Home / Urban / Godaan Penghuni Kos Puteri / Malam Bersama Intan.

Share

Malam Bersama Intan.

Author: NomNom69
last update Huling Na-update: 2025-11-15 01:37:24

Raga duduk santai di dapur sore itu, menyalakan rokok sambil meniupkan asap pelan. Kopi hitam di depannya masih mengepul, tapi pikirannya jauh melayang ke kejadian-kejadian beberapa hari terakhir. Suasana kosan sedang tenang, hanya suara kipas yang berputar pelan.

Langkah kaki terdengar dari arah pintu belakang. Maudy dan Wulan baru saja tiba dari kampus dengan tas masih tersampir di bahu. Keduanya langsung menyapa ceria seperti biasa.

“Kak Raga lagi santai ya?” tanya Maudy sambil membuka kulkas.

“Iya nih Kak, akhir-akhir ini sibuk banget,” sambung Wulan sambil duduk di samping Raga.

Raga mengangkat alis dan tersenyum kecil.

“Ada urusan aja sama temen-temen,” jawab Raga singkat.

Wulan menyandarkan dagunya di meja, menatap Raga manja.

“Kapan nih free-nya? Aku udah kangen lagi, Kak…”

Belum sempat Raga menjawab, Maudy langsung maju, meraih lengan Raga seperti mau menyeretnya.

“Enak aja, gantian! Aku dulu dong,” kata Maudy sambil manyun.

Wulan terkekeh dan mengangkat
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Panti Asuhan Bilah Kasih

    Sekitar lima belas menit kemudian, pintu otomatis supermarket kembali terbuka. Vanya keluar membawa dua kantong belanjaan, langkahnya pelan. Dari kejauhan, raut wajahnya terlihat tidak tenang, seperti menyimpan rasa bersalah yang belum sempat ia ucapkan. Raga yang masih bersandar di motornya menoleh saat Vanya mendekat. Begitu tiba di samping Raga, Vanya langsung membuka suara, suaranya agak tertahan. “Jull… maafin aku ya,” ucapnya pelan. “Aku terpaksa.” Raga menatapnya sejenak. Ia menurunkan rokok dari bibir, melemparkannya ke aspal, lalu menginjaknya sampai padam. Setelah itu baru ia bicara, nadanya santai, nyaris tanpa beban. “Nggak apa-apa, Van,” katanya. “Santai aja.” Vanya tersenyum tipis, tapi jelas senyum itu dipaksakan. Tangannya mengeratkan pegangan kantong belanjaan. “Aku beneran ngerasa nggak enak, sama kamu.” katanya lagi. “Maaf ya.” Raga menghela napas pendek, lalu meraih helm dan mengenakannya. “Udah,” katanya singkat. “Nggak usah dipikirin.” Ia me

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Pertemuan Raga/Julian dengan Carmella

    Saat tiba di supermarket, Raga memarkirkan motornya di area parkir depan. Vanya sudah lebih dulu turun dan langsung berjalan masuk tanpa menoleh ke belakang. Raga sempat memperhatikan punggung Vanya beberapa detik, lalu memilih tetap tinggal di luar. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebatang rokok, dan menjepitnya di bibir. “Ah, sial…” Tangannya berpindah dari satu saku ke saku lain. Korek tidak ada. Raga mendengus pelan, hampir saja rokok itu ia lepaskan. Tiba-tiba, dari arah samping, sebuah tangan menyodorkan korek yang sudah menyala tepat ke ujung rokoknya. Tanpa menoleh, Raga langsung menunduk sedikit dan menyalakan rokok itu. Ia menghisapnya sekali, dalam, baru kemudian menoleh ke arah pemilik tangan tersebut. Lucy berdiri di sampingnya. Wajah perempuan itu masih menyimpan sisa lebam di pipi dan pelipis, tidak terlalu parah, tapi cukup jelas bagi mata Raga. Raga menatapnya sekilas, lalu tersenyum singkat. “Kenapa muka kamu?” tanyanya santai. “Abis digebu

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Dibalik Rencana Carmella

    Setelah pagi yang menyisakan sisa hangat di udara, Raga keluar kamar lebih dulu. Ia mengenakan kaus tipis dan celana rumah, langsung menuju dapur tanpa banyak suara. Kompor dinyalakan pelan, wajan diletakkan, dan satu per satu nugget serta sosis masuk, disusul telur ceplok di sisi lain. Minyak mendesis pelan, memenuhi dapur dengan aroma sederhana yang akrab. Tak lama kemudian, Laura muncul. Rambutnya masih sedikit basah, ujungnya menempel di pundak. Ia menarik kursi meja makan dan duduk, menyandarkan dagu di telapak tangan. Pandangannya tak lepas dari punggung Raga yang sibuk di depan kompor. Beberapa detik berlalu sebelum Laura akhirnya membuka suara. “Kamu sadar nggak sih, Ga,” ucapnya pelan, nadanya santai tapi jelas, “akhir-akhir ini kamu kelihatan deket banget sama Wulan.” Raga menoleh sekilas tanpa menghentikan gerakan spatulanya. “Iya,” jawabnya ringan. “Aku tahu kok.” Ia membalik telur, lalu melirik Laura lagi. “Kenapa emangnya?” Laura tersenyum kecil.

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Apa Langkah selanjutnya dari Raga.

    Raga pulang ke rumah dalam keadaan sunyi. Ia langsung masuk kamar mandi, membiarkan air mengalir agak lama sebelum akhirnya keluar dengan rambut masih lembap dan kaus tipis menempel di punggungnya. Di dapur, ia menyiapkan kopi dengan tenang meski pikirannya sedang bercabang. Bubuk kopi masuk ke gelas, air panas disiram perlahan, sendok diaduk pelan sampai aroma pahit itu naik memenuhi ruangan. Raga membawa cangkir itu ke ruang tamu, lalu duduk di sofa. Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap ke arah depan. Televisi di depannya mati, layar hitam itu memantulkan bayangan samar tubuhnya sendiri. “Benar dugaan gue,” gumam Raga pelan. “File itu udah di tangan Nyonya, untung aja gue udah suruh Indra minggat.” Raga kembali menghisap rokok, lalu meneguk kopi. Pahitnya tertinggal di lidah, membuatnya diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Punggungnya bersandar penuh ke sofa. Pandangannya turun ke lantai, lalu bergeser ke meja kecil di samping sofa. Di situ ponselnya tergel

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Raga mengambil Langkah

    Siang itu udara di kosan terasa lebih panas dari biasanya. Raga duduk sendirian di saung, bersandar di tiang kayu sambil menatap halaman yang lengang. Suara kipas angin kecil di sudut saung berputar pelan, kalah oleh suara serangga siang hari. Ia menggeser posisi duduknya, satu kaki dinaikkan ke bangku, siku bertumpu di lutut. Matanya menyapu sekeliling kosan—gerbang, tangga bangunan lama, lalu bangunan baru—memastikan tak ada satu pun orang yang lalu-lalang. Setelah yakin keadaan aman, Raga merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan satu nama kontak lama. Nada sambung terdengar. “Bro… apa kabar?” ucap Raga saat panggilan terangkat. Suaranya terdengar santai. Di seberang sana terdengar tarikan napas kaget. “Julian?” suara itu ragu, lalu meninggi. “Lo Julian, kan?” Raga sedikit menunduk, matanya masih awas menatap sekitar. “Iya,” katanya pelan. “Gue Julian.” Beberapa detik hening, lalu suara tawa meledak dari sebe

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   File yang di Incar x Paula x Carmella

    Hari Minggu pun tiba, siang itu udara dermaga terasa panas menyengat. Deru ombak kecil memukul tiang-tiang kayu, sementara bau asin laut bercampur solar kapal menusuk hidung. Mobil hitam Nyonya berhenti tak jauh dari bibir dermaga, mesin masih menyala, kaca gelap menutup pandangan dari luar. Nyonya duduk tenang di jok belakang, punggungnya tegak, satu tangan menopang dagu. Asap rokok keluar perlahan dari bibirnya, membentuk garis tipis sebelum lenyap tertiup angin laut. Di sampingnya, Vanya duduk kaku, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan, pandangannya sesekali melirik ke kaca depan lalu kembali menunduk. Beberapa ajudan berdiri menyebar di sekitar mobil. Ada yang pura-pura memeriksa ponsel, ada yang menatap ujung dermaga dengan sorot waspada. Mata mereka menatap sekeliling dengan waspada, langkah kaki mereka jarang berpindah, tapi terlihat siap bergerak kapan saja. Nyonya memecah keheningan tanpa menoleh. “Vanya, nanti kamu diam saja,” ucapnya pelan namun tegas. Asap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status