LOGINSetahun menjalani pernikahan yang dingin dan dirahasiakan, Cantika akhirnya menyerah. Namun, tepat sebelum ketukan palu hakim meresmikan perceraian, sebuah kecelakaan merenggut ingatan Adrian. Kini, Adrian terbangun dengan keyakinan bahwa mereka adalah pengantin baru yang manis, padahal itu hanyalah amnesia palsu—sebuah taktik manipulatif Adrian untuk mempertahankan Cantika. Di sisi lain, Cantika yang lelah memutuskan untuk berpura-pura luluh guna membuat Adrian jatuh cinta sedalam-dalamnya sebelum nantinya ia campakkan sebagai pembalasan atas luka yang Adrian ciptakan selama ini.
View More“Rakyat tidak butuh kaya raya, tapi makan kenyang.”
Cantika tidak perlu mendongak dan berhenti makan untuk mencari tahu siapa yang sedang bicara di televisi saat ini, suara itu sudah cukup untuk memunculkan wajah seseorang di kepalanya.
Sialnya, sodokan pelan di lengan seperti memaksa Cantika mendongak. Kantin khusus karyawan rumah sakit ini seperti kompak berisikan para kaum hawa berkumpul sambil membahas orang di televisi saat ini.
“Lihat itu, dok. Penyegaran mata, dok! Lihat! Lihat!” perintah Dokter Anita kepada Cantika.
Bibir Cantika langsung terkatup rapat. Genggaman tangannya pada peralatan makannya pun mengeras. Dugaannya benar, sosok dalam kepalanya nyata, berdiri di televisi dengan gagah. Dia sedang membacakan statement langsung terkait masalah serius negara saat ini, kekeringan.
Adrian Baskara
Juru Bicara Kepresidenan
Pria setinggi 180 sentimeter, terlalu botol marjan untuk seorang botol yakult seperti Cantika yang hanya 165 sentimeter. Badannya berotot berkat disiplin gym satu jam setiap harinya. Makannya dijaga, baik nutrisi maupun dari hal-hal berbahaya mengingat pekerjaannya di pemerintah. Cara bicaranya tertata dan percaya diri.
“Slogan itu tidak salah. Namun, pemerintah wajib meluruskan, kita tidak butuh kaya raya, tapi hidup makmur dan sejahterah. Kami paham karena pemanasan global membuat terjadinya perubahan iklim yang mendadak. Kekeringan pun melanda sebagian besar negeri, menjadikan kurangnya pasokan bahan baku makanan berkurang. Pemerintah tidak akan tinggal diam….” Adrian terus berbicara, menjelaskan situasi sulit negara dan solusinya.
Cantika benar-benar tidak peduli. Masalah politik, dia tidak terlalu memahaminya. Itu urusan kaum elite. Hidupnya sudah pusing dengan pasien, dokter senior, tesisnya, dan pernikahan rahasia yang akan segera dia akhiri itu.
“Ah!”
Sebuah teriakan sukses membuat Cantika dan rekan-rekan menoleh.
Di meja sebelah, tiga orang suster sedang berkumpul. Mereka makan bersisian. Namun, fokusnya tertuju pada televisi yang masih menayangkan sosok Adrian.
Entah mengapa hati Cantika dirambati oleh rasa kesal. Namun, dia harus tetap mempertahankan wajah datarnya.
“Ganteng banget sih, Pak Adrian!” pekik suster yang di tengah. Kedua tangannya memegang tangan suster-suster di sebelahnya. “Gimana ya rasanya jadi istrinya?”
Buruk! jawab Cantika cepat. Menyedihkan!
“Bayangin! Tiap hari bangun tidur yang dilihat wajah ganteng begitu? Terus kalau lagi enak-enak?” Suster di sisi kiri meleleh ke suster tengah. “Suara seksinya pasti bikin cepet ah….”
Cantika meremas kuat-kuat peralatan makannya. Dadanya mulai naik-turun. Padahal itu pembahasan seputar ranjang dan mereka membicarakannya di tempat umum?
Tidak tahu malu!
“Hush!” Suster sisi kanan mengibaskan tangan. “Bangun bangun! Percuma ngayalin Pak Adrian itu, pemenangnya juga tetap Bu Kirana, kan?”
Nama Kirana yang disebut-sebut sukses menghilangkan nafsu makan Cantika.
“Bu Kirana? Anak wakil presiden itu?”
“Iya! Mereka kan digadang-gadang jadi salah satu pasangan politisi paling berpengaruh. Apalagi pak Wakil Presiden rumornya bakal maju buat jadi Presiden periode selanjutnya. Kalau mereka jadi nikah pasti Pak Adrian makin bersinar.”
“Ya, kalau mereka nikah siap-siap harus lihat Pak Adrian pakai cincin nikah dong tiap muncul di TV. Duh, nggak rela!”
Tatapan Cantika kembali terpaku pada sosok Adrian. Dia sudah turun dari podium. Sekarang pria itu sedang berdiri berjajar dengan para menteri yang menangani terkait masalah kekeringan ini.
Kamera terus menyorot Adrian. Di situ, Cantika bisa melihat jelas jari tangan pria itu. Benar, tangan pria itu bersih. Tidak ada cincin perak yang melingkari jari manis tangan kanannya.
Setahun Adrian Baskara resmi menjadi suami orang. Selama itu pula, tidak ada orang yang tahu.
Nafsu makan Cantika hilang total sekarang. Dia memilih untuk membuangnya dan pergi.
“Kok udah selesai makan, dok?” tegur dokter Anita.
“Kenyang,” jawab Cantika singkat dan padat.
Saat berbalik, lagi-lagi dia ditegur Anita. Mereka sama-sama residen di spesialis anestesi, jadi mau tak mau mereka berteman.
“Balik duluan?” tanya Anita lagi yang dibalas anggukan Cantika.
“Tesis.” Cantika tahu jawaban itu jawaban paling aman.
Dokter residen mana yang tidak pusing dengan tesisnya? Tidak ada!
“Ada yang harus direvisi. Baru ingat,” lanjut Cantika.
“Aku nyusul kalau begitu, Dok.”
Cantika hanya mengangguk.
Tanpa memedulikan yang lain, Cantika fokus berjalan lambat menuju ruangan dokter berada. Senyum ramahnya tetap tersungging sekalipun hatinya karut-marut.
Jam makan siang membuat ruangan yang diisi oleh empat dokter ini kosong. Namun, seseorang sepertinya lupa mematikan televisi. Sialnya, wajah Adrian masih terpampang di sana. Bukan siaran ulang seperti sebelumnya, melainkan berita utama yang menyiarkan ulang statement Adrian.
“Memuakkan!”
Cantika benci melihat wajah Adrian. Dia bahkan mual apalagi saat ada nama Kirana ikut disebut-sebut.
Bunyi ponsel menyentak Cantika. Keningnya berkerut menemukan ponselnya di meja, ternyata benda itu tertinggal di sini sejak setengah jam yang lalu. Pantas saja makan siangnya damai sebelum wajah Adrian muncul di TV.
Seketika Cantika tertegun. Nama Adrian Baskara ada dalam daftar notifikasi tertas. Pria itu meneleponnya 15 kali dalam 30 menit terakhir.
“Bukannya dia… siaran langsung tadi?” gumam Cantika dengan kening berkerut.
Ponsel Cantika tiba-tiba berdering. Nama Adrian Baskara kembali muncul di layar. Nama yang sama seperti nama juru bicara kepresidenan di televisi yang menyala sekarang.
“Siang, Pak Adrian,” sapa Cantika dengan formal dan suara datar.
“Bisakah kamu berhenti panggil aku dengan sebutan ‘Pak’, Cantika? Aku suamimu.” Suara rendah Adrian terdengar di ujung sana. Kekesalannya sampai pada Cantika. Namun, siapa yang peduli? Lagi pula hubungan mereka akan segera berakhir.
Benar. Adrian Baskara telah menikah. Cantika adalah istri pria itu. Sayangnya, pernikahan mereka dirahasiakan dan hal itu membuat semua orang terus-menerus menjodohkan sang suami dengan wanita lain.
Terdengar helaan napas panjang di ujung sana.
“Cantika.” Adrian kembali memanggil. “Aku udah terima surat yang kamu titipkan ke asistenku. Surat cerai. Kamu… serius?”
Semua orang memimpikan menikahi Adrian dengan sederet kesempurnaan wajah, kecerdasan, dan kekuasaannya. Namun, tidak dengan Cantika.
Setahun menikah dengan Adrian, Cantika merasa hidup dalam neraka. Status boleh suami-istri, tapi mereka asing. Tidak ada kehangatan. Komunikasi terlama mereka mungkin saat ini, membahas perceraian. Cantika sudah tidak tidak tahan.
“Aku serius, Pak Adrian. Mari kita bercerai.”
Jam dinding menunjukkan pukul lima sore saat Adrian sibuk di dapur. Dengan celemek merah bergambar kucing ini, dia mondar-mandir dari kulkas, pantry, dan area memasak. Semua demi satu hal, persiapan makan malam untuknya dan Cantika.Saat ini, istrinya itu sedang mandi sore. Setelah tiga hari hanya di rumah dan mengistirahatkan kaki, sekarang Cantika sudah bisa berjalan lebih normal. Artinya juga, hari ini adalah hari terakhir Cantika izin sakit dan besok tetap harus kembali bekerja.Bunyi ponsel berdering menarik perhatian Adrian. Buru-buru dia mematikan kompor, lalu mendekati pantry.Seketika senyum Adrian memudar saat menemukan nama Aruna muncul di layar. Pria itu mendengkus keras. Ingatan tentang sang mama mengusir Cantika deng
Pagi-pagi Cantika sudah membuat drama, matanya bengkak seperti panda. Mau tak mau demi menyembunyikan matanya yang konyol ini, dia sengaja mengenakan kacamata. Tentu semua ini salahkan dirinya yang diam-diam menangis semalaman.Sebenarnya cara paling gampang untuk Cantika kabur adalah tetap berada di kamar hari ini. Sayangnya, punggungnya malah sakit karena terlalu banyak rebahan. Jadi, dia lebih memilih menghadapi Adrian dan pertanyaan pria itu daripada punggungnya semakin kaku.Pelan-pelan Cantika menuruni tangga. Jam dinding masih menunjukkan pukul delapan pagi.Dalam kehidupan normal Cantika dan Adrian, wanita itu hanya akan bangun sendirian. Sedangkan sang suami sudah menghilang entah ke mana karena pekerjaan.Namun pagi ini, Cantika lagi-lagi menemukan hal berbeda
Untuk kesekian kalinya Cantika membalikkan badannya di ranjang. Sebelum akhirnya, dia memilih menghadap ke arah jendela. Langit siang kini sudah berubah menjadi petang.Cantika mengerjap. Ditatapnya langit itu lekat-lekat. Isi pikirannya pun mulai berkelana sekarang, tepatnya memutar ulang kejadian siang tadi dan pernyataan cinta tak terduga Adrian.“Cantika, istriku, aku mencintaimu.”Lambat-lambat Cantika menyentuh dadanya. Dia tak akan menampik bahwa saat ini jantungnya terus berdegup kencang, tepatnya jika itu berhubungan dengan Adrian, maka jantungnya akan berpacu secepat ini.Bagaimana ini?Sayangnya, pertanyaan Cantika itu harus diabaikan sejenak. Bunyi pintu yang dibuka membuat wani
Sudah biasa tidur kurang dari lima jam, lari ke sana-kemari di rumah sakit, dan bekerja tanpa henti mengerjakan laporan, Cantika tidak sanggup tidur dan rebahan lebih lama lagi. Sekitar pukul sebelas siang, wanita itu sudah segar bugar, walau agak nyeri kaki sedikit.Lambat-lambat Cantika bangun dari tempat tidurnya. Agak tertatih dia keluar kamar, lalu berjalan menuju lantai bawah. Aroma jahe yang khas seperti menuntun wanita itu untuk menuju dapur di lantai satu.Seketika langkah Cantika terhenti tepat di lantai dasar. Tatapan wanita itu langsung tertuju pada dapur, mengingat area ruang tamu, tangga menuju lantai dua, ruang makan, dan dapur tidak bersekat.Di dapur, Cantika melihat sendiri bagaimana Adrian bergerak dengan santainya. Pria itu mengenakan celemek merah bergambar kucingnya. Tangannya dengan lihai memo












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews