ログインRanira dijual oleh majikannya sendiri pada seorang mafia kejam bernama Evander Lukas. Sebagai ketua mafia, Evans dikenal kejam dan berdarah dingin. Paling ditakuti oleh musuh. Tak ada satu pun hal yang Evans takuti di dunia ini. Tidak ada yang bisa menaklukannya. Sampai Ranira datang sebagai gadis tawanan yang membuatnya kewalahan. #Mafia #dewasa #noveldewasa #wanitatangguh #darkrommance
もっと見る"Sesuai janjiku, aku datang ke sini untuk menyerahkan putriku pada Tuan Evans," ujar Mike pada dua anggota mafia di depannya.
Ranira yang mendengar itu, sontak mengangkat wajah dan menoleh pada Mike dengan mata yang membelalak terkejut.
Pasalnya sebelum ke sini, Mike mengatakan padanya dia akan mendaftarkan Ranira di kampus tempat Cristie kuliah.
Tentu saja Ranira begitu bersemangat. Sejak dulu dia ingin kuliah, tapi dia harus mengubur impiannya karena keterbatasan biaya. Dia dan ibunya hanya bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Mike Moseley.
Tapi kini, Mike mengingkari ucapannya. Bukannya membawa Ranira ke kampus seperti yang dijanjikannya, Mike justru membawanya ke sebuah mansion mewah yang catnya didominasi warna hitam.
Entah tempat apa itu. Tapi Ranira merasa ngeri melihat dua pria berperawakan tinggi besar dengan tato naga di lengan, yang memasang wajah sangar di depannya.
"Baik. Tuan Evans sedang pergi ke luar. Mungkin dia akan pulang nanti malam. Kami akan menyampaikan kabar ini padanya," ucap salah satu dari mereka.
Ranira mengerutkan dahi. "Tunggu, ada apa ini? Apa maksud dari perkataan kalian?" tanya Ranira.
Tiba-tiba tangan Ranira ditarik masuk ke dalam mansion tersebut oleh dua bawahan Evans. Diam-diam Mike menyunggingkan senyum miring sembari membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Mike berbalik dan hendak pergi. Namun terhenti saat mendengar teriakan Ranira.
"Lepaskan aku! Kalian tidak bisa menarikku masuk! Aku mau pulang!"
"Aargghh! Gadis sialan," umpat salah seorang bawahan Evans setelah Ranira menggigit tangannya, lalu berlari menghampiri Mike yang baru saja turun dari teras.
"Tuan Mike, apa maksud Anda? Bukannya Anda bilang akan membawaku untuk daftar kuliah di kampusnya Cristie?"
"Ssstt ..." Mike membekap mulut Ranira dengan telapak tangannya.
Dua orang bawahan Evans keluar dan hendak menyusul Ranira. Namun Mike memberi isyarat agar mereka memberikan waktu sesaat.
"Aku ingin berbicara sebentar dengan putriku sebelum meninggalkannya," pinta Mike. Kedua bawahan Evans pun mengangguk dan memundurkan langkah.
"Jangan sebut nama Cristie di rumah ini," tekan Mike sambil mencengkeram ketat lengan kiri Ranira. Membuat gadis belia berbulu mata lentik itu meringis pelan.
Tentu saja Mike tidak mau Evans curiga jika Ranira menyebut-nyebut nama putri kandungnya.
"Tapi kenapa Anda mengakuiku sebagai putri Anda? Anda akan meninggalkanku di rumah besar ini? Apa yang sedang Anda rencanakan, Tuan Mike?"
Senyum seringai terlukis di wajah Mike. Lelaki yang telah menginjak usia kepala lima itu makin mengetatkan cengkeramannya di tangan Ranira.
"Aku adalah anggota dari organisasi mafia yang dipimpin oleh Evander. Semua kekayaanku yang berlimpah bukan hasil dari pekerjaanku sebagai pejabat. Tapi aku diutus sebagai tikus yang menyelinap ke dalam dunia politik untuk menggerogoti banyak uang dari sana."
Ranira memasang wajah terkejut. Matanya melebar, menatap serius pada Mike yang baru saja memberitahu bahwa ia adalah anggota mafia.
Padahal selama ini Ranira berpikir kekayaan Mike murni dari hasilnya mengabdi sebagai pejabat negara.
"Sayangnya, obsesiku untuk menjadi orang terkaya di negeri ini membuatku mencoba berhianat dengan mengambil keuntungan dari organisasi mafia lain. Sekarang, Evans sudah menendangku dari organisasi karena penghianatanku terbongkar. Harusnya aku dibunuh oleh Evans sebagai hukuman atas penghianatanku. Tapi, untungnya Evans memberiku sebuah penawaran yang membuatku terbebas dari jerat hukuman. Kau mau tahu apa penawaran itu?" Mike menyeringai lagi.
Membuat kedua alis Ranira saling bertautan.
"Apa?"
"Tawarannya adalah aku bisa bebas asalkan aku harus menyerahkan putriku padanya. Kau tahu sendiri bagaimana aku sangat menyayangi putri kandungku, Cristie. Maka dari itu, aku sengaja memilih menyerahkanmu saja. Di sini, kau harus mengaku sebagai putri kandungku. Jangan sampai Evans tahu kalau kau hanya anak pembantuku. Jika sampai rahasia ini terbongkar, maka nyawa ibumu menjadi taruhannya," cetus Mike tanpa perasaan.
Lelaki setengah baya itu menghempaskan kasar lengan Ranira. Sambil memegangi lengannya yang terasa sakit, Ranira menatap Mike dengan sorot benci.
"Dasar berengsek! Jangan berani menyakiti ibuku!"
"Tenang saja, Ranira. Hal itu tidak akan terjadi selama kau tetap menjaga rahasia. Sampai kudengar kau membocorkan pada Evander tentang siapa dirimu sebenarnya, maka aku jamin saat kau pulang ke rumahku nanti, kau akan melihat mayat ibumu." Ancaman Mike membuat hati Ranira mencelos.
Ranira menyesal. Mengapa ia harus termakan oleh jebakan Mike yang mengiming-iminginya daftar kuliah? Sekarang, Riana terjebak di dalam sarang mafia.
Setelahnya, Mike berpura-pura memasang wajah sedih dan memberi instruksi pada dua orang bawahan Evander.
"Aku sudah selesai bicara dengan putriku," ucap Mike, mengusap air mata palsunya.
Ranira masih tercenung dan melamun. Ia masih syok dengan kenyataan yang menimpanya.
"Sayang, Papa pulang. Maafkan Papa." Mike mengusap rambut Ranira, kemudian melangkah pergi menuju mobilnya.
Ranira langsung ditarik masuk oleh dua bawahan Evans. Mata Ranira sempat menoleh ke arah Mike yang menyunggingkan senyum puas sebelum masuk ke mobilnya.
Sementara Ranira terus digiring masuk menuju lantai atas, lantas diantar ke sebuah kamar yang luas dan lengkap dengan berbagai furniture mewah di dalamnya.
Ada sebuah ranjang berbentuk round bed berbalut sprei warna merah darah di tengah-tengah kamar.
"Tetaplah di sini sampai Tuan Evans pulang," ucap mereka, sebelum akhirnya menutup rapat daun pintu dan mengunci Ranira dari luar.
"Mama," desah Ranira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang akan dikatakan si brengsek Mike pada ibuku setelah dia melemparku ke dalam sarang mafia? Mungkin dia akan membuat cerita bohong. Sial! Kupikir dia orang yang baik, tapi ternyata dia sangat licik. Bisa-bisanya dia menyerahkanku ke tempat ini. Seharusnya Cristie yang berada di sini, sekarang."
"Aku tidak akan memaafkan lelaki tua itu jika sampai dia berani menyakiti ibuku," lanjut Ranira penuh emosi.
Dengan mata yang basah dan memerah, Ranira memendarkan pandangan ke sekeliling. Hanya ada beberapa lukisan berlatar hitam dan abu. Tidak ada satu pun foto sosok Evander yang katanya sang ketua mafia itu.
“Apa yang akan dia lakukan padaku jika dia pulang nanti?" gumam Ranira, bertanya dengan perasaan cemas yang menyergap hatinya.
***
Malam hari, ketika Ranira merasa kelopak matanya berat dan hampir saja jatuh tertidur di atas ranjangnya, tiba-tiba ia terkejut mendengar suara gemerincing kunci dari luar kamar.
"Siapa itu?" panik Ranira, segera mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya terus tertuju pada daun pintu yang ini berayun terbuka.
Ranira mengerutkan kening saat ia hanya melihat seorang bawahan Evans yang berdiri di ambang pintu.
"Tuan Evans sudah datang," beritahunya pada Ranira.
Apa? Ketua mafia yang bengis itu telah datang?
Ranira segera bangkit dari ranjangnya dan berdiri dengan wajah tegang. Selanjutnya, melangkah masuk seorang lelaki barparas tampan, berambut hitam kecokelatan, serta tubuhnya yang tinggi menjulang.
Mulanya, Ranira sempat terkesiap melihat lelaki yang kini berdiri di dekat pintu. Hati kecilnya mengakui ketampanan dari sosok lelaki karismatik tersebut.
"Apakah dia sang ketua mafia yang dimaksud oleh Tuan Mike?" tanya Ranira dalam batinnya.
"Nyonya Ranira tertidur, Tuan?" Enny terkejut melihat Evans yang menggendong tubuh Ranira yang tertidur di dalam mobil."Ya. Tolong bawakan tasnya yang tertinggal di mobilku!" perintah Evans sambil terus berjalan dan membawa tubuh istrinya masuk ke dalam pintu utama mansion.Enny mengangguk patuh dan melakukan apa yang disuruh.Sementara itu, Evans terus melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai atas.Setelah lift itu tiba, Evans pun keluar dari dalamnya dan melangkah memasuki kamar."Aku bingung bagaimana caranya kau bisa tidur pulas di dalam mobil," gumam Evans tersenyum menatap wajah istrinya yang baru saja ia baringkan di atas ranjang mereka.Evans duduk di dekat kaki Ranira dan melepaskan sepatu wanita itu satu per satu.Selanjutnya Evans berdiri membungkuk sambil menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.
"Sepertinya Erick mengetahui sesuatu, Tuan. Karena rekanku bilang Erick mencari Anda dengan wajah emosi. Dia meneriaki Anda dengan sebutan penculik dan pembunuh. Mungkinkah Erick sudah tahu kalau kebakaran yang menewaskan kedua orang tua Tuan Evans adalah disebabkan oleh Anda?" salah satu bawahan Nathan berasumsi.Ranira yang masih berada di bawah kolong meja pun spontan membekap mulutnya dengan satu telapak tangan. Ia terkejut mendengar penuturan Nathan dan kedua bawahannya.Ternyata Nathan lah yang membakar rumah Evans dan membuat kedua orang tuanya tewas. Tapi apa tujuan Nathan melakukan semua itu?Kenapa tiba-tiba ia mengadopsi Evans? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam benak Ranira."Jika benar begitu, maka pamannya Evans itu harus segera dilenyapkan. Aku tidak mau nantinya dia akan menjadi ancaman besar untukku. Evans sudah menjadi milikku. Aku tidak mau kehilangan anak cerdas itu. Ka
"Benar. Wah, ternyata kau masih mengingatku ya." Thomas tersenyum lebar. Lalu ia melihat kea rah Ranira dan berjabat tangan untuk berkenalan."Thomas, aku minta maaf, aku harus mengantar istriku ke toilet," ujar Evans."Kenapa harus diantar segala? Toiletnya tak jauh, kan? Istrimu tidak akan tersesat. Kau di sini saja. Kita baru saja bertemu. Masih ada beberapa hal penting yang perlu kubicarakan padamu." Thomas terus nyerocos dengan wajah santainya.Hal itu membuat Evans berdecak sebal. Karena tak tahan Evans pun menggenggam tangan kanan Ranira dan hendak pergi meninggalkan Thomas begitu saja.Namun Ranira menggeleng dan berkata. "Temani temanmu. Aku bisa pergi sendiri ke toilet. Tunjukan saja di mana arah toiletnya!""Ranira, aku yang akan mengantarmu.""Tunjukan saja, Evans! Temanmu itu sepertinya masih ingin bernostalgia denganmu."Sej
"Tuan Evans, Nona Ranira sudah datang!" Frank melihat Ranira yang baru saja keluar dari pintu utama dan berdiri di teras depan mansion.Sementara Evans sendiri memunggungi Ranira sambil menelpon seseorang di dekat mobilnya.Ucapan Frank membuat mata Evans pun menoleh ke arah teras dan seketika itu Evans terperangah selama beberapa detik.Matanya mengerjap, merasa takjub pada penampilan Ranira yang begitu cantik dan menawan dengan balutan dress warna merah berkerah sabrina yang panjang roknya mencapai mata kaki.Sial! Evans tak dapat menyangkal jika malam ini Ranira terlihat begitu ... cantik."Aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang?" ajak Ranira pada Evans.Evans tersadar dari lamunannya. Saking terpesona, Evans sampai tak menyadari tiba-tiba Ranira sudah berdiri di depannya."Eh, iya. Ayo kita berangkat!" Evans mengangguk, lalu memb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.