Masuk"Ini murni transaksi bisnis. Jangan tertipu oleh senyumku atau kemewahan ini. Begitu kontrak berakhir, kau pergi." Dalam satu malam, dunia Isabella runtuh. Dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri, ia kehilangan segalanya. Terpojok tanpa pilihan, Isabella terpaksa mengambil langkah nekat: menjual dirinya dalam pernikahan kontrak dengan Sebastian, sang "Iblis Korporat" yang dingin dan tak tersentuh. Di bawah bimbingan Sebastian, Isabella ditempa dari gadis polos menjadi pebisnis yang tangguh. Namun, saat misi balas dendamnya dimulai, sebuah rahasia kelam terkuak—target yang harus ia hancurkan ternyata adalah ayah kandungnya sendiri. Kini, di tengah percikan cinta yang seharusnya tak ada, Isabella terjebak dalam dilema mematikan: menuntaskan dendam, atau mengikuti kata hatinya?
Lihat lebih banyakNapas Isabella tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas tenggorokannya. Udara dingin yang berat, bercampur aroma debu dan parfum asing yang menyengat, menusuk paru-parunya. Matanya memerah, sudut-sudutnya terasa panas seperti terbakar, namun pandangannya membeku pada pemandangan di ruang tengah apartemennya—tempat yang separuh sewanya ia bayar dengan kerja keras, tempat yang separuh jiwanya ia curahkan.
Di sana, di sofa kulit abu-abu yang mereka pilih bersama, Julian, kekasihnya, tampak santai merapikan simpul dasi sutra yang sedikit longgar. Di sebelahnya, duduk Serena, sahabat karib Isabella sejak masa sekolah, yang sedang mengancingkan kembali blus kremnya. Ada seulas senyum tipis di bibir Serena, senyum yang di mata Isabella terasa seperti taburan pecahan kaca. Julian sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Ia justru menghela napas panjang, seolah baru saja menyelesaikan tugas yang menjengkelkan. Ia menatap Isabella, pandangannya dingin, tanpa jejak rasa bersalah atau keterkejutan. "Kau sudah pulang. Baguslah. Kami baru saja selesai. Duduklah." Nada suara Julian datar, memecah keheningan yang mematikan di antara mereka. Isabella tidak bergerak. Bibirnya bergetar, tetapi bukan karena ingin menjerit. Itu adalah getaran menahan amuk, karena ia tidak akan memberikan kepuasan pada mereka dengan menjadi histeris. Ia memfokuskan pandangannya pada Serena. "Serena... kau?" Suaranya serak, nyaris tak terdengar, sebuah bisikan yang memohon penolakan. Serena mendongak. Senyum samar itu menghilang, digantikan oleh tatapan yang entah mengapa, terasa lebih dingin dan menghakimi daripada tatapan Julian. "Maaf, Isabella. Tapi, jujur saja... aku sudah lelah berpura-pura kasihan padamu." Isabella merasakan tinju dingin menghantam ulu hatinya. Ia kembali menoleh ke arah Julian. Suaranya sedikit lebih keras, matanya menuntut kejelasan yang menyakitkan. "Sejak kapan, Julian? Sejak kapan kalian berdua menjadikan apartemen ini sebagai panggung sandiwara menjijikkan kalian?" Julian berdiri. Ia memasukkan tangan ke saku celananya dengan gerakan santai, terlalu santai, yang membuat darah Isabella mendidih. "Sejak aku sadar kau tidak akan pernah bisa memberiku apa yang Serena tawarkan." Isabella terdiam, ucapan yang meluncur begitu mudah dari bibir Julian terasa dingin dan mematikan. Pandangannya kosong dari sisa-sisa kasih sayang. Yang ia lihat bukan lagi pria yang ia cintai, melainkan seorang mitra bisnis kejam yang baru saja membatalkan kontraknya dengan cara paling kotor. "Uang sewaku, perabotan itu, dan sisa tabunganku. Kembalikan segera, Julian, atau bersiaplah menghadapi semua ini di pengadilan." Suaranya meninggi, menantang dengan keyakinan yang sebenarnya rapuh. "Pengadilan?" Julian tertawa, tawa dingin yang mengiris. Ia menatap tajam Isabella. "Kita tidak punya ikatan hukum. Apa yang mau kau tuntut? Dan ya, apartemen ini atas namaku. Sekarang, silakan kau pergi dari sini." Julian dengan kejam merenggut kunci dari tangan Isabella. Air mata Isabella, yang tadinya tercekik di tenggorokan, kini mengalir tanpa suara. Aliran hangat itu segera membelah riasan tipis yang kering di pipinya, meninggalkan jejak basah pada bedak yang retak. Pandangannya tidak terangkat dari satu detail: noda lipstik merah anggur yang buram, yang bukan miliknya, menempel tepat di kerah kemeja Julian. Jari-jari Isabella mencengkeram roknya hingga buku-buku jarinya memutih. Hanya satu kata yang lolos dari bibirnya yang kaku, hampir seperti bisikan: "Kenapa, Julian?" Julian tidak bergeming. Ia berdiri tegak, bayangan tubuhnya yang besar jatuh di lantai marmer, seolah-olah ia sudah menjadi entitas asing. "Sejujurnya, kau terlalu membosankan, Isabella. Jalan yang kau ambil terlalu landai, sementara aku harus berlari mendaki. Kau hanya akan menjadi jangkar bagi karierku." Kalimat itu menampar telinga Isabella, suaranya jauh lebih tajam daripada tamparan fisik. Napasnya tertahan, seolah paru-parunya tidak lagi berfungsi. Kata-kata Julian selanjutnya menyusul, dingin dan mematikan: "Serena lebih menarik dan berkelas." Mendengar nama itu, Isabella mengepal erat, rasa pahit memenuhi rongga mulutnya. "Aku menyesal telah menginvestasikan waktu, uang, dan seluruh emosiku pada pria sampah sepertimu." DUA JAM KEMUDIAN Isabella berdiri di pinggir jalan Aurelia City yang lembap, di bawah cahaya kuning lampu jalan yang berkedip-kedip. Di samping kakinya, teronggok satu tas jinjing kain usang berwarna merah marun dan ransel penuh dengan barang-barang seadanya—seluruh sisa hidupnya. Suhu udara turun drastis, tapi Isabella menolak untuk gemetar. Jari-jarinya menggenggam erat gagang tas, buku-buku jarinya memutih—satu-satunya indikator dari badai kemarahan yang berputar di dalam dadanya. Ia tidak memohon. Ia tidak menangis di depan mereka. Ia hanya mengemas barang-barangnya dan pergi. Pelajaran dari masa lalunya yang keras telah mengukir satu prinsip: Jangan pernah tunjukkan kelemahanmu pada orang lain. Isabella mengeluarkan ponsel lamanya dengan layar retak. Saldo banknya hampir nol. Uang sewa tempat berteduh—jika ia bisa menemukannya malam ini—sudah di luar jangkauannya. Lebih buruk lagi, bibinya membutuhkan biaya pengobatan yang mahal minggu depan. Isabella hanya punya satu malam untuk memutar nasibnya. Di antara tumpukan notifikasi tak penting, ada satu surel masuk dari agensi yang tidak ia kenal. Isinya ringkas, namun muatannya terasa sangat berat. Sebuah entitas tanpa nama, menawarkan jalan keluar yang dramatis: lowongan posisi khusus di Vance Global.Sebastian menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia mengingat bagaimana Isabella selalu memindahkan serangga kecil ke luar rumah daripada membunuhnya. Ia mengingat bagaimana mata istrinya selalu berbinar setiap kali mereka melewati toko perlengkapan bayi, jauh sebelum konflik ini dimulai."Seorang ibu tidak akan membunuh bagian dari dirinya hanya untuk membalas dendam," bisik Sebastian pada dirinya sendiri. "Bukan Isabella. Dia terlalu suci untuk dosa sekeji itu."Logika Sebastian mulai membedah kejadian semalam. Isabella mengatakan prosedur itu baru saja selesai, namun ia mampu berdiri dan berjalan—meski dengan wajah pucat. Jika itu adalah sebuah gertakan, maka itu adalah gertakan paling brutal dalam sejarah pernikahan mereka. Sebastian menyadari satu hal: Isabella sedang menggunakan senjata yang paling mematikan untuk menghancurkannya. "Apa dia melakukan ini agar aku membenci dan menceraikannya?"Namun, ada satu ketakutan yang lebih besar: Bagaimana jika ia salah? Bagaim
Isabella membekap mulutnya sendiri, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai hingga merosot ke lantai. Tangan gemetarnya meraba perutnya yang masih sedikit kram—bukan karena prosedur medis yang dingin, melainkan karena stres yang menggerogoti fisiknya.Di sana, di dalam rahimnya, sebuah nyawa masih berdenyut. Lemah, namun ada.Ia mendengar raungan Sebastian dari luar. Ia mendengar pukulan tangan pria itu pada marmer dan pernyataan cintanya yang menyimpang. Budak? Cinta? Isabella memejamkan mata erat-erat. Kata-kata itu datang terlambat. Luka yang ditorehkan Sebastian dua hari lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan permohonan maaf yang bersimbah air mata."Kau pembohong, Sebastian," bisik Isabella pada kegelapan kamar. "Kau mencintai ego dan rasa bersalahmu, bukan aku."Rencana awal Isabella adalah membuat Sebastian sangat membencinya hingga pria itu melemparkan surat cerai ke wajahnya. Ia ingin beb
Lampu kristal di penthouse itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kini berada dalam satu ruangan, namun terpisah oleh jurang kematian yang baru saja terjadi.Isabella duduk di sofa beludru, wajahnya sepucat kertas. Ia baru saja tiba dari rumah sakit dua jam yang lalu tanpa sepengetahuan Sebastian. Bau antiseptik masih samar tercium dari balik aroma parfum mahalnya. Di atas meja marmer, sebuah map merah dari rumah sakit tergeletak terbuka—menampilkan laporan medis yang menyatakan bahwa prosedur terminasi kehamilan telah selesai dilakukan.Sebastian berdiri di dekat jendela, membelakangi istrinya. Bahunya bergetar hebat."Kau melakukannya..." suara Sebastian pecah, hampir tak terdengar. "Tanpa bicara padaku, tanpa memberiku kesempatan untuk memohon... kau membunuh anak kita, Isabella."Isabella menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit dengan mata kosong. "Anak kita? Sejak kapan kau peduli? Dua hari lalu, saat aku akan memberitahumu kalau aku hamil, apa yang kau la
Langkah kaki Isabella yang berirama di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati bagi Sebastian. Pria itu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan satu gerakan cepat, Sebastian mencengkeram lengan Isabella—lembut, namun penuh desakan."Lepaskan," desis Isabella tanpa menoleh."Tidak sebelum kau menatap mataku dan mengatakan bahwa pembelaanmu tadi hanya soal angka di atas kertas," suara Sebastian merendah, parau oleh emosi yang tertahan. "Kau menampar Arthur demi 'investasi'? Jangan membohongi dirimu sendiri, Isabella. Kau masih peduli padaku."Isabella berbalik dengan sentakan kasar. Ia tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang lebih menyakitkan daripada tamparan yang ia berikan pada Arthur tadi."Peduli? Kau menyebut ini peduli?" Isabella melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Sebastian yang bergetar. "Aku hanya sedang menjaga agar 'barang daganganku' tidak cacat sebelum di


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan