Mag-log inBerawal menggantikan pekerjaan sahabatnya. Satu malam di klub mengubah seluruh tatanan kehidupan Giselle. Giselle tak pernah menyangka, kalau pria asing yang menolongnya malam itu adalah Arnon Theodore, sosok pria dingin dan berwibawa yang ternyata Ayah angkat kekasihnya sendiri— Marley Theodore. Sejak malam itu, hidup Giselle tak lagi sama. Bagaimana ia menghadapi keduanya?
view moreKeesokan harinya, pagi membawa sinar yang terang. Sinar jingga menyelinap masuk melalui jendela kaca. Sebuah cahaya yang mengawali aktivitas para pekerja yang memiliki kesibukan.Dunia luar yang penuh dengan cahaya itu, sangat kontras dengan perasaan Giselle saat ini.Dia duduk di tepi ranjang, mengusap kedua tangannya berulang kali. Bukan karena kedinginan, akan tetapi karena Giselle sedang mempersiapkan dirinya untuk menguasai diri dalam dunia asing. ‘Semua akan baik-baik saja, Giselle. Ini tidak menakutkan seperti yang ada dalam bayanganmu.’ batin Giselle bertarung pada pikirannya sendiri. Pikiran yang menjadi momok menakutkan bagi dirinya sendiri. Berulang kali pikiran itu berbicara seperti racun, mengatakan jika dia tidak akan bisa berbaur dengan keluarga Leopold. Tetapi Giselle harus bertahan demi Arnon. Diam-diam, Arnon yang telah keluar dari ruang ganti. Menatap Giselle yang saat ini sedang melamun sambil mendesah panjang. Dari raut wajahnya, seakan sudah menggambarkan ji
Giselle serta Arnon langsung kembali ke kamar setelah perdebatan yang membuat suasana tegang di meja makan. Arnon menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa. Dia mendongakkan kepala dengan raut wajah yang masih tampak mengeras. Dahi pria itu nampak berkerut,Rahangnya mengeras walau wibawanya masih tak berkurang sedikit pun. Sementara Giselle sendiri masih berdiri di depan pintu. Ia diam, pandangannya mengarah pada Arnon dimana mimik wajah Arnon sendiri terlihat kepayahan. Giselle merenung, merasa bersalah dengan kerumitan yang terjadi hari ini. Melihat Arnon saat ini, membuat Giselle sadar sepenuhnya dengan batas diantara mereka. Dunia Arnon jelas berbeda. Pria itu terlalu sempurna bukan hanya dari segi rupa namun, juga dari status sosial. Ia merasa kurang pantas saat ini berdiri di dunia Arnon. Dunia yang penuh dengan kemewahan yang jauh dari kehidupannya dahulu. “Arnon.” panggil Giselle setelah melangkah mendekat, dia berdiri di depan Arnon yang semula memejamkan mata. Mend
Ruang makan utama keluarga Theodore telah dipersiapkan dengan sempurna. Meja panjang dari kayu gelap membentang di tengah ruangan, permukaannya berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Peralatan makan tersusun rapi, simetris, nyaris tanpa cela. Pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan, punggung tegak, kepala sedikit tertunduk seolah satu tarikan napas yang salah pun bisa dianggap tidak sopan. Semua orang sudah hadir. Anggota keluarga Theodore memenuhi kursi-kursi mereka, wajah-wajah yang sama dinginnya seperti siang tadi. Di antara mereka, duduk pula keluarga Marquis, termasuk Bella dan Marley. Percakapan pelan sempat terdengar, namun berhenti seketika ketika pintu ruang makan kembali terbuka. Arnon masuk lebih dulu. Dan untuk pertama kalinya dengan sengaja, tanpa keraguan tangannya menggenggam tangan Giselle. Genggaman itu tidak kuat, tidak menekan, namun tegas. Seolah berkata bahwa apa pun yang menanti di ruangan ini, mereka akan menghadapinya bersama. Langkah Gisel
Ruang kerja keluarga Theodore tertutup rapat begitu Arnon melangkah masuk. Aroma kayu tua dan kulit memenuhi ruangan itu bau khas kekuasaan dan keputusan besar. Rak buku tinggi menjulang di dinding, meja kerja besar berada di tengah dengan kursi kulit hitam menghadap jendela lebar yang mengarah ke taman belakang. Waktu sudah turun, tapi lampu meja menyala terang, membuat bayangan mereka jatuh tajam di lantai. Arthur Theodore berdiri membelakangi mereka, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi. Celine menyusul masuk dan menutup pintu perlahan, lalu berdiri di sisi ruangan, melipat tangan di depan dada. Arnon sendiri tetap berdiri, tegap, tenang namun tidak dengan rahangnya yang mengeras. Arthur berbalik. Tatapan ayahnya lurus menembus Arnon, tanpa basa-basi. “Menikah,” ucap Arthur pelan namun berat, “Tanpa satu pun pemberitahuan pada kami.” Arnon tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku celana, posturnya santai, terlalu santai untuk situasi seperti i
[Sofia, kamu ada di rumah atau di rumah sakit? Aku akan pergi kesana.]Pesan yang dikirim oleh Giselle sejak pagi tadi tidak mendapatkan balasan sama sekali dari Sofia. Bahkan dibaca saja tidak, membuat perasaan Giselle mendadak tidak nyaman. Apa yang dilakukan Giselle untuk menemui Sofia, bukan s
Kantor Arnon “Tuan,” panggil Noel setelah mendekat ke sisi Arnon yang sedang sibuk berkutat dengan Macbook.Tanpa menoleh pada Noel, Arnon menjawab lewat deheman ringan dan berat dari bibirnya. “Hmm,”“Tiga hari ini, saya telah meminta seseorang mengikuti Tuan Marley secara diam-diam. Dia menemui
Tiga hari telah berlalu, semenjak pengakuan yang dilakukan oleh Giselle waktu itu pada Marley. Akhirnya mereka sepakat untuk melangsungkan pernikahan atas permintaan dari Marley sebulan kedepan.Giselle tidak tahu ini merupakan keputusan yang baik atau tidak. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia memilik
“Giselle, kau tidak pulang?” “Iya, sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan satu hiasan cake baru pulang.” jawab Giselle pada rekan kerjanya. “Tapi tadi aku lihat kekasihmu sudah menunggu di tempat parkir.”Gerakan tangan Giselle yang sedang mengoles cream segera terhenti. Ia menatap Septia sembar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.