LOGINAcara Penghargaan Sang Jian datang ditemani oleh Alexa dan menjadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi dengan penampilan mereka di depan publik membuat semua orang tahu kalau Sang Jian orang yang cinta dengan istrinya. Membuat semua para fansnya menerima Alexa dengan lapang dada karena sebelumnya Sang Jian sudah mengirim hal-hal romantis di akun sosial miliknya. "Wah itu Sang Jian dengan istrinya.""Ayo potret mereka."Sang Jian dan Alexa hanya tersenyum dan memberikan beberapa ruang pada mereka untuk mengabadikan momen tersenyum. Setelah sesi foto tersebut, Sang Jian dengan mesra langsung menggandeng tangan Alexa. "Ayo sayang kita ke sana," ajak Sang Jian dengan mesra. Mereka sudah disiapkan tempat duduk berdampingan khusus oleh membuat acara. "Baiklah."Alexa dengan anggun baju yang dia gunakan sekarang. Berjalan menuju kearah tempat duduk bersama dengan para tamu undangan lagi. Pada saat yang bersamaan, Nico juga datang bersama dengan Amira. Tentu saja sebagai pasangannya
Rian sudah ditangkap oleh pihak kepolisian sekarang. Arjuna merasa lega karena semuanya sudah berjalan dengan baik. "Akhirnya tertangkap juga," kata Sang Jian. Alexa memeluk Sang Jian dengan erat, dia sudah melalui banyak hal yang dilakukan oleh pria itu. Dia sungguh dia mengetahui semuanya. "Kalian malah bermesraan," kata Arjuna. "Iya kamu juga bisa kali kalau ingin," kata Sang Jian. Alexa tertawa setelah mendengar hal itu. Lalu dia melirik kearah Amira dan Nico yang nampak berdua. "Kita pulang sekarang," kata Nico. "Bagaimana dengan kondisi ibuku?" tanya Amira dengan khawatir. Alexa yang tadi diam akhirnya kembali berbicara. Apalagi dia sudah melakukan hal yang baik. Semuanya sudah dia rencanakan. "Dia bersama dengan Luna," kata Alexa. "Kalau begitu kita sebaiknya cepat pulang karena aku juga ingin bertemu dengan ibuku," ujar Amira dengan jujur. "Iya kita pulang sekarang. Nico dan Amira masuk ke dalam mobilku saja, kita sekalian ke rumah sakit," ajak Arjuna. Nico setuju
Amira senang karena orang-orang jahat itu sudah diamankan. Hanya saja Rian yang menjadi dalang dibalik semuanya tidak terlihat. Apa laki-laki itu sudah memilih pergi? Dia tidak tahu tentang hal ini, tetapi dia berusaha untuk melakukan semuanya dengan baik. "Bagaimana kamu bisa diculik dan di mana Nico dan Sang Jian?" tanya orang yang menolong Amira. "Mohon maaf, soal itu saya kurang tahu.""Kamu yakin tidak sedang berbohong?" tanya orang itu.Amira menggelengkan kepalanya, dia berkata jujur kepada orang-orang yang menolong dirinya. Setidaknya semuanya demi keselamatan dirinya. "Iya, aku juga ini diculik, mungkin Nico akan ke sini dan menyelamatkan aku," jelas Amira. Semua orang sudah mulai paham, dan tak lama kemudian semua orang jadi heboh ketika mengetahui kalau ada mobil milik Sang Jian datang ke sini. Mereka semuanya tersenyum bahagia menyambut kedatangannya dari pria itu. "Itu Sang Jian dengan istrinya.""Iya kamu benar, ayo kita ke sana."Semua orang kini mulai berjalan me
Rian tengah tenang sambil menyesap kopinya, dia menunggu keputusan dari Arjuna. Tentu saja dia ingin ayahnya menandatangani surat wasiat miliknya. Dia tidak akan mudah untuk melakukan sesuatu, apalagi dengan tangan yang kosong. "Belum ada kabar dari mereka," gumam Rian. Sampai tak lama kemudian, ada seseorang yang kini datang menghampiri Rian dan dia hendak akan mengatakan sesuatu sekarang. "Permisi Tuan.""Ada apa?" tanya Rian pada orang yang kini menghampiri dirinya. "Di bawa terlihat banyak sekali warga yang berfoto. Mereka terlihat ramai-ramai datang ke sini," kata orang tersebut memberitahu Rian. "Untuk apa mereka ke sini?" tanya Rian yang sedikit panik. "Kami juga tidak tahu, mereka semuanya katanya ingin bertemu dengan Sang Jian dan Nico.""Apa? Kamu tidak mencegahnya. Memangnya mereka akan ke sini?" tanya Rian langsung panik. Dia khawatir kalau sampai persembunyian dirinya ketahuan. "Mereka semuanya memaksa ingin bertemu," kata orang itu pada Rian. "Kamu tidak becus,
Nico sudah berada di tempat tersebut dan mencari keberadaan dari Rian, tetapi dia tidak menemukan jejak dari laki-laki itu. Alexa berkeliling rumah itu untuk memastikan sesuatu, tetapi dia juga tidak menemukan apapun. "Sepertinya memang tidak ada," kata Alexa. "Padahal aku yakin disekitar sini," ujar Nico memastikan semuanya. "Kita cari ke tempat lain saja," kata Sang Jian yang sudah menyerah. Dia tidak menemukan kebenaran Rian. Kalau pun ada, pasti tempat ini sudah dijaga dengan ketat karena tidak ingin ada yang menerobosnya."Yaudah kalau begitu kita ke mobil lagi saja," kata Nico.Alexa dan Sang Jian setuju, sampai akhirnya mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil. Sang Jian menyalakan mesin mobilnya, sedang-kan Alexa berusaha untuk melacak keberadaan Amira sekarang. Sampai ponsel milik Nico tiba-tiba berdering tanda ada yang menghubunginya. "Siapa?" tanya Sang Jian. "Arjuna, dia menelepon," kata Nico. "Kalau begitu angkat saja, siapa tahu memang penting," kata Sang Jia
Sang Jian sudah menghubungi Nico dan mereka akan bertemu di tengah jalan. Kebetulan Nico tadi masih berada di rumah sakit. "Nico lama sekali," umpat Alexa. "Kamu tidak usah khawatir, kita pasti akan menemukan dia," kata Sang Jian. Alexa hanya mengangguk saja sambil memandangi tablet miliknya. Dia berusaha untuk melacak keberadaan seseorang. "Kita tidak menemukan jejaknya," kata Alexa sambil melihat layar. Sang Jian menoleh kearah Alexa kembali, dia tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu sekarang. "Rian tidak mungkin membawa Amira ke dalam rumahnya bukan?""Harusnya seperti itu, kita harus tanya ke anak buahnya yang sudah kita tangkap, mungkin saja dia tahu markas Rian."Sang Jian setuju dengan usulan yang diberikan oleh Alexa padanya. "Kamu benar sayang. Aku akan mengirim pesan pada Arjuna untuk mengintrogasi dia."Alexa hanya mengangguk saja, sampai tak lama kemudian, ada mobil yang menghampiri mereka berdua sekarang.Orang dalam mobil itu langsung turun dan menghampiri Ale







