Share

Baru Permulaan

Author: Queen Mylea
last update Last Updated: 2025-10-02 20:05:53

"Oh, jadi bocah tengil itu ada di sini," ucapnya sambil menyeringai, menatap bangunan cukup megah di kawasan elite ibukota.

Audi A4 brilliant black itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang lebih mirip rumah pribadi. Namun di kalangan tertentu, orang-orang tahu tempat tersebut adalah basecamp milik Leonardo Mahaputra Wijaya—remaja bad boy yang populer sekaligus ditakuti di sekolahnya.

Pintu mobil terbuka. Seorang wanita cantik berpenampilan dewasa turun dengan langkah anggun namun penuh wibawa.

Siapa lagi kalau bukan Silvi, guru privat yang baru beberapa jam lalu bertemu Leon. Dan kini, ia datang dengan satu tujuan: menjemput murid nakal itu.

Beberapa remaja yang tengah nongkrong di teras basecamp sontak terdiam, pandangannya melekat pada sosok asing yang begitu memikat.

“Eh, siapa tuh? Cantik banget,” bisik salah satunya.

“Gila, body-nya kayak gitar Spanyol,” timpal yang lain dengan tatapan nakal.

Namun senyum-senyum usil mereka seketika lenyap saat wanita itu membuka mulut.

“Di mana Leon?” suara Silvi terdengar datar, tapi tajam dan mengintimidasi.

Tak ada jawaban. Justru tawa kecil dan godaan balik yang ia terima. Tapi dalam sekejap, tawa itu berubah jeritan ketika salah satu dari mereka dicengkeram kerah bajunya dan dipelintir tangannya.

“Saya tidak suka buang-buang waktu. Bocah-bocah nakal seperti kalian, bisa saya buat lumpuh dengan mudah,” bisik Silvi dingin, membuat dua lainnya segera ciut nyali.

Ketegangan kecil itu berakhir ketika Silvi melangkah masuk tanpa permisi. 

Dua pengawal basecamp yang mencoba menghadang pun tak bisa mengalahkannya, tubuh mereka terhempas begitu saja ke halaman.

Sementara itu, di dalam kamar, Leon tengah berduaan dengan seorang gadis sebaya. 

Senyum angkuhnya mengembang, merasa dirinya paling berkuasa di tempat itu. Sudah menjadi kebiasaan, jika sedang kesal ataupun marah, ia pasti mencari pelarian dengan hiburan.

Gadis mana yang bisa menolak pesonanya? Jangankan sekedar ciuman, harga diri pun rela mereka berikan.

Leon menyeringai saat wanita di hadapannya begitu agresif dan berniat untuk menanggalkan pakaiannya. Namun senyum itu lenyap ketika pintu kamarnya tiba-tiba didobrak keras.

Brak!

Leon sontak menoleh. Matanya membelalak ketika melihat sosok yang paling ia hindari dan menjadi sumber kekesalannya hari ini muncul di ambang pintu.

“KAU?!” teriaknya kaget sekaligus kesal.

Silvi berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya menusuk, bibirnya menyungging senyum kecut.

“Bocah nakal. Ayo pulang!”

Leon berdiri, rahangnya mengeras. “Heh! Lo itu apaan sih? Dasar penguntit! Jangan ikut campur urusan gue!"

Namun Silvi tak bergeming. “Aku hanya menjalankan tugas. Kalau kau tidak mau ikut, aku lapor ayahmu dan bilang kalau pewaris Lucas Corporation sedang berbuat mesum!"

Leon melotot, wajahnya merah padam, bukan karena malu, melainkan karena harga dirinya diinjak. "Beraninya kau mengancamku?!" Leon semakin berang. Nafasnya memburu. Sebelum sempat melawan, Silvi lebih dulu mendekat lalu menjewer telinganya.

“Aaah, sakit, Tante! Lepasin!” teriaknya keras, tapi tubuhnya tetap terseret keluar kamar.

Di halaman, mata Leon terbelalak. Kursi-kursi terbalik, meja berantakan, dan teman-temannya meringis kesakitan di lantai. Dua pengawal yang biasa diandalkan pun sudah tak berdaya.

“Astaga… ini semua ulahmu?!” serunya tak percaya.

Silvi hanya menoleh, menyeringai tipis. Senyum itu sudah cukup sebagai jawaban.

Leon tercekat. Lima orang tumbang oleh satu wanita. Siapa sebenarnya wanita ini?

“Cepat masuk ke mobil sebelum nasibmu sama seperti mereka,” titah Silvi dingin.

Leon mendengus, tapi terpaksa menurut. Malam itu, bukannya kesenangan yang ia dapat, justru penderitaan.

‘Sialan, gue bakal protes ke Papi. Gue gak mau punya guru privat bar-bar kayak gini!’ gerutunya dalam hati, sembari mengusap telinganya yang memerah.

Silvi melajukan mobilnya dengan tenang. Jalanan lengang, hanya sesekali kendaraan lain melintas. Sesekali ia melirik ke arah Leon yang duduk di kursi penumpang dengan wajah kusut.

Dalam hati, Silvi mendengus kecil. 'Anak ini benar-benar liar. Kalau dibiarkan, bisa-bisa makin hancur. Untung aku datang tepat waktu.' Senyumnya tipis. 'Dan… kalau perlu, aku gunakan kelemahan terbesarnya: nafsu mudanya sendiri.'

“Berhenti ketawa-ketawa sendiri, Tante! Nyeremin tahu gak?!” gerutu Leon tiba-tiba, membuat Silvi semakin terkekeh kecil. Ternyata Leon sejak tadi memperhatikannya.

Pemuda itu menatapnya dengan sorot mata membara. “Lo pikir gue bakal takut sama lo? Heh! Gue ini Leonardo Mahaputra Wijaya, bos muda yang ditakuti semua orang. Jangan sok atur-atur hidup gue."

Silvi akhirnya membuka suara. Nada bicaranya tenang, tapi penuh tekanan.

“Bos? Kau cuma anak manja yang kebetulan lahir kaya. Lihat dirimu sendiri, Leon. Hanya bisa mengandalkan uang ayahmu untuk pamer dan foya-foya. Tanpa itu, kau bukan siapa-siapa.”

Leon terdiam sepersekian detik, lalu mendengus keras. “Diam lo! Gak usah sok tahu tentang gue! Lo itu cuman guru yang dibayar buat ngajarin gue belajar, bukan ngatur-ngatur hidup gue. Paham!?"

Silvi tak menjawab. Ia malah menginjak rem mendadak, menghentikan mobil secara tiba-tiba di tikungan sepi.

Leon terjerembab ke depan, kaget sekaligus makin geram dengan tingkah Silvi yang di luar dugaan itu. 

“Apa-apaan sih? Gila lo ya, ngerem mendadak?!"

Namun Silvi justru mencondongkan tubuhnya ke arah Leon, lebih dekat dari sebelumnya. Wajah mereka hanya terpisah sejengkal. Suara napasnya bisa Leon rasakan, membuat tubuhnya menegang. Dalam gerakan yang tak terduga, bagian depan tubuhnya—lengkung yang tak bisa dipungkiri keindahannya—menyentuh jarak pandang Leon.

Pemuda itu seketika terdiam. Wajahnya memanas, jantungnya berdegup lebih kencang. Tatapan matanya tertuju pada belahan dada yang membuat jakunnya naik turun. Untuk kesekian kali, Silvi membuatnya terangsang.

Leon menelan salivanya kuat-kuat. Wajahnya terlihat tegang. Sementara Silvi, malah semakin menggodanya. 

Bocah nakal itu sekali-kali memang harus dikasih paham supaya diam dan tidak terus memaki sepanjang jalan.

“Tahu kenapa aku ditunjuk untuk jadi gurumu?” tanya Silvi pelan, nyaris berbisik.

Leon menelan ludah, mencoba menahan tatapan, tapi matanya tetap terpaku pada wajah cantik itu. “Ke-kenapa?” tanyanya terbata.

“Karena Robert butuh seseorang yang bisa menundukkan bocah liar sepertimu. Dan aku adalah orang yang tepat," ucap Silvi dengan desah manja, telunjuknya menyentuh pipi pemuda itu. Jemari dengan kukunya yang indah bergerak dari pelipis hingga dagu, membuat Leon semakin tegang.

Senyum Silvi terulas samar melihat pemuda itu salah tingkah dan gugup. Ia lalu menegakkan tubuhnya kembali.

Leon menghembuskan nafasnya yang sejak tadi terasa sesak. Wajahnya panas, jantungnya berpacu. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, menutupinya dengan dengusan kesal. 

"Sial… tante gila ini benar-benar bikin gue salting. Beraninya dia mempermainkan gue kayak tadi. Sialan!"

Silvi tersenyum tipis, menyalakan mesin lagi. Mobil kembali melaju dengan mulus, meninggalkan jalanan sepi itu. 

Dalam hati, ia sudah menang satu langkah. 

Tenang saja, ini baru permulaan.

***

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Liar Tante Silvi   80. TAMAT

    Keesokan hari.Roberto sedang duduk membaca koran pagi, sementara Emily, wanita bar-bar yang kini lebih lembut, keibuan dan sebentar lagi akan menjadi istrinya itu sedang menata bunga. Cheryl, adik tiri Leon yang ceria, bermain boneka Barbie di ruang keluarga.Suasana rumah hangat, damai… kontras dengan dulu, ketika Leon selalu menjaga jarak dan tidak mau terlibat dengan siapa pun di keluarganya, termasuk pada ayahnya sendiri.Hari ini berbeda.Hari ini, Leon mengetuk pintu dan masuk sambil menggandeng Silvi. Wajahnya tidak sedingin dulu. Ia tampak… bahagia. Yah, meskipun senyum itu terkesan dipaksakan ketika melihat kebersamaan Roberto dengan calon ibu sambungnya itu.Roberto tersenyum. “Leon. Silvi. Akhirnya kalian datang."Leon menarik napas panjang. Silvi menggenggam tangannya, memberikan isyarat agar Leon bersikap ramah. "Ya, kan kau yang suruh. Jika tidak, mungkin kita masih liburan bulan madu."Silvi menyenggol lengannya. "Leon...""Ya, ya, Sorry. Heum, baiklah... Pah, dan kau

  • Gairah Liar Tante Silvi   79. Kabar Gembira

    Pagi hari berjalan kacau balau tapi juga romantis setelah insiden mie instan es krim vanilla yang membuat Leon hampir menyerah pada dunia kuliner.Setelah mandi, Leon kembali ke kamar, rambutnya masih basah, wajahnya segar… tapi matanya sedikit trauma ketika melihat piring bekas mie instan di meja.Silvi menatapnya sambil tersenyum bersalah.“Kamu masih mual?”Leon menjauh satu langkah dari piring itu. “Kita… jangan bahas mie itu lagi.”Silvi tergelak kecil. “Maaf, calon papa.”Leon memutar mata. “Aku lebih takut ngidam berikutnya daripada menghadapi rapat direksi.”Silvi menepuk lengannya. “Nanti aku belajar menahan diri.”Leon menatapnya penuh curiga. “Jangan janji palsu, Sayang.”Silvi mencibir, lalu meraih tangannya. Ia ingin bermanja-manja dengan suaminya, namun Leon tiba-tiba menariknya pelan dan membawanya berdiri.“Ayo jalan-jalan sebentar. Udara pagi bagus buat ibu hamil."Silvi mengangguk. Sementara Leon langsung bergerak seperti bodyguard pribadi. Ia mengambilkan sandal Sil

  • Gairah Liar Tante Silvi   78. Ngidam

    “Leon… turunin aku,” gumamnya, pipinya merah padam.Leon mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu pusing? Mau muntah? Mau—”“Enggak! Aku… takut jatuh,” protesnya lirih. Leon langsung menghentikan putaran seakan mendapat teguran dari dokter kandungan. “Oke. Maaf! Langsung mode hati-hati.”Ia meletakkan Silvi perlahan di tepian bathtub, seperti menurunkan barang pecah belah paling mahal di seluruh dunia. Bahkan, cara Leon melepaskan tangannya pun pelan sekali, seakan Silvi bisa meledak kalau disentuh terlalu keras.Silvi menatapnya, geli sekaligus terharu."Sayang… aku itu manusia, bukan telur burung unta.”Leon mendesah panjang, meraih wajah Silvi dengan kedua tangannya. “Kamu itu istriku. Dan kemungkinan besar… ibu dari anakku. Kau pikir aku bisa santai setelah lihat dua garis itu?”Silvi tersenyum kecil. “Leon, baru lima menit yang lalu kamu hampir—”“—melakukan keganasan di malam pengantin kita, heum?” Leon mengangkat alis. “Sekarang aku akan hati-hati. Aku gak akan ganas-ganas, janji de

  • Gairah Liar Tante Silvi   74. Calon Pewaris

    Leon baru saja menutup pintu suite itu dengan kakinya ketika ia meletakkan Silvi di atas kasur king size yang penuh dengan kelopak mawar putih. Lampu-lampu temaram membuat mata Leon terlihat semakin dalam, gelap, dan penuh cinta. Silvi sendiri tampak bersemu merah, napasnya tidak beraturan setelah ciuman panjang barusan.“Leon…” bisik Silvi, suaranya lirih, manja, dan… sedikit bergetar. Leon membungkuk, menangkup wajahnya, “Jangan gugup. Kita lakukan pelan-pelan.” Silvi menahan tawa. Ini benar-benar lucu. padahal mereka sering melakukan dengan ganas, tapi malam ini seolah menjadi malam pertama untuk mereka. Tak ingin merusak suasana yang romantis itu, Silvi mengikuti permainan Leon. Jemarinya bergerak pelan ke dada Leon, lalu ia menarik napas dalam—sangat dalam—dan—“Leon… aku…”Dia tiba-tiba menegakkan tubuh. Matanya melebar. Rasa aneh itu tiba-tiba muncul. Merusak suasana penuh gairah yang sejak tadi menggebu-gebu.Leon mendekat, khawatir. “Kenapa? Sakit? Kamu takut?”Silvi mengg

  • Gairah Liar Tante Silvi   76. Malam Milik Kita

    Langit Bali sore itu seperti lukisan hidup. Sapuan jingga, merah muda, dan ungu bertumpuk lembut di cakrawala. Matahari perlahan turun menuju garis laut, memantulkan cahaya keemasan yang berkilau di permukaan air, sementara ombak kecil berkejaran ke bibir pantai, menciptakan irama alam yang menenangkan.Di sisi pantai pribadi milik Wijaya Group yang dikenal sebagai salah satu lokasi paling eksklusif di Bali, resepsi pernikahan Leon dan Silvi digelar.Tidak megah berlebihan. Tidak penuh glamor mencolok. Namun justru karena kesederhanaan elegan itulah, suasana resepsi ini terasa begitu hangat… intim… dan luar biasa berkesan.Deretan kursi putih dengan kain tule tipis tertata rapi menghadap laut. Meja-meja bundar dihiasi rangkaian bunga lily dan mawar putih berpadu dengan greenery eucalyptus, memberikan aroma segar yang menenangkan. Lampu-lampu bohemian berbentuk bola rotan menggantung rendah, siap menyala ketika senja benar-benar tenggelam.Dress code para tamu: putih.Gaun santai namun

  • Gairah Liar Tante Silvi   75. Janji Suci

    Di tengah kekacauan itu, Leon justru bergerak. Wajahnya nampak tenang, meskipun geram karena kedatangan Anya yang menggangu pernikahannya ini.Ia memeluk Silvi, mencoba menyenangkannya. Matanya menatap ke arah Anya yang berdiri di pintu utama gereja.Kemudian tatapannya beralih pada seluruh hadirin yang hadir. Ia begitu Tegas dan penuh enuh wibawa.Leon melepaskan pelukan dari Silvi hanya untuk berdiri lebih maju, tubuhnya melindungi Silvi di belakangnya. Matanya menatap lurus ke arah Anya dan barisan paparazi, sorot hitam tajam yang membuat banyak orang otomatis terdiam.Dengan suara yang rendah namun menggema ke seluruh sudut gereja, Leon berkata, “Cukup.” Para tamu membeku, paparazi ragu mengambil langkah, bahkan Anya tersentak sejenak.Leon melangkah lagi, naik satu tapak ke altar, lalu menatap seluruh ruangan. “Aku tidak peduli siapa yang mencoba menghentikan pernikahan ini,” ucap Leon. Suaranya tak bergetar, penuh keyakinan dan kekuatan. “Aku tidak peduli rumor. Tidak peduli m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status