LOGIN"Bagaimana? Kau mau membalasnya? Mantan suamimu dan selingkuhannya?" Adam bertanya, suaranya datar namun tajam, seolah sudah memutuskan apa yang seharusnya dilakukan. Ada nada tantangan yang tak bisa disembunyikan dalam kalimatnya.
Sontak, Aurora mengerutkan dahi, merasakan kebingungannya semakin dalam. "Entah, aku masih ragu," jawabnya, suara yang keluar terasa serak dan penuh keraguan. Hatinya terombang ambing di antara keinginan untuk membalas sakit hati dan ketakutan akan apa yang bisa terjadi setelahnya. Lalu, Adam melangkah lebih dekat, matanya tidak pernah lepas dari wajah Aurora, penuh tekanan. Dia menguspa wajah Aurora. Mendekatkan bibirnya, lalu berbisik dengan suara rendah nan menggelora. "Apa lagi yang kau ragukan, Aurora? Dia telah membuatmu hampir tiada. Anakmu dibunnuh olehnya. Masihkah kau ragu?" tanyanya, nada suara semakin mengancam, seakan menuntut jawaban yang pasti. "Entah." Aurora menunduk sejenak, berpikir keras. Pikirannya dipenuhi bayangan tentang suaminya dan selingkuhannya yang telah menghancurkan hidupnya. "Apa yang harus ku perbuat padanya?" Suaranya hampir berbisik, penuh kekosongan. Rasa sakit itu kembali menjalar, membuat dadanya sesak. Tanpa ragu, Adam memberikan jawaban yang begitu keras, seperti seorang yang sudah terbiasa mengambil keputusan dengan tangan sendiri. "Teror mereka, datangi ke rumahnya, tem-bak atau tu-suk, beres!" katanya, gerakannya penuh dengan ketegasan, seolah membenarkan tindakannya. "Hah? Aku tidak mau!" Aurora terkesiap mendengar jawaban itu. Tubuhnya merinding, bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena realitas yang menyakitkan ini semakin dekat. Dia menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang hampir meledak. "Kau pikir aku berani? Aku ingin pembalasan yang smooth," jawabnya, suara itu tersembunyi di balik rasa cemas. Ia tidak ingin menjadi sosok yang penuh kekerasan, tidak ingin terjerumus dalam jalan yang bisa menghancurkannya lebih dalam lagi. "Hm, ya sudah." Adam mengamati wajah Aurora dengan seksama, tahu betul bahwa Aurora sedang berjuang antara membalas dendam dan mempertahankan dirinya dari kekerasan itu. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya, penuh pemahaman, tapi juga masih ada kekuatan yang tak bisa ia lepaskan begitu saja. "Kalau begitu, mari kita kejutkan mereka. Mereka tahunya kamu sudah pergi, kan? Jadi, mari buat sedikit guncangan." "Memangnya, kau mau mengajakku ke mana?" "Kantor!" **** Hari itu, suasana di Walker Corporation terasa berbeda. Pagi yang biasanya sibuk dengan rutinitas kantor, kini dipenuhi dengan bisik-bisik karyawan yang penasaran. Pengumuman besar telah disebarkan: perusahaan akan memiliki CEO baru. Setelah lama dipimpin oleh Tuan Besar Walker yang terkenal dengan ketegasan dan kepemimpinannya yang tak tertandingi, kini saatnya ada perubahan. Pukul 9 pagi, dengan langkah tegas, seorang pria muda memasuki ruang pertemuan utama. Adam Sky Walker, sang anak sulung dari keluarga Walker, akhirnya tiba untuk menggantikan posisi ayahnya yang sedang sakit. Nama besar keluarga ini kini berada di tangannya, meskipun dia bukanlah orang yang biasanya ingin mencuri perhatian. Dengan postur tubuh tegap dan wajah yang penuh karisma, dia jelas memancarkan aura yang tak bisa diabaikan. "Selamat datang, Tuan Muda Walker," sambut salah seorang eksekutif senior yang berdiri di depannya, suaranya formal namun penuh rasa hormat. Tak terlalu antusias, Adam hanya mengangguk tipis. Namun, ekspresinya datar namun tetap terjaga. Matanya melirik ke mana karyawan yang bernama Samuel berada. "Hm," jawabnya singkat, suaranya tegas, tidak terburu buru, seolah ingin menunjukkan bahwa dia mengendalikan situasi. Beberapa orang di ruangan itu langsung menundukkan kepala, memberi salam dengan cara yang sudah mereka lakukan selama bertahun tahun. "Selamat datang, Tuan Muda. Senang bertemu dengan Anda," ujar mereka. Mengucapkan dengan hormat, sementara beberapa lainnya menatapnya dengan rasa ingin tahu yang jelas. Adam tidak terburu-buru untuk menjawab, ia mengamati satu per satu wajah yang ada di sekitarnya. Setelah beberapa detik tersenyum, dia berkata dengan suara yang mantap, "Baik. Semoga kita bisa bekerja sama." Kata-katanya yang sederhana itu terdengar seperti perintah, namun juga menawarkan kesempatan bagi semua orang untuk melangkah maju. Ruangan itu seketika hening, seolah menunggu tindakannya selanjutnya. Adam, meskipun baru saja mengambil alih kepemimpinan, sudah memperlihatkan ketegasan dan sikap profesional yang tidak bisa diragukan lagi. Kini, Walker Corporation berada di bawah kendali Tuan Muda Walker—dan para karyawan tahu bahwa mereka akan menghadapi era baru yang penuh tantangan dan peluang. Meskipun sudah berpengalaman, Andrew tak bisa menghindari sedikit kegugupan di dalam dirinya. Dia menarik tangannya perlahan setelah Adam tidak membalas dengan penuh semangat seperti yang diharapkannya. "Tentu, Tuan Muda. Kami siap mendukung Anda." Di sebelah Andrew, Douglas, Kepala Divisi Pemasaran, berdiri agak jauh, menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Seperti yang lainnya, dia ingin melihat bagaimana pemimpin baru ini akan mengendalikan perusahaan besar seperti Walker Corporation. Douglas melangkah maju, melemparkan senyum ramah meski sedikit tegang. "Selamat datang, Tuan Muda Walker," kata Douglas, suaranya lebih hangat namun penuh kehati hatian. "Saya Douglas, Kepala Divisi Pemasaran. Kami di tim pemasaran sudah menyiapkan beberapa rencana yang kami rasa akan mendukung pertumbuhan perusahaan." "Baik." Adam menatapnya sebentar, membaca ekspresi wajah Douglas yang penuh harapan. "Saya akan melihat rencana kalian, Douglas. Pemasaran adalah kunci untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Pastikan kita tidak hanya mengikuti tren, tetapi menciptakan tren yang akan diikuti oleh semua orang." Lalu, Douglas mengangguk, sedikit terkejut dengan jawaban Adam yang begitu tajam dan penuh visi. "Tentu, Tuan Muda. Kami akan segera mengatur pertemuan untuk mempresentasikan semua rencana kami." Sementara itu, Ronald, Kepala Operasional yang selalu menjadi sosok tenang di perusahaan, menatap dengan seksama. Dia sudah lama menunggu kedatangan Adam, karena tahu bahwa transisi ini adalah momen penting bagi masa depan Walker Corporation. "Tuan Muda," kata Ronald, berbicara dengan suara yang lebih dalam, berwibawa. "Selamat datang. Kami di departemen operasional sedang menyusun strategi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Kami berharap bisa segera berbicara lebih lanjut tentang itu." "Tentu."* Adam menatap Ronald, memikirkan kata-katanya sejenak. "Efisiensi adalah prioritas utama," jawabnya, matanya tajam dan penuh penilaian. "Saya ingin melihat rencana rinciannya, dan kita akan mulai bekerja dari situ." "Terima kasih, Tuan Muda. Kami akan segera menyiapkan laporan tersebut," jawab Ronald, merasa sedikit lega, karena Adam jelas sudah memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang perlu dilakukan. Setelah selesai berbicara, Adam melangkah menuju ruang kerjanya, meninggalkan para eksekutif yang masih merenung, mencoba memetakan bagaimana mereka akan bekerja dengan CEO baru yang terlihat begitu berbeda dengan ayahnya. Sebelum pergi, Adam menghentikan langkahnya. Dia menoleh pada Samuel. "Kamu ...." "Saya, Tuan Muda?" Samuel menunjuk dadanya dan Adam pun menganggukkan kepala setelah itu. "Ya, kamu. Siapa namamu?" "Samuel, Tuan!" "Ya, kau jemput calon istriku ke apartement. Tunggu di lobby, dia akan menghampirimu." Perintah yang keluar dari bibir Adam tersebut seketika membuat beberapa orang sontak melototkan matanya. "Tuan, tapi ada sopir yang lain," sergah Douglas. Lalu, Adam mengeluarkan tanduknya. "Kau yang CEO atau aku?" "Anda, Tuan Muda." "Bagus. Silakan pergi ke ruanganmu, dan Bukankah aku bebas memerintah siapa saja?" "Be- benar, Tuan." "Ya sudah." **** Samuel segera melangkah pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun setelah Tuan Muda Walker memasuki ruang kerjanya. Wajahnya yang masam tampak jelas, tapi dia tak peduli. Ada perasaan kesal yang menggelayuti hatinya setelah perintah mendadak itu. Sedangkan Raline, yang baru saja datang dan melihat kepergian Samuel, segera menanyakan arah tujuannya. "Kau akan ke mana?" tanya Raline, sambil menatapnya dengan bingung. Wajahnya terlihat penuh tanya, seakan mencoba menebak apa yang sedang terjadi. "Menjemput kekasih Tuan Muda Walker," jawab Samuel singkat, suaranya berat. "Kau tak dengar tadi?" Sontak saja, Raline mengernyit. "Hei, aku baru datang. Tadi, aku diminta untuk mengambil makan siangnya. Bagaimana aku bisa tahu kamu diperintahkan apa dan diperintahkan oleh siapa? Kamu ini mengada ngada saja! Apa kamu sudah pikun, hah? Aku bahkan sudah mengatakannya padamu dipesan tadi," jawabnya, sedikit terkejut dengan pernyataan Samuel. Samuel menghela napas, matanya tajam menatap ke depan. "Ah, ya sudah. Aku lupa, maaf. Aku ke bandara dulu. Sudah tahu, kerjaanku banyak, ini malah Tuan Muda memerintahkan aku ke bandara. Sudah tak ada bonusnya, ini malah menambah pekerjaan." "Apa tak ada sopir?" Raline bertanya, rasa herannya semakin meningkat. "Ada, tapi dia mau aku sendiri yang ambil," jawab Samuel, tampak frustrasi dengan permintaan Tuan mudanya yang terlalu mengada-ngada. "Itu aneh," sahut Raline dengan nada bingung. Pria itu mengendikkan bahunya. Samuel hanya menggelengkan kepala dan langsung melangkah keluar. "Aku berangkat dulu," katanya sambil bergegas menuju mobil. Dengan mobilnya, Samuel melaju ke bandara. Ia memikirkan perintah Tuan Muda yang mendadak dan sepertinya tak ada alasan jelas mengapa ia harus menjemput seseorang. Ia merasa ini semakin tak masuk akal, seperti pekerjaan tambahan yang tak diinginkan. Waktu menunjukkan pukul 11.00 ketika dia tiba di sebuah apartemen, dan ia segera menuju ke resepsionis dan bertanya sebentar. Setelahnya, dia bergumam, "Gaun merah, tinggi, seksi. Ck! Ini bagai mencari jarum di tumpukan jerami! Apa iya ada dia? Mengapa Tuan Muda tak memberiku foto?" gumamnya kesal, mencoba membayangkan sosok yang dimaksud. Saat itu, ruang tunggu tampak ramai dengan para penumpang yang baru tiba. Samuel menatap sekelilingnya, matanya terus berusaha mencari sosok yang ia cari, namun dia hampir kehilangan harapan. Lalu, pada pukul 11.03, seseorang yang mencuri perhatian memasuki area lobby. Seorang wanita dengan gaun merah delima yang begitu mencolok, tinggi, dan berpostur tubuh ideal. Setiap langkahnya memancarkan aura percaya diri dan seksualitas yang tak terbantahkan. Wanita itu mendekat ke arah Samuel dan menyapa dengan suara lembut namun penuh wibawa. "Kau yang bernama Samuel?" tanyanya, suaranya manis namun cukup tegas. Sontak, Samuel menoleh dan terbelalak. Wajahnya berubah seketika, ekspresinya tak bisa disembunyikan. Kedua bola matanya nyaris melompat dari tempatnya dan dia sendiri pun tak menyangka sama sekali akan bertemu dengan sang mantan istri yang telah dia telantarkan sejak beberapa bulan yang lalu. Orang yang berdiri di depannya adalah seseorang yang sangat familiar di matanya. "A—Aurora?" kata Samuel terbata, matanya membesar karena terkejut. Wanita yang berdiri di depannya itu tersenyum. Meskipun senyumnya itu elegan dan penuh misteri, ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Kecantikan yang dulu tampak biasa-biasa saja, kini berubah menjadi sesuatu yang begitu mempesona, dan membuat Samuel terkesima. "Ka— kau?" Aurora meletakkan pisau lipat di perut pria itu. menekannya hingga Samuel meringis. "Apa kabar, Masa Lalu? Mau menjemputku, atau mau menjemput kematianmu sekarang juga?"“Aku ingin bulan madu ini benar-benar menjadi waktu pemulihan untukmu. Kalau perlu, kita menginap di sini malam ini dan … bercinta di sini, mau?” goda Adam dengan suara rendah yang serak, tepat di samping telinga Aurora.“Apa? Bercinta di… sini? Di kapal ini? Di lautan lepas? Kamu bercanda?” Aurora terbelalak. Wajahnya seketika merah padam, terasa panas hingga ke telinga. Ia refleks memandang ke kiri dan kanannya dengan gelisah. Meski para pengawal dan awak kapal tampak sibuk dengan tugas masing-masing dan tidak menatap ke arahnya, ia sadar betul bahwa mereka memiliki pendengaran yang tajam. Ia merasa sangat tidak nyaman dan malu jika percakapan pribadi ini terdengar.Tapi meski begitu, Adam selalu bisa mencairkan suasana dengan kepercayaan dirinya yang meluap. Ia terkekeh melihat reaksi istrinya yang salah tingkah. “Apa salahnya melakukan itu? Toh, di kapal ini ada kamar suite yang mewah di bagian bawah. Kita bisa bebas menikmati kebersamaan kita tanpa ada gangguan sedikit pun.”
“Semakin sedikit orang yang tahu detail hidup kita, semakin aman posisi kita.”Aurora mengangguk perlahan, kini ia paham sepenuhnya mengapa keluarga sang suami jarang meng-upload kebersamaan keluarga besar itu di media sosial.Posesifnya Adam bukan sekadar masalah ego, melainkan sebuah bentuk perlindungan yang jauh lebih besar untuk keselamatan keluarga kecil mereka.“Aku mengerti sekarang, Yang. Maaf ya, aku tidak berpikir sejauh itu tadi,” ucap Aurora tulus.Adam tersenyum, mengecup kening Aurora dengan penuh kasih. “Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu gak tahu karena ya memang sebagian dari kami anti sosial media. Tapi, sebagian juga tidak. Hanya beberapa yang aktif di sosial media karena mereka memiliki usaha terkait itu. Contohnya Bibi Delanie, dia memiliki WO dan beberapa butik. Jadi, mau tidak mau harus aktif di media sosial.”“Setelah ini, kita mau ke mana, Yang?” tanya Aurora begitu langkah mereka mendekati bibir pantai. Ia memandang sekeliling, melihat kerumunan turis yang mula
Adam kemudian menunduk, berbisik tepat di telinga Aurora dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk istrinya meremang. "Atau kamu mau kita balik ke vila sekarang juga supaya aku bisa 'menutup' punggung ini dengan cara lain?”“Apaan sih, Yang.” Aurora tersipu malu. Ia memilih membuang muka mendengar celotehan suaminya yang tidak masuk akal—ya setelah semalam mereka juga habis bertempur semalaman suntuk.“Mau gak?” goda Adam penuh nafsu, mengabaikan tatapan lapar dari berbagai pria di sekitarnya pada sang istri.Sebenarnya, sejak Aurora melangkah keluar dari kamar tadi, napas Adam seakan tertahan di tenggorokan. Ia sendiri sangat mengagumi betapa menawannya sang istri hari ini. Aurora mengenakan gaun berbahan chiffon premium berwarna putih bersih yang tampak sangat ringan dan melayang indah.Bahan chiffon yang halus dan semi-transparan itu melekat dengan anggun, mengikuti setiap lekuk tubuh Aurora dengan sangat pas namun tetap memberikan kesan lembut. Saat tertiup angin laut Santorin
Setelah beberapa hari di Paris, jet pribadi keluarga Walker mendarat di Yunani. Adam memboyong Aurora dan Alan Sky ke sebuah vila eksklusif di Oia, Santorini, yang dibangun tepat di tebing menghadap kaldera.Setelah semalaman beristirahat, pagi itu, Aurora berdiri di balkon vila, menghirup aroma laut yang segar. Ia mengenakan dress putih berbahan sifon yang melambai tertiup angin. Di belakangnya, Adam muncul dan langsung melingkarkan lengan di pinggang istrinya, menumpukan dagu di bahu Aurora."Bagaimana? Sesuai keinginanmu? Kamu tidak perlu jalan jauh, cukup rebahan di sini dan seluruh laut Aegea ada di depan matamu," bisik Adam.“Aku tidak pernah menduga aku akan menginjakkan kaki di tempat indah seperti ini, Yang.” Aurora tersenyum lebar, menyentuh lengan kokoh Adam. "Ini luar biasa. Terima kasih. Aku merasa seperti sedang di surga.""Uah! Papapa! Mamam mamam!" Alan yang berada di dalam stroller di dekat mereka ikut mengoceh, seolah setuju dengan keindahan tempat itu."Lihat, Alan
Setelah rangkaian pesta pernikahan tiga sesi yang melelahkan dari pagi hingga sore, Adam dan Aurora memilih untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk ucapan selamat. Mereka kini berada di sebuah penthouse hotel megah di jantung kota Paris, tempat di mana cahaya lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang luar biasa romantis.Adam berdiri di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke arah ikon kota, Menara Eiffel yang bersinar keemasan. Di lengannya, ia menggendong Alan Sky yang tampak takjub melihat kerlap-kerlip cahaya di luar sana."Lihat itu, jagoan Daddy. Indah, bukan?" bisik Adam lembut.“Ata ya ta tah!”Adam terkekeh. Ia kemudian menoleh ke arah Aurora yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap putranya. "Nah, sekarang Mommy dan Daddy sudah bisa tidur bersama kamu, Baby Alan. Doakan agar Mommy segera hamil, oke? Biar kamu punya teman main di rumah.""Uah! Pa pa pa pa pa!" Alan Sky bersorak riang sambil menggerak-gerakkan tangan mungilnya ke arah jendela.M
"Apa? Adam mau membunuhku? Dia sudah gila?! Aku ini adiknya sendiri—""Tuan Muda menganggap perbuatan Anda sudah sangat berbahaya," potong salah satu anak buah itu dengan suara datar, menghentikan histeria Elina. "Beliau tidak punya pilihan lain. Jangan anggap remeh peringatan ini, Nona. Kalau sampai Anda melakukan hal fatal seperti kemarin lagi, maka... jangan salahkan kakak Anda kalau beliau bertindak jauh lebih tegas dari sekadar mengikat Anda di sini."Elina terpaku, napasnya tertahan mendengar ancaman yang begitu nyata dari orang-orang kepercayaan kakaknya. Ia bisa merasakan bahwa kali ini, Adam benar-benar tidak main-main dengan ucapannya.Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam dari Elina, ketiga orang itu berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar begitu mengerikan, meninggalkan Elina sendirian dalam kesunyian kamarnya yang kini terasa seperti sel penjara.Sementara itu, di tengah kemeriahan pesta, sosok Evelyn tiba-tiba muncul di hadapan penga







