Beranda / Male Adult / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 308 Racun Sang Macan

Share

Bab 308 Racun Sang Macan

Penulis: Irbapiko
last update Tanggal publikasi: 2026-03-28 08:05:21

"Amara... kowe ngomong apa tadi? Jantung? Jantung sapa?!"

Raungan Arya membelah kesunyian gudang tua di Solo, suaranya pecah seperti kaca yang dihantam palu godam. Ia mencengkeram bahu Amara Wijaya, mengguncangnya dengan tenaga yang sanggup meremukkan tulang, namun wanita itu hanya menatapnya dengan senyum miring yang lebih dingin dari es di puncak Merapi. Arya sempat terhenti sejenak, matanya menangkap seekor laba-laba kecil yang sedang merajut jaring di pojok pintu brankas baja&mdash

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
WA FA
cok, cerita udah gk jelas, malah ceritanya di ulang²
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 885 Perangkat Anggun Sang Utusan Konsorsium

    Aroma parfum bunga lili yang harum menyeruak lembut di dalam ruangan VIP Restoran Danau Surabaya.Maya Fransiska menyilangkan kakinya yang mulus, membiarkan gaun malam merah marunnya tersingkap tipis memperlihatkan lekuk paha indahnya.Di seberang meja kayu jati, Arya Baswira duduk dengan posisi tegap, melipat kedua tangannya di dada bidangnya."Minum dulu anggurnya, Pak Arya... Suasana privat begini sangat cocok buat membicarakan bisnis besar," bisik Maya bernada sangat mesra.Arya bahkan tidak menyentuh gelas kristal di depannya, menatap wanita utusan Konsorsium itu dengan pandangan dingin."Saya datang ke sini bukan untuk minum-minum, Bu Maya," tegur Arya bernada datar dan berat."E-ehmm... M-maksud saya, kita santai sedikit kan tidak ada salahnya?" sahut Maya tersenyum manis dengan sedikit kegagapan.Maya berdiri pelan dari kursinya,

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 884 Strategi Bayangan di Jalur Pantura

    Deru mesin disel belasan truk tronton meraung bersahut-sahutan di pelataran Pangkalan Marunda Fast Surabaya.Arya Baswira melangkah keluar dari kabin Alphard hitam, mengancingkan kemeja lengan panjangnya yang digulung sampai siku.Di sampingnya, Slamet mengawasi sekeliling pangkalan dengan pandangan mata tajam khas supir senior pangkalan."Kondisi sepuluh kontainer yang dilempar batu tadi bagaimana, Met?" tanya Arya bersuara berat dan tenang."Kaca depan dua truk retak, Pak Arya... Tapi seluruh barang muatan aman tidak ada yang rusak," jawab Slamet sigap.Koordinator pangkalan Surabaya langsung berlari menghampiri Arya dengan wajah pucat penuh rasa cemas."Pak Arya, orang-orang bentukan Konsorsium masih bertahan di depan gerbang tol Dupak!" seru koordinator pangkalan itu panik."E-ehmm... M-maksud saya, mereka mengancam bakal pecahkan kac

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 883 Proteksi Konyol Sang Pangeran Pangkalan

    Tangan mulus Sonya membenarkan letak gaun kerjanya dengan gerakan super cepat dan panik.Arya mengancingkan kemejanya santai, lalu melangkah menuju pintu kayu jati untuk membukakannya sedikit."S-sebentar, Cin! Lagi ada penyesuaian angka laporan!" seru Sonya bernada agak kaku dari atas sofa.Cindy yang berdiri di luar pintu mengernyitkan dahi, mendengar suara sang Direktur Utama yang terdengar sedikit serak.Saat pintu terbuka separuh, Arya muncul dengan senyum tenang khas Manajer Keuangan."Mana berkas revisinya, Cin? Biar saya yang bawa masuk," ucap Arya sambil mengulurkan tangan."E-eh, ini Pak Arya... Berkas jadwal operasional pangkalan yang baru," sahut Cindy sambil menyerahkan map tebal.Arya mengambil berkas itu, menepuk pelan bahu sekretaris istrinya lalu menyuruhnya kembali ke meja kerja."Terima kasih, Cin.

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 882 Hukuman Ratu Besi Diatas Sofa VIP

    Layar laptop premium di meja kayu jati itu masih menyala. Sonya Baskoro menyilangkan kaki mulusnya, menatap Arya dengan pandangan dingin dan tajam."Klausul akuisisi lima belas armada Konsorsium Jawa-Sumatra ini sudah sempurna, Arya. Jangan membuang waktu rapat hanya karena kamu merasa curiga!"Arya tidak menjawab dengan kata-kata manis. Pria kekar berkaos kerah ketat itu melangkah mantap, menepuk lembaran kertas audit tepat di depan meja sang Direktur Utama.Brak!"Lihat baris keempat lembar neraca aktiva ini, Bu Direktur," suara Arya terdengar berat dan sangat tenang.Sonya menaikkan satu alisnya, lalu mengambil berkas itu dengan gerakan anggun. Mata cantiknya mulai menyapu angka-angka yang tertera di sana."Maya menyembunyikan selisih penyusutan nilai aset sebesar tiga puluh persen di catatan kaki," Arya menunjuk angka-angka itu dengan telunjuk besarnya. "Kalau kamu tandatangani kontrak ini sekarang, Marunda Fast menanggung beban

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 881 Rapat Direksi Berdarah Dingin

    Suasana ruang rapat utama gedung lantai lima Marunda Fast mendadak hening seketika.Tangan mulus Sonya Baskoro mengetuk berkas tebal bersampul biru di atas meja oval kaca, menatap seluruh jajaran manajer divisi.Sebagai Direktur Utama, aura Ratu Besi dari wanita cantik bergaun hitam itu terpancar sangat dingin dan mengintimidasi."Suntikan modal sebesar lima puluh miliar rupiah dari konsorsium Singapura ini sangat strategis buat pangkalan baru kita di Kalimantan," tegas Sonya bersuara datar.Para manajer operasional dan logistik mengangguk-angguk setuju, membayangkan ekspansi armada truk tronton yang kian masif.Cindy yang duduk di sisi kiri meja rapat sigap mencatat poin-poin penting, sesekali mengusap perut dua bulannya yang masih rata.Namun dari ujung meja sebelah kanan, suara dehaman berat terdengar memotong keheningan ruang rapat tersebut.Arya Baswira merapikan posisi dasi hitamnya, memajukan tubuh kekarnya lalu menumpuk dua le

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 880 Ketenangan Sebelum Badai Gelombang Kedua

    Arya menggenggam ponsel di tangannya, mendengarkan laporan Manajer Operasional Surabaya dengan raut wajah sangat tenang.Di seberang telepon, suara manajer lapangan terdengar agak bergetar melaporkan sepuluh truk kontainer yang dihadang di Pantura."Tenang, Pak Hendra… Jangan bentrok fisik di lapangan," pangkas Arya bersuara berat dan mantap."E-ehmm… M-maksud saya, mereka menahan STNK dan minta uang keamanan gila-gilaan, Pak Arya!" seru Hendra panik."Sebutkan nama ormas dan siapa pelindung di belakang mereka… Biar besok pagi tim hukum Marunda Fast yang turun tangan," perintah Arya.Setelah menyelesaikan panggilan darurat tersebut, Arya menyimpan ponselnya di atas meja kaca balkon kamar utama.Angin malam kawasan Puncak berembus cukup dingin, membawa aroma kebun teh yang menyegarkan pikiran.Sonya Baskoro melangkah k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status