MasukSuara itu seperti cambuk.Dalam sekejap, Serena dan Adrian membeku. Keduanya menoleh bersamaan.Steave berdiri beberapa meter dari mereka, terlihat rahangnya mengeras. Memancarkan aura gelap yang siap. Menghabisi siapa pun. Matanya tajam pada tangan Adrian yang masih menggenggam pergelangan Serena.Waktu seolah berhenti.“Steave…” bisik Serena. Ia langsung menarik tangannya dengan panik. Begitu Adrian melepaskan, Serena berdiri dan melangkah cepat menjauh, tepat ke arah suaminya. Namun Steave sudah lebih dulu bergerak.Dalam dua langkah panjang, Steave sampai di hadapan Serena dan menariknya ke belakang tubuhnya, satu tangannya mencengkeram pergelangan Serena dengan kuat dan posesif. Sementara tubuhnya menjadi penghalang penuh antara Serena dan Adrian.“Jangan sentuh istriku,” ucap Steave dingin, setiap katanya ditekan kuat.Adrian mengepalkan tangan. “Anda salah paham.”“Diam,” potong Steave tanpa menoleh. Tatapannya menusuk lurus ke arah Adrian. “Aku melihatnya dengan jelas.”Seren
Serena berdiri di depan cermin besar di kamarnya, merapikan ujung gaun yang melekat anggun di tubuhnya. Ia memastikan riasan dan rambutnya sudah rapi. Malam ini ia harus tampak baik-baik saja.Tiba-tiba, ada sensasi hangat yang melingkar di kakinya. Serena terkejut kecil dan refleks menunduk.“Rion?” gumamnya.Anak itu memeluk kakinya erat-erat, pipinya menempel pada betis Serena seolah takut ditinggal. Mata bulatnya menatap ke atas, bening dan polos, lalu bibir mungilnya membentuk senyum kecil.“Ibu cantik,” ucap Rion dengan suara cadel yang langsung meluluhkan hati.Serena tersenyum, berjongkok perlahan meski gaunnya sedikit membatasi gerak. Ia mengusap rambut halus putranya. “Kamu belum tidur?”Rion menggeleng. “Sama Ibu.”Serena memeluk Rion, mencium keningnya cukup lama. Untuk sesaat, semua kegaduhan di kepalanya mereda. “Kamu tidur dengan suster dulu, ya?” Rion tampak berpikir, lalu mengangguk kecil meski tangannya masih mencengkeram gaun Serena. “Ibu mau pergi?”“Iya,” jawab S
Malam semakin larut ketika Serena akhirnya berbaring di atas ranjang. Lampu kamar sudah dipadamkan, hanya cahaya temaram dari lampu meja yang ia biarkan menyala redup. Ia memejamkan mata, memaksa pikirannya untuk berhenti dari segala yang terjadi meski otaknya tak pernah benar-benar tenang.Beberapa menit berlalu atau mungkin lebih lama sampai suara langkah terdengar dari balik pintu. Pintu kamar terbuka.Serena menahan napasnya sejenak. Ia segera memiringkan tubuh, membelakangi sisi ranjang yang kosong, lalu berpura-pura terlelap. Bulu matanya bergetar sesaat sebelum akhirnya ia memaksakan diri untuk diam.Steave masuk tanpa menyalakan lampu utama. Ia meletakkan jasnya di kursi, melepas jam tangan, lalu berdiri beberapa detik memandangi punggung Serena. Tatapannya menyelidik seolah memastikan wanita itu benar-benar tidur.Kasur sedikit mengempis saat Steave naik ke ranjang. Serena bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu mendekat. Gerakannya sangat hati-hati, seperti takut membangu
Beberapa hari kemudian. Berita tentang Serena semakin menjadi.Bukan lagi satu dua akun, ratusan, bahkan ribuan. Komentar-komentar jahat berhamburan, menuduh, menghakimi, memelintir masa lalunya tanpa ampun.Hanya untuk sekadar menarik napas pun terasa berat.Serena menatap layar ponsel dengan mata lelah, jari-jarinya gemetar saat menggulir deretan kata kejam itu. Dadanya terasa sesak.Cukup.Dengan gerakan frustasi, ia melempar ponselnya ke sembarang arah. Benda itu membentur karpet tebal dan terdiam. Serena lalu menjatuhkan dirinya duduk di sisi kasur, kedua tangannya menutup wajah.Ia harus berpikir dan berusaha tenang.Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan menangis.Di antara kekacauan pikirannya, satu nama tiba-tiba muncul.Vivian.Alis Serena berkerut.Bagaimana jika wanita itu belum benar-benar menyerah? Bagaimana jika semua ini memang ulahnya?Lagi pula, Vivian hanya dikabarkan berpisah dengan Steave, bukan menghilang sepenuhnya. “Apa yang kamu pikirkan, Sayang?” Steav
Serena baru saja meraih gagang pintu mobil dan langkahnya terhenti. “Itu dia!” Suara nyaring itu datang dari arah kanan. Serena menoleh dan mendapati tiga orang wanita berdiri tak jauh darinya. Raut wajah mereka penuh kebencian, dengan mata menajam seolah menemukan sasaran empuk. “Itu Serena Collins, kan?” “Wanita yang jadi selingkuhan Steave!” “Perusak rumah tangga!” Serena refleks melangkah mundur. Punggungnya hampir menyentuh bodi mobil. “Aku bukan–” Belum sempat kalimat itu selesai, salah satu wanita sudah lebih dulu maju dan mendorong bahunya cukup keras. “Jangan pura-pura polos!” bentaknya. “Kalau bukan gara-gara kau, Steave dan Viviane tidak akan bercerai!” Serena terhuyung, hak tingginya nyaris kehilangan keseimbangan. Tangannya mencengkeram tas dengan kuat. “Kalian salah orang,” ucapnya tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Aku tidak berselingkuh.” Tawa sinis mereka menyambutnya. “Beritanya sudah di mana-mana.” “Kau bertunangan dengan keponakannya tapi tidu
Untuk membantu Steave mengamankan haknya, Serena kembali menenggelamkan diri dalam dunia yang pernah ia tinggalkan. Kali ini, ia melakukannya dengan kesadaran dan tujuan yang jauh lebih besar.Ia duduk di sofa yang berada di kamar Rion sembari menemani putranya tidur siang. Sementara meja di depannya dipenuhi buku-buku tebal tentang manajemen perusahaan, hukum korporasi, hingga struktur kepemilikan saham keluarga besar. Meski dulu ia pernah menjadi asisten Steave dan terlibat langsung dalam beberapa proyek besar, Serena tahu itu belum cukup. Saat itu ia bekerja atas perintah, sekarang ia belajar untuk menghadapi tokoh penting. Jarinya berhenti di satu paragraf ketika ponselnya bergetar di atas meja.Satu notifikasi.Lalu dua.Lalu bertubi-tubi.Serena mengernyit. Ia mengambil ponselnya, mengira pesan dari Steave. Namun yang muncul justru ikon media sosial dengan tanda lonjakan notifikasi yang tidak biasa.Ia membuka salah satunya.Dan seketika itu juga, tubuh Serena menegang.Matan







