MasukHalo, Pembaca semuaaa Semoga masih tetap suka dengan cerita ini yaa Author memgucapkan selamat tahun baruu ❤ Semoga di tahun 2026 banyak berkat Tuhan yang melimpah pada kita semua yaa GBU Oh iya, untuk tanggal 1-2 kemungkinan author libur update ya. tapi kalau memungkinkan author pasti akan up ceritanya. Terima kasihhh 🤗🤗 Salam hangat, Allensia
“Dia….” Bibir Selina kelu. Ia menoleh sekilas ke arah pria di sampingnya, lalu kembali menatap Gracie. Kepalanya sibuk menimbang kata yang tepat untuk menjelaskan keberadaan Raven pada adik tercintanya. Jantungnya berdegup tidak beraturan, seolah waktu sengaja melambat hanya untuk mempermalukannya. Namun sebelum Selina sempat membuka suara, Raven sudah lebih dulu melangkah setengah langkah ke depan. Suaranya terdengar tenang saat ia berkata, “Bodyguard baru kakakmu.” Ucapan itu membuat suasana mendadak hening. Gracie terdiam dengan sorot mata penuh ragu, sementara Selina menyipitkan mata tajam ke arah Raven, seolah ingin menegurnya tanpa suara. Alasan macam apa itu? Selina bahkan tidak pernah memikirkan jawaban semacam itu sebelumnya. Namun, setelah dipikirkan kembali, penjelasan Raven terdengar masuk akal. Gracie menaikkan alisnya beberapa detik. Ia lalu mengalihkan pandangan kembali pada Selina. “Untuk apa kakak sewa bodyguard? Kakak tidak lagi menghadapi bahaya, kan?” Se
Entahlah. Saat ini bukan waktunya menerka terlalu jauh. Selina menahan rasa ingin tahunya, menyingkirkan berbagai kemungkinan yang berkelebat di benaknya. Mungkin lain kali ia akan mencari tahu tentang Raven lebih jauh. Yang jelas, bila Raven benar memiliki pengaruh besar di Sylan, fakta itu bisa menjadi kartu penting. Sebuah keuntungan yang kelak dapat ia manfaatkan, entah untuk melindungi diri atau mencapai tujuan yang belum tercapai. Menyadari dirinya sudah terlalu lama berdiri di sana, Selina menarik napas perlahan. Ia menata kembali ekspresinya, memastikan tak ada kegugupan yang tersisa. Lalu, dengan langkah ringan dan hati-hati, ia menjauh dari tempat itu, memastikan Raven tidak menyadari keberadaannya yang sempat menguping. *** Siang itu, tepat ketika sesi pemotretan terakhir selesai, seluruh kru telah meninggalkan lokasi. Ruangan yang sebelumnya riuh kini berubah lengang. Lampu-lampu studio mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan suasana sunyi yang terasa canggung.
Selina melongo mendengar jawaban Raven. Dari sekian banyak pertanyaan yang ia ulang dan lontarkan pada lelaki itu, dan dari sekian banyak jawaban kabur yang selalu diterimanya, kali ini Raven justru menjawab tanpa berkelit. Terlalu jelas sampai membuat Selina menelan ludahnya kasar. Benarkah demikian? Entahlah tapi Selina merasa tatapan Yang diberikan Raven tadi bukanlah sebuah candaan apalagi main-main. Manik hitam pria itu seolah telah berbalut kabut dendam yang tebal. “Tapi kenapa?” Selina akhirnya bertanya cepat. Alisnya berkerut, jemarinya mencengkeram tepi kursi tanpa sadar. “Mereka orang tuamu sendiri, bukan?” Sudut senyum Raven bergerak tipis. Pria itu lantas membuang napas panjang sebelum mendekat. Lelaki berkaos polo itu memiringkan tubuhnya, mencondongkan wajah hingga jarak mereka hanya terpaut sedikit. Tatapannya gelap, suaranya rendah namun tenang, seolah sudah lama menyimpan semua itu. “Karena mereka lebih memilih anak angkat daripada keturunan keluarga Mathias,
“Aku terima telepon sebentar,” ujar Selina sambil mendorong kursinya dan bersiap berdiri.Namun, sebelum ia benar-benar beranjak, tangan Raven lebih dulu menangkap lengannya. Cengkeramannya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Selina kembali duduk. Dengan tangan yang lain, Raven memberi isyarat singkat ke arah Shifa agar kembali ke ruangan bersama Rani.Shifa mengangguk pelan, lalu berbalik dan meninggalkan ruang makan tanpa berkata apa-apa.Selina menoleh tajam ke arah Raven. Dahinya berkerut, jelas tidak setuju dengan sikap pria itu. Ia menarik lengannya, tetapi Raven belum juga melepaskan.“Raven,” ucapnya memperingatkan pria itu.Namun, Raven justru menatapnya lurus, sorot matanya tenang tetapi penuh tekanan. “Kita sudah sepakat untuk saling mendukung,” katanya pelan. “Lalu kenapa sekarang kamu memilih bermain rahasia denganku, Cantik?”Ditatap sedemikian rupa membuat Selina waspada. Tidak biasanya Raven bersikap seserius ini. Kali ini, aura yang ia pancarkan bahkan terasa lebi
Usai mandi, Selina turun ke lantai satu dengan rambut masih setengah lembap. Ujung-ujungnya menempel di leher, terasa dingin. Aroma masakan langsung menyambut indra penciumannya, hangat dan menggugah selera.Di dapur, Raven berdiri di depan kompor. Ia mengaduk isi panci dengan gerakan tenang, lalu menurunkan api sedikit sebelum kembali memperhatikan masakan itu. Di sisi lain, Rani dan Shifa sibuk mengelap piring. Mereka menatanya satu per satu ke dalam rak sambil saling melempar komentar ringan. Sesekali terdengar tawa kecil di antara bunyi porselen yang saling beradu.Langkah Selina terhenti sejenak. Ada sesuatu yang terasa janggal. Suasana di antara Rani dan Shifa tampak hangat dan akrab, seolah keduanya sudah lama saling mengenal. Padahal setahu Selina, mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Ia melangkah lebih dekat, dahinya sedikit berkerut, mencoba memahami kehangatan yang tercipta begitu cepat di ruang itu.“Shifa,” panggil Selina.Obrolan itu langsung terhenti. Shifa mendongak
"Kalian.... Menginap di rumah ini?" tanya Giovanni. Dari nada suaranya pria itu masih berusaha berpikir positif. Meskipun sepasang matanya memberitahukan kemungkinan yang lain. Selina menelan ludah. Untung saja ia mengenakan piyama tidurnya. Jika tidak, mungkin pagi ini akan menjadi lain cerita. "Ah, Sayang kami —""Ya, kami memang menginap di sini." Sela Raven. "Aku numpang mandi di kamar Kakak Ipar, kamar mandi yang lain belum ada akses air hangatnya."Selina sedikit terkejut dengan alasan Raven. Ia tak menyanhka pria itu juga tahu soal fasilitas air hangat yang baru terpasang di kamarnya. Namun, untunglah jika demikian. Di sisi lain, Giovanni tampak terdiam. Lalu beberapa detik setelahnya pria itu berkata, "Kalian cuma berdua aja?"Selina hendak kembali bicara, menjelaskan sejelas-jelasnya. Hanya saja Raven kembali menyela. "Ada Rani, pelayan di rumahku, dan Shifa asisten Selina. Mereka baru pergi ke supermarket untuk beli bahan makanan."Jawaban Raven kembali membuat Selina me







