Home / Romansa / Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin / Chapter 31 | Noda Merah Muda

Share

Chapter 31 | Noda Merah Muda

last update Last Updated: 2025-10-21 17:53:45

Nyali Mirna seketika menciut. Kepalanya menunduk dalam, menatap piring di tangannya seolah mencari tempat bersembunyi.

“Ma–maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan ada di sini,” ujarnya dengan suara bergetar.

Dari atas ranjang, Selina bisa menebak apa yang bergemuruh di kepala Mirna saat ini—segudang asumsi liar yang membuat wanita itu kaku di tempat. Wajar saja.

Melihat Papa mertua dan menantu di kamar yang sama, siapa yang bisa berpikir jernih?

Namun Selina tetap diam. Ia tidak ingin memperpanjang hal yang tidak perlu, hanya menunggu, ingin tahu alasan apa yang akan Dusan lontarkan.

Tatapannya beralih ke arah Mirna yang masih gugup, tangannya gemetar saat meletakkan nampan. Dalam hati, Selina tersenyum tipis. Ia tahu, setelah ini Mirna pasti mulai curiga. Dan itu tidak masalah.

Bahkan, mungkin itu bisa berguna.

Semakin banyak telinga yang berbisik di rumah ini, semakin besar pula peluang Marissa mendengar sesuatu yang membuatnya tidak tenang.

Sayangnya, alih-alih memberikan dalih, pr
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 134 | Memahami Dia

    Raven menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Tatapannya sempat beralih ke arah lain sebelum kembali pada Gracie.“Mm, bukan begitu,” ujarnya pelan. “Aku hanya tidak ingin menebak-nebak keinginan kakakmu. Dan kalau tahu sedikit tentang masa lalunya, mungkin aku bisa lebih memahaminya sebagai bawahan.”Gracie terkekeh kecil, lalu menepuk lengan Raven dengan santai. Senyum tipis mengembang di wajahnya saat ia menatap pria bermasker hitam itu.“Aku cuma bercanda, Kakak. Lagipula soal itu aku juga tidak tahu. Kakakku lama tinggal di Norvast. Tidak menutup kemungkinan dia pernah punya kekasih di sana.”Raven mengangguk pelan. Rahangnya sedikit mengeras, seolah ia sedang menimbang sesuatu, tetapi pada akhirnya ia memilih diam. Tidak ada jawaban yang keluar darinya.Gracie kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang lebih tenang.“Soal memahami kakakku… dia tidak pernah kekurangan uang. Dia bisa melakukan apa pun dengan uangnya.” Gracie menarik napas sejenak. “Dia terbi

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 133 | Antara Gracie dan Raven

    “Dia….” Bibir Selina kelu. Ia menoleh sekilas ke arah pria di sampingnya, lalu kembali menatap Gracie. Kepalanya sibuk menimbang kata yang tepat untuk menjelaskan keberadaan Raven pada adik tercintanya. Jantungnya berdegup tidak beraturan, seolah waktu sengaja melambat hanya untuk mempermalukannya. Namun sebelum Selina sempat membuka suara, Raven sudah lebih dulu melangkah setengah langkah ke depan. Suaranya terdengar tenang saat ia berkata, “Bodyguard baru kakakmu.” Ucapan itu membuat suasana mendadak hening. Gracie terdiam dengan sorot mata penuh ragu, sementara Selina menyipitkan mata tajam ke arah Raven, seolah ingin menegurnya tanpa suara. Alasan macam apa itu? Selina bahkan tidak pernah memikirkan jawaban semacam itu sebelumnya. Namun, setelah dipikirkan kembali, penjelasan Raven terdengar masuk akal. Gracie menaikkan alisnya beberapa detik. Ia lalu mengalihkan pandangan kembali pada Selina. “Untuk apa kakak sewa bodyguard? Kakak tidak lagi menghadapi bahaya, kan?” Se

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 132 | Orang Asing

    Entahlah. Saat ini bukan waktunya menerka terlalu jauh. Selina menahan rasa ingin tahunya, menyingkirkan berbagai kemungkinan yang berkelebat di benaknya. Mungkin lain kali ia akan mencari tahu tentang Raven lebih jauh. Yang jelas, bila Raven benar memiliki pengaruh besar di Sylan, fakta itu bisa menjadi kartu penting. Sebuah keuntungan yang kelak dapat ia manfaatkan, entah untuk melindungi diri atau mencapai tujuan yang belum tercapai. Menyadari dirinya sudah terlalu lama berdiri di sana, Selina menarik napas perlahan. Ia menata kembali ekspresinya, memastikan tak ada kegugupan yang tersisa. Lalu, dengan langkah ringan dan hati-hati, ia menjauh dari tempat itu, memastikan Raven tidak menyadari keberadaannya yang sempat menguping. *** Siang itu, tepat ketika sesi pemotretan terakhir selesai, seluruh kru telah meninggalkan lokasi. Ruangan yang sebelumnya riuh kini berubah lengang. Lampu-lampu studio mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan suasana sunyi yang terasa canggung.

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 131 | Melewatkan Sesuatu

    Selina melongo mendengar jawaban Raven. Dari sekian banyak pertanyaan yang ia ulang dan lontarkan pada lelaki itu, dan dari sekian banyak jawaban kabur yang selalu diterimanya, kali ini Raven justru menjawab tanpa berkelit. Terlalu jelas sampai membuat Selina menelan ludahnya kasar. Benarkah demikian? Entahlah tapi Selina merasa tatapan Yang diberikan Raven tadi bukanlah sebuah candaan apalagi main-main. Manik hitam pria itu seolah telah berbalut kabut dendam yang tebal. “Tapi kenapa?” Selina akhirnya bertanya cepat. Alisnya berkerut, jemarinya mencengkeram tepi kursi tanpa sadar. “Mereka orang tuamu sendiri, bukan?” Sudut senyum Raven bergerak tipis. Pria itu lantas membuang napas panjang sebelum mendekat. Lelaki berkaos polo itu memiringkan tubuhnya, mencondongkan wajah hingga jarak mereka hanya terpaut sedikit. Tatapannya gelap, suaranya rendah namun tenang, seolah sudah lama menyimpan semua itu. “Karena mereka lebih memilih anak angkat daripada keturunan keluarga Mathias,

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 130 | Satu Tujuan

    “Aku terima telepon sebentar,” ujar Selina sambil mendorong kursinya dan bersiap berdiri.Namun, sebelum ia benar-benar beranjak, tangan Raven lebih dulu menangkap lengannya. Cengkeramannya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Selina kembali duduk. Dengan tangan yang lain, Raven memberi isyarat singkat ke arah Shifa agar kembali ke ruangan bersama Rani.Shifa mengangguk pelan, lalu berbalik dan meninggalkan ruang makan tanpa berkata apa-apa.Selina menoleh tajam ke arah Raven. Dahinya berkerut, jelas tidak setuju dengan sikap pria itu. Ia menarik lengannya, tetapi Raven belum juga melepaskan.“Raven,” ucapnya memperingatkan pria itu.Namun, Raven justru menatapnya lurus, sorot matanya tenang tetapi penuh tekanan. “Kita sudah sepakat untuk saling mendukung,” katanya pelan. “Lalu kenapa sekarang kamu memilih bermain rahasia denganku, Cantik?”Ditatap sedemikian rupa membuat Selina waspada. Tidak biasanya Raven bersikap seserius ini. Kali ini, aura yang ia pancarkan bahkan terasa lebi

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 129 | Ternyata Ulahnya

    Usai mandi, Selina turun ke lantai satu dengan rambut masih setengah lembap. Ujung-ujungnya menempel di leher, terasa dingin. Aroma masakan langsung menyambut indra penciumannya, hangat dan menggugah selera.Di dapur, Raven berdiri di depan kompor. Ia mengaduk isi panci dengan gerakan tenang, lalu menurunkan api sedikit sebelum kembali memperhatikan masakan itu. Di sisi lain, Rani dan Shifa sibuk mengelap piring. Mereka menatanya satu per satu ke dalam rak sambil saling melempar komentar ringan. Sesekali terdengar tawa kecil di antara bunyi porselen yang saling beradu.Langkah Selina terhenti sejenak. Ada sesuatu yang terasa janggal. Suasana di antara Rani dan Shifa tampak hangat dan akrab, seolah keduanya sudah lama saling mengenal. Padahal setahu Selina, mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Ia melangkah lebih dekat, dahinya sedikit berkerut, mencoba memahami kehangatan yang tercipta begitu cepat di ruang itu.“Shifa,” panggil Selina.Obrolan itu langsung terhenti. Shifa mendongak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status