Beranda / Romansa / Gairah Sang CEO Muda / Pelanggaran Etika dan Gairah Terlarang

Share

Pelanggaran Etika dan Gairah Terlarang

Penulis: Vianita
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 23:12:16

Alya tidak bisa bicara, hanya menatap mata Daniel. Perbedaan usia 10 tahun, hierarki kantor, dan masa lalu yang rumit, semuanya melebur menjadi ketegangan gairah yang tak tertahankan.

"Me-menangkan aku."

Pengakuan Daniel di kantornya mengubah segalanya. Udara di lantai eksekutif kini terasa seperti medan magnet, di mana setiap gerakan dan pandangan di antara Alya dan Daniel dipenuhi dengan tarikan yang berbahaya.

Alya kembali ke ruang kerjanya. Tubuhnya terasa lemas, dan pikirannya dipenuhi dengan citra Daniel yang membungkuk, bisikan pengakuan, dan sentuhan jarinya.

Daniel adalah CEO, sepuluh tahun lebih muda, dan ia baru saja menyatakan bahwa penempatan Alya di samping kantornya adalah wujud obsesi.

Ia harus menjaga jarak. Ia harus kembali fokus pada laporan dan menanggapi Daniel sebagai atasan, bukan sebagai pria yang menyimpan kenangan masa kecil tentangnya.

Namun, Daniel tidak membiarkan itu mudah.

Selama dua hari berikutnya, Daniel meningkatkan tekanan kerja. Setiap keputusan strategis harus melalui diskusi privat di kantornya.

Ia bahkan sering kali memanggil Alya setelah jam kerja, bukan untuk membahas laporan, tetapi untuk mengajukan pertanyaan retoris tentang masa depan perusahaan atau masa depan mereka.

Pada Jumat malam, Alya adalah satu-satunya yang tersisa di lantai eksekutif. Ia sedang memeriksa data pasar, merasa frustrasi karena ia tahu Daniel sedang mengawasinya dari kantor sebelah.

Pintu kaca terbuka. Daniel masuk tanpa mengetuk, kali ini tanpa jas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang. Ia terlihat lebih seperti pria berusia 20-an, bukan CEO perusahaan besar.

“Kau belum pulang, Alya,” katanya, nadanya bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang hangat.

“Data ini masih bermasalah, Bapak Daniel. Saya mencari sumber anomali,” jawab Alya, mencoba terdengar profesional.

Daniel berjalan mendekat, mengambil kursi di depan meja Alya. Ia tidak melihat tablet Alya, matanya lurus ke mata Alya.

“Lupakan data itu sebentar. Aku ingin kau jujur,” Daniel berkata, menggunakan kata 'aku' alih-alih 'saya', menghapus batas formalitas yang tersisa. “Kau tahu apa yang aku inginkan, dan kau tahu kau merasakannya juga.”

Alya menelan ludah. “Saya hanya merasakan tekanan untuk segera memenuhi visi Anda, Bapak Daniel.”

Daniel tersenyum, senyum yang menggoda.

“Jangan bodoh, Alya. Kau dan aku, delapan tahun yang lalu di lorong ini, sudah terikat oleh sebuah memori. Dan memori itu, bagi seorang CEO yang kembali setelah delapan tahun, adalah kekuatan.”

Ia memajukan tubuhnya, mencondongkan diri ke meja kerja Alya.

“Aku ingin kau membuktikan padaku bahwa kau sudah tidak terikat oleh ‘status quo’ baik dalam strategi maupun dalam emosimu,” bisik Daniel.

“Malam ini, jam 11 tepat. Ada tender proyek besar yang akan dibuka oleh perusahaan kompetitor kita. Aku butuh summary proposal mereka yang bocor, sekarang.”

Alya terperanjat. “Anda meminta saya melakukan espionage perusahaan? Itu—itu melanggar etika, Daniel.”

Daniel mengabaikan kekhawatiran etika Alya. Ia meletakkan telapak tangannya di atas tangan Alya yang gemetar di atas meja. Sentuhan itu melucuti semua keberatan Alya.

“Aku tidak memintamu, aku memerintahkanmu, Alya. Buktikan padaku, kau tidak lagi takut pada risiko. Buktikan padaku, kau siap menjadi partnerku—dalam segala hal,” Daniel menekannya, matanya memancarkan gairah dan otoritas.

Alya menatapnya. Permintaan itu adalah jurang yang gelap. Melakukannya berarti menghancurkan integritas profesionalnya.

Menolaknya berarti Daniel akan melihatnya sebagai 'kaku' dan ia akan kehilangan posisinya, bahkan mungkin karirnya.

Di tengah kebimbangan etika itu, gairah yang dibangun Daniel selama seminggu terakhir mencapai puncaknya.

Daniel perlahan mendekatkan wajahnya. Hidungnya nyaris menyentuh pipi Alya. Aroma maskulin yang mewah dari parfum Daniel membanjiri indra Alya.

“Lakukan itu, Alya. Dan tunjukkan padaku bahwa gairah yang kita rasakan ini, sepadan dengan risikonya,” bisik Daniel, sebelum ia menyatukan bibir mereka.

Ciuman itu dingin, menuntut, penuh dengan otoritas dan hasrat yang terpendam. Itu bukan ciuman manis, itu adalah penaklukan. Ciuman CEO muda yang memaksa senior managernya untuk memilih,Etika atau Obsesi?

Alya memejamkan mata, merasakan api gairah yang ia tekan selama berhari-hari kini membalas ciuman itu, menerima taruhan berbahaya yang baru saja mereka mainkan.

"Apa kau menikmati ini alya?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Sang CEO Muda   Happy Ending

    Malam itu, saat mereka kembali ke rumah di pinggir danau, Mumu memutar musik klasik yang lembut di teras. Leo dan Almira duduk bersandar, menatap permukaan air yang memantulkan cahaya bulan. Dunia sudah tenang. Mesin-mesin di luar sana bekerja dalam diam, tanpa asap, tanpa derita. "Protokol selanjutnya, Tuan Scientist?" bisik Almira sambil menyandarkan kepala di bahu Leo. Leo tersenyum, menutup matanya sejenak menikmati angin malam. "Protokol untuk hari esok, Al. Tidur nyenyak tanpa gangguan notifikasi, dan bangun di dunia yang masih tetap indah." Mumu mematikan lampu teras secara otomatis, meninggalkan mereka dalam pelukan remang malam yang hangat—sebuah akhir dari sebuah perjuangan, dan awal dari sebuah cerita panjang yang baru saja dimulai.Malam pun semakin larut di tepi danau, namun kegelapan tak lagi terasa mengancam. Di kejauhan, cakrawala kota berpendar dengan warna biru fajar yang lembut—bukan karena polusi, melainkan refleksi dari tek

  • Gairah Sang CEO Muda   Lara Arkana

    Sepuluh tahun kemudian, dunia tidak lagi mengenali kegelapan yang sama. Kota-kota besar yang dulunya bising dengan deru mesin pembakaran kini bertransformasi menjadi ekosistem yang bernapas. Di Jakarta, New York, hingga Nairobi, gedung-gedung tinggi bukan lagi sekadar beton mati, melainkan organisme yang memanen energi dari rintik hujan dan panas matahari yang tersimpan di dinding-dindingnya.Di pusat The Heuristic Foundation, Leo berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke taman kota yang rimbun. Rambutnya mulai dihiasi sedikit uban di pelipis, namun matanya tetap setajam saat ia meretas peladen Arkana Corp belasan tahun lalu.Seorang gadis kecil berusia delapan tahun, Lara, berlari masuk ke ruangan dengan robot Mumu yang terseok-seok mengejarnya. Di tangan Lara, sebuah prototipe kecil berbentuk capung mekanis mengepakkan sayap transparannya."Papa! Aku mengubah sudut kemiringan sayapnya dua derajat," seru Lara bangga. "Sekarang dia bisa terbang hanya dengan energi

  • Gairah Sang CEO Muda   Flashback Pernikahan

    Leo dan Daniel tertawa bersama. Di luar sana, dunia terus berputar, jauh lebih terang dan jauh lebih adil daripada yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Leo pun teringat akan pernikahannya dengan istrinya Almira, yang menjadi awal kehadiran putri kecil mereka Lara, dan sebuah awal dari keluarga kecil mereka yang kembali ke kediaman Arkana, kekalahan sang ayah dan juga kemenangan untuknya. flashback on Pesta pernikahan itu tidak digelar di ballroom hotel berbintang lima atau aula mewah Arkana Corp. Sebaliknya, halaman luas rumah tua di pinggir danau menjadi saksi bisu bersatunya dua jiwa yang telah melewati badai algoritma dan intrik dunia. Malam itu, langit bersih dari polusi, menampilkan hamparan bintang yang selama puluhan tahun tertutup kabut industri. Tidak ada lampu gantung kristal yang megah; sebagai gantinya, ratusan lampu LED mungil bertenaga sel surya menggantung di dahan-dahan pohon ek, berpendar lembut seperti kunang-kunang yang

  • Gairah Sang CEO Muda   Warisan yang Sebenarnya

    Lima tahun telah berlalu sejak peristiwa "The Great Decoupling". Gedung Arkana Corp yang dulunya merupakan simbol arogansi korporasi dan monopoli energi, kini telah bersalin rupa. Fasad kaca gelap yang kaku telah diganti dengan panel fotovoltaik transparan berbasis teknologi L-Heuristic yang mampu menyerap spektrum cahaya terkecil sekalipun untuk menghidupi seluruh distrik di sekitarnya.Daniel Arkana kini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah tepi danau, merawat taman dan sesekali memberikan kuliah tamu via hologram. Ia telah sepenuhnya menyerahkan kendali kepada Leo, bukan sebagai CEO tradisional, melainkan sebagai Arsitek Utama Keselarasan Global.Transformasi Arkana: Dari Laba Menuju KemajuanDi bawah kepemimpinan Leo, Arkana Corp tidak lagi mengejar laporan laba kuartalan yang mencekik. Leo merombak struktur perusahaan menjadi sebuah entitas terbuka yang luas. Ia memperkenalkan sistem berbagi energi, di mana setiap rumah yang menggunakan reaktor mini Arkana dapat menyalurka

  • Gairah Sang CEO Muda   Era Baru

    Almira tersenyum, sebuah binar jenaka terpancar dari matanya yang lelah namun bahagia. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan menyandarkan bobot tubuhnya sepenuhnya pada Leo, membiarkan keheningan gudang tua itu menjadi melodi yang jauh lebih indah daripada riuh rendah pemberitaan di luar sana.Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum sebuah bunyi ping yang nyaring memecah suasana. Bukan dari monitor utama, melainkan dari konsol usang di sudut ruangan—komputer pertama yang Leo rakit saat ia baru berusia sepuluh tahun.Leo menghela napas panjang, pura-pura kesal. "Mumu, bukankah aku sudah bilang jangan ada notifikasi selama satu jam ke depan?"Mumu berhenti berputar. Lampu sensornya berubah menjadi kuning redup, dan robot itu mengeluarkan suara mekanis yang terdengar seperti permintaan maaf. "Input terdeteksi dari jalur pribadi 'Alpha-01', Leo. Pengirim: Alya Arkana."Leo tertegun. Ia meraih tabletnya dan membuka pesan singkat itu. Isinya hanya sebuah k

  • Gairah Sang CEO Muda   Leo Arkana

    Leo terdiam sejenak. Ia memandang cincin karbon di jari Almira, lalu kembali ke ibunya. "Katakan padanya, Ma. Aku tidak akan kembali ke Arkana Corp. Tapi aku tidak akan membiarkan kota ini mati karena kesalahan teknologinya. Aku akan merilis protokol stabilisasi secara cuma-cuma minggu depan. Bukan untuk dia, tapi untuk orang-orang yang hampir dia celakakan."Leo menggenggam tangan Alya. "Mama boleh datang kapan saja ke sini. Tapi sebagai ibuku, bukan sebagai perwakilan Daniel Arkana."***Satu minggu kemudian, dunia teknologi tidak hanya terguncang—ia mengalami pergeseran tektonik. Keputusan Leo untuk merilis protokol stabilisasi Sub-Atomic secara cuma-cuma, yang kemudian dijuluki media sebagai "The Prometheus Protocol", meruntuhkan tembok monopoli energi dalam semalam. Berikut adalah gambaran bagaimana dunia merespons tindakan "pemberontakan" Sang Jenius: Gudang tua yang dulunya sunyi kini dikepung oleh drone kamera dan truk satelit, namun Leo tetap mengunci pintu rapat-rapat. Ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status