FAZER LOGIN"Amara... kowe ngomong apa tadi? Jantung? Jantung sapa?!"
Raungan Arya membelah kesunyian gudang tua di Solo, suaranya pecah seperti kaca yang dihantam palu godam. Ia mencengkeram bahu Amara Wijaya, mengguncangnya dengan tenaga yang sanggup meremukkan tulang, namun wanita itu hanya menatapnya dengan senyum miring yang lebih dingin dari es di puncak Merapi. Arya sempat terhenti sejenak, matanya menangkap seekor laba-laba kecil yang sedang merajut jaring di pojok pintu brankas baja&mdash
"Minggir kabeh! Macan pangkalan Jogja sudah masuk Jakarta!"Suara Brian menggelegar dari balik kemudi unit Heavy Duty yang baru saja menghantam trotoar depan rumah Kemang. Raungan mesin diesel itu membelah kepungan massa Lentera Trans, menciptakan getaran hebat yang merambat dari aspal hingga ke pangkal paha Arya yang masih berdiri di teras. Arya sempat tertegun menatap barisan lampu halogen yang membabi buta menyapu gelap—sebuah reaksi fisik atas dukungan liar dari anak buahnya yang baru tiba—sebelum akhirnya ia meludah ke samping dan mengokang senjatanya lagi."Brian! Giling mereka yang pegang obor! Jangan kasih sisa!" Arya berteriak parau, jemarinya yang berdebu semen mencengkeram erat ponsel di saku jasnya.Massa penyerang kocar-kacir, terkejut oleh kedatangan konvoi fuso Jogja yang beraroma matahari desa dan oli panas. Kontras antara kegaduhan mesin truk yang kasar dengan sunyinya perumahan elit Kemang terasa seperti kendi tana
"Mas Slamet, kowe nekad?! Darahmu sudah tembus ke kaos!"Arya melompat dari jipnya sebelum mesin benar-benar mati, menerjang ke arah Slamet yang berdiri limbung di depan pintu utama rumah Kemang. Ia sempat tertegun menatap lubang menganga di dinding kamar utamanya yang terlihat dari halaman—sebuah guncangan batin yang membuatnya merasa privasi paling sakralnya baru saja diperkosa—sebelum akhirnya ia merengkuh bahu supir seniornya itu. Bau amis darah segar yang merembes dari perban Slamet bercampur tajam dengan aroma debu semen dan parfum citrus mahal milik Arya yang kini menguap oleh amarah."D-D-Den... jangan urus aku... anak buah Wisnu sudah di dalam, mereka cari kotak hitam Baskoro!" Slamet mendesis, tangannya yang gemetar masih mencengkeram kunci roda seolah benda itu adalah nyawanya."Bajingan! Wisnu mau main bongkar rumah?! Brian, amankan Mas Slamet ke ambulans sekarang!" raung Arya sembari mencabut Glock dari balik pinggangnya, jemarinya terasa p
"Lihat ke jendela, Arya... itu kado perpisahan untuk takhtamu."Suara parau di radio panggil itu bagai cakram gergaji yang mengiris kesadaran Arya di tengah remang lantai sembilan. Arya menerjang kaca besar kantornya, menatap titik api yang membubung dari arah dermaga Marunda Pusat, tepat di lokasi tangki bahan bakar utama. Ia sempat tertegun menatap pantulan wajahnya yang pias di kaca—sebuah guncangan batin yang membuatnya merasa seluruh fondasi bisnisnya sedang digerogoti rayap api—sebelum akhirnya ia menghantam bingkai jendela dengan kepalan tangan."Brian! Panggil tim damkar internal, blokir pipa distribusi ke sektor enam!" raung Arya sembari menyambar jasnya yang sudah tak keruan bentuknya."Den, mustahil! Massa Wisnu sudah memblokir akses mobil pemadam di gerbang luar!" Brian menyahut dengan napas yang terputus-putus, wajahnya basah oleh keringat dingin yang membanjir."Mas Arya... jangan ke sana, bahaya!" Sonya menarik lengan Arya, suar
"Sonya! Berhenti! Jangan keluar!"Raungan Arya memantul di dinding lobi Marunda Pusat yang mendadak terasa seperti peti mati beton. Pintu lift logam itu tertutup rapat, menyisakan keheningan mencekam sebelum dentuman kecil dari panel kontrol di atas sana mengirimkan getaran maut hingga ke telapak kakinya. Arya sempat tertegun menatap angka lantai yang membeku di layar digital—sebuah guncangan batin yang membuatnya merasa jantungnya baru saja dicabut paksa—sebelum akhirnya ia menerjang tangga darurat dengan napas yang memburu liar."Den, jangan lewat sana! Itu jalur yang paling rawan sabotase!" Brian berteriak sembari mencoba mengejar, namun Arya sudah hilang di balik pintu baja.Mantra batin Arya berputar gelap: Jika sehelai rambut Sonya jatuh karena Wisnu, akan kubuat Jakarta Utara banjir darah malam ini. Ia merasakan kancing kemejanya tegang, nyaris terlepas saat otot dadanya berkontraksi hebat menahan sesak yang mencekik paru-paru—s
"Den Arya, jangan masuk ke gudang sektor empat sekarang... keadaannya nggak beres."Brian menghadang langkah Arya tepat di depan lift lobi Marunda Pusat, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak pucat tertimpa lampu neon. Arya tidak berhenti, ia justru merangsek maju, membiarkan aroma parfum citrus mahalnya beradu dengan bau solar yang terbawa dari pakaian Brian—sebuah guncangan batin yang membuatnya merasa otoritasnya sedang dikencingi oleh musuh—sebelum akhirnya ia mencengkeram radio panggil di pinggangnya."Siapa yang kasih perintah tutup gerbang, Bri? Aku belum mati, pangkalan ini masih punya raja!" raung Arya, napasnya memburu hingga urat lehernya menegang seperti kabel baja fuso.Brian menggeleng pelan, jemarinya gemetar saat menunjukkan tablet yang menampilkan rekaman CCTV gerbang utama yang kini dipenuhi pria berseragam hitam tanpa logo. "Wisnu Wijaya nggak menyerang secara fisik, Den... dia pakai surat sita dari otoritas pelabuhan ya
"Bapak... Bapak sudah menyiapkan semua ini dari kubur?!"Arya meraung, suaranya parau menembus deru baling-baling helikopter yang mendarat darurat di bahu jalan aspal Bogor yang hancur. Tangannya yang melepuh akibat panas pintu fuso mencengkeram dokumen berstempel darah yang disodorkan sekretaris ayahnya, mengabaikan denyut nyeri di dadanya yang sesak oleh asap bensin. Ia sempat tertegun menatap tanda tangan Baskoro yang masih basah oleh tinta rahasia—sebuah guncangan batin yang membuatnya menyadari bahwa kematian ayahnya adalah bidak catur terakhir untuk menjebak Wisnu—sebelum akhirnya ia melonggarkan cengkeramannya dengan jemari yang gemetar hebat."Den Arya, Bapak tahu Wisnu akan menyerang di Bogor. Dokumen ini adalah saham pengendali Marunda Pusat yang disembunyikan dari radar legal selama sepuluh tahun," bisik wanita itu sembari menunjuk kode enkripsi di pojok kertas."Bajingan! Jadi kowe semua membiarkan aku mandi darah hanya untuk menguji apak
Pagi di kediaman Baskoro terasa lebih dingin dari biasanya, namun bukan karena cuaca. Di ruang kerja utama yang didominasi kayu jati tua, Pak Baskoro duduk berhadapan dengan seorang pria sebayanya yang tampak sangat gelisah. Pria itu adalah Hermawan Pratama, ayah dari Chiko, sekaligus pemilik tun
Kereta api Taksaka Malam yang mereka tumpangi perlahan merapat di peron Stasiun Gambir saat fajar menyingsing. Udara Jakarta yang lembap langsung menyambut mereka begitu turun dari gerbang eksekutif. Sepanjang perjalanan tujuh jam dari Yogyakarta, Jessy hampir tidak bisa tidur nyenyak. B
Udara dingin pegunungan mulai menusuk tulang saat malam menyelimuti kawasan Puncak. Di sebuah jalan setapak yang hanya cukup dilewati satu mobil, van hitam yang membawa Cindy terus merayap naik menuju sebuah vila tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Di belakangnya, dengan jarak ya
Pagi di rumah Pak Tejo selalu diawali dengan simfoni alam yang menenangkan. Suara ayam hutan yang bersahutan dari arah perbukitan jati berpadu dengan bunyi ulekan batu yang beradu di dapur. Jessy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar, meski ada sedikit rasa mual yang sempat menyapa saat