ludah. Tangannya mencengkeram bingkai kayu kanvas hingga buku-buku jarinya memutih.

Tidak ada tempat lari.

Tidak ada pintu yang cukup dekat.

Semua jalan keluar berada di sisi galeri yang sama dengan pria itu.

“A-aku…” suaranya pecah sebelum ia sempat menahannya. “Aku tidak melihat apa-apa. Aku bersumpah.”

Langkah itu berhenti tepat di depan kanvas.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

“Kalimat itu,” ucap pria itu pelan, “biasanya diucapkan oleh orang yang melihat terlalu banyak.”

Kanvas itu tiba-tiba ditarik.

Gerakannya cepat. Kasar.

Azalea tersentak mundur. Jeritan kecil hampir lolos dari bibirnya, namun ia berhasil menahannya. Punggungnya menghantam dinding dingin di belakangnya.

Ia mendongak.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat pria itu.

Wajahnya tampan.

Terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja melakukan sesuatu yang begitu kejam.

Rahangnya tegas, garis wajahnya tajam, rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang. Tidak ada satu pun ekspresi di sana yang menunjukkan emosi.

Namun matanya—

Matanya gelap.

Tenang.

Seperti permukaan laut yang terlihat damai… tepat sebelum badai datang.

Azalea baru menyadari betapa kecilnya dirinya saat berdiri di hadapan pria itu.

“Tolong,” kata Azalea cepat, suaranya bergetar. “Aku tidak akan bicara. Aku tidak akan mengatakan apa pun pada siapa pun.”

Pria itu menatapnya tanpa berkedip.

“Namamu.”

Itu bukan pertanyaan.

Itu perintah.

“A-Azalea,” jawabnya lirih. “Azalea Steffani Leandra.”

Untuk sesaat pria itu tidak bergerak.

Tatapannya tetap sama, namun ada jeda kecil yang sulit dijelaskan. Terlalu singkat untuk disebut reaksi. Terlalu lama untuk dianggap kebetulan.

Ia mengamatinya dari ujung rambut hingga kaki.

Seolah sedang menilai sesuatu.

“Kamu bekerja di sini,” katanya akhirnya.

Azalea mengangguk cepat. “Iya. Aku asisten kurator. Aku lembur untuk menyiapkan katalog pameran.”

“Kesalahan.”

Satu kata.

Dingin dan mutlak.

Air mata mulai menggenang di mata Azalea.

“Aku hanya ingin pulang,” katanya lirih. “Aku bahkan tidak tahu siapa pria itu.”

Ia menunjuk dengan gemetar ke arah tubuh di lantai.

“Dan aku tidak tahu siapa kamu.”

Untuk pertama kalinya pria itu menoleh sekilas ke arah tubuh yang tergeletak.

Tatapannya singkat. Hampir seperti seseorang yang hanya memeriksa benda yang sudah tidak penting lagi.

“Aku tahu,” katanya.

Kalimat itu membuat Azalea semakin bingung.

“Lihat aku.”

Nada itu tidak keras.

Namun mustahil ditolak.

Dengan ragu, Azalea mengangkat wajahnya.

Mata mereka bertemu.

Ia berharap melihat kemarahan. Atau kebencian. Atau sesuatu yang bisa ia pahami.

Namun yang ia temukan hanya ketenangan yang mengerikan.

“Kamu tidak berteriak,” katanya. “Tidak pingsan.”

“Aku takut,” Azalea berbisik. “Tapi aku tidak bodoh.”

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di mata pria itu.

Bukan emosi.

Lebih seperti… ketertarikan singkat.

Namun itu hilang begitu cepat hingga Azalea hampir yakin ia hanya membayangkannya.

Ia menyeka air mata dengan punggung tangan.

“Apakah…” Azalea menelan ludah. “Apakah kamu akan membunuhku?”

Pria itu menatapnya lama.

Sangat lama hingga Azalea bisa mendengar detak jantungnya sendiri menggema di telinganya.

“Jika aku mau,” katanya akhirnya, “kamu sudah mati.”

Kalimat itu diucapkan tanpa ancaman.

Tanpa emosi.

Seolah itu hanya fakta sederhana.

Azalea memejamkan mata sejenak.

Kalimat itu justru membuat dadanya semakin sesak.

“Kalau begitu… kenapa aku masih hidup?”

Ada jeda lagi.

Pria itu melangkah mendekat hingga jarak mereka hampir tak ada. Azalea bisa mencium aroma samar parfum mahal yang bercampur dengan udara dingin galeri.

Suaranya turun—lebih rendah.

Lebih dekat.

“Karena kamu harus tetap hidup.”

Azalea membuka mata dengan cepat.

“Harus?”

“Kamu melihat sesuatu,” lanjutnya. “Dan aku tidak membiarkan apa yang kamu lihat tersebar.”

Azalea menggeleng pelan. “Aku tidak akan mengatakan apa pun. Aku bersumpah.”

“Semua orang mengatakan itu,” jawabnya tenang.

“Dan sebagian besar dari mereka berbohong.”

“Ini tidak adil,” katanya lirih. “Aku tidak meminta semua ini.”

“Tak ada yang meminta,” jawabnya. “Itu sebabnya kamu berada di sini.”

Pria itu berdiri tegak kembali.

Lalu mengulurkan tangan.

“Bangun.”

Azalea menatap tangan itu seolah itu adalah teka-teki.

Tangan itu bersih.

Tenang.

Tidak terlihat seperti tangan seseorang yang baru saja menghabisi nyawa orang lain.

Namun di lantai, kenyataan mengatakan hal yang berbeda.

“Aku… bebas?” tanyanya pelan.

Jawaban pria itu datang tanpa ragu.

“Tidak.”

Jari-jari Azalea gemetar saat akhirnya menerima uluran tangan itu.

Pria itu menariknya berdiri dengan mudah.

Azalea hampir kehilangan keseimbangan, namun pria itu menahannya sejenak sebelum melepaskan tangannya.

Ia baru sadar betapa tinggi pria itu dibanding dirinya.

“Lalu…” Azalea berbisik. “Apa aku sekarang?”

Pria itu menunduk sedikit hingga wajah mereka sejajar.

Tatapannya kembali dingin.

“Kamu,” katanya pelan, “akan berada di bawah pengawasanku.”

Ia melepaskan tangan Azalea dan berbalik berjalan menjauh.

Langkahnya tenang.

Seolah tidak ada yang terjadi malam ini.

Di lantai, tubuh pria yang terbunuh masih tergeletak.

Darahnya masih mengalir.

Namun pria itu tidak melihat ke sana lagi.

Ia berhenti di tengah galeri dan berkata tanpa menoleh—

“Dan selama itu…”

Ia sedikit memiringkan kepala.

“…kamu hidup.”

Azalea berdiri kaku di tempatnya, jantungnya masih berdetak kacau.

Beberapa menit lalu hidupnya masih normal—ia hanya seorang asisten kurator yang lembur menyiapkan katalog seni.

Sekarang—

Ia menjadi saksi pembunuhan.

Dan lebih buruk lagi—

Ia berada di bawah pengawasan pria yang melakukannya.

Ia tidak tahu siapa pria itu.

Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Namun satu hal menjadi jelas dalam benaknya.

Hidupnya baru saja berubah—selamanya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
36 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status