Beranda / Romansa / Gairah Sang CEO Muda / Harga Sebuah Pengkhianatan

Share

Harga Sebuah Pengkhianatan

Penulis: Vianita
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 23:18:56

Napas Alya tercekat saat Daniel melepaskan ciumannya. Itu adalah ciuman singkat, namun meninggalkan jejak yang membakar, bukan hanya di bibirnya, tetapi juga di hati nuraninya. "Apa kau menikmati ini alya."bisik Daniel.

Daniel memundurkan tubuhnya sedikit, senyum kemenangan yang dingin terukir di wajahnya.

"Waktu terus berjalan, Alya," ujar Daniel, suaranya kembali ke mode CEO yang tajam, seolah ciuman itu hanyalah alat untuk mempertegas perintah.

"Jam 11 malam. Jangan mengecewakanku." Daniel berbalik tanpa menunggu jawaban dan menghilang di balik pintu kaca menuju kantornya.

Alya tetap terpaku di kursinya. Tangan yang tadi disentuh Daniel kini terasa dingin, sementara seluruh tubuhnya dilanda gelombang panas.

Daniel telah memaksanya. Memaksanya memilih antara integritas profesional yang ia junjung selama delapan tahun, atau gairah terlarang yang baru saja meledak di antara mereka.

Ia melihat jam di sudut tablet 22:45. Lima belas menit lagi.

Alya berdiri, melangkah mondar-mandir di ruangan kaca yang kini terasa seperti kurungan. Ia bisa saja menolak.

Ia bisa saja memberitahu Daniel bahwa ia tidak akan pernah melanggar etika perusahaan. Tapi, jika ia menolak, ia tahu Daniel akan menganggapnya lemah, kolot, dan, yang paling menyakitkan,ia akan kehilangan permainan ini.

Permainan gila yang bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang pengakuan, obsesi, dan gairah.

Alya memegang tabletnya erat-erat. Ia tahu ada satu pintu belakang seorang kenalan lama di perusahaan kompetitor yang bisa memberinya informasi ringkasan tanpa harus melakukan peretasan ilegal.

Itu adalah tindakan di wilayah abu-abu, sebuah pengkhianatan kecil terhadap norma.

“Hanya kali ini,” bisik Alya pada dirinya sendiri, meyakinkan bahwa ini adalah langkah yang diperlukan untuk bertahan di bawah CEO yang posesif.

Ia segera mengirim pesan singkat, singkat, dan mendesak.

Tepat pukul 23:00, sebuah dokumen terenkripsi mendarat di inbox Alya. Isinya adalah summary proposal yang Daniel inginkan, sebuah ringkasan strategis yang cukup untuk menganalisis pergerakan kompetitor, meskipun bukan proposal lengkap.

Alya mencetak dokumen itu, lalu mengetuk pintu kantor Daniel.

Daniel duduk di kursinya, ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja yang redup. Ia menoleh, melihat kertas di tangan Alya. Matanya memancarkan rasa puas yang tak terduga.

Alya meletakkan dokumen itu di meja marmer Daniel. "Ini adalah analisis strategis mereka. Bukan proposal utuh, tapi cukup untuk kita menyusun counter, attack cepat. Saya tidak akan pernah melakukan peretasan ilegal, Daniel."

Daniel mengambil kertas itu, namun perhatiannya tidak tertuju pada isi dokumen. Ia menatap Alya, matanya gelap dan intens.

"Kau berhasil," katanya, nadanya lebih lembut, namun gairah yang terpendam kembali terasa menguasai ruangan. “Kau melanggar aturanmu demi aku.”

Alya menggeleng. "Saya melakukannya demi Arkana Corp. Dan saya melakukannya dengan cara yang saya anggap etis."

Daniel tertawa pelan, berdiri dari kursinya, dan berjalan mengitari meja. Ia berhenti di belakang Alya, suhunya yang hangat memancar dari punggungnya.

"Kau sangat naif, Alya. Dalam perang, tidak ada etika. Ada kemenangan, dan ada kekalahan." Daniel mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu di telinga Alya, suaranya serak. "Kau memberiku kemenangan pertama malam ini. Dan aku akan memberimu hadiah."

Daniel dengan lembut membalikkan tubuh Alya hingga ia menghadap langsung ke arahnya. Tangan Daniel menangkup wajah Alya, memaksanya menatap ke mata Daniel.

"Hadiahmu," Daniel berbisik, "adalah aku. Kau tidak perlu lari lagi." Kali ini, ciumannya berbeda. Tidak menuntut, melainkan memabukkan dan menghanyutkan.

Itu adalah ciuman yang memohon, namun tetap menguasai. Semua pertahanan yang Alya bangun selama delapan tahun kemapanan, ketegasan, dan profesionalisme kini runtuh di bawah gairah sang CEO muda yang datang kembali dengan tujuan ganda.

memenangkan warisan dan menaklukkan wanita yang pernah membentaknya saat ia masih kecil.

Alya membalas ciumannya, bibir mereka terkait satu sama lain cukup lama, membiarkan dirinya terseret ke dalam jurang kekuasaan dan hasrat yang tak terhindarkan.

Ia tahu ini adalah sebuah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri, namun ia sudah terperangkap.

"Aku menginginkanmu Alya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Sang CEO Muda   Terlambat Satu Langkah

    Helikopter operasional "The Horizon" mendarat dengan guncangan keras di pesisir Pulau Seram yang kini tampak seperti luka terbuka. Daniel Arkana melompat keluar bahkan sebelum baling-baling berhenti berputar. Di belakangnya, Arlo berlari sambil mendekap laptop militernya, matanya terus memantau titik transmisi yang ia temukan."Di sini, Ayah! Sinyal itu berasal dari sini!" Arlo menunjuk ke arah tumpukan kayu yang dulunya merupakan sebuah warung kecil di pinggir pantai.Sinyal "LEODISINI" bukan sekadar teks. Itu adalah kode terenkripsi tingkat tinggi yang disisipkan ke dalam frekuensi radio amatir. Hanya Leo yang bisa memanipulasi gelombang radio sekuno itu untuk mengirimkan pesan digital yang begitu bersih.Daniel mendekat ke arah reruntuhan. Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: sebuah radio transistor tua yang telah dimodifikasi. Di dalamnya, rangkaian kabelnya disusun dengan presisi yang tidak mungkin dilakukan oleh orang awam

  • Gairah Sang CEO Muda   Cahaya dari Cakrawala Seram

    Erfan menatap laut dengan mata yang terlalu tajam untuk anak seusianya. Di kepalanya, dunia tidak hanya terdiri dari air dan langit. Ia melihat pola. Ia melihat bagaimana angin membentuk riak di permukaan air sebagai variabel tekanan yang bisa dihitung. Namun, saat ia mencoba mengingat mengapa ia tahu semua itu, kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada dinding baja yang mengunci memorinya."Erfan! Ayo cepat! Ikan-ikannya sudah mulai melompat!" teriak suara cempreng dari kejauhan.Itu adalah Satria, putra bungsu Pak Bakri. Di keluarga ini, Erfan menemukan pelabuhan yang tenang. Bu Aminah memperlakukannya seperti anak kandung, dan Pak Bakri mengajarinya cara membaca arus laut tanpa bantuan alat elektronik.Keseharian di Tanah RempahSelama dua minggu tinggal di desa itu, Erfan menjadi semacam "keajaiban kecil". Ia tidak banyak bicara, tetapi tangannya sangat ajaib. Ia bisa memperbaiki radio tua milik kepala desa yang sudah mati selama sepuluh tahun hanya dengan menggunakan kawat jemur

  • Gairah Sang CEO Muda   Pencarian Leo

    Tiga minggu sebelum titik terang di pesisir Maluku muncul, Samudra Pasifik Selatan adalah sebuah neraka biru yang tak berujung bagi Daniel Arkana. Di atas kapal riset canggih "The Horizon", mesin-mesin sonar dan pemindai satelit menderu tanpa henti selama dua puluh empat jam sehari.Langit di atas "Segitiga Hitam" tampak seolah-olah sedang berduka. Awan kumulonimbus yang tebal menggantung rendah, sementara ombak setinggi lima meter menghantam lambung kapal dengan ritme yang memekakkan telinga. Namun, kebisingan di luar sana tak sebanding dengan kekosongan yang dirasakan Daniel di dalam dadanya.Pencarian di Jantung Kegelapan"Tidak ada apa-apa, Tuan Daniel. Sonar kita hanya menangkap bangkai paus dan formasi batuan bawah laut," suara Hendri anak buah Daniel terdengar parau. Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam karena kurang tidur selama berhari-hari.Daniel tidak menjawab. Ia berdiri di depan jendela besar dek komando, menatap cakrawala yang kelam. "Leo tidak m

  • Gairah Sang CEO Muda   Namamu Erfan

    Fajar menyingsing di atas pesisir pantai terpencil di pinggiran Pulau Seram, Maluku. Suara ombak yang tenang menyapu pasir putih, membawa serta sisa-sisa badai elektromagnetik yang terjadi tiga malam lalu. Di antara tumpukan batang pohon tumbang dan sampah laut, sebuah objek logam berbentuk kapsul silinder dengan sisa-sisa luka bakar atmosferik teronggok setengah terkubur di pasir.Bakri, seorang nelayan paruh baya yang sedang mencari kayu apung, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit melihat pantulan cahaya dari logam tersebut. Namun, bukan logam itu yang membuatnya menjatuhkan keranjangnya, melainkan sosok kecil yang terbaring beberapa meter dari sana.Seorang anak laki-laki, mungkin berusia sepuluh atau sebelas tahun, mengenakan pakaian ketat berwarna perak kebiruan yang sebagian besar telah koyak dan hangus. Tubuhnya pucat, hampir transparan di bawah sinar matahari pagi."Ya Allah! Aminah! Kemari cepat!" teriak Bakri pada istrinya yang sedang mengumpulkan kerang di kejauhan.Ti

  • Gairah Sang CEO Muda   Leo Hilang

    Suasana di pusat komando Arkana Tower mendadak berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan deru kipas dari server raksasa dan detak jantung yang berpacu. Di layar utama, visualisasi orbit bumi menampilkan dua titik cahaya biru—representasi digital Leo dan Arlo—yang sedang merayap mendekati siluet merah "Satelit Hantu" milik Victor Vance. Di bagian bawah layar, terdapat umpan video dari kamera helm Hilda dan Tobi. Mereka tidak berada di menara; mereka berada di garis depan, di sebuah fasilitas stasiun bumi rahasia di pinggiran Jawa Barat yang menjadi jembatan transmisi data ke ruang angkasa. Garis Depan di Bumi "Kontak visual terkonfirmasi," suara Hilda terdengar stabil meski di latar belakang terdengar suara rentetan tembakan. Ia berlindung di balik pilar beton stasiun bumi. "Tim taktis Obsidian tidak main-main. Mereka mengirimkan tentara bayaran profesional untuk memutus uplink kita. Mereka tahu jika stasiun ini hancur, Leo dan Arlo akan terjebak di dalam jaringan tanpa

  • Gairah Sang CEO Muda   Misi Baru

    Sore itu, halaman belakang kediaman Arkana yang luas tidak tampak seperti benteng pertahanan teknologi tinggi, melainkan seperti taman bermain yang penuh tawa. Matahari Jakarta yang mulai meredup memberikan cahaya oranye hangat pada rumput hijau yang tertata rapi.Di tengah lapangan, Tobi—dengan perawakannya yang besar dan ramah—sedang membungkuk rendah, berpura-pura menjadi monster raksasa. "Kalian tidak bisa lari dari Monster Bug!" serunya sambil tertawa bariton.Hilda, yang biasanya tampil dingin dengan setelan taktis hitamnya, kini mengenakan kaos santai dan celana kargo. Ia berlari kecil mengejar Leo dan Arlo yang sedang tertawa terbahak-bahak. Di tangan Hilda terdapat sebuah pistol air canggih hasil modifikasi laboratorium Arkana yang mampu menembakkan gelembung sabun raksasa."Leo, ke kiri! Arlo, berlindung di balik Kevin!" teriak Hilda sambil melepaskan rentetan gelembung.Kevin, sang ahli sistem yang biasanya sibuk dengan kabel dan server, kini justru menjad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status