Home / Romansa / Gairah Membara Paman Tunanganku / BAB 4- Putus Asa dan Hampa

Share

BAB 4- Putus Asa dan Hampa

Author: Cassian Story
last update Last Updated: 2025-09-13 23:56:13

Serena menahan diri, mencoba bersuara sopan. “Aku ingin membicarakan soal Ibu kandungku. Dokter menyarankan beliau harus dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar. Aku harap Ibu tiri bisa mempertimbangkan biaya pengobatannya.”

Claudia terkekeh, matanya berkilat sinis. “Oh, jadi kau datang padaku untuk meminta uang?”

Serena mengepalkan tangannya. “Bukan begitu. Aku hanya… Ibu tahu bagaimana kondisi ibuku. Dia butuh perawatan lebih.”

Wanita itu meneguk wine di tangannya, lalu menatap Serena dengan pandangan merendahkan. “Serena, kau terlalu naif. Kau pikir semua uang di rumah ini bisa kau gunakan sesuka hati? Ingat, ibumu bukan lagi bagian dari keluarga Collins. Aku yang menjadi nyonya rumah ini sekarang.”

Serena menahan napas, menahan amarah yang hampir meluap. “Dia masih istri Ayah. Dan masih ibuku. Dia berhak mendapatkan yang terbaik.”

Claudia mendengkus, lalu menatapnya dengan senyum tipis. “Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang bekerja lebih keras untuk membiayai ibumu? Jangan mengandalkan harta keluarga ini.”

“Kau juga penyebab ibuku sakit, kalau saja kau tidak datang ke keluarga kami. Pasti ibuku masih sehat dan bahagia.” Serena sudah tidak bisa bersikap sopan lagi pada Claudia.

“Haha…” Claudia tertawa mengejek. “Gadis bodoh, jangan salahkan aku jika mengalahkan ibumu. Dia saja yang tidak pandai menjaga suami!”

Serena tidak tahan lagi mendengar perkataan Claudia, ia ingin pergi dari sana. 

Namun, belum sempat Serena beranjak. Claudia sudah bersuara lagi, "Ibumu terlalu polos dan baik Serena, dia sendiri yang memasukan aku ke rumah ini. Tentunya aku hanya mengambil apa yang menjadi bagianku. Soal dia yang jatuh sakit, itu masalahnya!"

Mendengar itu, Serena menoleh. Amarahnya sudah tak dapat dibendung sekarang. "Kau boleh mencemoohku, tapi jangan sekalipun menghina Ibuku!" jerit Serena.

Ia meninggalkan Claudia yang hanya menatapnya, seolah tak percaya anak tirinya dapat melontarkan nada tinggi.

Ketika Serena melewati koridor, langkahnya terhenti di depan kamar Marissa. Pintu itu sedikit terbuka, dan suara Marissa yang nyaring terdengar jelas. Serena tidak berniat menguping, tapi kata-kata itu langsung menghentakkan dadanya.

“Ethan, aku capek seperti ini. Aku tidak ingin jadi simpananmu terus,” ucap Marissa terdengar tajam, bukan lagi manja seperti biasanya. “Aku sudah muak sembunyi-sembunyi begini. Aku ingin kau memilih. Hentikan perjodohan bodoh itu sekarang juga!”

Serena menggigit bibirnya. Kata-kata itu seperti tamparan.

Serena berharap tidak akan mendengar jawaban Ethan, namun Marissa menghidupkan mode pengeras suara pada ponselnya.

Di seberang sana, suara Ethan terdengar sama jelasnya. “Marissa, kau tahu ini bukan sesederhana itu. Orang tuaku yang mengatur semuanya. Mereka maunya Serena. Aku tak bisa membatalkan semuanya dalam satu malam.”

“Alasan!” Marissa mendesah keras. “Selalu orang tuamu! Aku yang selalu ada buatmu, aku yang kau cari untuk kesenangan. Aku, yang kau bilang, kau cintai, tapi kau masih berlindung di balik perjodohanmu dengan dia! Kapan aku jadi satu-satunya buatmu?”

Serena memejamkan matanya. Dadanya sakit mendengar itu.

Ethan terdiam sejenak sebelum menjawab. “Aku menyayangimu. Tapi aku juga tidak bisa sembarangan lawan keluarga. Kalau aku melawan, aku kehilangan segalanya. Aku butuh waktu.”

“Waktu?” Marissa hampir berteriak. “Aku sudah memberikanmu waktu selama ini, Ethan! Kau pikir aku tidak punya harga diri? Semua orang sudah mulai membicarakanku di belakang. Mereka pikir aku cuma perempuan simpananmu. Kau tahu rasanya jadi aku?!”

Ethan menghela napas berat. “Jangan bicara begitu. Kau tahu aku tetap memilihmu di hatiku. Serena itu hanya formalitas keluarga.”

Serena bisa mendengar suara Ethan meninggi sedikit.

Marissa terdiam, lalu suaranya berubah lebih rendah tapi menusuk. “Aku muak, Ethan. Kalau kau benar-benar sayang sama aku, buktikan malam ini. Biar aku tahu kau masih milikku.”

Ethan terdiam beberapa detik. Suaranya kemudian terdengar berat, seperti sedang berpikir keras. “Datanglah ke apartemenku malam ini. Kita akan bicara, kita akan bersama. Aku merindukanmu.”

Serena menahan napas, tubuhnya bergetar. Kata-kata itu menusuk jauh lebih dalam. Ia merasa seolah seluruh dunia memudar di sekitarnya.

Meski diawali dengan perjodohan, Serena telah berusaha mencintai Ethan sepenuh hatinya. Maka, ketika pria itu berselingkuh dengan kakak tirinya, hati Serena begitu sakit berkali-kali lipat.

Apalagi, Serena mendengar sendiri ucapan-ucapan manis Ethan yang bukan dituju untuknya.

Serena mundur selangkah, tubuhnya bergetar hebat. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Semua kata-kata itu terdengar begitu jelas, menusuk hingga ke ulu hati.

Dengan langkah gontai, ia kembali ke kamarnya. Ia masuk dan segera menutup pintu rapat-rapat, memutarnya kunci dengan tangan gemetar. Begitu punggungnya menyentuh pintu, air matanya pecah kembali.

Serena jatuh terduduk, memeluk lututnya erat-erat. Malam itu, ia menangis sejadi-jadinya. Semua kepedihan menumpuk menjadi satu. Perjodohan, ibunya yang sakit, sikap ayahnya, ibu tiri yang kejam, dan kini Ethan yang menegaskan bahwa hatinya bukan untuknya.

Di dalam kamar yang terkunci, Serena larut dalam kesedihannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Suhartati
kasian km Serena tinggalin
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 247 - EP 5

    Sudah tiga hari sejak bayi perempuan itu lahir. Dan rumah Ethan benar-benar berubah. Botol susu berserakan di meja. Selimut bayi tergantung di sandaran kursi. Tas perlengkapan terbuka di lantai. Aroma minyak telon bercampur dengan kopi.Di tengah semua itu, Ethan duduk di sofa dengan rambut acak-acakan dan mata panda yang jelas terlihat. Ia tampak seperti pria yang baru kalah perang.Serena berdiri memperhatikannya dengan kedua tangan terlipat di dada. Sementara Steave berdiri di samping istrinya, ekspresinya datar seperti biasa, meski sudut bibirnya hampir bergerak.“Serena…” suara Ethan terdengar berat. “Tolong tinggal di sini beberapa hari.”Serena mengangkat alis. Ini bukan Ethan yang biasanya. Tidak ada nada percaya diri, atau kesan pongah.Hanya seorang ayah baru yang kelelahan.“Kau baru tiga hari jadi ayah dan sudah menyerah?” ujar Steave dingin.“Aku tidak menyerah,” sahut Ethan cepat. “Aku cuma… tidak tahu harus bagaimana.” Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Tatapannya sekil

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 246 - EP - 4

    Malam itu hujan turun cukup lebat ketika ponsel Steave bergetar.Nama Ethan muncul di layar.Steave mengangkatnya dengan tenang. “Ya.”“Paman… rumah sakit. Istriku kontraksi, tolong aku!” Nada suara Ethan terdengar benar-benar panik.Serena sudah berdiri sebelum Steave menutup telepon. “Alessia?”Steave mengangguk singkat. “Ya, kita ke sana.”***Di rumah sakit, Serena dan Steave berdiri di balik kaca ruang bersalin. Dan pemandangan di dalam sana jauh dari kata dramatis romantis.Alessia yang biasanya lembut berubah menjadi badai kecil.“ETHAAAAN!” teriaknya saat kontraksi datang.“Aku di sini, Sayang!” jawab Ethan setengah gemetar.Namun tangan Alessia sudah lebih dulu mencengkeram rambutnya.Dan bukan sekadar mencengkeram.Menjambak sekuat mungkin. “INI SALAHMU!” pekiknya lagi.“AKU TAHU! AKU AKUI!” Ethan hampir tertekuk.Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berdiri ke segala arah. Kemejanya bahkan sudah tidak beraturan. Perawat mencoba menenangkan. “Bu, jangan tarik rambut

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 245 - EP 3

    Di taman mansion sore itu, di bangku putih dekat kolam kecil, Serena dan Steave duduk berdampingan.Serena menyandarkan kepalanya di bahu Steave, sementara tangan pria itu menggenggam jemarinya dengan erat. Di depan mereka, dua bocah laki-laki berlarian tanpa beban.“Rion! Jangan lari terlalu jauh!” teriak Serena refleks.Rion yang sudah berusia sepuluh tahun menoleh sekilas. Wajahnya mulai memperlihatkan garis tegas seperti ayahnya, tapi senyumnya, jelas milik Serena.“Iya, Bu!” jawabnya, lalu menarik tangan adiknya. “Leo, sini!”Leo yang baru empat tahun tertawa lepas, suaranya cempreng menggemaskan. Rambutnya sedikit berantakan, sepatu kecilnya penuh rumput, tapi ia terlihat paling bahagia.Steave tersenyum kecil melihat mereka. “Rion mulai mirip aku.”Serena mendengkus. “Sayangnya, iya.”“Sayangnya?” Steave pura-pura tersinggung.“Iya. Dia mulai menyebalkan sepertimu,apa lagi sikap dinginnya mulai terlihat.” Serena menoleh menatap suaminya penuh arti.Steave terkekeh. “Itu prinsi

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 244 - EP 2

    Mobil berhenti di depan gedung perusahaan saat langit mulai berubah jingga.Serena sempat singgah membeli beberapa makanan ringan dan kopi. Pekerjaannya masih banyak dan Ia ingin menyelesaikan beberapa berkas sebelum malam benar-benar tiba.Saat ia melewati lobi. Para karyawan memberi salam hormat seperti biasa. Dan Serena hanya membalas dengan anggukan seadanya. Semua tampak normal.Sampai ia tiba di depan pintu ruangannya.Ada yang aneh, pintu itu sedikit terbuka.Serena berhenti sesaat, ia ingat dengan jelas sebelum pergi sudah menutup pintu dengan rapat. Bahkan ia selalu memastikan tidak ada yang masuk tanpa izinnya.Mungkin Sekretarisnya?Atau staf?Ia menarik napas, lalu mendorong pintu itu perlahan.Dan tubuhnya kaku seketika.Apa benar yang ia lihat?Bukan halusinasi, kan?Di kursi besar di balik meja yang kini menjadi tempat kerjanya… duduk seorang pria dengan setelan rapi. Punggungnya tegap dan tangannya memegang sebuah dokumen yang sedang ia periksa dengan serius.Wajah it

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 243 - EP 1

    Satu tahun berlalu… Serena memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan mengambil alih milik Steave sepenuhnya. Ia berjanji pada diri sendiri, tidak akan ada yang bisa menyentuh hasil jerih payah suaminya dan memanfaatkan kosongnya kursi pimpinan. Seperti yang ia inginkan dulu, Serena tidak lagi berkutat hanya sebagai ibu rumah tangga. Ia disibukkan dengan rapat, kunjungan bisnis serta memeriksa data perusahaan setiap harinya. Tidak ada lagi gaun rumah atau pun tangisan yang ia tunjukkan seperti dulu. Serena telah berubah, selain menjadi ibu, ia juga seorang wanita karir. Setidaknya begitulah yang dilaluinya sekarang. Paginya menyiapkan Rion pergi sekolah lalu bermain dengan Leo. Setelahnya Serena bergegas untuk bekerja. Sedikit banyak ia paham, seperti inilah yang dilalui suaminya dulu. Sudah lelah bekerja seharian, di rumah pun harus meladeni mood Serena yang terus berubah. Para karyawan berdiri saat ia lewat.“Selamat pagi, Nyonya.”Ia hanya mengangguk singkat.Dulu, ia akan t

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 242 - Ending???

    Serena duduk di kursi belakang mobil tanpa suara. Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Kini, Jantungnya semakin berdetak lebih cepat. Sementara itu, Paul menyetir dengan wajah tegang, fokus menatap jalan. Mobil melaju cukup cepat. Beberapa menit pertama, Serena masih mencoba menenangkan diri. Namun ketika arah kendaraan berubah, ia mulai merasa tidak asing dengan jalur yang dilewati. Itu bukan jalan menuju rumah keluarga Whitmore. Tapi menuju pusat kota bagian timur. Menuju… Serena menegakkan tubuhnya. “Paul,” panggilnya. “Ya, Nyonya.” “Kenapa kita ke arah sini?” Paul tidak langsung menjawab. Serena melihat papan penunjuk jalan yang terlewati. Rumah sakit terbesar di London hanya beberapa kilometer lagi. “Paul,” suaranya mulai bergetar, “kenapa kita ke rumah sakit?” Paul menarik napas panjang. “Mohon bersabar, Nyonya.” Jawaban itu membuat perut Serena terasa mula. Keringat dingin mulai menjalar ke ujung jemarinya. Mobil akhirnya berbelok memasu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status