Share

Leo Arkana

Penulis: Vianita
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 18:39:12

"Akhirnya semua beres." Alya selesai menata baju calon anaknya. Malam itu, hujan turun dengan deras membasahi Jakarta, menciptakan suasana tenang yang justru menjadi latar belakang dari momen paling krusial dalam hidup Daniel dan Alya.

"Auww!! Daniel..." Di usia kehamilan yang menginjak minggu ke-39, Alya sedang mencoba beristirahat ketika kontraksi pertama itu datang, bukan sebagai kejutan yang menakutkan, melainkan sebagai undangan untuk memulai babak baru.

"Alya aku kenapa?"

"Sakit, bawa aku ke rumah sakit, sepertinya aww..." Alya mencoba menahan kontraksi yang terjadi pada kehamilan nya.

"Alya tahan sayang, ayo kita ke mobil." Daniel, yang biasanya tenang menghadapi krisis korporat, tampak sangat tegang saat mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Tangannya menggenggam erat tangan Alya di setiap jeda kontraksi.

"Bernapas, Al. Seperti yang kita pelajari di kelas senam hamil," bisik Daniel, meskipun suaranya sendiri sedikit gemetar.

Daniel mengemudikan mobil
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Sang CEO Muda   Pemenang

    Riuh rendah tepuk tangan penonton di Aula Besar Balai Kartini pecah saat cahaya lampu panggung menyilaukan mata. Di atas podium, dua anak laki-laki berdiri bersisian—Leo Arkana di podium tertinggi dan Kevin Baskoro di podium ketiga. Secara administratif, mereka adalah pemenang olimpiade matematika tingkat nasional. Namun, di balik senyum sopan Leo dan air mata haru Kevin, terdapat narasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar angka-angka di atas kertas.Malam Kemenangan yang CanggungSetelah sesi foto yang melelahkan, para peserta dan orang tua mulai bergerak menuju area lobi. Leo membawa piala emasnya dengan santai, seolah benda itu hanyalah mainan plastik biasa. Di sampingnya, Kevin mendekap pialanya erat-erat, seakan takut benda itu akan lenyap jika ia lepaskan.Pak Baskoro menghampiri mereka. Langkah kakinya yang berat biasanya memicu detak jantung Kevin menjadi tidak beraturan. Namun kali ini, ada yang berbeda. Pria itu berhenti di depan Kevin, menatap piala perunggu di tangan

  • Gairah Sang CEO Muda   Lomba

    Aula besar Balai Kartini mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan suara goresan pensil di atas kertas dan detak jam dinding raksasa yang seakan berdentum di telinga para peserta. Di hadapan Leo, lembar soal olimpiade itu terbentang. Baginya, tingkat kesulitan soal ini memang di atas rata-rata sekolah dasar, namun masih jauh di bawah algoritma enkripsi yang biasa ia pecahkan di server pribadi ayahnya.Leo mengerjakan soal-soal itu dengan ritme yang terjaga. Ia sengaja tidak langsung menghabiskan semuanya dalam sepuluh menit. Ia berhenti sejenak, menghapus satu jawaban, lalu menulisnya kembali—sebuah akting untuk menunjukkan bahwa ia "berpikir keras" seperti anak normal lainnya.Namun, ketenangannya terusik oleh sebuah suara. Bukan suara teriakan, melainkan suara napas yang pendek dan tersedak.Leo melirik ke meja di sebelah kanannya. Kevin.Wajah sahabatnya itu kembali memucat, lebih parah dari sebelumnya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya hingga menetes k

  • Gairah Sang CEO Muda   Sebelum Naik Panggung

    Pagi itu, Balai Kartini Jakarta disulap menjadi lautan seragam putih-merah dari berbagai penjuru Indonesia. Udara di dalam aula besar itu terasa dingin karena pendingin ruangan yang dipasang maksimal, namun suasana di ruang tunggu peserta kategori pemula justru terasa panas oleh ketegangan.Ratusan anak berbakat duduk dengan buku catatan di tangan, beberapa komat-kamit menghafal rumus, sementara yang lain tampak pucat ditemani orang tua mereka yang tak henti-hentinya memberikan instruksi terakhir.Di sudut ruangan yang agak tenang, Leo duduk di bangku kayu panjang. Ia tampak sangat santai, bahkan terlalu santai untuk ukuran anak berusia tujuh tahun yang akan menghadapi kompetisi nasional. Di sampingnya, Kevin adalah pemandangan yang kontras. Kakinya bergoyang tak terkendali, dan tangannya yang memegang botol minum terus gemetar."Kevin, kalau kamu minum sebanyak itu, kamu akan bolak-balik ke kamar mandi saat lomba dimulai," tegur Leo lembut tanpa melepaskan pandangannya

  • Gairah Sang CEO Muda   Membela Teman

    Satu minggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di sekolah terasa semakin mencekam bagi para peserta olimpiade. Bagi Leo, matematika adalah harmoni, tetapi bagi Kevin, matematika telah berubah menjadi monster yang siap menelannya hidup-hidup.Sore itu, hujan turun deras membasahi Jakarta. Latihan tambahan di sekolah baru saja usai. Leo sedang merapikan tasnya ketika ia mendengar suara bentakan dari arah parkiran bawah tanah yang sepi. Ia mengenali suara itu—suara Pak Baskoro, ayah Kevin, yang dikenal sebagai pengusaha ambisius.Leo melangkah pelan, bersembunyi di balik pilar beton yang dingin. Di sana, ia melihat Kevin berdiri tertunduk di samping mobil mewah ayahnya. Di tangan Pak Baskoro, ada selembar kertas hasil simulasi terakhir yang diberikan Pak Budi."Peringkat dua lagi? Kamu kalah dari Leo lagi?!" suara Pak Baskoro menggema, memantul di dinding-dinding parkiran. "Papah sudah bayar guru privat termahal, membelikanmu semua buku latihan, dan kamu masih membiarkan anak Daniel Ar

  • Gairah Sang CEO Muda   Jadi Perwakilan Sekolah

    Selesai Hari Karir, sebuah pengumuman besar ditempel di mading sekolah. Tiga bulan lagi, akan diadakan Olimpiade Matematika Antar-Sekolah Dasar (OMSD) tingkat nasional. Guru matematika mereka, Pak Budi, menatap kelas dengan antusias. "Sekolah kita boleh mengirimkan dua wakil terbaik dari kelas satu untuk kategori pemula. Ini adalah lomba yang sangat bergengsi. Siapa yang berminat?" Seluruh kelas menoleh ke arah Kevin, yang memang dikenal sebagai anak terpintar dalam berhitung. Namun, Pak Budi justru menatap Leo. "Leo, hasil latihanmu belakangan ini sangat konsisten. Kamu hampir tidak pernah salah dalam soal logika. Apa kamu mau mencoba?" Leo membeku. Ini adalah dilema besar. Di satu sisi, ia ingin tetap menjadi "normal". Di sisi lain, darah Arkana di tubuhnya selalu haus akan tantangan. Ia melirik Hana yang sedang asyik menggambar di sudut kertasnya, lalu melirik Toby yang sedang berjuang menghitung dengan jarinya. "Aku... aku pikir-pikir dulu ya, Pak," jawab Leo

  • Gairah Sang CEO Muda   Hari Karir

    "Cuma beruntung, Toby. Aku pernah lihat kakak sepupuku melakukan itu kalau HP-nya mogok."Sejak saat itu, ketiganya menjadi tidak terpisahkan. Leo menyadari bahwa berteman dengan anak seusianya memberikan kepuasan yang berbeda. Bersama Toby dan Hana, ia tidak perlu memikirkan tentang protokol keamanan atau ancaman The Vulture. Ia belajar cara bertukar bekal—menukar nugget ayamnya dengan jeruk milik Hana—dan belajar bahwa kalah dalam permainan petak umpet bisa terasa sangat seru jika dilakukan bersama teman-teman.Di kelas, Leo terus menjalankan perannya sebagai murid rata-rata. Saat pelajaran matematika, ketika guru memberikan soal penambahan dua digit, Leo sudah menghitung hasilnya secara mental bahkan sebelum soal itu selesai ditulis di papan tulis. Namun, ia akan menunggu sekitar tiga puluh detik, melihat sekeliling, lalu mengangkat tangan dengan ragu-ragu."Satu menit itu terlalu lama untuk menghitung 25 + 17," gumamnya dalam hati. "Tapi kalau aku langsung jawab dala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status