Masuk"Mas Slamet, kowe nekad?! Darahmu sudah tembus ke kaos!"
Arya melompat dari jipnya sebelum mesin benar-benar mati, menerjang ke arah Slamet yang berdiri limbung di depan pintu utama rumah Kemang. Ia sempat tertegun menatap lubang menganga di dinding kamar utamanya yang terlihat dari halaman—sebuah guncangan batin yang membuatnya merasa privasi paling sakralnya baru saja diperkosa—sebelum akhirnya ia merengkuh bahu supir seniornya itu. Bau amis darah segar yang merembes dari perban Slam
Langkah kaki kencang Arya Baswira bergema nyaring di koridor lantai dua Kantor Dinas Sosial dan Perizinan Daerah.Di belakangnya, Slamet membawa sebundel map tebal berisi dokumen audit serta rekaman suara interaksi kemarin.Brian Baskoro berjalan di samping Arya dengan raut wajah tegang menahan amarah yang membendung di dada."Mas Arya, oknum pejabat perizinan itu sudah menunggu di dalam ruang rapat bersama Hendra," bisik Brian cepat."Tenang saja, Brian... Kita selesaikan gertakan murahan mereka dalam waktu lima belas menit," balas Arya bernada tenang.Pintu kaca ruang rapat utama didorong kasar oleh Slamet, mengejutkan dua pria berjas kaku di dalam ruangan.Hendra tersontak kaget dari kursi empuknya, menyipitkan mata begitu melihat kedatangan sosok Arya yang gagah tegap.Di sebelahnya, seorang oknum pejabat berinisial Bambang mendadak m
Suasana pagi di pelataran panti asuhan anyar Yayasan Baskoro Limo Depok terasa lumayan sejuk.Brian Baskoro berdiri memandangi jajaran bangunan ruang belajar baru yang hampir rampung pengerjaannya.Di sampingnya, Jessy menggendong Baskoro Junior yang terkekeh gembira sambil memegang mainan mobil-mobilan kayu."Bangunan ruang serbaguna ini minggu depan sudah siap dipakai untuk anak-anak, Mas," tutur Jessy tersenyum hangat.Brian merangkul pinggang istrinya lembut, mendaratkan kecupan singkat di pelipis mulus Jessy."Terima kasih ya, Sayang... Kamu sudah mengurus administrasi yayasan dengan sangat rapi," puji Brian bersuara tulus.Jessy menyandarkan kepalanya di bahu lebar Brian, menikmati ketenangan pagi sebelum jam operasional kantor dimulai.Namun momen hangat keluarga kecil itu mendadak terganggu oleh kedatangan sebuah sedan perak berno
Arya menangkap ponsel pintar yang melayang ke dadanya dengan refleks cepat, lalu melirik tampilan layar yang menyala.Foto sudut sempit yang memperlihatkan dirinya dan Maya Fransiska terpasang jelas di sana.Sonya berdiri mematung di dekat balkon, membusungkan dada dengan mata memerah menahan amarah yang meletup."Kenapa diam, Mas? Kaget karena foto mesramu di restoran Surabaya sudah sampai ke tanganku?" tembak Sonya bersuara dingin.Arya meletakkan ponsel itu di atas meja rias, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sangat tenang.Pria kekar bekas supir pangkalan itu melangkah santai mendekati istrinya tanpa raut panik sedikit pun."Jelaskan padaku sekarang juga, Arya! Jangan cuma tersenyum konyol seperti itu!" bentak Sonya dengan napas memburu."Kamu cemburu, Ratu Besiku?" goda Arya bersuara berat seraya mengikis jarak di antara mereka.
Aroma parfum bunga lili yang harum menyeruak lembut di dalam ruangan VIP Restoran Danau Surabaya.Maya Fransiska menyilangkan kakinya yang mulus, membiarkan gaun malam merah marunnya tersingkap tipis memperlihatkan lekuk paha indahnya.Di seberang meja kayu jati, Arya Baswira duduk dengan posisi tegap, melipat kedua tangannya di dada bidangnya."Minum dulu anggurnya, Pak Arya... Suasana privat begini sangat cocok buat membicarakan bisnis besar," bisik Maya bernada sangat mesra.Arya bahkan tidak menyentuh gelas kristal di depannya, menatap wanita utusan Konsorsium itu dengan pandangan dingin."Saya datang ke sini bukan untuk minum-minum, Bu Maya," tegur Arya bernada datar dan berat."E-ehmm... M-maksud saya, kita santai sedikit kan tidak ada salahnya?" sahut Maya tersenyum manis dengan sedikit kegagapan.Maya berdiri pelan dari kursinya,
Deru mesin disel belasan truk tronton meraung bersahut-sahutan di pelataran Pangkalan Marunda Fast Surabaya.Arya Baswira melangkah keluar dari kabin Alphard hitam, mengancingkan kemeja lengan panjangnya yang digulung sampai siku.Di sampingnya, Slamet mengawasi sekeliling pangkalan dengan pandangan mata tajam khas supir senior pangkalan."Kondisi sepuluh kontainer yang dilempar batu tadi bagaimana, Met?" tanya Arya bersuara berat dan tenang."Kaca depan dua truk retak, Pak Arya... Tapi seluruh barang muatan aman tidak ada yang rusak," jawab Slamet sigap.Koordinator pangkalan Surabaya langsung berlari menghampiri Arya dengan wajah pucat penuh rasa cemas."Pak Arya, orang-orang bentukan Konsorsium masih bertahan di depan gerbang tol Dupak!" seru koordinator pangkalan itu panik."E-ehmm... M-maksud saya, mereka mengancam bakal pecahkan kac
Tangan mulus Sonya membenarkan letak gaun kerjanya dengan gerakan super cepat dan panik.Arya mengancingkan kemejanya santai, lalu melangkah menuju pintu kayu jati untuk membukakannya sedikit."S-sebentar, Cin! Lagi ada penyesuaian angka laporan!" seru Sonya bernada agak kaku dari atas sofa.Cindy yang berdiri di luar pintu mengernyitkan dahi, mendengar suara sang Direktur Utama yang terdengar sedikit serak.Saat pintu terbuka separuh, Arya muncul dengan senyum tenang khas Manajer Keuangan."Mana berkas revisinya, Cin? Biar saya yang bawa masuk," ucap Arya sambil mengulurkan tangan."E-eh, ini Pak Arya... Berkas jadwal operasional pangkalan yang baru," sahut Cindy sambil menyerahkan map tebal.Arya mengambil berkas itu, menepuk pelan bahu sekretaris istrinya lalu menyuruhnya kembali ke meja kerja."Terima kasih, Cin.







