Home / Romansa / Gairah Terlarang CEO / Bab 4. Surat Perjanjian (2)

Share

Bab 4. Surat Perjanjian (2)

Author: Menook We
last update publish date: 2023-01-10 13:10:45

Rasa lemas dan juga lunglai menguasai tubuh Sandra. Menghilangkan seketika rasa semangat yang tadinya sempat membara, disaat memiliki harapan yang begitu sangat besar. Bahwa ia akan mendapatkan penghasilan besar, yang akan bisa dia gunakan untuk biaya pengobatan sang ibu angkat.

Namun kini menguap begitu saja. Asa menghilang bersamaan dengan datangnya ketakutan terhadap Sean. Bos barunya yang begitu sangat menakutkan. Menekan dengan suara keras dan juga lantang, hingga membuatnya tak nyaman. Ingin sekali keluar untuk mencari pekerjaan baru yang bisa membuat hatinya tenang.

“Ingat,” lemah Sandra, selepas membaca salah satu klausul di dalam surat perjanjian pekerjaan yang kini sedang dia buka. Bahwa ia, tak boleh keluar ataupun mengundurkan diri dari pekerjaan selama satu tahun ke depan. Atau dia harus mengganti rugi, membayar denda senilai sepuluh kali lipat dari total penghasilannya dalam satu tahun.

Dimana tiap bulannya dia akan mendapatkan gaji sebesar sepuluh juta rupiah. 10 kali dua belas bulan dan kembali dikalikan lagi dengan angka sepuluh? Oh Tuhan! Untuk membayangkan totalnya saja sudah membuat Sandra keliyengan.

“Apa kamu masih ingin mengundurkan diri?” tanya Aga memastikan. Menyipitkan pandangannya, kembali beradu pandangan dengan Sandra yang telah menegakkan kepala.

“Bagaimana jika aku ngga mampu membayar dendanya?” lemahnya bertanya.

“Bos Sean akan memasukkanmu ke dalam penjara.”

Mencelos sudah hatinya Sandra. “Pe-penjara?” sahut Sandra terbata.

Kerja jantungnya semakin keras saja didalam bekerja, membuatnya kesusahan hanya untuk sekedar menelan salaivanya pelan. Bersitatap dengan dinginnya kedua sorot mata Aga yang mengangguk pelan.

"Penjara," kata Aga seolah menekankan, melambungkan ketakutan yang sedari tadi sudah mendera hati wanita cantik di depannya.

"Penjara," lirih Sandra kembali. Sungguh ingin sekali ia menangis saat ini, lebih memilih untuk segera membuang pandangannya ke arah bawah. "Penjara," batinnya mengulangi, mengulaskan senyuman getirnya, mengusap bibir ranumnya pelan.

“Aga!” suara bariton tiba tiba saja terdengar. Sungguh berhasil menjingkatkan tubuh Sandra yang segera menolehkan kepalanya ke arah suara, seiring dengan berdirinya Aga cepat menghadap Tuannya.

“Saya Bos.”

Mempercepat degupan di jantung Sandra. Susah sekali untuk ia bisa mengendalikan kondisi tubuhnya yang gemetar. Memperhaikan langkah tegap sang bos besar, tampak melenggangkan kaki mendekati.

“Sudah kamu jelaskan semuanya?” datar Sean.

“Belum, Bos.”

Menyipitkan pandangan Sean, menolehkan kepalanya ke arah Sandra yang telah menundukkan kepala, ikut berdiri perlahan.

“Saya harus menunjukkan kembali mengenai klausul di dalam surat perjanjian pekerjaan.” Aga menginformasikan.

“Kenapa kamu harus menunjukkanya lagi?” Kini Sean mengerutkan keningnya, mengarahkan pandangannya segera ke Asisten pribadi barunya. “Apa dia berencana untuk mengundurkan diri?” Menghujam ke arah Sandra. Semakin dibuatnya ketakutan, menganggukkan pelan kepala Aga membenarkan.

“Benar Bos,”

Dan disambut oleh senyuman kecut di bibir Sean. “Belum ada satu jam kamu bekerja disini tapi sekarang sudah ingin mengundurkan diri?”

Mengelukan lidah Sandra. Untuk sekedar mengangkat wajahnya saja ia tak kuasa apalagi harus mejawab pertanyaan dari Sean.

"Angkat kepalamu Nona Sandra!" titah Sean. Sungguh hatinya kesal sekali jika tak saling bersitatap disaat berbicara.

Seiring dengan menengaknya kepala Sandra cepat, manatapnya nanar.

“Kenapa kamu ingin mengundurkan diri?” tanya Sean.

“Karena,” dag dig dug kerja jantung Sandra semakin keras, bertalu tak karuan sebagai tanda dari rasa takutnya yang tak kunjung mereda, melainkan kian melambung tinggi, mengusai diri. “Karena saya,-“ susah sekali untuknya bisa melanjutkan kalimat, tak berani menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan buliran bening di balik kelopak mata basahnya.

"Karena saya," lanjut Sandra. Sesaat sebelum dibuat berjingkat oleh sentakan dari Sean yang tak sabar.

“JAWAB!” bagaikan petir yang menggelegar menerpa terlinga Sandra.

“Karena saya takut dengan Anda dan saya nggak nyaman bekerja dengan Anda,” jawab cepat Sandra. Dalam satu tarikan napas, menundukkan kepalanya.

"Tegakkan kepalamu! harus berapa kali aku harus bilang agar kamu menegakkan kepala disaat berbicara denganku?"

"Ma-maaf Bos." Gemetar sudah tubuh Sandra. Ingin meluruhkan sejenak saja badannya ini di atas sofa ataupun lantai, namun mana berani ia melakukannya.

“Salah satu tugas kamu adalah selalu menjawab pertanyaanku dengan cepat, lugas dan tak bertele tele.” Tegas Sean, tak memperdulikan ketakutan asisten pribadi barunya.

“I-iya Bos.” Mengusap cepat jatuhnya air mata, lebih memilih untuk segera menolehkan kepalanya ke arah Aga.

"Apa yang harus aku pelajari sekarang?" tanya Sandra, harus bisa menguatkan hatinya sendiri demi untuk cerahnya masa depan ia, anak anak panti dan juga kesehatan Ibu angkatnya. "Hal apa yang disukai dan nggak disukai Bos Sean? tolong informasikan semua ke aku sekarang," Menahan kuat agar bibirnya tak sampai bergetar, meskipun susah.

Tak ada lagi pilihan lain untuk ia bisa mundur bukan? harus tetap maju dan bertahan di dalam pekerjaan yang menakutkan, dari pada harus mati sengsara di penjara, hingga menelantarkan anak anak panti yang kini telah menjadi tanggung jawabnya.

Seiring dengan bergeraknya kedua tangan Aga, akan mengambil ponsel miliknya yang tersimpan di dalam saku jas kerja.

"Pelajari warna warna ini," ucap Aga. Meletakkan ponsel di atas meja, mengalihkan pandangan Sandra. "Silangkan duduk kembali,"

Sandra mengangguk pelan, segera mengayunkan langkahnya ragu untuk duduk di atas sofa, selepas melirik ke arah Sean yang masih berdiri tegap sambil menyilangkan kedua tangan di atas dada. Memperhatikannya di dalam kebisuan.

"Jenis jenis warna hitam. Ebony, midnigh, ingk, crow, onys, grease, sable, jet black, spider." Lanjut Aga menerangkan, mengedikkan kepalanya ke arah contoh jenis jenis warna hitam dengan keterangan di bawahnya di dalam ponsel. "Hapalkan itu semua. Karena Bos Sean nggak akan pernah memakai baju, celana ataupun sprei diluar warna itu semua."

Sandra mengangguk lagi, Diantara rasa bingungnya melihat semua warna yang hampir sama.

"Gold, hitam dan putih. Tiga warna yang diperbolehkan masuk ke dalam rumah ini, di dekat Bos Sean dan di Abelard Group."

"Kenapa?" Masih menyimpan buliran bening di balik kelopak matanya.

"Warna gold melambangkan kemewahan. Warna putih melambangkan kemurnian. Dua hal yang disukai Bos Sean."

Lagi lagi Sandra mengangguk, berusaha untuk mencerna tiap baris kalimat informasi pemberian Aga disaat tertekan. "Kalau hitam? melambangkan apa?" lirih Sandra bertanya.

"Kamu bisa menanyakannya langsung ke Bos Sean."

Meremang sudah tubuhya Sandra. Membuatnya mengarahkan pandangannya spontan ke arah Sean yang masih bergeming.

Sudah. Lebih baik menyimpan saja rasa penasarannya ini untuk dirinya sendiri, daripada harus bertanya kepada Bosnya yang begitu sangat menakutkan. "Nggak jadi tanya aku," masih dikuasi oleh dentuman keras di dalam dada, menarik napasnya pelan untuk dia hembuskan perlahan.

"Masuk kerja jam 7 kan? dan pulangnya jam 5 sore," kembali Sandra bertanya. Hanya untuk memastikan agar ia tak pernah salah, namun malah mendapatkan gelengan kepala dari Aga.

"Bagaimana itu maksudnya? kok menggeleng begitu?" sembari meremas jemari tangannya pelan.

"Bos Sean berubah pikiran."

"Berubah pikiran gimana?" membulatkan kedua mata Sandra secara sempurna, jantungnya kembali dipacu cepat. "Bagaimana bisa berubah pikiran begitu?" spontannya tak kenal takut. Sebelum memejamkan kedua matanya dalam, merutuki kebodohanya di dalam berucap.

"Bos Sean memiliki hak mutlak untuk mengatur kembali aturan yang telah disepakati." Masih dengan gurat wajah datarnya, seolah tak memperdulikan gejolak rasa di dalam dada Sandra.

"Tapi kan?" ingin sekali Sandra melayangkan protesnya, namun tak berani karena kedua sorot mata Sean yang mengintimidasi. "Iya," lemahnya. Ia tak ingin cari mati, lebih baik menganggukkan kepalanya pasrah.

"Jadi aku harus berangkat dan pulang jam berapa?" tanya Sandra. Sesaat sebelum dibuat terhenyak, ia tercekat, mendengar jawaban.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 39. Sangat Posesif

    .​"Bos... lepas," cicit Sandra, mencoba menarik tangannya, namun Sean justru mempererat genggamannya, lalu menarik tubuh Sandra hingga bergeser lebih rapat di atas ranjang. ​"Biarkan seperti ini sebentar," bisik Sean rendah. Ia memejamkan matanya, lalu menyandarkan keningnya yang panas pada bahu kecil Sandra. Bobot tubuh tegapnya yang sedang melemah akibat demam bersandar sepenuhnya pada gadis itu. ​Ketegangan malam itu berlalu dengan menyisakan riak baru yang jauh lebih mencekik bagi Sandra. Alih-alih melunak setelah mendapatkan perawatan dan ketenangan dari asisten pribadinya, Sean justru bangun di pagi hari dengan insting kegelapan yang semakin meradang. Ketakutannya akan kehilangan kendali atas Sandra berubah wujud menjadi sebuah obsesi pertahanan yang agresif. ​Tanpa persetujuan, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya, Sean memerintahkan Aga untuk memindahkan seluruh barang milik Sandra dari kamar lamanya ke dalam kamar utama sang mafia. Ketika Sandra kembali dari dapur denga

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 38. Bos, lepas!

    Pria yang biasanya angkuh, kuat, dan menolak menunjukkan kelemahan di depan siapa pun ini, mendadak ingin mencicipi lebih banyak perhatian dari asisten pribadinya. ​Sean sengaja memejamkan matanya perlahan. Ia melepaskan ketegangan di bahunya, lalu membuat tubuh tegapnya limbung ke arah depan, berlagak seolah-olah kepalanya mendadak pusing hebat dan ia akan jatuh pingsan dari tepi ranjang. Dalam benaknya, Sean membayangkan tubuh mungil Sandra akan panik, melompat maju, dan menangkap tubuh besarnya ke dalam pelukan gadis itu. ​"Bos?!" suara anak buahnya terdengar cemas. ​Kalkulasi taktis Sean meleset total akibat kepatuhan anak buahnya yang terlalu sigap. ​Sebelum tubuh Sean sempat menyentuh jarak jangkauan tangan Sandra, dua orang pengawal bertubuh raksasa di dekatnya malah melompat maju dengan kecepatan kilat, akibat panik melihat sang bos besar akan tumbang. ​Grep! ​Dua pasang tangan kekar berotot milik anak buahnya langsung mencengkeram bahu dan pinggang Sean dengan ku

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 37. Demam

    "Sandra!" suara Sean menggelegar, memecah keheningan pagi di dalam mansion. ​Pria itu menyentak selimutnya dengan kasar, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Kepalanya terasa pening luar biasa, dan seluruh persendiannya mendadak terasa ngilu. Efek dari luka sayatan sedalam sepuluh sentimeter di lengan kirinya ditambah aksi nekat menjahit sendiri di dalam mobil kemarin sore rupanya mulai menagih bayaran. Tubuh tegap itu kini diserang demam tinggi.​Namun, alih-alih memedulikan rasa sakit di tubuhnya, netra elang Sean justru bergerak liar mengitari setiap sudut kamar. Sofa kulit panjang di sudut ruangan tampak rapi, kosong tanpa tanda-tanda keberadaan sang asisten pribadi.​"Sandra!" panggil Sean sekali lagi, kali ini suaranya naik satu oktav, sarat akan nada frustrasi dan amarah yang tertahan. Sialan. Ke mana gadis itu? Apakah dia melarikan diri saat ia tertidur lelap semalam? Mengingat usapan menenangkan Sandra di lengannya, Sean merasa tidak rela jika semua itu hanya bagian dari t

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 36

    Sean terdiam menatap siluet mungil Sandra yang sedang meringkuk ketakutan di lantai kamarnya. Keheningan malam kembali mencekik ruangan itu, hanya menyisakan sisa-sisa kepanikan yang belum reda sepenuhnya. ​Melihat tangisan Sandra yang kali ini murni karena perbuatannya sendiri, ada rasa bersalah yang asing dan sangat tajam menusuk ulu hati Sean. Debaran jantungnya yang berpacu liar sejak terbangun dari mimpi buruk tadi kini terasa berbeda, debaran ini terasa kaku, tidak nyaman, dan dipenuhi oleh rasa tidak rela ketika melihat gadis itu terluka karena tangannya sendiri. Sisi gelap mafianya yang biasa mengabaikan nyawa manusia mendadak lumpuh menghadapi air mata asisten pribadinya. ​Sean menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan lampion berdarah dari kepalanya. Dengan gerakan perlahan agar tidak kembali mengejutkan Sandra, Sean ikut duduk di atas lantai marmer, tepat di hadapan Sandra. Bingung harus memulai kata darimana, saat ia tak mengetahui cara berbicara y

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 35. Dicekik

    Sandra membuka matanya perlahan, di dalam kegelapan kamar utama yang luas dan hanya menyisakan bias cahaya rembulan yang menerobos masuk melalui celah gorden yang tinggi. Ia bangun dari tidur lelapnya ketika samar-samar mendengar sebuah suara asing memecah keheningan malam. ​Suara erangan rendah yang sarat akan siksaan batin. Sebuah suara yang penuh keputusasaan, datang dari arah tempat tidur king-size di seberangnya. ​Itu suara Sean. ​Sandra menolehkan kepalanya. Di atas ranjang mewah di seberangnya, siluet kepala Sean tampak bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Napas pria itu pun terdengar memburu, pendek-pendek, dan terputus-putus seperti orang yang sedang kehabisan udara di tengah kepungan lumpur hisap. ​Sean sedang bermimpi buruk. Seorang mafia kejam, berdarah dingin, dan tak kenal takut yang siang tadi menjahit lukanya sendiri tanpa mengedipkan mata, malam ini tampak begitu rapuh dan tersiksa di balik selimutnya. ​Di dalam tidurnya yang kelam, kesadaran Sean terkun

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 34. Duduk dan Layani Aku

    Malam pun semakin larut, melingkupi mansion mewah itu dalam keheningan yang kaku. Di dalam kamar utama, lampu-lampu temaram dinyalakan, memantulkan bayangan di dinding marmer. ​Sean masih bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, menampilkan balutan perban putih di lengan kirinya yang kontras dengan warna kulitnya. Tatapannya yang tajam tertuju pada Sandra yang baru saja masuk dari dapur lantai bawah, membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. ​"duduk di sini," titah Sean, menepuk sisi ranjang di dekatnya. "Dan layani aku makan." ​Sandra menarik napas pendek, mencoba menekan egonya dalam-dalam. Dengan langkah anggun yang kaku, ia mendekat dan duduk di tepi kasur, menaruh nampan itu di atas pangkuannya. Ia menyendok bubur perlahan, meniupnya sedikit sebelum mengarahkannya ke depan bibir Sean. ​Ada yang aneh dari sikap Sean malam ini. Pria yang biasanya memancarkan aura predator yang dominan dan tak kenal takut, kini tampak melepaskan topeng be

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 6. Fokus Sandra! Fokus!

    Cepatnya degupan di jantung Sandra. Selepas membulatkan kedua matanya sempurna, namun kini harus dibuat memberingsut mundur oleh nyalangnya tatapan tajam milik Sean yang telah menegakkan kepala."Ke-kenapa saya harus membuka kancing kemeja Anda?" tanya Sandra terbata. Memberanikan diri demi untuk s

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 5. Bisakah Beradaptasi?

    "Jadi aku harus berangkat dan pulang jam berapa?" tanya Sandra. Sesaat sebelum dibuat terhenyak, ia tercekat, mendengar jawaban. "Menginap disini. Hari sabtu siang setelah memastikan keperluan Bos Sean tersedia kamu boleh pulang, dan harus kembali lagi di hari minggu sebelum pukul dua belas siang.

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 3. Surat Perjanjian

    “Jangan menggerakkan bagian tubuh kamu sedikitpun, Sandra. “Oke? atau aku akan,” lanjutnya menggantung, kini mengulaskan senyuman seringainya, sedikit mencondongkan kepalanya ke telinga Sandra. “Atau kamu akan menyesalinya.” Sean kembali berbisik.Membiarkan harum napas hangatnya menerpa kulit teli

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 2. Posisi Yang Salah

    Dentuman keras di jantung Sandra. Sama sekali tak berani menggerakkan tubuhnya sedikitpun, berusaha untuk mempertahankan posisi badannya yang tak nyaman."Diam!"Kata itu seolah menghipnotis pikiran Sandra, bersamaan dengan kalimat Aga, sang bodygoard dari bos besarnya ini kembali terngiang di teli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status