Beranda / Romansa / Gairah Membara Paman Tunanganku / BAB 10- Kita Masih Suami Istri

Share

BAB 10- Kita Masih Suami Istri

Penulis: Cassian Story
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-11 22:23:07

Cahaya matahari menembus tirai jendela besar di kamar itu, menimpa permukaan ranjang dengan cukup.

Steave sudah terjaga sejak beberapa jam lalu. Ia duduk di tepi kasur dengan tubuh tegap, lengkap dengan kemeja putihnya yang telah rapi, dan lengan digulung hingga siku. Tangan kanannya memegang cangkir kopi yang mengepulkan uap, sementara tatapannya jatuh pada sosok yang masih terbaring di balik selimut.

Serena.

Gadis itu tampak lelah, wajahnya tertutup sebagian oleh helaian rambut yang berantakan. Napasnya tampak teratur, bibirnya sedikit terbuka, dan kulit lehernya memperlihatkan jejak kemerahan yang diberikan Steave semalam padanya.

Pria itu menatap lama, tanpa ekspresi. Ia tidak tahu apa yang dirasakan sekarang.

Kepuasan? Diakuinya, nafsu yang terpendam begitu lama akhirnya tersalurkan pada wanita yang tepat.

Lalu apa sekarang? Setelah mendapatkan gadis itu, Steave puas? Tidak.

Ia malah semakin serakah, ditambah lagi dirinya laki-laki pertama yang mendapatkan semuanya dari S
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 145- Di Luar Skenario

    Malam itu, Serena dan Catherine duduk diam di dalam mobil yang diparkir tak jauh dari hotel mewah di pusat kota. Hujan rintik-rintik membasahi kaca, membuat suasana semakin mencekam. “Tuan berhenti di sini,” ucap Catherine saat melihat Steave turun dari mobil.Serena melihat dengan jelas sosok suaminya melangkah masuk ke lobi hotel tanpa ragu sedikit pun. Mereka tak menunggu lama. Begitu Steave masuk, Serena dan Catherine keluar dari mobil dan menyusulnya dari kejauhan. Hanya ada satu fokus mereka, punggung Steave di antara keramaian. 8Dan saat itu terjadi.Steave berhenti.Seorang wanita berdiri tidak jauh darinya… lalu tersenyum sembari melambaikan tangan. Clarine.Serena terbelalak.Clarine melangkah mendekat, dan Steave menerimanya, membiarkan wanita itu menempel. Catherine melirik Serena sekilas yang langsung menunduk, tangannya menggenggam tas dengan gemetar. “Itu… Clarine…” Suaranya pecah.Clarine berbicara pada Steave, entah apa, lalu mereka berjalan berdampingan menuju l

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 144- Rasa Curiga Yang Terus Muncul

    Keesokan paginya, suasana ruang keluarga mansion utama Whitmore kedatangan tamu. Frederick, selaku ketua dewan duduk di kursi favoritnya, serta tablet di tangannya bergetar karena amarah yang tersulut.Tatapan matanya terpaku pada layar.Membaca judul berita yang terpampang jelas.Istri Steave Alexander Whitmore Diduga Alami Gangguan Kejiwaan : Hasil Laboratorium Bocor ke Publik.Rahang Frederick mengeras. Jarinya menggulir layar, membaca setiap baris dan semakin sulit mengendalikan emosinya. Bukan hanya tudingan, tetapi ini terlalu detail, sampai pada hasil laboratorium medis yang seharusnya tidak mungkin keluar dari sistem tertutup. “Ini sudah keterlaluan,” gumamnya.Ethan yang juga berada di sana memasang Wajah keprihatinan yang dibuat-buat. “Paman Frederick,” ujar Ethan. “Aku juga membaca beritanya.”Frederick menoleh tajam. “Siapa yang menyebarkan ini?”Ethan menghela napas, lalu duduk di seberang Frederick. “Entahlah. Tapi… jujur saja, aku tidak terkejut.”Frederick menyipitkan

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 143 - Pertengkaran Steave dan Serena

    Para pelayan berkumpul di sudut dapur belakang mansion. Suara mereka dibuat sepelan mungkin, tetapi bisikan-bisikan itu tetap terdengar jelas di ruangan yang sepi.“Katanya waktu, di Villa Nyonya berteriak-teriak sambil bawa pisau…” “Iya, aku dengar sendiri. Susternya sampai gemetar.” “Kasihan Tuan Muda… Nyonya kelihatannya berbeda sekali akhir-akhir ini.” “Dulu Nyonya itu lembut, tenang. Sekarang mudah sekali marah, tatapannya juga sering kosong…”Salah satu pelayan menoleh ke arah tangga, memastikan tidak ada siapa pun di sana. “Jangan-jangan Nyonya jadi stres dan gila,” bisiknya.“Eh, jangan asal bicara–”“APA YANG KALIAN LAKUKAN?” Suara itu memotong bisikan mereka dengan tajam.Semua pelayan tersentak dan langsung membeku di tempat. Catherine berdiri di ambang pintu dapur. Tangannya bersedekap di dada, dengan tubuh yang tegak seolah sedang menilai satu per satu orang di hadapannya.“Jam kerja kalian masih panjang,” ucap Catherine datar. “Atau kalian sudah kehabisan pekerjaan sa

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 142 - Hampir Membunuh Putranya

    Steave berlari tanpa sempat menutup panggilan. Ponsel itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai saat ia menerobos keluar kamar. “Nyonya, jangaaaan!” Teriakan itu semakin jelas. Begitu tiba di ruang utama vila, pemandangan yang menyambutnya membuat darah Steave seolah membeku. Serena berdiri di tengah ruangan. Rambutnya tergerai berantakan, napasnya terengah, dadanya naik turun tak beraturan. Di tangannya, ada sebuah pisau dapur. Genggamannya gemetar, dengan ujung pisau itu terarah jelas ke depan. Di hadapannya, seorang suster berdiri kaku, wajahnya pucat pasi, dan kedua tangannya mendekap Rion erat-erat ke dada. “Nyonya… tolong tenang.” Suara suster itu bergetar, hampir menangis. “Saya hanya membawa Tuan Muda ke kamar–” “DIAM!” teriak Serena tiba-tiba. Suara itu bukanlah Serena yang Steave kenal. Penuh ketakutan dan kemarahan yang tercampur menjadi satu “Jangan sentuh anakku!” teriak Serena lagi. “Kalian mau bawa dia ke mana? Mau ambil dia dariku, ya?!” Rion menan

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 141- Nyony, Jangaaaan!

    Mobil berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik dengan dinding batu alam dan jendela-jendela besar menghadap langsung ke danau. Airnya berkilau memantulka perbukitan hijau yang tampak dari jauh. Lake District.Saat turun dari mobil, Serena langsung merasakan angin yang menerpa wajahnya. Ia mengitari sekitar, dan tempat ini sangat sepi. Ia melihat Rion langsung berlari kecil di halaman luas, tertawa saat kakinya menginjak rumput tanpa sepatu. Serena menatap pemandangan itu lama, lalu tersenyum tipis. “Aku sangat bersalah pada Rion,” gumamnya.Steave berdiri di sampingnya, satu tangannya melingkar di pinggang Serena dengan protektif. “Aku ingin kita menghabiskan waktu di sini, aku tidak akan bawa pekerjaan. Hanya ada kita.”Serena mengangguk. “Terima kasih sudah membawaku ke sini.”Mereka masuk ke dalam vila. Pengasuh Rion langsung membawanya ke kamar, sementara Serena duduk di sofa, meneguk minuman yang sudah disiapkan pelayan.Untuk beberapa jam, semuanya terasa normal.Sore me

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 140- Perubahan Emosi Serena

    Sekembalinya dari arah toilet, langkah Serena terasa jauh lebih goyah. Kakinya seperti tidak sepenuhnya menapak lantai dan epalanya kembali berdenyut karena pikirannya dipenuhi pertanyaan yang berputar tanpa henti. Apa benar yang dikatakan Clarine? Bukankah Steave bilang semuanya sudah selesai? Bukankah wanita itu sudah diurus, dijauhkan dari mereka? Lalu kenapa Clarine muncul lagi? Atau… Dada Serena semakin sesak. Atau semua itu hanya alasan Steave? Alasan untuk menyembunyikan Clarine. Untuk memindahkannya dari mansion agar mereka bisa tetap berhubungan… diam-diam, di belakangnya. Pikiran itu menusuk jauh lebih tajam daripada gosip mana pun. Kepalanya semakin sakit, seolah ada tekanan kuat dari dalam. Suara musik di aula terdengar mendengung, wajah-wajah tamu menjadi kabur. Dan ruangan itu terus berputar tanpa henti. Serena mencoba mencari Steave di antara kerumunan. Namun langkahnya tidak kuat lahi, pandangannya jadi menghitam. ‘Tidak… aku tidak apa-apa…’ Ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status