เข้าสู่ระบบ“Kamu yakin itu jawabannya?” tanya Lucky. Laura yang tak kuasa ditatap sedemikian rupa oleh Lucky langsung mengalihkan pandangannya kembali ke lain arah.Melihat reaksi itu, Lucky yakin Laura tidak jujur tentang perasaannya. Pria itu tersenyum miring. “Aku tahu kamu cinta sama aku, Laura. Akui saja.”“Nggak usah kegeeran dan tolong lepaskan tanganku.” Laura menarik tangannya sekuat tenaga dan Lucky melepaskan.“Tapi soal perasaanmu?”Lagi, lagi tanpa melihat Lucky, Laura menjawab. “Nggak ada perempuan yang cinta sama laki-laki yang sudah berniat balas dendam dan menghancurkannya.”Setelah berkata demikian, Laura langsung membuka pintu dan masuk. Lantas menutup pintu itu kembali. Tanpa peduli ada Lucky yang masih berdiri mematung. ***Lucky membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan Jakarta yang lumayan ramai. Pikirannya tak berhenti mengingat interaksinya dengan Laura tadi. “Gadis itu sudah mentah-mentah menolakku, tapi entah kenapa aku merasa dia nggak jujur soal p
Beberapa hari setelah hari itu berlalu. Apa yang terjadi di antara dirinya dan Lucky benar-benar mengganggu pikiran Laura. Karenanya dia menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan baru. Laura mencoba melamar menjadi staf di kantor-kantor. Meskipun rasanya mustahil dia diterima karena latar pendidikannya yang harus bersaing dengan para sarjana. Namun, setidaknya dia mencoba. Dan saat ini Laura sedang menuju pulang ke rumah susun Bella menggunakan taksi, berharap Minggu depan dia dapat panggilan, setidaknya tahap interview. Mobil taksi yang dia tumpangi akhirnya tiba di depan gang sempit di mana tempat tinggalnya berada. Laura turun setelah membayar taksi. Dan seperti biasa dia berjalan kaki memasuki gang sempit itu. Kebetulan siang itu para penghuni rumah pada keluar, duduk-duduk di teras sambil mengerumpi. Begitu Laura mendekat, salah satu dari mereka menegur Laura. "Eh, Neng Laura dari mana? Tumben penampilannya beda, pakai kemeja formal gitu?"Laura berusaha tersenyum menatap seo
“Kamu pulang!” Senyum Lucky spontan memudar. Laura menatapnya tajam. Perempuan itu tampaknya benar-benar marah. Lucky tahu sejak tadi gadis itu diam-diam mendengar percakapan mereka, dan gadis itu tidak suka Bella bercerita tentang keluarga mereka padanya. Bella menatap Laura tak percaya. “Kakak kok gitu, sih? Kenapa usir Om Lucky?!”Laura beralih menatap Bella yang masih duduk di kursi. “Kamu masuk ke kamar!” “Tapi, Kak–”“Aku bilang masuk!”Nyali Bella ciut, juga sedih. Meski dia masih ingin bicara pada Lucky, dia terpaksa masuk ke kamar. Sepeninggal Bella, Laura menatap Lucky tajam. “Kamu nunggu apa lagi? Keluar sana!” Lucky mulai berdiri. “Laura, aku tahu kamu–”“Pintunya ada di sana.” Laura menunjuk ke arah pintu. “Aku bilang keluar sekarang!” Suara Laura pecah di ruang tamu itu. Tak mau memperkeruh suasana, Lucky memilih mengalah kali ini. Pria itu merapatkan jasnya, kemudian mengangguk. “Oke, kalau memang itu mau kamu.” Lucky berjalan keluar pintu, baru saja langkahnya m
“Kalian sudah lama pisah rumah? Apakah sejak kakakmu menjadi penghibur?”Bella hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu. “Oh iya sekarang kakakmu di mana?” tanya Lucky kala baru teringat sesuatu. Kalau Laura ada di rumah ini, dia bisa saja mendengar. Meskipun Lucky bingung kenapa perempuan itu tidak keluar saja. Bella menunjuk arah kamar. “Hmm kita lanjut makan aja dulu, yuk, Om. Ngobrolnya entaran aja. Nanti makanannya dingin.” Lucky tahu, Bella sedang menyiratkan sebaiknya mereka tak membicarakan hal yang sensitif, apalagi jika itu menyangkut Laura sendiri. Lucky yang mengerti pun menurut saja. Selanjutnya mereka melanjutkan makan dalam diam. ***“Jadi gimana? Om Lucky boleh tanya-tanya soal kehidupan kalian?”Saat mereka selesai makan dan sedang duduk-duduk di ruang tamu, Lucky kembali bertanya. Dan Lucky merasa sedikit aneh, karena Laura sampai sekarang tak kunjung keluar seakan sengaja menghindarinya. Bella mengangguk dan berbisik. “Tapi kita ngomongnya pelan-pelan aj
“Maaf ya, Bella, kakak nggak bisa ajak kamu bermewah-mewah lagi …,” ucap Laura di tengah menikmati makan siang yang tadi mereka masak bersama. “Kita cuman bisa makan seadanya.”Bella justru menatap kakaknya dengan pandangan terheran-heran. Gadis yang sejak tadi asyik menyantap sup ayam dan jamur di dalam piring menghentikan aktivitasnya. “Kak, ini udah lebih dari cukup buatku, malah aku seneng banget. Apalagi bisa masak bareng kakak lagi,” jawab gadis berusia dua puluh tahunan awal itu. Laura mengedar pandang pada lauk-pauk yang tersaji di meja makan itu. Cukup banyak dan bergizi. Selain sup ayam dan jamur, ada capcay udang, ada rendang daging, ada omelette telur sayur dan ada buah-buahan. Makanan itu mungkin cukup mewah bagi adiknya yang selama ini hidup dalam kesusahan. Namun, bagi Laura yang sudah terbiasa hidup glamor sebagai wanita malam, tentu ini sangat sederhana. Laura ingin sekali mengajak adiknya makan di restoran mewah. “Kita tuh harus bersyukur, Kak,” sahut Bella lagi d
"Karena seiring berjalannya waktu aku sadar, aku beneran jatuh cinta sama kamu." Kalimat itu bertalu-talu di kepala Laura, sampai hari ini. Jujur, dia memang sempat berharap demikian, hanya saja dia tak menyangka harapannya benar-benar terwujud. Secara tidak langsung Lucky mengungkapkan perasaan padanya. Tapi waktu itu .... "Kamu jatuh cinta sama aku?" tanya Laura lagi kala itu. Lucky tak langsung menjawab, melainkan menatap matanya dalam-dalam, dalam diam. Laura masih sangsi, dia menggeleng. "Aku ragu untuk percaya sama kamu kali ini." Dan itu membuat Lucky langsung menyahut. "Iya, aku jatuh cinta sama kamu. Sungguh." "Kenapa? Padahal tadinya kamu benci sama aku karena aku hanyalah seorang wanita penghibur!" Laura menahan tangis. "Iya, tapi ... sekarang semuanya udah berubah. Karena aku sadar, ternyata kamu nggak seburuk yang aku pikirkan. Dan ada banyak hal yang nggak aku tahu tentang kamu, dan semuanya nggak sesuai dengan yang aku pikirkan selama ini," jelas Lucky panjan







