MasukSetelah salah satu kotak akhirnya dibuka, seketika suasana berubah menjadi sunyi. Semua orang tertegun, seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Di dalam kotak itu terdapat kepiting Alaska berukuran sangat besar, dengan capit yang kokoh dan cangkang mengkilap, tampak segar seolah baru saja diangkat dari perairan dingin tempat asalnya. Cahaya matahari memantul di permukaan cangkangnya, menambah kesan mewah dan langka pada makhluk laut tersebut.Decak kagum dan bisikan pelan pun terdengar di antara para pengasuh dan anak-anak. Tidak seorang pun menyangka bahwa halaman panti asuhan sederhana itu akan kedatangan bahan pangan yang begitu istimewa. Kehadiran kepiting Alaska tersebut bukan hanya menghadirkan rasa takjub, tetapi juga membawa suasana haru dan bahagia, seakan-akan hari itu menjadi momen yang tidak akan mudah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya.“Kepiting?” seru anak-anak secara serentak. “Huwaaaa…besar sekali!” Anak-anak itu tampak takjub dengan apa yang
Arion tertegun untuk beberapa saat. Anak-anak itu berlarian menghampiri Esther. Usia mereka beragam, Arion memperkirakan usia mereka dari 6 sampai 9 tahun. Baik laki-laki atau perempuan, mereka semua terlihat sangat senang melihat kedatangan Esther. Seolah telah mendapatkan sebuah hadiah terindah. Beberapa di antara mereka ada yang meminta untuk digendong. Arion menahan senyumnya. Ia pikir Esther ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat romantis. Nyatanya, wanita itu malah ingin pergi ke panti asuhan. “Miss Esther, kau datang bersama pria tampan. Tapi dia bukan suamimu.” Anak-anak ini memiliki ingatan yang sangat kuat, pertama kali Esther datang kemari bersama Erland untuk menyerahkan sebuah bantuan materi, dan mendaftar sebagai donatur tetap. Esther menatap Arion. Kemudian kembali fokus pada anak-anak. “Kalian harus memanggilnya Mister, dia adalah adik suamiku,” ucap Esther pada anak perempuan sekitar 6 tahun. Gadis kecil itu lantas melangkah mendekati Arion. “Hai, Mister tampan
Angin berhembus lembut, menggerakkan rumput dan daun kering di sekitar. Suasana menjadi sangat sepi. Esther dapat merasakan hawa sejuk yang merasuk ke dalam pori-pori kulitnya. Hening merayap di sela-sela waktu yang terus berjalan. Arion masih berdiri dengan raut wajah tak terbaca. Kesedihan tak terlihat di wajahnya, senyumnya memudar saat langkah kakinya mulai memasuki area pemakaman. “Maaf baru bisa mengunjungi kalian,” ucap Arion lagi. Ia lantas menoleh ke samping. “Mom, Dad, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian.” Arion menjeda ucapannya. Mencoba memberi celah pada angin yang berhembus tenang siang itu. Ia kembali menoleh ke samping, wajahnya terlihat lebih bersemangat kali ini. “Esther adalah cinta pertamaku, dan juga terakhirku.” Mendengar itu, wajah Esther seketika bersemu merah. Ia tersipu malu. Di saat seperti ini, Arion justru membuatnya salah tingkah. Esther tak lantas diam saja, ia segera menyapa kedua orang tua Arion. “Halo, Paman, Bibi, aku Esther. Senang
Esther terdiam untuk beberapa saat. Ia tahu di mana orang tua Arion. Mereka tak lagi berada di dunia ini. Melainkan di dunia yang berbeda. Itu artinya, Arion akan mengajaknya untuk berziarah ke makam mereka. Arion melirik ke arah Esther. Wanita itu tampak terdiam. Dan itu membuat Arion merasa dirinya telah salah bicara. “Kenapa kau diam? Apa kau tidak senang?” Esther menoleh ke arah Arion. Senyum kecil terukir di bibir wanita itu. “Bukan itu, kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau ingin mengajakku bertemu orang tuamu,” kata Esther. “Memangnya kenapa?” “Kita akan mengunjungi kedua orang tuamu, bukankah kita harus membawa sesuatu?” Esther berkata dengan sangat lembut, sehingga ucapannya dengan cepat dipahami oleh Arion. “Berhenti di toko bunga.” “Baiklah.” Beberapa meter kemudian, Arion menepikan kendaraannya dan berhenti di toko bunga sesuai dengan permintaan Esther. Wanita itu keluar setelah Arion membukakan pintu mobil. Aroma harum bunga menyentuh indera penciuman Esther
Esther tidak mengerti apa maksud Daxton menanyakan hal ini. Apa pria itu hanya ingin menguji dirinya saja? Atau ada maksud lain? Yang terpenting, Esther sudah menjawab sesuai dengan kata hatinya. Selanjutnya, Esther pasrah dengan keputusan Daxton. Ia tahu pria itu adalah pria yang sangat bijak. Ia tidak pernah melihat Daxton memberikan keputusan yang salah selama ini. “Baguslah.” Daxton menghela napas lega. Esther menatap pria tua itu. Ia sangat penasaran dengan semua ini. Mengapa pria itu tidak marah saat dirinya mengakui perasaannya kepada Arion? “Kakek,” panggil Esther. “Hmmm…” “Kenapa Kakek melakukan ini? Maksudku kenapa Kakek tidak marah pada kami karena telah menyembunyikan hubungan kami. Kenapa Kakek justru mendukung kami?” Esther memberondong Daxton dengan beberapa pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Mendengar itu, Daxton malah tertawa. Dan itu membuat Esther semakin heran. Detik selanjutnya, pria itu malah mengangguk-angguk saja. Membuat Esther makin bingung saja.
Daxton berdiri dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Tak jauh darinya, berdiri asistennya yang selalu menemani ke mana pun Daxton pergi. Arion jelas saja kaget. Bagaimana bisa Daxton tiba-tiba ada di sini. Tidak banyak yang tahu tentang mansion ini kecuali orang kepercayaannya saja, seperti Eric dan Harvey. Tetapi bukankah hal semacam itu sangat mudah dilakukan oleh seorang Daxton? Sementara Esther tampak menundukkan kepalanya. Mencoba menyembunyikan wajahnya beserta rasa malu dan rendah dirinya. Ia tidak menyangka bahwa Daxton akan melihat dirinya yang seperti ini. “Kakek, kenapa bisa ada di sini?” Arion ingin menampar mulutnya sendiri. Pertanyaan bodoh itu tak seharusnya keluar dari mulutnya. “Kita harus bicara.” Suara Daxton terdengar sangat berat.Satu kalimat, cukup membuat Arion segera bergeser meninggalkan tempat. Ia melangkah memasuki mansion. Tanpa isyarat, Esther yang cukup tahu diri memutuskan untuk mengekor di







