MasukWarning bacaan dewasa 21+ bergenre mafia dark romance Di balik gemerlap dunia entertainment dan mimpi jutaan wanita yang mendambakan kehidupan sempurna seperti seorang Starla Casidy, sang bintang sendiri justru sangat menderita. Suami sekaligus managernya, Joe Leopard selain manipulatif dan temperamental, tega mengumpankan Starla kepada gembong mafia keji demi mendapatkan keuntungan fantastis. "Hentikan! Jangan menyentuhku dengan kurang ajar, Tuan!" Starla menggeliat melawan di bawah tubuh berotot kekar itu dengan mata tertutup kain hitam. "Malam ini sang bintang jatuh di pelukanku, jangan harap kau bisa lolos, Starla! Menyerahlah dan mendesahlah untukku ... kau cepat sekali basah, hmm!" Jemari Brocklyn Hanson bermain di bagian lembut wanita itu dan ini baru permulaan dari segala kegilaannya. Akankah rangkaian mimpi buruk kehidupan Starla berakhir atau dia justru jatuh ke neraka terdalam bersama sang devil yang tak akan pernah melepaskannya? Cover: Ryu_Desain IG: Agneslovely2014
Lihat lebih banyak"Selamat atas kesuksesan konsermu, Starla!" seru fans berat artis multi talenta Starla Casidy sambil menyerahkan buket bunga mawar yang cantik ke idolanya di backstage.
"Ohh ... terima kasih. Bunganya indah sekali!" Starla menghirup aroma mawar segar yang harum itu lalu tersenyum untuk berpose bersama fans. Setelah sesi jumpa fans seusai konser Starla langsung digelandang dalam kawalan ketat para bodyguard profesional ke sebuah mobil mini van mewah. Wajahnya terlihat lelah karena sebuah konser yang dia jalani tadi menguras stamina begitu hebat. "Malam ini belum berakhir, Darling!" ucap pria bersetelan jaket kulit hitam di kursi sebelahnya. Starla tertawa kering lalu bertanya, "Apa masih ada pekerjaan lain untukku, Joe? Rasanya aku nyaris pingsan karena kelelahan!" "Hahaha. Jangan dulu, Starla. Ini sangat penting bagiku, kau harus melakukan tugas kecil dariku dengan sempurna. Jangan menolaknya!" tegas Joe Leopard, suami sekaligus manager artis Starla Casidy. Alis Starla yang melengkung bak bulan sabit berkerut tajam. Dia sudah hapal dengan temperamen panas suaminya yang tak suka dibantah. Tak jarang tangan pria itu mendarat di wajah cantiknya bila ditentang. "Baiklah, katakan maumu apa, Joe?!" tukas Carla dengan perasaan enggan. Dia menatap suaminya curiga. "Aku butuh kau untuk tidur dengan Brocklyn Hanson di mansionnya malam ini, Starla. Hanya semalam saja lalu kau bisa libur beberapa hari untuk memulihkan diri pasca konser!" ujar Joe ringan dengan seringai miring kurang ajar. Starla tertawa kering seakan-akan tak percaya suaminya menjualnya ke pria yang tidak dia kenal dengan begitu mudahnya. "Kau pasti sudah gila, Joe. Ini hanya bercanda 'kan?" balasnya penuh harap. "Hey, kata-kata ini serius. Kau sedang dalam perjalanan ke rumah Brock. Dia telah sepakat memberiku jatah Angel Dust untuk kupasarkan sendiri di kalangan selebriti top negeri ini!" jawab Joe Leopard. Tatapan matanya mengunci wajah Starla. "Ohh Gosh, kau menjualku demi menjadi pemadat narkoba, Joe. Damn it! Fuck NO!" tolak Starla. Dia lalu mengetok-ngetok atap mobil dengan kepalan tangannya untuk memberi kode agar mobil menepi dan berhenti. Joe berseru kasar ke sopir mereka, "Jangan coba-coba hentikan mobil ini, Pablo!" "Aku tak mau kau bawa ke mansion sialan itu, Joe. Apa kau lupa bahwa aku ini istrimu? Bintang terkenal Starla Casidy?!" raung wanita itu putus asa dengan suara serak karena air mata dan kelelahan pasca mega konser. Tangan Joe menangkap dagu Starla dengan kasar seraya menjawab dengan seringai keji, "Justru karena kau punya harga yang tinggi, maka Brock mau memberiku jatah barang haram mahal itu, Bitch!" "Jangan ... kumohon, Joe. Kau bisa ambil uang hasil penjualan tiket konser hari ini, sepuluh juta dolar hanya untukmu. Tapi, tolong lepaskan aku!" Starla menangis tersedu-sedu mengiba di hadapan suaminya. "Cerewet! Turuti perkataanku, Starla. Tak ada perdebatan lagi!" putus Joe Leopard seraya menghempaskan wajah Starla dari cengkeramannya. Sepanjang sisa perjalanan menuju luar kota Los Angeles itu, Starla hanya bisa menangis sendirian sambil memandangi kegelapan malam. Detak jantungnya tak menentu menantikan mobil itu sampai di tujuan. 'Ini sangat jauh dari kota, aku belum pernah ke mari!' batin Starla gundah gulana. Perlahan mobil membelok ke sebuah jalan menyerupai terowongan dengan ujung bermuara ke komplek seperti sebuah pemukiman penduduk yang didominasi bangunan town house tiga lantai berdinding batu alam. Ada satu bangunan mencolok yang berbeda dari lainnya, lebih megah dan bermandikan cahaya lampu. Pagar kelilingnya tinggi berujung runcing bercat hitam mengkilat menyerupai tombak prajurit Romawi. "Kita sudah sampai, Starla. Bersikaplah baik, Girl!" ujar Joe Leopard disertai dengan dengkusan sinis. Gaun hitam tanpa lengan yang dikenakan Starla membuatny bergidik ketika turun dari mobil. Angin malam menusuk tulang di awal musim dingin itu. Salju memang jarang turun di Los Angeles karena iklim daerah itu mediteranian. "Ikut aku dan jangan banyak bicara!" Joe mencengkeram pergelangan tangan Starla dan seolah-olah menyeret istrinya memasuki mansion megah yang berpencahayaan remang-remang di dalam. Kepala pelayan mansion menyambut mereka dan berkata, "Selamat malam. Apa keperluan Anda sekalian bertamu ke mari?" "Selamat malam, Sir. Majikanmu sudah ada janji denganku sebelumnya. Namaku Joe Leopard dan ini Starla. Dia akan menemani Mister Brocklyn Hanson!" ujar Joe tanpa malu. Tatapan Arthur Wellington berkilat menilai penampilan Starla di balik kacamata bulan separoh yang bertengger di hidung bengkoknya. "Baiklah, Nona Starla tolong ikuti saya ke kamar, Master Hanson!" "Sa—saya ... tidak!" Starla ingin menolak, tetapi Joe menatap tajam istrinya dengan penuh ancaman. Dia bisa memukuli Starla hingga nyaris mati bila mengamuk. Air mata menyekat tenggorokan Starla. Dia tak punya pilihan lain, bahkan harga dirinya pun tidak ada gunanya. Dengan langkah berat, Starla menyeret langkahnya di belakang punggung kepala pelayan tua itu. "Tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Nanti kamu tersesat!" pesan Arthur sebelum mengetok pintu kayu Mahoni di hadapannya yang tertutup rapat. Starla ditinggalkan di lorong remang-remang itu sendirian. Dia bergidik ketakutan, bukan karena takut hantu melainkan dia mencemaskan nasibnya setelah ini. Detik demi detik begitu menegangkan baginya. Pintu di hadapannya masih saja tertutup rapat. "Ceklek." Daun pintu berayun terbuka lalu Arthur keluar dari ruangan itu. "Ikuti saya, Nona Starla!" ucap pria tua tersebut lalu melangkah lagi menyusuri lorong panjang itu. Mereka berhenti di sebuah kamar lalu Arthur membukanya. "Pelayan akan segera ke mari membantu Anda bersiap menemui Master Brocklyn Hanson!" ujarnya seraya mempersilakan Starla masuk. Setelah beberapa menit sendirian di kamar tidur asing itu, Starla ditemui dua pelayan wanita berusia remaja. "Nona, mari kami temani mandi!" ucap salah satu pelayan. Starla menurut saja dimandikan di bathtub berisi air mandi berbusa wangi semerbak. Rambutnya dikeringkan dengan hair dryer lalu dibantu mengenakan gaun tidur tipis yang nyaris transparan berwarna putih. "Mari, Nona. Tunggu tuan di tempat tidur saja!" ucap pelayan lalu dia menutup mata Starla dengan kain warna hitam. "Tung—tunggu! Kenapa mataku harus ditutup?" protes Starla. Dia tak mau menjadi wanita yang tidak berdaya di hadapan pria asing. "Ini perintah tuan kami, tolong jangan menolak!" bujuk pelayan itu lalu mengikat tali simpul kain penutup mata untuk Starla. Setelah itu hanya terdengar suara pintu ditutup rapat yang menyisakan keheningan mencekam. Starla seperti mampu mendengar detak jantungnya sendiri. Dia panik dan ketakutan berada di tempat yang tak diinginkannya. "Ceklek." "BLAM!" Suara pintu dibuka lalu dibanting hingga menutup rapat membuat Starla melonjak kecil di tepi ranjang. Dia menahan napas ketakutan. Dalam benaknya dia menebak-nebak orang yang memasuki kamar itu adalah Brockyln Hanson, pria yang belum pernah dikenalnya dan akan menidurinya."Tunggu!" seru Starla sebelum Brocklyn berlaku kurang ajar dan semena-mena seperti biasanya."Yes, Darling. Ada apa?" Sebersit senyuman mengejek terukir di bibir tebal pria mafia itu.Starla membulatkan tekadnya, dia harus setidaknya keluar dari mansion milik Brocklyn Hanson hidup-hidup dan melapor ke polisi atas penculikan dirinya. "Tentang kesepakatan kita tadi ... kuharap kau tidak akan melanggarnya. Setelah ini izinkan saya menghubungi managerku, Fanny!" ujar Starla, menyembunyikan ketakutannya."Alright, hanya itu? Kalau sudah tak ada yang ingin kau katakan, biarkan aku menyelesaikan apa yang telah kita mulai malam ini, Darling!" balas Brocklyn seolah-olah permintaan Starla bukan hal penting baginya.Wanita berambut panjang hitam legam bergelombang itu memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Brocklyn kepadanya. Kecupan-kecupan basah nan lapar bagaikan menelan Starla bulat-bulat. Brocklyn tak melewatkan seinchi pun kulit mulus Starla."Ukkh ... mmhh!" Starla mengg
"Kumohon berhenti!" rengek Starla dengan bokong memerah dan kebas karena dipukuli telapak tangan lebar Brocklyn."Berjanjilah, jangan melawanku lagi dan jaga lidahmu!" tuntut Brocklyn dengan nada dominan seperti biasanya.Starla mengangguk-anggukkan kepalanya, dia membiarkan pria mafia kejam itu memeluknya di dalam air. Rambut panjang hitam Starla dibelai penuh kelembutan oleh tangan yang sama dengan yang membuat bokongnya kesakitan saat ini."Aku akan merawatmu setelah ini, tenang saja!" ucap Brocklyn ringan tanpa merasa bersalah. Sementara Starla merasa muak karena dijadikan boneka yang dimainkan sekehendak hati Brocklyn. 'Apa maunya? Menyakitiku lalu merawatku. Sebenarnya apa dia punya gangguan jiwa? Aku harus kabur dari tempat terkutuk ini sebelum ikut menjadi gila!' gerutunya dalam hati.Tangan nakal Brocklyn menyusuri punggung Starla hingga berhenti di bokong wanita itu. "Apa kau sakit?" tanyanya."Hmm ... menurutmu? Setelah selusin pukulan keras di bokongku, apa aku akan meras
"Huhh ... pria itu membuatku seperti Rapunzel yang disekap di menara tinggi. Bagaimana aku bisa kabur dari sini tanpa risiko mematahkan kakiku sendiri?!" gerutu Starla disertai helaan napas dramatis. Dia sudah bosan terkurung di kamar tidur tanpa ada kesempatan kabur sama sekali.Starla mulai berpikir serius tentang cara dia bisa meninggalkan mansion mafia kejam itu. Banyak yang mengganggu benaknya, termasuk salah satunya, Joe Leopard yang keenakan di luar sana menggunakan fasilitas miliknya padahal pria brengsek itu telah menjualnya lengkap beserta status pernikahan mereka."Ceklek!" Bunyi anak kunci diputar membuat Starla yang duduk bersandar di ranjang melayangkan pandangan penuh kewaspadaan ke arah pintu.'Ahh ... aku sampai lupa waktu karena kebanyakan melamun. Ini sudah petang, pantas saja pria mafia itu mendatangiku. Jangan bilang dia akan memaksaku berbuat yang aneh-aneh lagi!' cicit Starla dalam hatinya.Brocklyn melangkah perlahan dengan kesan dominan penguasa yang terasa be
"Okay, yang harus dilakukan sekarang hanya makan menu bernutrisi dan cukup istirahat, Nyonya!" ujar Dokter Jake Paltrow sembari membereskan peralatan medisnya ke tas dokter.Starla hanya tersenyum tipis, dia ingin pulang ke rumahnya bukan bersantai dan menyamankan diri di mansion mafia mesum itu. Setelah semalam dia dipaksa terus membuka pahanya lebar-lebar, pagi ini masih disergap di bawah shower. Ada amarah menggelegak yang dia tahan di dalam dadanya. 'Sialan, Joe. Kau menjadikanku alat barter untuk lima kilo narkotika, di mana otakmu?!' rutuk Starla. Dia membatin saja tanpa bersuara seraya berbaring miring membelakangi para pria yang masih mengobrol berdiskusi tentang kondisinya.Bunyi pintu ditutup menyisakan langkah kaki berat mendekat ke arah ranjang. Starla masih merasa risau akan apa yang akan dia alami lagi di bawah atap mansion milik Brocklyn Hanson. Bobot badan Brocklyn terasa jelas di sisi pinggang Starla. Dia mengulurkan tangan menarik bahu wanita itu agar menghadap ke






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan