MasukKeesokan harinya, Serena kembali dengan rutinitasnya di kantor. Suara telepon berdering bergantian, bunyi ketikan keyboard bersahut-sahutan.
Serena duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer dengan mata lelah.
Tumpukan dokumen di mejanya seolah tidak ada habisnya. Ia memijat pelipis sambil mencoba fokus. Meski pikirannya berkali-kali melayang pada kondisi ibunya di rumah sakit, ia tetap memaksa dirinya menyelesaikan pekerjaan.Ia harus ke rumah sakit nanti. Tadi pagi, pihak rumah sakit meminta Serena untuk datang. Sebab ada hal yang harus dibicarakan tentang kondisi ibunya.
Meski sulit untuk fokus kepada pekerjaan, Serena tetap berusaha profesional.Setelah jam kerjanya berakhir, Serena cepat-cepat berkemas dan segera menuju rumah sakit.
Sore itu, di rumah sakit, suara mesin EKG terdengar beraturan dalam ruangan. Aroma obat dan antiseptik begitu menusuk hidung setiap kali Serena memasuki kamar itu. Di atas ranjang rumah sakit, terbaring sosok wanita yang dulu begitu sehat dan penuh senyum. Sekarang, ibunya hanya diam, tertidur dengan wajah pucat dan tubuh lemah yang dipenuhi selang. Serena menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Tangannya perlahan menggenggam tangan ibunya yang dingin. “Ibu, Serena di sini. Maaf kalau hari-hari ini jarang datang. Aku sedang banyak urusan. Tapi Ibu harus kuat ya. Aku janji, aku akan melakukan apa pun supaya Ibu sembuh.” Matanya mulai panas seketika.Sejak kecil, ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu ada untuknya. Namun sejak ibunya sakit, semuanya terasa berubah. Ayahnya jarang sekali menunjukkan kepedulian. Selalu saja sibuk dengan selingkuhannya Claudia, yang kini menjadi ibu tirinya. Selalu saja tidak punya waktu jika menyangkut ia dan ibunya.
Ketukan pintu terdengar. Seorang dokter paruh baya masuk sambil membawa berkas di tangannya. “Nona Serena, bisa kita bicara sebentar?” Serena mengangguk, melepas genggaman tangannya dari ibunya dan berdiri. Mereka keluar sebentar ke lorong. “Kondisi Ibu Anda sudah cukup lama tidak ada perkembangan,” jelas dokter itu dengan nada serius. “Kami sudah melakukan perawatan maksimal di sini, tetapi saya khawatir fasilitas rumah sakit ini tidak cukup. Dia harus dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar dengan peralatan lebih lengkap. Dan tentu saja, biayanya akan jauh lebih tinggi.” Serena menggigit bibir bawahnya. “Berapa banyak, Dok?” “Untuk tahap awal, setidaknya bisa menghabiskan ratusan juta, kami tim dokter menunggu persetujuan dari pihak keluarga agar bisa segera dipindahkan dan mendapatkan perawatan intensif.” Serena terdiam. Nominal itu terlalu besar baginya. Gajinya sebagai karyawan biasa jelas tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Pilihan satu-satunya adalah meminta ayahnya. Tapi, apakah ayahnya akan mau mengeluarkan biaya lagi? “Baik, Dok. Saya akan bicarakan ini dengan Ayah dulu,” jawab Serena akhirnya. Suaranya nyaris bergetar, tapi ia berusaha tetap terlihat tenang. Setelah pamit, Serena melangkah keluar rumah sakit. Pikirannya terasa penuh. Bagaimana kalau ayahnya menolak? Bagaimana kalau ibunya tidak sempat dipindahkan? Bayangan buruk itu terus menghantuinya.Saat diperjalanan menuju rumah, ia memikirkan bagaimana cara membicarakan tentang hal ini dengan ayahnya. Hubungan mereka sudah lama renggang, dan tidak pernah lagi membicarakan hal sekecil apa pun.
Namun, bagaimanapun, Serena harus memperjuangkan ibunya.
Sesampainya di rumah keluarga Collins. Serena berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya, ia akan membicarakan mengenai biaya rumah sakit untuk ibunya sekarang juga.
Sebelum masuk, Serena menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.
“Masuk,” suara Richard Collins terdengar tegas dari dalam. Serena membuka pintu dengan hati-hati. Ia bisa mencium bau asap rokok dan minuman beralkohol. Sang ayah duduk di kursinya, sibuk menandatangani dokumen dengan wajah serius. Serena melangkah mendekat, menahan diri agar tidak salah bicara. “Ayah,” sapanya selembut mungkin. Richard mengangkat kepala sebentar. “Ada apa, Serena? Sudah malam, seharusnya kamu beristirahat.” Serena menggenggam ujung gaunnya, ragu sejenak sebelum bicara. “Aku baru saja dari rumah sakit siang tadi. Aku menemui Ibu.” Richard berhenti menulis, menegakkan bahunya lalu bersandar di kursinya. “Bagaimana kondisinya?” “Tidak ada perkembangan, Ayah. Dokter bilang Ibu harus dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, dengan peralatan yang lebih lengkap. Kalau tidak, keadaannya bisa semakin parah.” Richard menatap Serena, matanya dingin tapi penuh perhitungan. “Berapa biayanya?” Serena menunduk. “Cukup besar, Ayah. Aku tahu ini memberatkan, tapi… ini untuk Ibu.” Hening tercipta sesaat. Richard mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, lalu menjawab datar, “Bicarakan dengan Claudia. Dia yang mengatur semua urusan rumah tangga. Kalau dia setuju, Ayah tidak masalah.” Serena menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan kesal yang ingin meledak. Mengapa ayahnya selalu menyerahkan keputusan penting tentang ibunya kepada Claudia? Bukankah ini istri sah Richard sebelum Claudia datang? “Baik, Ayah,” ucap Serena akhirnya, berusaha terdengar tenang. Ia menunduk hormat, lalu keluar dari ruangan itu dengan kepala tertunduk. Tak butuh berapa lama hingga Serena menemukan Claudia yang sedang duduk santai di ruang pribadinya, mengenakan gaun sutra berwarna merah anggur, wajahnya dihiasi senyum angkuh seperti biasa. Serena berdiri di ambang pintu yang terbuka, mengetuk pelan sebelum masuk. “Ibu tiri,” panggilnya singkat. Claudia mengangkat alis, matanya menilai Serena dari atas hingga bawah. “Ada apa malam-malam begini?”Vivian menggertakkan giginya. Rahangnya menegang, dan matanya berkilat menujukan amarah yang benar-benar tersulut sampai ke inti hatinya.Ucapan Serena tadi terlalu tepat sasaran, dan menyakitkan. Terlalu mirip dengan kenyataan yang selalu ia hindari.Tanpa peringatan, tangannya bergerak cepat ke balik gaun mahalnya.Serena sempat membelalak kecil.Adrian menyadarinya sepersekian detik lebih cepat.Klik!Sebuah pistol hitam mengilap terarah tepat ke wajah Serena.Atmosfer ruangan langsung berubah dingin membeku.“Jangan bergerak!” Suara Vivian terdengar rendah, bergetar oleh amarah tapi tetap stabil. “Sedikit saja kau mendekat ke arahnya, Adrian… peluruku menembus kepalanya tanpa ragu.”Adrian langsung berdiri di depan Serena, menjadikan tubuhnya tameng hidup. “Vivian,” desisnya. “Turunkan itu.”Serena membeku di belakangnya. Jantungnya memukul dada dengan keras, namun ia berusaha tetap bernapas stabil. Adrian berdiri begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat tubuh pria itu melind
Adrian menatap Vivian dengan pandangan penuh selidik, seolah mencoba membaca isi kepalanya. Sampai detik ini ia hanya tahu satu kalau Vivian adalah orang yang menghubunginya dan mengatakan Serena dalam bahaya, harus dibawa sejauh mungkin dari Steave. Itu saja. Namun melihat tatapan Serena yang mulai pucat, dan senyum sinis Vivian yang terasa penuh kemenangan, Adrian sadar, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Adrian dingin.Vivian melenggang masuk ke dalam kamar. Ia berhenti tidak jauh dari mereka, matanya bergantian menatap Serena dan Adrian dengan tatapan seperti singa yang berhasil menjebak mangsanya ke sudut paling sempit.“Tenang saja,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Aku tidak datang untuk menyakitinya. Justru aku ingin, membuka sedikit kebenaran.”Serena meremas ujung selimut, jantungnya berdegup kencang. Ada firasat buruk bahwa wanita ini akan melakukan sesuatu yang lebih jahat. Vivian menoleh pada Serena, lalu t
Kapal kecil itu berhenti tepat di dermaga yang menjorok ke laut. Ombak memecah di sisi lambung kapal, sementara angin membawa aroma garam dan dedaunan kering dari pulau kecil yang tampak sepi itu.Pulau pribadi.Sunyi.Hanya suara burung dan laut yang terdengar.Serena tetap duduk di bangkunya, tidak bergerak sedikit pun. Ia memalingkan wajah, jelas menolak untuk turun. Adrian menatapnya sekilas, menghela napas panjang.“Serena… turunlah,” ucapnya tenang. “Kita sudah sampai.”“Aku tidak mau,” jawab Serena keras kepala tanpa memandangnya. “Bawa aku kembali.”“Kita tidak bisa kembali sekarang.”“Aku tidak peduli!” Suaranya meninggi, hatinya sudah campur aduk antara marah, takut, dan kelelahan.Adrian mengencangkan rahangnya. Sejenak ia mencoba bersabar. Tapi Serena tetap menolak. Tanpa banyak bicara lagi, ia menunduk dan tanpa memberi kesempatan untuk kabur mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya.Serena langsung memberontak.“Adrian! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!” Ia memu
Steave tampak kusut. Mata cekungnya memerah, dan urat di pelipisnya menegang. Sudah berjam-jam tanpa tidur, tanpa istirahat sedikit pun hanya berlari dari satu informasi ke informasi lain untuk menemukan Serena, namun nihil.Ia melangkah masuk ke ruang utama mansion keluarga Whitmore dengan aura yang begitu gelap. Semua kepala menoleh.Frederick duduk dengan posisi paling dominan, beberapa dewan keluarga berada di sisi kanan dan kiri. Ethan berdiri tak jauh dari sana, dengan ibunya yang terlihat puas memandang keadaan Steave yang berantakan.Suasana hening sesaat.Lalu, mulai terdengar suara-suara menekan.“Apa yang sebenarnya kau lakukan, Steave?” suara salah satu dewan terdengar dingin. “Istrimu kini menghilang, kondisi mentalnya dipertanyakan, dan sekarang reputasi keluarga ikut terlibat.”“Ini sudah menjadi skandal publik,” sahut yang lain. “Jika kau tidak mampu mengendalikan keadaan, bagaimana kau bisa mengendalikan kekuasaan?”Ethan tersenyum tipis, suara penuh ejekan terdenga
Steave langsung berlari keluar hotel, napasnya memburu dan detak jantungnya menghentak dada. Seharusnya Serena menunggu di lobby seperti yang sudah direncanakan. Tapi kini, tidak ada sosok wanita itu di mana pun.Ia menoleh cepat, matanya menyapu setiap sudut. Tangannya mengepal kuat sampai buku jarinya memutih. “Serena,” gumamnya. Perkataan Clarine kembali terngiang di kepalanya.“Seharusnya yang kau khawatirkan sekarang adalah istrimu… Dia mungkin sudah dibawa pergi jauh.”Jantung Steave serasa dicengkeram. Ia segera menekan earphone komunikasinya. “Cari istriku!” perintahnya lantang. “Dia berada di sekitar hotel ini beberapa waktu yang lalu. Periksa setiap sudut, pintu keluar, kamera pengawas, semuanya!”“Ya, Tuan!”“Dan satu lagi!” Suara Steave semakin menegang. “Cari Catherine! Dia menghilang bersamaan dengan Serena!”Para pengawal Steave langsung bergerak menyebar. Mobil-mobil hitam yang sudah bersiaga di parkiran hidup bersamaan, lampu-lampu menyala dan beberapa orang segera
Adrian membawa Serena ke apartemennya tanpa persetujuan. Serena duduk di sofa panjang, tubuhnya membungkuk sembari meremas ujung coat yang Adrian kenakan padanya tadi. Di kepalanya, banyak hal berkecamuk.Bagaimana caranya ia keluar dari sini tanpa membuat semuanya terlihat mencurigakan?Bagaimana Adrian bisa tiba tepat di saat dirinya membutuhkan pertolongan?Apa mungkin… Adrian dan Catherine bekerja sama?Pria itu berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan Serena dengan tatapan penuh pertimbangan. Ia tidak langsung bicara. Seolah mencoba memberi waktu agar Serena sedikit tenang. Namun ia bisa melihat jelas, wanita itu sama sekali tidak tenang.“Minum dulu,” ucap Adrian akhirnya, meletakkan segelas air hangat di meja. “Kamu kelihatan pucat.”Serena mengangkat kepalanya sedikit, menatap gelas itu tanpa benar-benar berniat menyentuhnya. “Aku tidak haus,” gumamnya. Adrian berpindah duduk ke sisi lain sofa, meski menjaga jarak, tapi cukup dekat untuk bisa menangkap jika tiba-tiba Ser







