MasukLaura Minora, seorang gadis penghibur kelas atas yang diam-diam menyimpan banyak luka dari masa lalu. Suatu hari dia bertemu pelanggan yang merupakan seorang pria yang berbeda dengan pria lain, namanya Lucky. Seharusnya Laura dan Lucky bercinta dan menghabiskan waktu bersama. Tapi kenapa tiba-tiba Lucky mengajaknya menikah? Lalu bagaimana reaksi Laura? Apakah dia harus menerima lamaran dari pria yang baru dikenalnya itu atau menolaknya? Dan sebenarnya apa tujuan Lucky, si pria misterius itu melamarnya? Apakah sungguh karena cinta? Atau justru ada niat tertentu?
Lihat lebih banyak"Kamu kenapa, Honey?"
Suara berat khas pria menyadarkan Laura yang sejak tadi tampak gelisah. Gadis yang berbaring tanpa busana dan hanya berbalut selimut itu memang tidak bisa tidur, sejak tadi dia hanya bolak-balik badan. Dia menoleh menatap pria yang juga berbaring di sampingnya dengan agak terkejut. Pasalnya sejak tadi pria itu sudah tidur nyenyak. Laura mengernyit heran. "Om kenapa bangun?" Pria yang lebih tua dua puluh tahun darinya itu mengalihkan posisi baringnya, menatap Laura penuh cinta yang diam-diam membuat Laura mual. "Om tiba-tiba kebangun, liat kamu gelisah aja dan belum tidur. Ada apa, hmm?" Pria itu lantas mengulurkan tangan panjangnya yang masih tampak kekar, menarik bahu mulus Laura yang terekspos. Laura pun berbaring manja di dada bidang pria itu, mereka sama-sama tidak mengenakan pakaian. "Aku nggak bisa tidur lagi, Om. Aku mau pulang," bisiknya sambil mengusap bulu-bulu halus di dada bidang pria itu. "Kan besok pagi pulangnya, Honey. Ini udah malam. Sekarang mending kita tidur lagi aja, yuk." Pria itu mengusap bahu mulusnya. Lima jam lalu Laura dan pria berusia empat puluh lima tahun bernama Dion itu menghabiskan waktu bersama, mereka bercinta sepuasnya, hingga mereka kelelahan dan Dion jatuh tertidur. Namun, Laura dia tidak bisa tidur, dia banyak pikiran, dia juga ingin pulang. Dia tak kuasa menghabiskan waktu lebih lama dengan pria tua yang menjadi pelanggannya ini. Dan kini waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Laura langsung bangun, menegakkan kepalanya dari dada pria tua itu. "Enggak. Aku nggak mau tidur lagi, aku nggak bisa tidur lagi. Aku maunya pulang sekarang. Kerjaan aku juga udah beres, kan?" Laura membulatkan tekad untuk pulang. Apa pun caranya dia harus keluar dari kamar hotel ini sekarang juga. Pria tua itu menggeleng. "Belum. Saya masih belum puas, dan saya mau kamu puaskan saya sebentar lagi. Setelah itu baru kita pulang." "Maaf, Om, tapi aku harus pulang sekarang juga." Laura tidak mungkin memberi tahu alasan yang sebenarnya. Maka dia mencari-cari alasan lain. "Tadi adik aku telepon katanya dia lagi demam, aku jadi kepikiran sama dia dan aku, jadi nggak bisa fokus di sini. Aku boleh pulang, ya, Om, aku mohon," jelasnya sambil menatap pria itu harap-harap cemas. Berharap dia diizinkan pulang. "Tapi Laura ...." Dion tampak keberatan. Kali ini Laura memasang tampang memelas. "Aku mohon, Om, aku boleh pulang sekarang, ya? Mohon pengertiannya, ya, Om." Gadis itu lalu membuka selimutnya yang nyaris menampakkan bagian tubuhnya yang lain yang menggantung di dadanya. "Baiklah." Dion menyerah. "Kalau gitu Om antar kamu, ya, Honey." Masih duduk di atas tempat tidur, Laura menoleh lalu menggeleng. "Nggak perlu, Om. Aku bisa naik taksi aja. Terima kasih sebelumnya." "Mana mungkin saya biarkan wanita secantik kamu yang sudah melayani saya pulang sendirian. Lagi pula kita ke hotel ini kan tadi berdua. Jadi sudah sepatutnya saya yang antar kamu juga." "Nggak usah, Om. Aku mau pulang sendiri pakai taksi. Aku nggak masalah. Aku kan mandiri dan ... kuat," ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya, tampak genit. Dion terdiam melihatnya seakan terhipnotis dengan pesona gadis itu. Laura lantas bergegas berdiri. Memunguti pakaian dalamnya yang tercecer di lantai dan mengenakannya cepat. Dion di atas kasurnya mengamati Laura yang mengenakan baju terang-terangan di depannya. Pemandangan itu, tubuh indah itu, rasanya dia masih ingin melihatnya lebih lama. Tanpa sadar Dion menelan ludah. Laura tahu Dion memperhatikan tubuh indahnya, membuatnya semakin ingin cepat menjauh dari pria tua itu. Dan penolakannya untuk diantar pun bukan main-main. Laura lebih baik naik taksi sendiri daripada diantar oleh pria tua itu. "Laura biarkan saya antar kamu, ya?" Namun, ternyata pria itu keras kepala. "Saya masih ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Rasanya saya ingin bersama-sama kamu terus sampai kapan pun." Laura mual mendengar kalimat itu. Tapi jika dia tolak, pria itu pasti terus saja memaksa. Maka dia pun terpaksa menurutinya. Toh, ini yang pertama dan terakhir kali dia menghabiskan waktu bersama pria tua itu. Dan yang paling penting dia bisa pulang sekarang. *** Mobil milik Dion berhenti di depan sebuah bangunan tinggi. Tangan Laura sudah memegang ganggang pintu mobil, hendak membuka mobil, ketika Dion menegurnya. "Laura." Laura menoleh. "Iya, Om?" Lantas melempar senyum manisnya. "Makasih, ya, udah antar aku. Selamat malam, Om." "Laura." Tapi Dion memegangi tangan Laura seakan menahannya. Laura diam, menunggu pria tua itu bicara dengan tak sabaran. "Saya berharap ini bukan pertemuan terakhir kita. Sebelum turun boleh saya minta sesuatu?" Dahi Laura mengernyit samar. "Apa itu, Om?" Tanpa mengatakan apa pun orang tua tak tahu diri itu memegangi kedua bahu Laura dan mendekatkannya dengan tubuhnya. Dia berusaha menciumi Laura. Dan sebelum bibirnya menyentuh bibir Laura, gadis itu spontan menjauhi kepalanya. "Maaf, Om. Aku harus turun sekarang." Tanpa menunggu jawaban orang tua itu, Laura segera membuka pintu mobil. Namun, sialnya, pintu itu ternyata dikunci, Laura jadi tidak bisa keluar dari sana. Sementara pria tua di sampingnya terus saja menahan dirinya dengan memegangi tangannya. "Ayolah, Honey, temani Om di sini sebentar lagi." Pria itu lantas menarik Laura dalam pelukannya dan berusaha mencumbui Laura yang terus memberontak. "Om aku mohon, jangan!" "Kenapa, Honey? Om cuman ingin bibir kamu, bukannya sebelumnya kita melakukan lebih dari itu, ya? Kenapa kamu nggak pernah mau Om sentuh bibir kamu ini. Bibir kamu seksi, Om penasaran dengan rasanya." Pria itu menyodorkan bibirnya ke bibir Laura, tapi Laura masih berusaha melepaskan diri dari regangan pria tua itu. "Jangan, Om, jangan! Tolong! Tolong!" ***Beberapa hari setelah hari itu berlalu. Apa yang terjadi di antara dirinya dan Lucky benar-benar mengganggu pikiran Laura. Karenanya dia menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan baru. Laura mencoba melamar menjadi staf di kantor-kantor. Meskipun rasanya mustahil dia diterima karena latar pendidikannya yang harus bersaing dengan para sarjana. Namun, setidaknya dia mencoba. Dan saat ini Laura sedang menuju pulang ke rumah susun Bella menggunakan taksi, berharap Minggu depan dia dapat panggilan, setidaknya tahap interview. Mobil taksi yang dia tumpangi akhirnya tiba di depan gang sempit di mana tempat tinggalnya berada. Laura turun setelah membayar taksi. Dan seperti biasa dia berjalan kaki memasuki gang sempit itu. Kebetulan siang itu para penghuni rumah pada keluar, duduk-duduk di teras sambil mengerumpi. Begitu Laura mendekat, salah satu dari mereka menegur Laura. "Eh, Neng Laura dari mana? Tumben penampilannya beda, pakai kemeja formal gitu?"Laura berusaha tersenyum menatap seo
“Kamu pulang!” Senyum Lucky spontan memudar. Laura menatapnya tajam. Perempuan itu tampaknya benar-benar marah. Lucky tahu sejak tadi gadis itu diam-diam mendengar percakapan mereka, dan gadis itu tidak suka Bella bercerita tentang keluarga mereka padanya. Bella menatap Laura tak percaya. “Kakak kok gitu, sih? Kenapa usir Om Lucky?!”Laura beralih menatap Bella yang masih duduk di kursi. “Kamu masuk ke kamar!” “Tapi, Kak–”“Aku bilang masuk!”Nyali Bella ciut, juga sedih. Meski dia masih ingin bicara pada Lucky, dia terpaksa masuk ke kamar. Sepeninggal Bella, Laura menatap Lucky tajam. “Kamu nunggu apa lagi? Keluar sana!” Lucky mulai berdiri. “Laura, aku tahu kamu–”“Pintunya ada di sana.” Laura menunjuk ke arah pintu. “Aku bilang keluar sekarang!” Suara Laura pecah di ruang tamu itu. Tak mau memperkeruh suasana, Lucky memilih mengalah kali ini. Pria itu merapatkan jasnya, kemudian mengangguk. “Oke, kalau memang itu mau kamu.” Lucky berjalan keluar pintu, baru saja langkahnya m
“Kalian sudah lama pisah rumah? Apakah sejak kakakmu menjadi penghibur?”Bella hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu. “Oh iya sekarang kakakmu di mana?” tanya Lucky kala baru teringat sesuatu. Kalau Laura ada di rumah ini, dia bisa saja mendengar. Meskipun Lucky bingung kenapa perempuan itu tidak keluar saja. Bella menunjuk arah kamar. “Hmm kita lanjut makan aja dulu, yuk, Om. Ngobrolnya entaran aja. Nanti makanannya dingin.” Lucky tahu, Bella sedang menyiratkan sebaiknya mereka tak membicarakan hal yang sensitif, apalagi jika itu menyangkut Laura sendiri. Lucky yang mengerti pun menurut saja. Selanjutnya mereka melanjutkan makan dalam diam. ***“Jadi gimana? Om Lucky boleh tanya-tanya soal kehidupan kalian?”Saat mereka selesai makan dan sedang duduk-duduk di ruang tamu, Lucky kembali bertanya. Dan Lucky merasa sedikit aneh, karena Laura sampai sekarang tak kunjung keluar seakan sengaja menghindarinya. Bella mengangguk dan berbisik. “Tapi kita ngomongnya pelan-pelan aj
“Maaf ya, Bella, kakak nggak bisa ajak kamu bermewah-mewah lagi …,” ucap Laura di tengah menikmati makan siang yang tadi mereka masak bersama. “Kita cuman bisa makan seadanya.”Bella justru menatap kakaknya dengan pandangan terheran-heran. Gadis yang sejak tadi asyik menyantap sup ayam dan jamur di dalam piring menghentikan aktivitasnya. “Kak, ini udah lebih dari cukup buatku, malah aku seneng banget. Apalagi bisa masak bareng kakak lagi,” jawab gadis berusia dua puluh tahunan awal itu. Laura mengedar pandang pada lauk-pauk yang tersaji di meja makan itu. Cukup banyak dan bergizi. Selain sup ayam dan jamur, ada capcay udang, ada rendang daging, ada omelette telur sayur dan ada buah-buahan. Makanan itu mungkin cukup mewah bagi adiknya yang selama ini hidup dalam kesusahan. Namun, bagi Laura yang sudah terbiasa hidup glamor sebagai wanita malam, tentu ini sangat sederhana. Laura ingin sekali mengajak adiknya makan di restoran mewah. “Kita tuh harus bersyukur, Kak,” sahut Bella lagi d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak