MasukTiga bulan berlalu sejak Aurora menjalani rutinitas barunya. Kini, tubuhnya yang dulu penuh perjuangan dan rasa tidak percaya diri telah berubah drastis.
Berat badannya yang dulu sempat melampaui batas kini berada dalam angka yang dianggap ideal, sebuah pencapaian yang terasa begitu memuaskan. Di depan cermin, Aurora memandangi refleksinya dengan tatapan penuh kebanggaan. Setiap lekuk tubuhnya tampak begitu proporsional Kulitnya bersinar lebih cerah daripada sebelumnya. Dulu yang kusam dan tak terawat, kini semakin glowing pun sehat, dan matanya memancarkan rasa percaya diri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Tinggi 164 cm, bobot 52 kg. Astaga! Aku tak menyangka aku bisa mendapatkan bobot idealku!" pikirnya sambil tersenyum tipis. Angka itu kini terasa sempurna, seperti sebuah karya seni yang diciptakan dengan penuh kesabaran dan usaha. Rambutnya yang semula kusam kini mengkilap, berkat perawatan mewah yang Adam berikan—sesuatu yang jauh dari angan angan Aurora sebelum pertemuan mereka. Adam, pria bermanik birh terang itu benar benar memberikan segala perhatian yang tak pernah ia duga. Dia merasa seolah menerima berkah yang datang bertubi-tubi, seperti durian runtuh yang menggugah setiap sendi tubuhnya. Membuatnya merasa dihargai, diinginkan, dan—seperti tak pernah ia bayangkan sebelumnya—berharga. Tapi yang membuatnya semakin yakin adalah pemikirannya tentang Samuel. Mantan suaminya itu, yang dulu sering menilai penampilannya dengan sinis, pasti akan terkesima melihat perubahan dirinya sekarang. Aurora membayangkan betapa terkejutnya Samuel melihat betapa cantiknya dia sekarang, bagaimana setiap lekuk tubuhnya bercerita tentang perjuangan, keteguhan, dan perubahan yang menakjubkan. Saat dia masih mematut diri di cermin, tiba tiba, pintu kamar terbuka dan Adam masuk, mata langsung tertuju pada Aurora yang tengah mematut diri. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Adam mengikis jarak, pun Aurora yang menoleh spontanitas. "Kau cantik," puji Adam tulus, nadanya penuh kekaguman. Senyum Aurora terhenti sejenak. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang, lebih cepat dari biasanya. Adam segera mendekat, meremas payudaranya dan rasa hangat menjalar di pipinya. Pun raa Malu yang bertandang bersamaan. Aurora buru buru berbalik, mencoba mengontrol kegugupan yang muncul di dalam dada. Dia mendorong dada Adam dengan lembut, meski cukup kuat untuk memberi isyarat. "Jangan lakukan itu lagi, Adam!" katanya, suaranya sedikit gemetar, meski ia berusaha untuk tetap tegas. Pria blasteran Swedia Indonesia itu terkekeh. Adam terdiam sejenak, namun tatapannya tetap lembut. Dan Aurora tahu, meski dia berbicara keras, hatinya tahu bahwa perhatian Adam selalu hadir dengan niat baik, bahkan jika itu membuatnya merasa canggung. Namun, untuk saat ini, ia ingin menjaga jarak dari kenyamanan yang baru mulai ia pelajari. Pria itu mengikis jarak, dia mendorong Aurora hingga tubuh wanita itu membentur dinding. "Aaargh! Kondisikan bibirmu!" kata Aurora saat pria ini begitu nakal meremas pantatnya. "Jangan jadi ibu susu untuk Alan saja. Jadilah ibu susu untukku juga, Aurora!" Kata kata itu menggema dalam ruang yang sempit, seperti petir yang menyambar tiba-tiba. Aurora membeku, matanya membelalak tak percaya. Apa yang baru saja Adam katakan? "Apa maksudmu?" Suaranya terdengar tersendat, cemas. Setiap kata terasa begitu berat, seakan beratnya kehadiran Adam yang semakin mendekat. Sebelum menjawab, Adam melumat bibir Aurora. Lantas setelab Aurora kehabisan napas, barulah dia tersenyum. Tetapi senyumnya kali ini bukanlah senyuman biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih mendalam, yang disembunyikan dalam tatapannya. "Tak mau kah kau menjadi istriku?" tanyanya, suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang membelai kulit. "Hah?" Aurora merasakan sebuah getaran di dadanya. Jantungnya berdegup kencang, seakan-akan tubuhnya menolak untuk menerima kenyataan yang tiba tiba begitu dekat. "I'm seriously!" "Adam, ini terlalu cepat!" jawabnya, berusaha menjaga jarak, meski hatinya berperang antara rasa takut dan rasa ingin tahu yang tak bisa ia hindari. "Tidak masalah! Aku bisa memaksamu!" Adam tidak menghiraukan penolakan yang samar dalam suara Aurora. Ia melangkah lebih dekat, dengan keyakinan yang tak terbantahkan. "Kau gila, Adam! Perjanjian kita hanyalah menjadi Ibu susu untuk putramu." "Kau lupa siapa aku, hm?" katanya, suaranya semakin berat. "Aku bisa melakukan apa pun untukmu, Aurora. Aku yang merubahmu, dan aku mau kamu menjadi milikku. Aku bisa menjadikanmu Ibu susu untuk diriku dan aku sepertinya tidak akan mau bersaing dengan putraku sendiri. Lihatlah, dadamu itu terlalu besar. Isinya juga banyak. Jika diminum oleh Alan saja, Mungkin dia tidak akan habis meminumnya setiap hari dan itu akan tersisa banyak. Bukankah itu akan menjadi basi, hm?" Lidah pria itu kembali menjelajah leher jenjang milik Aurora yang begitu membuatnya takjub. Dia sematkan tanda merah di sana untuk menunjukkan betapa dirinya tergila gila pada wanita yang baru selesai dia make over itu, selama berbulan bulan lamanya. "Aaah!" "Kau mau atau tidak!" "Sial! Apakah ini tujuanmu, huh? Kau berniat menjadikanku Ibu susu dan menjadikanku obsesimu?" "Hum, kau tahu itu." Sambil berkata begitu, ia melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya dengan gerakan perlahan, tanpa ragu. Matanya tetap tertuju pada Aurora, menantikan reaksi dari perempuan yang kini ada di depannya. Sungguh, Aurora merasa tercekik, seolah ruang di sekitarnya mengecil. Bagaimana mungkin semuanya terjadi begitu cepat? Dalam pikirannya, segala yang telah ia alami bersama Adam—perubahan, perhatian, rasa nyaman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—seolah semua itu mengarah pada titik ini. Namun, di balik rasa tertarik itu, ada ketakutan yang menyelinap masuk, menahan setiap langkah yang ingin ia ambil. "A- Adam! Kau jangan gila!" Ketika pria itu melepaskan seluruh pakaiannya, kini Aurora mundur selangkah, matanya tak mampu lepas dari sosok Adam yang kini berdiri begitu dekat. Ada pergulatan antara keinginan dan keraguan, antara dorongan hati dan logika yang mengingatkan bahwa semua ini terlalu cepat, terlalu mendalam untuk ia pahami saat itu juga. Aurora terkejut, tubuhnya langsung kaku mendengar kata-kata Adam yang keluar begitu tanpa rasa sungkan. Suasana kamar yang sebelumnya terasa hangat dan bersahabay, kini berubah menjadi tegang, penuh ketegasan yang mengerikan. "Come on, jangan tolak aku! Aku sudah menunggumu lama sekali!" kata Adam, suaranya berubah menjadi lebih mendesak, hampir seperti ancaman yang terselubung. Matanya terbakar dengan keinginan yang tak bisa ia sembunyikan. Damn! Tubuh Adam yang tegap pun otot liat yang ada di badannya membuat Aurora meneguk ludah berulang ulang. Ia tidak munafik jika tidak menginginkan sentuhan itu. Jujur, siapapun wanitanya akan terpana kepada sosok bule tampan yang benar benar sangat menggairahkan ini. Matanya yang biru indah, bagaikan Samudra lepas yang begitu menenangkan jika ditatap berlama-lama. Sedangkan rambutnya yang pirang menambah kesan sempurna pada diri pria itu. "Lepas!" elak Aurora namun dia tetap kalah. Suaranya serak, hampir tak terdengar ketika dirinya meronta-ronta supaya pria itu tidak menyentuhnya secara berlebihan seperti ini. "Banyak wanita yang bisa kau miliki, tapi aku tak sehina itu!" Ia berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Adam, namun tubuh Adam terlalu kuat, seolah tak memberi ruang untuknya melarikan diri. Lantas, Adam tertawa pelan. Suara itu seperti dengung yang menambah berat suasana. "Kau tak mau menikah denganku. Jadi, apa susahnya aku paksa dulu? Kalau kau hamil, kau akan meminta pertanggung jawabanku dan kita akan menikah. Simple!" Dia mengucapkannya dengan begitu percaya diri, seolah-olah itu adalah jalan keluar yang tak terbantahkan. Ternganga luar biasa. Aurora merasa dunia seolah berhenti sejenak. Kata-kata Adam menghantamnya dengan keras, mengiris hati dan pikirannya. Wajahnya pucat, dan napasnya terasa sesak. "Kau gila, Adam! Aku tak mau!" teriaknya, suaranya penuh dengan keteguhan yang tergores ketakutan. Aurora menggertakkan giginya, berusaha menahan air mata yang hampir menetes. "Whatever! Aku tidak peduli dengan apapun yang akan kamu lakukan karena kamu adalah wanita yang telah kutunjuk menjadi milikku selamanya!" Adam menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Seakan tak mendengarkan penolakan itu, ia tetap mendekat, penuh dominasi. "Kau pilih mana, menikah dulu atau kuhami dulu?" tanyanya, suara rendah dan berat, memaksa pilihan yang seharusnya tak ada dalam keadaan ini. "Hah?" "Aku bahkan sudah mengurus surat perceraianmu, kau dan Samuel sudah berpisah secara resmi dan aku telah melakukan hal yang membuatnya ketakutan setelah ini." "Ap- apa?" "Menerornya. Kamu mau melakukan pembalasan atau tidak? Jika mau, marilah balas denganku. Aku punya uang, kau bisa menyewaa pembu-nuh bayaran andai ingin membunuhnya. Atau paling tidak, buang tytyd-nya. Itu lebih bagus." "Apa aku bisa membuatnya menyesal setelah ini?" "Ya. Jika kau bersamaku, maka semua akan mudah. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kamu menerima lamaranku dan mari kita balas dendam kepada mantan suamimu itu. Atau jika kau memilih untuk berkeras hati, maka keluar dari rumah ini kau tidak akan selamat! Kau Pilih nomor berapa, Baby?" Tidak! Itu pilihan rumit dan Aurora tentu akan memikirkannya matang-matang terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.“Aku ingin bulan madu ini benar-benar menjadi waktu pemulihan untukmu. Kalau perlu, kita menginap di sini malam ini dan … bercinta di sini, mau?” goda Adam dengan suara rendah yang serak, tepat di samping telinga Aurora.“Apa? Bercinta di… sini? Di kapal ini? Di lautan lepas? Kamu bercanda?” Aurora terbelalak. Wajahnya seketika merah padam, terasa panas hingga ke telinga. Ia refleks memandang ke kiri dan kanannya dengan gelisah. Meski para pengawal dan awak kapal tampak sibuk dengan tugas masing-masing dan tidak menatap ke arahnya, ia sadar betul bahwa mereka memiliki pendengaran yang tajam. Ia merasa sangat tidak nyaman dan malu jika percakapan pribadi ini terdengar.Tapi meski begitu, Adam selalu bisa mencairkan suasana dengan kepercayaan dirinya yang meluap. Ia terkekeh melihat reaksi istrinya yang salah tingkah. “Apa salahnya melakukan itu? Toh, di kapal ini ada kamar suite yang mewah di bagian bawah. Kita bisa bebas menikmati kebersamaan kita tanpa ada gangguan sedikit pun.”
“Semakin sedikit orang yang tahu detail hidup kita, semakin aman posisi kita.”Aurora mengangguk perlahan, kini ia paham sepenuhnya mengapa keluarga sang suami jarang meng-upload kebersamaan keluarga besar itu di media sosial.Posesifnya Adam bukan sekadar masalah ego, melainkan sebuah bentuk perlindungan yang jauh lebih besar untuk keselamatan keluarga kecil mereka.“Aku mengerti sekarang, Yang. Maaf ya, aku tidak berpikir sejauh itu tadi,” ucap Aurora tulus.Adam tersenyum, mengecup kening Aurora dengan penuh kasih. “Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu gak tahu karena ya memang sebagian dari kami anti sosial media. Tapi, sebagian juga tidak. Hanya beberapa yang aktif di sosial media karena mereka memiliki usaha terkait itu. Contohnya Bibi Delanie, dia memiliki WO dan beberapa butik. Jadi, mau tidak mau harus aktif di media sosial.”“Setelah ini, kita mau ke mana, Yang?” tanya Aurora begitu langkah mereka mendekati bibir pantai. Ia memandang sekeliling, melihat kerumunan turis yang mula
Adam kemudian menunduk, berbisik tepat di telinga Aurora dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk istrinya meremang. "Atau kamu mau kita balik ke vila sekarang juga supaya aku bisa 'menutup' punggung ini dengan cara lain?”“Apaan sih, Yang.” Aurora tersipu malu. Ia memilih membuang muka mendengar celotehan suaminya yang tidak masuk akal—ya setelah semalam mereka juga habis bertempur semalaman suntuk.“Mau gak?” goda Adam penuh nafsu, mengabaikan tatapan lapar dari berbagai pria di sekitarnya pada sang istri.Sebenarnya, sejak Aurora melangkah keluar dari kamar tadi, napas Adam seakan tertahan di tenggorokan. Ia sendiri sangat mengagumi betapa menawannya sang istri hari ini. Aurora mengenakan gaun berbahan chiffon premium berwarna putih bersih yang tampak sangat ringan dan melayang indah.Bahan chiffon yang halus dan semi-transparan itu melekat dengan anggun, mengikuti setiap lekuk tubuh Aurora dengan sangat pas namun tetap memberikan kesan lembut. Saat tertiup angin laut Santorin
Setelah beberapa hari di Paris, jet pribadi keluarga Walker mendarat di Yunani. Adam memboyong Aurora dan Alan Sky ke sebuah vila eksklusif di Oia, Santorini, yang dibangun tepat di tebing menghadap kaldera.Setelah semalaman beristirahat, pagi itu, Aurora berdiri di balkon vila, menghirup aroma laut yang segar. Ia mengenakan dress putih berbahan sifon yang melambai tertiup angin. Di belakangnya, Adam muncul dan langsung melingkarkan lengan di pinggang istrinya, menumpukan dagu di bahu Aurora."Bagaimana? Sesuai keinginanmu? Kamu tidak perlu jalan jauh, cukup rebahan di sini dan seluruh laut Aegea ada di depan matamu," bisik Adam.“Aku tidak pernah menduga aku akan menginjakkan kaki di tempat indah seperti ini, Yang.” Aurora tersenyum lebar, menyentuh lengan kokoh Adam. "Ini luar biasa. Terima kasih. Aku merasa seperti sedang di surga.""Uah! Papapa! Mamam mamam!" Alan yang berada di dalam stroller di dekat mereka ikut mengoceh, seolah setuju dengan keindahan tempat itu."Lihat, Alan
Setelah rangkaian pesta pernikahan tiga sesi yang melelahkan dari pagi hingga sore, Adam dan Aurora memilih untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk ucapan selamat. Mereka kini berada di sebuah penthouse hotel megah di jantung kota Paris, tempat di mana cahaya lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang luar biasa romantis.Adam berdiri di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke arah ikon kota, Menara Eiffel yang bersinar keemasan. Di lengannya, ia menggendong Alan Sky yang tampak takjub melihat kerlap-kerlip cahaya di luar sana."Lihat itu, jagoan Daddy. Indah, bukan?" bisik Adam lembut.“Ata ya ta tah!”Adam terkekeh. Ia kemudian menoleh ke arah Aurora yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap putranya. "Nah, sekarang Mommy dan Daddy sudah bisa tidur bersama kamu, Baby Alan. Doakan agar Mommy segera hamil, oke? Biar kamu punya teman main di rumah.""Uah! Pa pa pa pa pa!" Alan Sky bersorak riang sambil menggerak-gerakkan tangan mungilnya ke arah jendela.M
"Apa? Adam mau membunuhku? Dia sudah gila?! Aku ini adiknya sendiri—""Tuan Muda menganggap perbuatan Anda sudah sangat berbahaya," potong salah satu anak buah itu dengan suara datar, menghentikan histeria Elina. "Beliau tidak punya pilihan lain. Jangan anggap remeh peringatan ini, Nona. Kalau sampai Anda melakukan hal fatal seperti kemarin lagi, maka... jangan salahkan kakak Anda kalau beliau bertindak jauh lebih tegas dari sekadar mengikat Anda di sini."Elina terpaku, napasnya tertahan mendengar ancaman yang begitu nyata dari orang-orang kepercayaan kakaknya. Ia bisa merasakan bahwa kali ini, Adam benar-benar tidak main-main dengan ucapannya.Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam dari Elina, ketiga orang itu berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar begitu mengerikan, meninggalkan Elina sendirian dalam kesunyian kamarnya yang kini terasa seperti sel penjara.Sementara itu, di tengah kemeriahan pesta, sosok Evelyn tiba-tiba muncul di hadapan penga







