LOGIN“Aku ingin bulan madu ini benar-benar menjadi waktu pemulihan untukmu. Kalau perlu, kita menginap di sini malam ini dan … bercinta di sini, mau?” goda Adam dengan suara rendah yang serak, tepat di samping telinga Aurora.“Apa? Bercinta di… sini? Di kapal ini? Di lautan lepas? Kamu bercanda?” Aurora terbelalak. Wajahnya seketika merah padam, terasa panas hingga ke telinga. Ia refleks memandang ke kiri dan kanannya dengan gelisah. Meski para pengawal dan awak kapal tampak sibuk dengan tugas masing-masing dan tidak menatap ke arahnya, ia sadar betul bahwa mereka memiliki pendengaran yang tajam. Ia merasa sangat tidak nyaman dan malu jika percakapan pribadi ini terdengar.Tapi meski begitu, Adam selalu bisa mencairkan suasana dengan kepercayaan dirinya yang meluap. Ia terkekeh melihat reaksi istrinya yang salah tingkah. “Apa salahnya melakukan itu? Toh, di kapal ini ada kamar suite yang mewah di bagian bawah. Kita bisa bebas menikmati kebersamaan kita tanpa ada gangguan sedikit pun.”
“Semakin sedikit orang yang tahu detail hidup kita, semakin aman posisi kita.”Aurora mengangguk perlahan, kini ia paham sepenuhnya mengapa keluarga sang suami jarang meng-upload kebersamaan keluarga besar itu di media sosial.Posesifnya Adam bukan sekadar masalah ego, melainkan sebuah bentuk perlindungan yang jauh lebih besar untuk keselamatan keluarga kecil mereka.“Aku mengerti sekarang, Yang. Maaf ya, aku tidak berpikir sejauh itu tadi,” ucap Aurora tulus.Adam tersenyum, mengecup kening Aurora dengan penuh kasih. “Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu gak tahu karena ya memang sebagian dari kami anti sosial media. Tapi, sebagian juga tidak. Hanya beberapa yang aktif di sosial media karena mereka memiliki usaha terkait itu. Contohnya Bibi Delanie, dia memiliki WO dan beberapa butik. Jadi, mau tidak mau harus aktif di media sosial.”“Setelah ini, kita mau ke mana, Yang?” tanya Aurora begitu langkah mereka mendekati bibir pantai. Ia memandang sekeliling, melihat kerumunan turis yang mula
Adam kemudian menunduk, berbisik tepat di telinga Aurora dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk istrinya meremang. "Atau kamu mau kita balik ke vila sekarang juga supaya aku bisa 'menutup' punggung ini dengan cara lain?”“Apaan sih, Yang.” Aurora tersipu malu. Ia memilih membuang muka mendengar celotehan suaminya yang tidak masuk akal—ya setelah semalam mereka juga habis bertempur semalaman suntuk.“Mau gak?” goda Adam penuh nafsu, mengabaikan tatapan lapar dari berbagai pria di sekitarnya pada sang istri.Sebenarnya, sejak Aurora melangkah keluar dari kamar tadi, napas Adam seakan tertahan di tenggorokan. Ia sendiri sangat mengagumi betapa menawannya sang istri hari ini. Aurora mengenakan gaun berbahan chiffon premium berwarna putih bersih yang tampak sangat ringan dan melayang indah.Bahan chiffon yang halus dan semi-transparan itu melekat dengan anggun, mengikuti setiap lekuk tubuh Aurora dengan sangat pas namun tetap memberikan kesan lembut. Saat tertiup angin laut Santorin
Setelah beberapa hari di Paris, jet pribadi keluarga Walker mendarat di Yunani. Adam memboyong Aurora dan Alan Sky ke sebuah vila eksklusif di Oia, Santorini, yang dibangun tepat di tebing menghadap kaldera.Setelah semalaman beristirahat, pagi itu, Aurora berdiri di balkon vila, menghirup aroma laut yang segar. Ia mengenakan dress putih berbahan sifon yang melambai tertiup angin. Di belakangnya, Adam muncul dan langsung melingkarkan lengan di pinggang istrinya, menumpukan dagu di bahu Aurora."Bagaimana? Sesuai keinginanmu? Kamu tidak perlu jalan jauh, cukup rebahan di sini dan seluruh laut Aegea ada di depan matamu," bisik Adam.“Aku tidak pernah menduga aku akan menginjakkan kaki di tempat indah seperti ini, Yang.” Aurora tersenyum lebar, menyentuh lengan kokoh Adam. "Ini luar biasa. Terima kasih. Aku merasa seperti sedang di surga.""Uah! Papapa! Mamam mamam!" Alan yang berada di dalam stroller di dekat mereka ikut mengoceh, seolah setuju dengan keindahan tempat itu."Lihat, Alan
Setelah rangkaian pesta pernikahan tiga sesi yang melelahkan dari pagi hingga sore, Adam dan Aurora memilih untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk ucapan selamat. Mereka kini berada di sebuah penthouse hotel megah di jantung kota Paris, tempat di mana cahaya lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang luar biasa romantis.Adam berdiri di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke arah ikon kota, Menara Eiffel yang bersinar keemasan. Di lengannya, ia menggendong Alan Sky yang tampak takjub melihat kerlap-kerlip cahaya di luar sana."Lihat itu, jagoan Daddy. Indah, bukan?" bisik Adam lembut.“Ata ya ta tah!”Adam terkekeh. Ia kemudian menoleh ke arah Aurora yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap putranya. "Nah, sekarang Mommy dan Daddy sudah bisa tidur bersama kamu, Baby Alan. Doakan agar Mommy segera hamil, oke? Biar kamu punya teman main di rumah.""Uah! Pa pa pa pa pa!" Alan Sky bersorak riang sambil menggerak-gerakkan tangan mungilnya ke arah jendela.M
"Apa? Adam mau membunuhku? Dia sudah gila?! Aku ini adiknya sendiri—""Tuan Muda menganggap perbuatan Anda sudah sangat berbahaya," potong salah satu anak buah itu dengan suara datar, menghentikan histeria Elina. "Beliau tidak punya pilihan lain. Jangan anggap remeh peringatan ini, Nona. Kalau sampai Anda melakukan hal fatal seperti kemarin lagi, maka... jangan salahkan kakak Anda kalau beliau bertindak jauh lebih tegas dari sekadar mengikat Anda di sini."Elina terpaku, napasnya tertahan mendengar ancaman yang begitu nyata dari orang-orang kepercayaan kakaknya. Ia bisa merasakan bahwa kali ini, Adam benar-benar tidak main-main dengan ucapannya.Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam dari Elina, ketiga orang itu berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar begitu mengerikan, meninggalkan Elina sendirian dalam kesunyian kamarnya yang kini terasa seperti sel penjara.Sementara itu, di tengah kemeriahan pesta, sosok Evelyn tiba-tiba muncul di hadapan penga







