LOGINNatasha hanya menginginkan satu hal, keluar dari neraka yang suaminya ciptakan. Sampai Bian Arkananta Wijaya datang menawarkan keselamatan. Pria itu melindunginya, menyelamatkannya, lalu perlahan membuat Natasha bergantung padanya. Namun Natasha segera menyadari satu hal, Bian tidak pernah menolongnya tanpa alasan. “Saya bisa memberimu kebebasan, Natasha.” “Lalu sebagai gantinya?” Bian tersenyum tipis. “Berikan hidupmu kepada saya.” Masalahnya, Bian bukan sekadar atasannya, dia adalah paman suaminya! Pria yang sejak malam pertama memutuskan bahwa Natasha harus menjadi miliknya.
View More“Malam ini temani Pak Candra di hotel, serahkan tubuhmu padanya.”
Wajah Natasha seketika menegang mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya.
“A-apa maksud Mas? Kenapa… kenapa Mas nyuruh aku menyerahkan tubuhku ke investor itu?”
“Karena kamu masih perawan.”
“Apa?” Natasha membelalak. Dadanya seketika diserang rasa sesak. “Apa sebenarnya yang sedang Mas Haikal bicarakan?”
“Dengar, Sha.” Haikal mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha yang duduk di hadapannya. “Aku butuh dana besar untuk perusahaanku. Dan satu-satunya investor yang sanggup menggelontorkan dananya dalam waktu dekat cuma Pak Candra. Kamu harus bantu aku sekali ini saja!” tegasnya, tak ingin dibantah.
“Dengan menyerahkan tubuhku?”
“Ya.”
Perut Natasha terasa mencelos. Dia masih bisa menerima perlakuan tidak adil dari suaminya selama satu tahun mereka menikah.
Natasha tetap bersabar dan berusaha menjadi istri yang baik, sekalipun Haikal tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.
Namun, permintaannya malam ini benar-benar tidak masuk akal. Hati Natasha terluka hingga ke dasarnya yang paling dalam.
“Jadi, Mas Haikal mengajakku ke tempat ini karena sengaja ingin menyerahkan aku pada laki-laki itu?” lirih Natasha seraya mencengkeram gaun terbuka yang membalut tubuhnya.
“Benar,” jawab Haikal tanpa terlihat bersalah sedikitpun. “Pak Candra itu terkenal sebagai investor yang susah sekali didapatkan hatinya. Sedangkan aku butuh dia supaya Wijaya Land nggak bangkrut.”
“Mas–”
“Pak Candra suka perempuan perawan,” sela Haikal cepat. “Jadi malam ini tidurlah dengannya. Dengan begitu dia akan langsung menggelontorkan dananya untukku.”
“Tapi kenapa harus aku, Mas?!” Natasha menggigit bibir bawahnya dengan mata memanas. “Aku istrimu! Kenapa tega sekali kamu menjualku pada pria lain?”
“Karena aku nggak punya pilihan, Sha!” bentak Haikal, membuat Natasha sempat berjengit.
Pria itu tampak mulai hilang kesabaran. “Aku sudah cari wanita bayaran yang masih perawan, tapi nggak ada!”
“Aku nggak mau!” Natasha memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mengepalkan tangannya. “Terserah Mas mau memaksaku seperti apa, aku tetap nggak mau.”
“Oke kalau kamu nggak mau.” Haikal berdiri dengan marah. “Aku akan menghentikan biaya pengobatan ibumu!”
“Jangan!” Natasha terhenyak, menggeleng cepat. “Aku mohon jangan, Mas!”
“Kenapa aku harus mengikuti kemauanmu?” Haikal menatap Natasha tajam. “Aku nggak mau buang-buang uang buat perempuan nggak tahu terima kasih!”
Tangan Natasha mencengkeram gaunnya semakin kuat.
Jika Haikal menghentikan biaya pengobatan ibunya yang sedang koma, maka sang ibu bisa kehilangan nyawa.
Sementara Natasha tidak memiliki tempat lain yang bisa dimintai pertolongan untuk meminjamkan uang sebanyak itu.
Dada Natasha terasa sesak. Wajahnya sedikit tertunduk menatap kepalan tangannya yang bergetar dengan tatapan kosong.
“Baik,” gumam Natasha pada akhirnya setelah cukup lama terdiam. “Aku akan melakukannya. Menemui laki-laki itu.”
Seringaian puas langsung terbit di bibir Haikal. “Bagus! Itu baru namanya istri yang berguna untuk suami.”
Haikal meletakkan sebuah kartu akses di hadapan Natasha. “Temui dia di kamar ini. Ingat! Jangan sampai gagal! Kalau gagal, nyawa ibumu taruhannya.”
Haikal pun pergi meninggalkan Natasha.
Perempuan itu menggeser pandangannya ke arah meja, terdiam seraya menatap kartu akses kamar nomor 308.
Natasha tercenung, hatinya terasa hancur.
Bagaimana bisa dia tidur dengan laki-laki lain?
Namun demi ibunya, Natasha harus melakukannya, bukan?
Dia tidak punya pilihan lain.
Lalu Natasha meneguk habis minuman yang sejak tadi ada di hadapannya.
Cairan itu terasa manis dan cukup pekat di lidah.
Kemudian Natasha beranjak pergi dari ruangan VIP club malam itu.
Melewati kerumunan orang-orang yang tengah berjoget mengikuti musik yang menghantam gendang telinganya.
Setelah berhasil keluar dari kerumunan itu beberapa menit kemudian, Natasha berjalan di lorong yang remang-remang menuju lift.
“Sayang, kamu serius nyerahin Natasha ke Pak Candra?”
Mendengar namanya disebut-sebut, Natasha refleks menoleh ke sumber suara yang datang dari arah lorong lain
Natasha menahan napas ketika melihat dua orang yang sedang berjalan sambil berpelukan dan berciuman menuju lift.
“Mas Haikal?” gumam Natasha nyaris tak terdengar dengan mata sedikit membulat. Dia langsung menutupi mulutnya yang ternganga, lalu bersembunyi di tempat yang lebih gelap.
“Jangan menyebut nama wanita itu saat kita sedang bercinta, Honey.” Suara laki-laki itu teredam di dalam mulut perempuan dalam pelukannya.
Lutut Natasha mendadak kehilangan tenaga. Meski tidak melihat wajah pria itu dengan jelas, tetapi Natasha bisa dengan mudah menebaknya bahwa dia adalah Haikal.
Sementara perempuan dalam pelukan pria itu, Natasha tidak bisa melihat wajahnya.
Haikal dan perempuan itu masuk ke dalam lift tanpa melepaskan ciuman panas mereka.
Natasha membeku selama beberapa saat. Dadanya terasa sesak.
Lalu dengan tangan mengepal, dia menyeret langkahnya menuju lift yang lain setelah lift yang ditumpangi Haikal dan wanita itu tertutup.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Natasha melangkah masuk dengan kepala yang semakin terasa berat.
Suhu tubuhnya mendadak panas.
Bahkan gesekan pakaian dengan kulitnya sendiri pun membuatnya gelisah.
“Kenapa tiba-tiba begini?” gumam Natasha seraya mengusap lehernya, tetapi sentuhan itu membuat tubuhnya menggeliat kecil. Napasnya terasa berat.
Setibanya di lantai tiga, Natasha berjalan di lorong yang temaram. Pandangannya memburam saat menatap nomor 308 yang tertera pada kartu akses dalam genggamannya.
Lalu, langkahnya terhenti di depan kamar bernomor 303.
“Tiga kosong delapan?” gumam Natasha dengan napas terengah.
Matanya menyipit menatap nomor pintu di hadapannya yang berbayang. Kemudian menempelkan kartu akses itu di pintu.
Namun, gagal.
Kartu akses itu ditolak.
Dia mencoba sekali lagi. Tetap gagal.
Dua kali. Tiga kali. Berkali-kali.
Tubuhnya terasa semakin gelisah akibat sesuatu yang tidak Natasha ketahui apa penyebabnya.
Cklek!
Pintu tiba-tiba terbuka.
Natasha terkesiap, panik, hingga kartu akses dalam genggamannya terlempar entah ke mana.
Dia menunduk dan melihat sepasang kaki yang dibalut pantofel hitam di hadapannya.
Debaran di dalam dada Natasha semakin berdetak cepat. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat.
Demi ibunya, dia harus masuk dan menyenangkan Candra, seperti yang Haikal perintahkan tadi.
“Kamu datang?”
Tenggorokan Natasha tercekat ketika pria itu bertanya dengan suara beratnya.
Sepertinya Pak Candra memang sudah tahu bahwa dirinya akan datang.
“I-iya–akh!” pekik Natasha saat pria itu tiba-tiba menarik tangannya masuk ke dalam kamar lalu memenjarakannya di dinding.
***
“Babe, kamu tahu Natasha dan Om Bian ada di sini?”Haikal yang baru saja keluar dari kamar mandi menjawab, “Iya, Honey. Om Bian ada konferensi dan dia bawa Natasha. Kamu tahu sendiri Natasha itu asisten pribadinya Om Bian.”Haikal menghampiri Stella yang duduk di tepian ranjang, lantas mencium bibirnya sejenak. “Kenapa kamu tahu mereka ada di Singapura?”“Tadi aku ketemu Natasha di cafe.”“Mereka menginap di hotel ini juga?” tanya Haikal terkejut.“Iya, kayaknya begitu.” Stella mengerutkan kening. “Kenapa kamu kayak kaget begitu?”“Kalau Om Bian ada di hotel ini dan bertemu aku, dia pasti bertanya-tanya kenapa aku ada di sini.”Haikal mengembuskan napas lalu duduk di samping Stella.Stella langsung memeluknya dan mengusap dada Haikal dengan seduktif. “Kan kamu bisa bilang kamu lagi memantau proses syuting untuk iklan terbaru Wijaya Land.”Ya, itu memang benar. Stella sebagai Brand Ambassador Wijaya Land memang sedang syuting di Singapura.Namun, tentu saja kedatangan Haikal ke sini bu
Natasha menggeliat. Tetapi dia merasakan tubuhnya terkunci oleh sesuatu yang berat dan keras. Kemudian dia membuka kelopak matanya yang terasa lengket.Seketika Natasha menahan napas karena pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah Bian yang masih terlelap dengan damai.Perlahan Natasha menunduk, dia mendapati tubuhnya tenggelam dalam pelukan lengan kekar dan besar milik pria itu.Bahkan mereka masih sama-sama tampil polos setelah sesi terakhir percintaan panas mereka–yang entah untuk ke berapa kalinya malam itu.Pipi Natasha seketika memanas ketika memori tadi malam kembali berkeliaran di kepalanya.Dia pun mendongak, memandangi setiap inci wajah Bian yang terpahat sempurna. Lekukan samar di tengah bibir bawahnya membuat bibir pria itu terlihat… seksi?Jantung Natasha seketika berdebar-debar saat teringat semalaman penuh bibir itu menciumnya.Natasha kembali menunduk, perlahan jemarinya terulur pada dada Bian yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuatnya terlihat semakin gagah
Sesaat setelah pintu kamar tertutup, Bian memenjarakan Natasha di daun pintu. Dia kembali melahap rakus bibirnya. Melanjutkan ciuman yang sempat terjeda sejak turun dari mobil hingga keluar dari lift.Ciuman panas itu membuat kaki Natasha gemetar dan nyaris kehilangan tenaga. Tubuhnya terasa limbung dan lemas.Natasha seketika lupa dengan rasa sedih yang sempat dialaminya. Kini yang memenuhi benaknya hanya pria ini, seakan-akan Bian telah berhasil mencuri seluruh dunianya.“Saya bantu melepas jas Bapak,” ucap Natasha dengan napas terengah-engah saat Bian menempelkan dahi mereka.Dengan jemari gemetar, Natasha melepaskan jas hitam dari tubuh pria itu. Lalu melepaskan butir demi butir kancing kemeja putihnya, meski beberapa kali jarinya sempat terpeleset.Kemeja itu akhirnya terlempar. Natasha menelan saliva ketika pemandangan di hadapannya berubah menjadi dada bidang yang dipenuhi otot-otot liat.Bayangan tubuh kekar itu yang berada di atasnya dan menggagahinya membuat jantung Natasha
Percakapan Bian dengan empat orang pengusaha itu berakhir tak lama setelah Natasha pergi.Bian pun keluar dari restoran itu, melangkah tenang mengikuti jejak Natasha yang tadi sempat dia perhatikan dari dalam restoran.Perempuan itu pergi ke arah taman. Bian ingin tahu, apa yang dilakukan Natasha saat dia sedang sendirian?Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Bian menemukan sosok perempuan bertubuh mungil tersebut.Bian berhenti melangkah tak jauh darinya saat dia melihat Natasha tersenyum sembari mendongak menatap pepohonan raksasa yang berwarna-warni.Lagi-lagi senyuman itu seolah menghipnotisnya. Membuat Bian terpaku dan enggan memalingkan pandangan ke arah lain.Ada apa dengan dirinya?Kenapa senyuman perempuan itu begitu mengganggu?Bahkan Bian tidak mengerti dengan detak jantungnya yang tiba-tiba meningkat dua kali lebih cepat.Sial. Belum pernah Bian merasa tidak nyaman seperti ini sebelumnya.Bian tidak tahu apa nama dari perasaan yang amat sangat mengganggunya itu.Namun, sen






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews