Se connecter"Mas Slamet, kowe nekad?! Darahmu sudah tembus ke kaos!"
Arya melompat dari jipnya sebelum mesin benar-benar mati, menerjang ke arah Slamet yang berdiri limbung di depan pintu utama rumah Kemang. Ia sempat tertegun menatap lubang menganga di dinding kamar utamanya yang terlihat dari halaman—sebuah guncangan batin yang membuatnya merasa privasi paling sakralnya baru saja diperkosa—sebelum akhirnya ia merengkuh bahu supir seniornya itu. Bau amis darah segar yang merembes dari perban Slam
Deretan tiga mobil mewah Marunda Fast meluncur mulus membelah kabut tipis kawasan Puncak Bogor.Konvoi keluarga besar dipimpin langsung oleh Alphard hitam yang dikemudikan dengan tenang oleh Arya Baswira.Di kabin tengah, Sonya Baskoro memangku Baswira Junior yang tertidur lelap, sementara Anya duduk riang di samping jendela.Mobil di belakangnya diisi oleh Brian Baskoro bersama Jessy dan Baskoro Junior, disusul SUV gagah milik Slamet dan Cindy.Tiba di pelataran villa mewah bergaya kolonial seluas dua hektar, pemandangan kebun teh hijau terhampar luas.Udara dingin pegunungan seketika menyapa hangat saat seluruh pintu kendaraan dibuka bersamaan.Anya melompat keluar kabin, berlari menghampiri sepupunya dengan gelak tawa riang memecah kesunyian villa."Anya! Lihat itu ada kolam renang besar sekali!" seru Jessy menuntun Baskoro Junior mela
Layar komputer di ruang audit lantai dua kantor pusat Marunda Fast menampilkan perbandingan grafik belanja solar mingguan.Arya Baswira berdiri tegap mengawasi dua auditor keuangan yang mengetik cepat memverifikasi kuitansi fisik pangkalan Bali.Mata tajam mantan supir pangkalan itu memindai barisan stempel pengisian BBM yang terbukti menggunakan kuitansi palsu."Coba zoom bagian nomor seri nota pengisian solar dari SPBU rute Denpasar itu!" komando Arya bersuara berat menggelegar."Siap, Pak Arya... Ini nomor serinya ganda dengan nota minggu lalu," lapor auditor senior menunjuk layar."Panggil Kepala Pangkalan Transit Bali lewat panggilan video sekarang juga!" tegas Arya melipat kedua tangan kekarnya di dada.Panggilan tersambung cepat, menampilkan wajah Kepala Pangkalan Bali bernama Bambang yang tampak gelisah dan memucat."P-pak Arya...
Suasana meja makan rumah mewah itu mendadak hening sejenak usai pertanyaan polos Anya meluncur.Sonya Baskoro menghentikan sendoknya, menatap Arya dengan rona merah halus yang merayapi pipi mewahnya.Arya Baswira menyunggingkan senyuman hangat, mengusap lembut rambut putri sulungnya dengan telapak tangan tegap."Om Slamet tidak bohong, Sayang... Dulu Papa memang supir pribadinya Mama," jawab Arya bersuara lembut."Waahhh! Beneran, Pa?! Terus kenapa Papa bisa jadi suaminya Mama?" tanya Anya lagi dengan mata berbinar penasaran."Sebab Papa itu supir paling jujur, paling setia, dan paling perkasa yang pernah Mama temui di pangkalan," tutur Sonya tersenyum anggun.Sonya meraih jemari tegap Arya di atas meja, menggenggamnya erat sambil memandangi putri kecilnya penuh kasih sayang."Papa selalu menjaga Mama di jalanan, melibas semua orang jahat
Suara gelak tawa Anya bergema memenuhi area ruang keluarga rumah mewah Limo sejak pagi hari.Bocah cilik itu berlarian kecil mengitari sofa, membawa mainan mobil-mobilan kayu kesayangannya.Di atas karpet bulu yang tebal, Baswira Junior merangkul guling kecil sambil mengoceh riang menatap ayahnya.Arya Baswira duduk bersila mengenakan kaos oblong santai, menimang putra kecilnya dengan kelembutan tangan tegap."Ayo, Jagoan Papa... Panggil sekali lagi kata pangkalan seperti kemarin," puji Arya tersenyum lebar."Pa-pangkalan! A-ayah!" celoteh Baswira Junior menepuk-nepuk tangannya gembira.Sonya Baskoro melangkah turun dari tangga melingkar, mengenakan gaun rumah berbahan sutra tipis bernuansa merah muda.Ratu Besi Marunda Fast itu membawa nampan berisikan dua cangkir susu hangat dan camilan kue tradisional.Raut wajahny
Arya Baswira berdiri tegap di ambang pintu kamar suite VIP, menahan daun pintu kayu tebal dengan satu lengan kekarnya.Sorot mata mantan supir pangkalan itu memancar dingin, menatap lurus Helena yang mencoba menerobos masuk ke dalam kamarnya."Tolong mundur dua langkah, Bu Helena... Pembahasan dokumen apa pun hanya dilakukan di ruang rapat besok pagi," gertak Arya berbariton berat."A-aduh, Pak Arya... Ini cuma revisi klausul bagi hasil pangkalan lima puluh miliar yang sangat menguntungkan Anda," gagap Helena tersenyum manja.Arya menyambar map dokumen tersebut, membaca sekilas lembar lampiran kedua yang secara terselubung menyelipkan klausul pengalihan saham operasional.Seringai sinis memancar tajam dari bibir Arya, melempar kembali map tersebut ke dalam dekapan tangan Helena tanpa ragu."Memasukkan klausul pembagian saham terselubung lima belas persen di l
Deru angin pesisir Balikpapan menyapu pelataran pangkalan baru Marunda Fast seluas empat hektar di kawasan industri.Deretan puluh truk fuso dan tronton terparkir rapi di bawah naungan atap baja ringan yang baru selesai dibangun.Arya Baswira berdiri tegap di tengah pangkalan, mengenakan kemeja putih tergulung hingga sikut dengan rompi audit keselamatan.Mata tajam mantan supir pangkalan itu memeriksa satu per satu instalasi pengisian solar dan kelayakan bengkel armada."Bagaimana dengan ketersediaan tangki cadangan solar di area belakang, Pak Jaka?" tanya Arya bersuara berat menggelegar."Sudah terisi delapan puluh persen, Pak Arya! Pasokan dari tangker resmi berjalan sangat lancar," jawab kepala operasional pangkalan.Di sampingnya, Helena, seorang investor wanita pengusaha tambang lokal berpenampilan sangat elegan, melangkah anggun menyelaraskan langkah.Helena menyunggingkan senyuman manja, membetulkan posisi kaca mata hitamnya sa







