Share

Bulan Madu

Author: Vianita
last update Last Updated: 2025-12-29 01:33:36

Hari pernikahan itu tiba bukan sebagai akhir dari sebuah perjuangan, melainkan sebagai garis start bagi babak baru kehidupan mereka. Jakarta seolah ikut merayakan; langit biru bersih tanpa awan, dan aroma bunga melati serta mawar putih menyerbak di seluruh area ballroom mewah hotel milik Arkana Corp yang telah disulap menjadi taman gantung yang megah.

Detik-Detik Sakral

Di dalam ruang rias, Alya menatap bayangannya di cermin. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading dengan potongan sleek yang modern namun tetap anggun. Lengannya yang dulu terluka kini tertutup oleh kain brokat halus bermotif sulur daun—sebuah pengingat akan hutan yang telah menyatukan mereka.

Raka mengetuk pintu, matanya berkaca-kaca melihat Alya. "Nona, Tuan Daniel sudah menunggu di altar. Dia terlihat sangat tegang, seolah-olah akan menghadapi rapat pemegang saham paling berbahaya sedunia."

Alya terkekeh, meski tangannya sedikit bergetar. "Aku datang, Raka."

Saat pintu aula terbuka, m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Sang CEO Muda   Pertemuan dengan Rangga

    Matahari siang itu menggantung terik di atas Jakarta, memantulkan kilau perak di gerbang sekolah dasar internasional tempat Leo dan teman-temannya menimba ilmu. Bel pulang baru saja berbunyi sepuluh menit yang lalu, namun suasana di lobi depan masih ramai.Biasanya, mobil-mobil mewah dengan sopir berseragam sudah berderet rapi membentuk barisan besi yang tak berujung. Namun, hari itu ada sesuatu yang berbeda. Sebuah kecelakaan truk di jalur utama menuju sekolah menyebabkan kemacetan total yang melumpuhkan akses masuk."Sopir gue bilang dia kejebak dua kilometer dari sini," keluh Tobi sambil menyeka keringat di dahinya. "Dia bilang mending gue tunggu di dalem, tapi gerah banget."Hilda mengangguk, kipas portabelnya berputar maksimal. "Sama. Mama juga bilang asistennya baru bisa sampai satu jam lagi. Kevin, lo gimana?"Kevin, yang sedang asyik memutar-mutar kubus Rubik dengan kecepatan luar biasa, mendongak. "Papa lagi ada rapat darurat. Katanya suruh bareng sopir cadangan, tapi ya itu,

  • Gairah Sang CEO Muda   Menjadi Mitra

    Imelda mematikan layar monitornya yang masih menampilkan pesan hijau neon dari Leo Arkana. Ruangan itu kini benar-benar gelap, hanya menyisakan pendar lampu kota yang menembus paviliun kaca. Kalimat "Ayahku tidak butuh sekretaris baru" terus bergema di kepalanya, bukan sebagai penghinaan, melainkan sebagai sebuah peringatan strategi.Ia menyadari satu hal: Kekuatan Daniel Arkana bukan terletak pada algoritma atau satelit, melainkan pada Unit Inti yang ia bentuk bersama Alya dan Leo. Sebuah struktur segitiga yang paling stabil dalam geometri, dan paling mematikan dalam bisnis.Imelda tidak menunggu pagi. Ia tahu bahwa dalam menghadapi keluarga Arkana, kecepatan adalah bentuk rasa hormat. Ia mengambil ponsel pribadinya—kali ini melalui jalur resmi yang bisa dipantau oleh Leo—dan mengirimkan sebuah pesan singkat namun terukur ke protokol komunikasi asisten Daniel.Kepada: Kantor CEO Arkana Corp.Perihal: Permohonan Maaf dan Penyerahan Data."Tolong sampaikan pada Tuan Daniel: Saya baru s

  • Gairah Sang CEO Muda   Imelda Akmal

    Setelah kepergian Daniel Arkana yang meninggalkan debu tipis di pelataran paviliun kaca, Imelda Akmal tetap terpaku di kursinya. Keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan, kontras dengan debaran jantungnya yang masih berpacu. Ia baru saja "ditelanjangi" secara intelektual. Seluruh persiapan matangnya—jalur distribusi satelit hingga pesona feminin yang biasanya mampu meluluhkan taipan kawakan—hancur berantakan di tangan Daniel hanya dalam hitungan menit."Sombong. Terlalu percaya diri. Dan sangat... berbahaya," gumam Imelda pada dirinya sendiri.Ia meraih gelas kristal berisi air mineral, namun tangannya sedikit gemetar. Rasa malu karena rencananya gagal total bercampur dengan rasa penasaran yang membakar. Selama ini, Daniel Arkana adalah subjek yang ia pelajari dari jauh sebagai kompetitor bisnis. Namun, pertemuan barusan membuktikan bahwa profil publik Daniel sebagai CEO jenius yang dingin hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih gelap.Imelda berdiri, berjalan menuju meja k

  • Gairah Sang CEO Muda   Kehadiran Perusahaan Baru

    Lampu jalan tol yang temaram berganti dengan gerbang baja tinggi yang tersamar di balik rimbunnya vegetasi di pinggiran Bogor. Ini bukan rumah utama mereka di Jakarta Selatan, melainkan Safehouse Delta—sebuah kompleks hunian yang secara arsitektural terlihat seperti vila mewah biasa, namun di bawah fondasinya tertanam beton bertulang sedalam sepuluh meter dengan sistem penyaring udara mandiri.Daniel mematikan mesin SUV. Keheningan yang menyusul terasa berat, hanya menyisakan suara putaran kipas pendingin mesin yang perlahan melambat."Alya, bawa Leo masuk ke ruang kontrol. Aku harus melakukan pembersihan jejak digital dari sesi pengejaran tadi," perintah Daniel. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.Leo turun dari mobil, masih mendekap piala emasnya. Alih-alih terlihat ketakutan, matanya justru berkilat dengan rasa ingin tahu intelektual yang tajam. Bagi Leo, ini bukan sekadar pelarian; ini adalah aplikasi praktis dari teori-teori pertahanan siber yang sel

  • Gairah Sang CEO Muda   Pemenang

    Riuh rendah tepuk tangan penonton di Aula Besar Balai Kartini pecah saat cahaya lampu panggung menyilaukan mata. Di atas podium, dua anak laki-laki berdiri bersisian—Leo Arkana di podium tertinggi dan Kevin Baskoro di podium ketiga. Secara administratif, mereka adalah pemenang olimpiade matematika tingkat nasional. Namun, di balik senyum sopan Leo dan air mata haru Kevin, terdapat narasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar angka-angka di atas kertas.Malam Kemenangan yang CanggungSetelah sesi foto yang melelahkan, para peserta dan orang tua mulai bergerak menuju area lobi. Leo membawa piala emasnya dengan santai, seolah benda itu hanyalah mainan plastik biasa. Di sampingnya, Kevin mendekap pialanya erat-erat, seakan takut benda itu akan lenyap jika ia lepaskan.Pak Baskoro menghampiri mereka. Langkah kakinya yang berat biasanya memicu detak jantung Kevin menjadi tidak beraturan. Namun kali ini, ada yang berbeda. Pria itu berhenti di depan Kevin, menatap piala perunggu di tangan

  • Gairah Sang CEO Muda   Lomba

    Aula besar Balai Kartini mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan suara goresan pensil di atas kertas dan detak jam dinding raksasa yang seakan berdentum di telinga para peserta. Di hadapan Leo, lembar soal olimpiade itu terbentang. Baginya, tingkat kesulitan soal ini memang di atas rata-rata sekolah dasar, namun masih jauh di bawah algoritma enkripsi yang biasa ia pecahkan di server pribadi ayahnya.Leo mengerjakan soal-soal itu dengan ritme yang terjaga. Ia sengaja tidak langsung menghabiskan semuanya dalam sepuluh menit. Ia berhenti sejenak, menghapus satu jawaban, lalu menulisnya kembali—sebuah akting untuk menunjukkan bahwa ia "berpikir keras" seperti anak normal lainnya.Namun, ketenangannya terusik oleh sebuah suara. Bukan suara teriakan, melainkan suara napas yang pendek dan tersedak.Leo melirik ke meja di sebelah kanannya. Kevin.Wajah sahabatnya itu kembali memucat, lebih parah dari sebelumnya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya hingga menetes k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status