MasukRanira dijual oleh majikannya sendiri pada seorang mafia kejam bernama Evander Lukas. Sebagai ketua mafia, Evans dikenal kejam dan berdarah dingin. Paling ditakuti oleh musuh. Tak ada satu pun hal yang Evans takuti di dunia ini. Tidak ada yang bisa menaklukannya. Sampai Ranira datang sebagai gadis tawanan yang membuatnya kewalahan.
Lihat lebih banyakMenanggapi itu, Jessica langsung berdecih meludah ke sampingnya. Ia tak ingin membuat James besar kepala dan menganggapnya menikmati tautan bibir mereka.Meskipun sebenarnya, Jessica memang merasakan sedikit gelenyar aneh yang menjalar di tubuhnya ketika James menjamah bibirnya tadi.Tetapi Jessica tidak ingin menunjukan itu."Jangan mimpi! Salah besar jika kau berpikir aku menikmati sentuhanmu. Aku muak padamu! Aku membencimu!" tegas Jessica."Benarkah?" James memicingkan mata.Jessica terdiam dengan mengatur napasnya. Ia tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tatapan James begitu lekat menatapnya, seolah lelaki itu ingin menyelami apa yang ada dalam pikirannya."Kau seorang putra dari keluarga terhormat. Bisakah kau berperilaku lebih manusiawi? Kau sudah menghancurkan kehormatan seorang wanita, lalu mengganggu ketenangannya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, kau bahkan tak meminta maaf. Sikapmu betul-betul tidak mencerminkan derajatmu." akhirnya Jessica bangkit berdiri, ia bisa turu
Pulang menuju rumahnya, Jessica menggerutu sepanjang jalan. Ia tidak habis pikir dengan Alden. Lelaki kaya itu membuatnya jengah dan sebal."Mungkin dia pikir karena aku ini wanita miskin dan dia bisa memanfaatkanku. Tidak! Aku paham apa yang ada dalam pikiran lelaki pembual seperti dia. Yang ada di dalam otaknya hanya bagian dalam paha wanita!" gerutu Jessica sembari terus melangkahkan kakinya, menyusuri gang kecil yang menyambung menuju ke kontrakannya.Fisiknya sangat lelah. Sejak tadi pagi, entah berapa kali Jessica menahan mual. Jessica menunduk, mengelus perutnya yang masih datar.Sekarang Jessica sudah bisa menerima kehamilannya. Bahkan Jessica menyesal mengapa dulu ia sempat ingin menggugurkan kandungannya."Mama tahu kau pasti lelah. Maaf ya, seharusnya dalam kondisi hamil muda seperti ini Mama tidak terlalu keras bekerja. Tetapi Mama perlu bekerja untuk dapat uang," ucap Jessica pada bayi yang ada dalam rahimnya.Sampai langkahnya terhenti di depan pintu kontrakannya. Jessic
Namun saat mulutnya terbuka dan benar-benar nyaris menelan semua obat itu, tiba-tiba Jessica langsung memuntahkannya ke lantai dan mengurungkan niatnya."Tidak! Aku tidak bisa melakukan ini! Tidak bisa!" isaknya, lalu menangis dan berbaring miring di atas ranjangnya.Jemarinya meremas bantal dengan kuat, ingin sekali Jessica menjerit marah.Mengapa hati kecilnya melarangnya melakukan itu? Mengapa hati kecilnya tak mengizinkanna melenyapkan bayi milik James yang sedang dikandungnya?***"Tuan Alden! Anda membeli sebuah bunga?" Nando—sekretaris Alden bertanya pada Alden ketika bossnya itu menghentikan mobil di toko bunga, lalu membeli buket bunga mawar berukuran sedang dari sana.Masih berdiri di dalam toko itu, Alden mendekatkan bunga ke hidungnya, aroma wangi dari bunga mawar itu langsung membelai indera penciumannya.Alden tersenyum menatap bunga di tangannya. Senyum itu membuat Nando semakin bingung. Pasalnya, ia seperti tak mengenal sosok Alden yang saat ini berdiri di hadapannya.
Seketika Jessica mematung di tempatnya. Ia berpikir, setiap kali melewati gang yang tak jauh di depannya itu, Jessica memang seringkali melihat ada beberapa lelaki yang sedang mabuk dan berjudi. Kini, Jessica jadi takut dan gamang jika harus melanjutkan langkah kakinya.Ketika melihat Jessica tak bergerak atau pun bereaksi, James akhirnya mulai kembali menyalakan mesin mobilnya. Bermaksud untuk meninggalkan Jessica saja. Gadis ini terlihat sedang berpikir seperti siput saja. Lambat sekali menurut James.Tapi, ketika mesin mobil James benar-benar menyala. Pintu mobil depannya juga sudah ditutup. Jessica mulai membuka mulutnya dan segera bergerak untuk menghadang mobil James yang sudah kembali pada posisi yang benar.“James, Tunggu!” teriak Jessica.Sontak saja James menghentikan mobilnya. Diam-diam di dalam mobil, sudut bibirnya terangkat.Jessica mengetuk kaca mobil, dan James menurunkannya.“James. Enghh ... boleh aku menumpang padamu?” tanya Jessica dengan wajah malu dan takut.Jame
"Benar. Wah, ternyata kau masih mengingatku ya." Thomas tersenyum lebar. Lalu ia melihat kea rah Ranira dan berjabat tangan untuk berkenalan."Thomas, aku minta maaf, aku harus mengantar istriku ke toilet," ujar Evans."Kenapa harus diantar segala? Toilet
Ranira membeku di tempatnya. Alisnya mengernyit mendengar Natthan memanggilnya dengan cara yang sangat tidak sopan."Kau memanggilku?" tanya Ranira."Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan kau.""Namaku bukan gadis sialan. Aku punya nama!
"Soal itu tidak perlu kau ingatkan. Evans memang selalu menginginkanku setiap waktu. Dia tidak bisa jauh dariku. Tapi ada hal penting yang ingin kuberitahukan padamu.""Benarkah? Sepenting apakah yang ingin kau katakan?" tanya Ranira melipat kedua tangannya di dada.&n
"Apa? Jadi Evans akan mengajak gadis itu pergi bersamanya besok?" Natthan terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Rey, bawahannya.Sambil duduk di kursinya, tangan kanan Nathan terkepal kuat."Sialan! Sepertinya Evans tahu kalau aku berniat menying






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.