Share

Pengasuh Bayi Besar

Author: Queen Mylea
last update Last Updated: 2025-10-02 20:07:26

Setibanya, Leon langsung berjalan dengan wajah tak bersahabat masuk ke dalam rumahnya. 

Langkahnya terdengar kasar dan menghentak. Para pelayan tahu jika sang tuan muda sedang dirundung emosi.

Madam Jen mendekat, dengan hati-hati berkata, "Tuan Muda ... makan malam sudah siap. Sebentar lagi Tuan Robert akan tiba, sebaiknya Tuan Muda membersihkan diri dan bersiap-siap."

Leon tak menggubris perkataan kepala pelayan itu. Ia berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.

Brak!

Pintu kamar ditutup dengan keras, menimbulkan gema dan suara yang mengejutkan di rumah megah yang sepi senyap itu.

Leon melemparkan tasnya ke sembarang arah. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk dengan bed cover abu-abu.

"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia berani sekali?” Leon menggerutu. “Arghh, sial! Gara-gara dia, si Junior jadi bangun terus!"

---

Keesokan paginya.

Byuuur!

Seember air dingin mengguyur tubuh Leon yang sedang tertidur pulas di atas kasur empuknya. 

Lelaki berusia dua puluh tahun itu sontak tersentak bangun, napasnya memburu. Dengan wajah kuyup dan kusut, ia langsung terduduk, mengusap wajahnya dengan ekspresi terkejut bercampur amarah.

“BRENGSEK! Siapa yang beran—”

Ucapan Leon terhenti begitu saja saat pandangannya menangkap sosok wanita yang berdiri di ujung ranjangnya. 

Wanita itu mengenakan tank top ketat dipadukan dengan celana pendek hitam yang menonjolkan kaki jenjangnya. Rambut kecokelatannya diikat kuda, dan wajah cantiknya dihiasi senyum tipis, namun sorot matanya dingin dan tajam.

“Tante?!” Leon melongo. “Ngapain lo di kamar gue?!”

Semalam, saking kesalnya, Leon langsung masuk begitu saja setelah Silvi mengantarnya pulang. Ia tak sadar, Silvi pun ikut masuk ke rumah, bahkan memarkir mobilnya di garasi keluarga. 

Atas permintaan khusus Tuan Roberto—ayah Leon—Silvi diminta untuk tinggal di rumahnya agar bisa mengawasi anak bandel itu setiap waktu.

“Beraninya lo nyiram gue?!” pekik Leon kesal. “Lo belum tahu siapa gue, hah?!”

Silvi melipat kedua tangannya di dada, tubuhnya tetap tegak dengan tatapan intimidatif. “Kenapa harus takut sama bocah tengil kayak kamu? Aku tahu kok siapa kamu, Leon Mahaputra Wijaya. Anak tunggal pewaris Lucas Cooporation Group. Anak emas keluarga besar, tapi sayangnya bodoh, otaknya kosong sampai dua kali tidak lulus."

“SIALAN!” bentak Leon, wajahnya merah padam. “Gak perlu lo perjelas di depan muka gue juga kali!"

Silvi mengedikkan bahu, lalu menyeringai tipis. “Kamu yang tanya duluan. Jadi ya aku jawab. Dan mulai sekarang…” ia berhenti sejenak, suaranya semakin rendah tapi sarat ancaman, “…aku bukan cuma gurumu, tapi juga pengasuhmu. Papimu yang minta. Jadi, jangan coba macam-macam. Aku bakal awasi gerak-gerikmu dua puluh empat jam.”

Leon melongo, tidak percaya dengan telinganya. Dirinya, yang sudah SMA dan disegani banyak orang di sekolah, tiba-tiba diperlakukan seperti bocah SD.

“Pengasuh?! Lo pikir gue anak kecil?!” Leon berusaha menahan malu. “Lo gak bisa seenaknya gini! Gue bakal protes ke Papi!”

Silvi terkekeh rendah, suaranya seperti cambuk di telinga Leon. “Ya, kamu anak kecil, Sayang. Aku akan menjadi pengasuh bayi besar," ucapnya menantang. "Dan kalau mau lapor, silakan saja. Tapi percuma. Semua ini ide Papimu sendiri.”

Leon mengepalkan tinjunya. Amarah dan rasa malu bercampur jadi satu. Ia masih belum bisa melupakan kejadian semalam ketika Silvi menyeretnya keluar basecamp di depan teman-temannya. 

Gengnya, Clara, bahkan pengawalnya menyaksikan jelas bagaimana dia kalah telak oleh satu wanita.

“Gue gak mau sekolah. Males!” Leon mencoba memberontak. “Lagipula gara-gara kelakuan bar-bar lo di basecamp, semua orang pasti udah ngegosipin gue habis-habisan! Mau ditaruh dimana muka gue, hah?!"

Silvi tiba-tiba melangkah mendekat, membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Senyum dingin tersungging di bibir merahnya.

“Leon, denger ya. Aku gak peduli temanmu mau bilang apa. Yang penting, mulai sekarang, kamu ikuti aturanku. Kalau berani macam-macam…” ia merenggangkan otot-otot jarinya hingga terdengar bunyi “krek-krek”.

"Kamu akan tahu sendiri akibatnya.”

Leon tercekat. Ia ingat betul wajah pengawal dan teman-teman gengnya semalam yang sudah babak belur gara-gara wanita ini. Dengan kesal, ia bangkit dari kasur, meraih handuk, lalu masuk ke kamar mandi tanpa menoleh.

“Dasar tante gila!” pekiknya sebelum menutup pintu.

Silvi menahan tawa, menggeleng pelan. “Sok jagoan, padahal kau ini kucing kecil yang manis.”

Tak lama setelah itu, Leon duduk di meja makan dengan wajah cemberut. Di depannya, Tuan Roberto menikmati sarapan dengan tenang, senyum puas menghiasi wajahnya.

Sementara di sisi lain, Silvi duduk anggun dengan pakaian baru: celana panjang ketat hitam, jaket kulit yang menonjolkan tubuh semampainya. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya, membuatnya terlihat menantang.

“Bagaimana hari pertamamu, Nona Silvi?” tanya Roberto ramah. “Apa anak nakal ini membuat masalah?"

Leon melotot, jelas merasa tersinggung.

Silvi melirik ke arahnya, senyum tipis mengembang. “Cukup mengesankan, Tuan. Jangan khawatir, saya pastikan tahun ini Leon lulus. Tidak hanya lulus, tapi dengan nilai memuaskan.”

Leon hampir menyemburkan jus jeruk yang sedang diminumnya. “Ngaco!” gerutunya pelan, tapi cukup untuk didengar Silvi.

Senyum wanita itu makin melebar, seakan sengaja memperkeruh suasana. Roberto tertawa puas, semakin tertarik dengan wanita yang penuh percaya diri itu.

Namun bagi Leon, semua itu terasa seperti penghinaan. Ia bangkit dari kursinya, menendang pelan kakinya ke lantai, lalu berjalan pergi tanpa pamit.

Saat ia hendak meraih helm motornya, Silvi sudah berdiri di depan pintu, memainkan kunci mobilnya dengan gaya angkuh. “Ayo, aku antar.”

“Gak usah! Gue naik motor sendiri,” sergah Leon dingin.

"Motor? Oh, si hitam itu?" tunjuk Silvi pada Ducati Monster milik Leon yang rodanya telah ia gembok dan diikat di tiang kanopi carport.

Leon menganga, matanya terbeliak melihat motor kesayangannya itu. "Astaga! Apa yang lo lakuin, hah?!" pekiknya.

Silvi tersenyum tipis. "Cuman mengikatnya biar gak kabur-kaburan. Yuk, berangkat! Kamu gak mau sampai terlambat, kan?"

Belum sempat Leon protes dan memberi perlawanan, Silvi lebih dulu menarik ransel Leon hingga tubuh pemuda itu hampir terhuyung. 

“Masuk mobil sekarang. Atau aku akan melakukan hal yang lebih nekat pada motor kesayanganmu itu!"

“Gila! Dasar tante gila!” Leon menggerutu, tapi terpaksa menurut. Ia masuk ke dalam mobil milik Silvi, membanting pintu sekeras mungkin.

"Lo benar-benar keterlaluan, Tante!"

Silvi tak menanggapi, ia langsung tancap gas, meninggalkan rumah megah itu.

Roberto dan asisten pribadinya memperhatikan mereka dan tersenyum miring. "Dia lawan yang pas untuk Leon."

Sepanjang perjalanan, Leon duduk dengan wajah masam, tangannya terlipat di dada. Sementara Silvi menyetir santai, sesekali menekan tombol musik di dashboard.

“Kamu mau denger lagu apa?” tanyanya, menoleh sekilas.

Leon tetap diam.

Silvi tertawa kecil. “Lucu banget kalau marah. Jadi kayak bocah. Manis banget tahu gak?” godanya.

“Dasar wanita gila,” gumam Leon nyaris tak terdengar.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Leon langsung turun bahkan sebelum Silvi sempat memarkir dengan benar.

Namun Silvi tidak membiarkannya begitu saja. Ia menurunkan kaca mobil, lalu berteriak kencang, “Bye, Leon! Jangan nakal ya! Tante jemput nanti siang! Muach!”

Semua mata di gerbang langsung menoleh. Beberapa siswa tertawa, sebagian lagi bergosip. Leon terdiam, wajahnya memerah.

“Sialan!” pekiknya, lalu buru-buru berlari masuk ke sekolah.

Di kelas, suasana pun memanas. Alex menahan tawa, melirik Nando. “Eh, gue liat tadi… beneran lo diantar Tante yang kemarin itu? Ciyee, mainannya sekarang tante-tante nih!"

“Brengsek!” Leon membanting meja. “Lo semua kalau berani ledek gue, siap-siap gue keluarin dari The Devils!"

Semua langsung bungkam. Tapi Leon tahu, gosip itu pasti menyebar makin luas.

Sambil duduk di bangku belakang, ia menggertakkan gigi. 

‘Sialan tante gila itu. Gue gak bisa terus-terusan dipermalukan kayak gini. Gue harus cari cara buat balas!’

Tatapannya meredup, dipenuhi amarah. 

Dan saat itulah sebuah ide gila mulai terlintas di kepalanya.

***

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Liar Tante Silvi   80. TAMAT

    Keesokan hari.Roberto sedang duduk membaca koran pagi, sementara Emily, wanita bar-bar yang kini lebih lembut, keibuan dan sebentar lagi akan menjadi istrinya itu sedang menata bunga. Cheryl, adik tiri Leon yang ceria, bermain boneka Barbie di ruang keluarga.Suasana rumah hangat, damai… kontras dengan dulu, ketika Leon selalu menjaga jarak dan tidak mau terlibat dengan siapa pun di keluarganya, termasuk pada ayahnya sendiri.Hari ini berbeda.Hari ini, Leon mengetuk pintu dan masuk sambil menggandeng Silvi. Wajahnya tidak sedingin dulu. Ia tampak… bahagia. Yah, meskipun senyum itu terkesan dipaksakan ketika melihat kebersamaan Roberto dengan calon ibu sambungnya itu.Roberto tersenyum. “Leon. Silvi. Akhirnya kalian datang."Leon menarik napas panjang. Silvi menggenggam tangannya, memberikan isyarat agar Leon bersikap ramah. "Ya, kan kau yang suruh. Jika tidak, mungkin kita masih liburan bulan madu."Silvi menyenggol lengannya. "Leon...""Ya, ya, Sorry. Heum, baiklah... Pah, dan kau

  • Gairah Liar Tante Silvi   79. Kabar Gembira

    Pagi hari berjalan kacau balau tapi juga romantis setelah insiden mie instan es krim vanilla yang membuat Leon hampir menyerah pada dunia kuliner.Setelah mandi, Leon kembali ke kamar, rambutnya masih basah, wajahnya segar… tapi matanya sedikit trauma ketika melihat piring bekas mie instan di meja.Silvi menatapnya sambil tersenyum bersalah.“Kamu masih mual?”Leon menjauh satu langkah dari piring itu. “Kita… jangan bahas mie itu lagi.”Silvi tergelak kecil. “Maaf, calon papa.”Leon memutar mata. “Aku lebih takut ngidam berikutnya daripada menghadapi rapat direksi.”Silvi menepuk lengannya. “Nanti aku belajar menahan diri.”Leon menatapnya penuh curiga. “Jangan janji palsu, Sayang.”Silvi mencibir, lalu meraih tangannya. Ia ingin bermanja-manja dengan suaminya, namun Leon tiba-tiba menariknya pelan dan membawanya berdiri.“Ayo jalan-jalan sebentar. Udara pagi bagus buat ibu hamil."Silvi mengangguk. Sementara Leon langsung bergerak seperti bodyguard pribadi. Ia mengambilkan sandal Sil

  • Gairah Liar Tante Silvi   78. Ngidam

    “Leon… turunin aku,” gumamnya, pipinya merah padam.Leon mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu pusing? Mau muntah? Mau—”“Enggak! Aku… takut jatuh,” protesnya lirih. Leon langsung menghentikan putaran seakan mendapat teguran dari dokter kandungan. “Oke. Maaf! Langsung mode hati-hati.”Ia meletakkan Silvi perlahan di tepian bathtub, seperti menurunkan barang pecah belah paling mahal di seluruh dunia. Bahkan, cara Leon melepaskan tangannya pun pelan sekali, seakan Silvi bisa meledak kalau disentuh terlalu keras.Silvi menatapnya, geli sekaligus terharu."Sayang… aku itu manusia, bukan telur burung unta.”Leon mendesah panjang, meraih wajah Silvi dengan kedua tangannya. “Kamu itu istriku. Dan kemungkinan besar… ibu dari anakku. Kau pikir aku bisa santai setelah lihat dua garis itu?”Silvi tersenyum kecil. “Leon, baru lima menit yang lalu kamu hampir—”“—melakukan keganasan di malam pengantin kita, heum?” Leon mengangkat alis. “Sekarang aku akan hati-hati. Aku gak akan ganas-ganas, janji de

  • Gairah Liar Tante Silvi   74. Calon Pewaris

    Leon baru saja menutup pintu suite itu dengan kakinya ketika ia meletakkan Silvi di atas kasur king size yang penuh dengan kelopak mawar putih. Lampu-lampu temaram membuat mata Leon terlihat semakin dalam, gelap, dan penuh cinta. Silvi sendiri tampak bersemu merah, napasnya tidak beraturan setelah ciuman panjang barusan.“Leon…” bisik Silvi, suaranya lirih, manja, dan… sedikit bergetar. Leon membungkuk, menangkup wajahnya, “Jangan gugup. Kita lakukan pelan-pelan.” Silvi menahan tawa. Ini benar-benar lucu. padahal mereka sering melakukan dengan ganas, tapi malam ini seolah menjadi malam pertama untuk mereka. Tak ingin merusak suasana yang romantis itu, Silvi mengikuti permainan Leon. Jemarinya bergerak pelan ke dada Leon, lalu ia menarik napas dalam—sangat dalam—dan—“Leon… aku…”Dia tiba-tiba menegakkan tubuh. Matanya melebar. Rasa aneh itu tiba-tiba muncul. Merusak suasana penuh gairah yang sejak tadi menggebu-gebu.Leon mendekat, khawatir. “Kenapa? Sakit? Kamu takut?”Silvi mengg

  • Gairah Liar Tante Silvi   76. Malam Milik Kita

    Langit Bali sore itu seperti lukisan hidup. Sapuan jingga, merah muda, dan ungu bertumpuk lembut di cakrawala. Matahari perlahan turun menuju garis laut, memantulkan cahaya keemasan yang berkilau di permukaan air, sementara ombak kecil berkejaran ke bibir pantai, menciptakan irama alam yang menenangkan.Di sisi pantai pribadi milik Wijaya Group yang dikenal sebagai salah satu lokasi paling eksklusif di Bali, resepsi pernikahan Leon dan Silvi digelar.Tidak megah berlebihan. Tidak penuh glamor mencolok. Namun justru karena kesederhanaan elegan itulah, suasana resepsi ini terasa begitu hangat… intim… dan luar biasa berkesan.Deretan kursi putih dengan kain tule tipis tertata rapi menghadap laut. Meja-meja bundar dihiasi rangkaian bunga lily dan mawar putih berpadu dengan greenery eucalyptus, memberikan aroma segar yang menenangkan. Lampu-lampu bohemian berbentuk bola rotan menggantung rendah, siap menyala ketika senja benar-benar tenggelam.Dress code para tamu: putih.Gaun santai namun

  • Gairah Liar Tante Silvi   75. Janji Suci

    Di tengah kekacauan itu, Leon justru bergerak. Wajahnya nampak tenang, meskipun geram karena kedatangan Anya yang menggangu pernikahannya ini.Ia memeluk Silvi, mencoba menyenangkannya. Matanya menatap ke arah Anya yang berdiri di pintu utama gereja.Kemudian tatapannya beralih pada seluruh hadirin yang hadir. Ia begitu Tegas dan penuh enuh wibawa.Leon melepaskan pelukan dari Silvi hanya untuk berdiri lebih maju, tubuhnya melindungi Silvi di belakangnya. Matanya menatap lurus ke arah Anya dan barisan paparazi, sorot hitam tajam yang membuat banyak orang otomatis terdiam.Dengan suara yang rendah namun menggema ke seluruh sudut gereja, Leon berkata, “Cukup.” Para tamu membeku, paparazi ragu mengambil langkah, bahkan Anya tersentak sejenak.Leon melangkah lagi, naik satu tapak ke altar, lalu menatap seluruh ruangan. “Aku tidak peduli siapa yang mencoba menghentikan pernikahan ini,” ucap Leon. Suaranya tak bergetar, penuh keyakinan dan kekuatan. “Aku tidak peduli rumor. Tidak peduli m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status