LOGINSeorang wanita dengan kecantika luar biasa dipaksa masuk ke istana untuk menemani kakaknya yang sedang mengandung anak kaisar. Namun, ia justru menjadi korban kejam dari ambisi sang kakak_ dirantai, dimanfaatkan sebagai alat melahirkan, hingga akhirnya tubuhnya dihancurkan secara brutal. Tulang-tulangnya dibuat menjadi kipas, sementara dirinya disiksa hingga tak lagi menyerupai manusia, terjebak dalam penderitaan tanpa akhir. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia lahir kembali dua puluh tahun sebelumnya! Kali ini, ia tak akan menjadi korban. Ia bersumpah untuk membalas dendam, merebut tahta Permaisuri dan tahta Permaisuri Agung yang seharusnya menjadi milik kakaknya. Ia ingin menjadi wanita paling berkuasa di dunia, menunggangi bahu sang Kaisar, dan menatap daratan di bawah kekuasaannya. Namun, ada satu orang yang mencintainya tanpa syarat _seorang pria yang rela menjadi Raja bijaksana atau tiran kejam, tergantung pada apakah dia memilih jalan kasih atau kebencian. Jika ia penuh belas kasih, maka ia akan menjadi penguasa kolonial lalim yang menghancurkan segalanya demi dirinya. Bagi pria itu, ia adalah segalanya, entah ia manusia atau iblis, baik atau jahat. Demi dirinya, ia rela menempuh jalan kegelapan, bahkan jatuh ke dalam neraka dan menghadap kematian bersamanya!
View MoreDidalam ruangan sempit yang gelap dan lembap, hanya ada sebuah lampu minyak yang menyala.
Cahaya lampu bergetar, bayangannya bergerak samar-samar ... tetap tak mampu menerangi kegelapan yang tak berujung. Terdengar suara langkah kaki samar-samar dari luar. Kesadaran Zhou Lingge yang samar mulai sedikit lebih jernih. Tubuhnya bergerak tanpa sadar, membuat guci porselen ikut berguncang dan mengeluarkan suara berderit yang menusuk telinga. Barulah dia samar-samar mengingat bahwa dirinya telah lama dipotong keempat anggota tubuhnya dan dimasukkan ke dalam guci porselen. Dia telah menjadi renzhi_manusia yang tak bisa berbicara, tak bisa melihat, tetapi sengaja dibiarkan memiliki sepasang telinga untuk mendengar suara. Dengan suara "ciiit," pintu pun terbuka. Seorang wanita mengenakan jubah Phoenix berwarna kuning cerah, tampak anggun dan mewah_Zhou Shiya, perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan yang lembap dan gelap. Bau busuk yang menusuk hidung menyeruak ke arahnya. Namun, dia sama sekali tidak terganggu, justru sorot matanya penuh dengan kegembiraan yang berkilauan saat menatap guci porselen di sudut ruangan yang catnya telah terkelupas. Zhou Shiya tersenyum dan berjalan mendekat. "Kamu pasti sudah mendengar suara tabuhan genderang di luar, bukan?" "Hari ini, Xiao'er menikah. Dia dan sang Permaisuri menyajikan teh untuk menghormatiku, memanggilku sebagai Ibu Suri. Pada akhirnya, aku telah menjadi wanita paling mulia di seluruh negeri... Zhou Lingge, kamu benar-benar kalah telak." Zhou Lingge ingin berteriak sekuat tenaga, namun lidahnya sudah lama dicabut. Suaranya hanya terdengar seperti gumaman tercekik di tenggorokan. Dia tak bisa lagi mengeluarkan satu patah katapun. Dengan putus asa, dia mengguncang guci porselen itu dengan sekuat tenaga. Zhou Shiya menatap manusia tanpa anggota tubuh di dalam guci porselen. Alih-alih merasa takut, dia justru semakin bersemangat dan penuh kegembiraan. "Benar, Xiao'er memang anakmu. Sayang sekali, kamu tidak akan pernah bisa mengakuinya." Xiao'er adalah anaknya! Dia dulu mengira bahwa anaknya telah lama meninggal... Dulu, Zhou Shiya sendiri yang membawa segumpal darah di tangannya, menangis tersedu-sedu sambil memberitahunya bahwa anaknya telah meninggal. Zhou Shiya telah menipunya. Zhou Shiya telah membuatnya terpisah dari anaknya, membuat mereka tak bisa bertemu seumur hidup! Dia benci. Guci porselen itu bergetar dengan hebat. Zhou Shiya tertawa terbahak-bahak. "Seratus tahun tak ada kecantikan yang sebanding, wanita cantik itu mempesona. Kecantikan yang mampu mengguncang Negara, mengejutkan seluruh dunia? Ha... Sekalipun kamu adalah wanita tercantik di dunia, sekalipun kamu pernah menawan hati banyak pria, apa gunanya? Bukankah sekarang kamu hanya bisa terkurung di dalam guci porselen kecil ini, hidup seperti monster_tidak bisa hidup, tapi tidak bisa mati!" Dia mengeluarkan sebuah kipas tulang kecil dari dalam lengan bajunya. Daun kipasnya sudah mengkilap, dipoles oleh waktu dan sentuhan tangannya selama bertahun-tahun. "Kata orang, tulang wanita cantik sangat langka di dunia ini... Tapi lihatlah sekarang, tulang wanita cantik ini masih saja menjadi mainan di tanganku." "Zhou Lingge... meskipun kamu begitu cantik, lalu apa gunanya?" "Saat hidup, kamu tidak bisa bersama dengan orang yang kamu cintai. Bahkan matipun menjadi sebuah kemewahan." Tatapan Zhou Shiya penuh dengan kegilaan. Kebenciannya yang telah dipendam selama bertahun-tahun memuncak pada saat ini. "Dulu, aku dan mendiang Kaisar adalah pasangan muda yang penuh cinta. Aku pikir kami bisa bersama hingga tua, saling mencintai tanpa ada keraguan... Tapi siapa sangka, hanya karena dia menatapmu sekali, hatinya langsung tergila-gila kepadamu!" "Sejak saat itu, semua selir di istana menjadi tak berarti di matanya. Hatinya, tak bisa lagi menampung wanita lain!" Mengingat masa itu, Zhou Shiya menggertakkan giginya dengan kebencian yang mendalam. "Kamu adalah wanita penggoda yang membawa bencan bagi negeri ini! Kamu telah menghancurkan segalanya dalam hidupku, kamu telah merebut suamiku!" "Kamu telah membuat kehidupanku yang seharusnya bahagia dan penuh kehormatan menjadi duka, keputusasaan, dan penderitaan." Kebencian telah tertanam selama bertahun-tahun kini menyeruak bagaikan gelombang pasang yang menenggelamkan segalanya. Dia jelas sudah menang. Dia telah duduk di atas tahta tertinggi sebagai Ibu Suri. Namun, mengapa dia tetap merasa tidak bahagia? Mengapa dia masih merasa sakit seperti ini? Zhou Lingge merasa linglung. Zhou Shiya benar-benar menyalahkan semua ini padanya? Bagaimana dia bisa memiliki keberanian untuk mengatakan kata-kata seperti itu? Semua itu... apakah itu keinginannya? Cinta mendiang Kaisar, apa hubungannya dengan dirinya? Dia tak pernah menginginkan kejayaan, kekayaan, atau kedudukan. Dia hanya ingin hidup bahagia bersama Han Mubai, bergandengan tangan hingga tua. Namun, bahkan keinginan sederhana itu pun tak bisa dia dapatkan. Zhou Shiya telah menghancurkan segalanya! Demi melahirkan seorang anak, Zhou Shiya telah menipunya masuk ke dalam Istana, membiarkan dirinya ternoda oleh Kaisar, dan dengan kejam memisahkannya dari Han Mubai. Zhou Shiya yang telah menghancurkan hidupnya! Bagaimana bisa dia menyalahkan dirinya karena telah merebut hati mendiang Kaisar? Apa salahnya? Jelas Zhou Shiya sendiri yang menggunakan cara keji untuk menyeretnya ke dalam neraka yang gelap ini! Zhou Shiya telah mendapatkan segalanya_kedudukan, kekuasaan, kemuliaan. Dia telah menjadi wanita paling mulia di dunia. Dia sudah memiliki semua yang diinginkannya. Namun, mengapa dia masih menoleh ke belakang dan membenci dirinya? Benci! Benci sekali! Kemarahan dan keputusasaan merayap de dalam darah Zhou Lingge, membakar tubuh dan jiwanya seperti kobaran api... Dalam keheningan ruangan sempit itu, suara erangan putus asa dan menyedihkan bergema dari dalam guci porselen. Warna wajah Zhou Shiya mendadak memucat. Kakinya tanpa sadar melangkah mundur, dan punggungnya tiba-tiba terasa dingin seperti es. Pemandangan ini... Begitu mengerikan. Tak tahu sudah berapa lama berlalu, suara erangan pilu dan guncangan hebat dari dalam guci porselen itu perlahan-lahan berhenti. Zhou Shiya menatap manusia tanpa anggota tubuh di dalam guci porselen itu, napasnya semakin melemah hingga akhirnya tak lagi bernyawa. Matanya sedikit kosong, lalu air mata menggenang hingga jatuh berderai. Dia menangis histeris. "Zhou Lingge, aku tidak mengizinkanmu mati... Kamu tahu betapa bencinya aku padamu? Tanpa seizinku, kamu tidak boleh mati!" "Kamu tahu... pada hari dia mati demi dirimu, hatiku juga ikut mati? Bertahun-tahun lamanya, aku hidup seperti mayat berjalan. Dia tidak mencintaiku, dia tak pernah mencintaiku!" "Mengapa harus ada Zhou Lingge setelah adanya Zhou Shiya? Jika keluarga Zhou sudah melahirkan aku, putri sulung yang terhormat dan bermartabat, mengapa mereka masih harus melahirkanmu, seorang putri selir yang rendah?" Tangisan Zhou Shiya menggema di seluruh ruangan sempit itu. Namun, guci porselen yang telah usang itu tak akan pernah berguncang lagi! Kehidupan ini telah mencapai akhirnya! Keluarga Zhou memiliki dua putri. Putri sulung, Zhou Shiya, adalah wanita yang anggun dan bermartabat, terkenal sebagai gadis paling berbakat di ibu kota. Saat berusia lima belas tahun, dia dinikahkan dengan putra mahkota dan menjadi putri mahkotanya. Sedangkan Zhou Lingge, putri selir dari keluarga Zhou, lahir lima tahun lebih muda dari Zhou Shiya. Ibunya adalah seorang penyanyi, sehingga sejak kecil dia sudah memiliki wajah yang luar biasa cantik. Saat berusia enam belas tahun, kecantikannya yang tiada Tara mengejutkan seluruh negeri. Saat itu, Zhou Lingge pergi ke Istana untuk menjenguk Zhou Shiya yang tengah mengandung. Namun, tak disangka, hanya dengan satu tatapan singkat dari Kaisar muda, segalanya berubah, kehilangan kendali, dan keluar dari jalur takdir... ___Istana Qiluo. Selir Jiang duduk anggun di hadapan meja rias, menyisir rambutnya perlahan dengan penuh kehati-hatian. Ia menarik helaian rambut hitamnya dan menunduk, tenggelam dalam pikiran. Sepasang mata cantiknya tampak menghitam di sekeliling, wajahnya juga terlihat sangat pucat dan lelah. Pelayan kepercayaannya, dengan raut wajah penuh sukacita, membungkuk memuji, "Yang Mulia pasti sangat kelelahan tadi malam. Paduka Kaisar memang tak tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan lembut. Lihat wajah pucat ini, pasti semalam tak tidur, bukan?" Ia sangat gembira. Meski wajah tuannya tampak lelah dan mata menghitam, semua ini adalah bukti nyata bahwa betapa besar kasih sayang Kaisar semalam. Beberapa hari lalu, ia juga melihat Selir Jia tampak seperti ini. Kini, kasih sayang yang dulu hanya milik Selir Jia telah beralih ke Selir Jiang. Seluruh Istana Qiluo pun diliputi semangat dan suka cita. Mata Selir Jiang berkedip, ingin berkata sesuatu, tapi tertahan. Karena kenyata
Selir Shu berhasil menghentikan Selir Jia dari menamani tidur Kaisar selama tiga malam berturut-turut. Kabar ini tersebar ke seluruh istana, membuat para Selir bereaksi berbeda—ada yang senang, ada yang kecewa, dan banyak pula yang hatinya campur aduk. Namun kebanyakan dari mereka justru merasa lega. Kaisar memilih pergi ke istana Selir Shu, itu jauh lebih baik dari pada terus-menerus mengunjungi Istana Yuancheng. Ini membuktikan bahwa kasih sayang Kaisar ke pada Selir Jia hanya sebatas angin lalu. Ia hanya tertarik sesaat saja. Setelah rasa segar itu hilang, Selir Jia pun sama saja seperti mereka. Sementara itu, Qiao'er tampak gelisah, berjalan mondar-mandir di depan Zhou Lingge, cemas tak karuan. "Yang Mulia Selir, ini bagaimana? Mengapa Kaisar kembali ke istana Selir Shu?" "Apakah beliau sudah bosan pada Yang Mulia?" Zhou Lingge enggan menjelaskan panjang lebar. Ia pun tidak bermaksud memberitahu bahwa ia sendiri yang menolak disayang dan bahkan sempat membuat Qin Fei
"Biarkan Selir Shu dan Selir Li membantumu mengelola urusan Istana, berbagi tanggung jawab agar semuanya lebih seimbang," ucap Qin Feiling datar. Usai berkata demikian, ia langsung memeluk Zhou Lingge dan pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zhou Shiya. Punggungnya tampak begitu dingin dan tak berperasaan. Tubuh Zhou Shiya gemetar. Ia berusaha keras menjaga dirinya tetap tegar, tapi akhirnya tak mampu membendung gejolak emosi—dunia dimatanya gelap seketika, dan iapun jatuh pingsan. Istana Fengluan mendadak jadi kacau balau. Sementara itu, Selir Shu dan Selir Li justru diuntungkan oleh kejadian ini. Sebuah keberuntungan tak terduga menghampiri mereka. Semala ini, Zhou Shiya menggenggam erat kekuasaan istana. Tak disangka, hanya dengan satu langkah dari seorang selir kecil seperti selir Jia Pin, keseimbangan itu langsung hancur berkeping-keping. Selir Shu memegang sapu tangan sambil menggigit bibir, matanya menatap nanar ke arah kepergian Qin Feiling dan Zhou Lingge. Mes
"Logikamu tidak masuk akal, ini hanya jelas-jelas kebohongan terang-terangan. Yang Mulia, Anda dengar sendiri.... hamba sungguh-sungguh telah di fitnah. Huhu.... hamba benar-benar sedih. Ini semua salah Anda yang terlalu memanjakan hamba, hingga mereka semua ingin mencelakai hamba. Bahkan kakak kandung hambapun... diapun mulai membenci hamba. Kehidupan hamba ke depan, bagaimana harus hamba jalani... huhu." Saat berbicara, Zhou Lingge kembali mencengkeram lengan baju Qin Feiling sambil menangis tersedu. Seperti kata pepatah, air mata seorang perempuan cantik bukanlah aib, justru mengahdirkan pesona yang menyayat hati dan menggugah jiwa. Setiap tetes air matanya yang bening bagaikan bintang-bintang di langit, membuat siapapun yang melihatnya merasa iba dan ingin melindunginya. Qin Feiling mengulurkan telapak tangannya yang lebar dan hangat, menepuk-nepuk lembut punggungnya, membantu menenangkan napas dan perasaannya. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku akan membelamu. Pengawal!
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews