ログインSean Abelard. Seorang CEO yang gemar berganti wanita cantik. Bersumpah pada diri sendiri tidak akan menikah dan selamanya menikmati tubuh gadis muda nan jelita. Hingga suatu hari, wanita berkuncir kuda dengan make up sederhana hadir dan selalu bersama Sean Abelard setiap hari. Dia adalah Sandra Adira. Lalu, kenapa imajinasi terliar dari hasrat terpanas seorang Sean Abelard justru menginginkan wanita itu? Terobsesi untuk menaklukan dan mencicipinya di atas ranjang! Padahal, Sandra Adira sudah memiliki cincin pertunangan di jari manisnya. Hanya dalam waktu enam bulan ke depan, ia akan menjadi istri orang. Sebuah Gairah Terlarang sang CEO yang entah berakhir dengan senyuman atau ... kesedihan. Apa yang harus Sean Abelard korbankan demi hasratnya kepada Sandra Adira? Apa yang akan Sandra Adira lakukan ketika mengetahui bahwa ia sudah berada di dalam cengkeraman Sean dan tidak ada jalan keluar? Apakah hati satu sama lain akan berubah menjadi cinta suci? Ataukah ... cinta memang tidak harus memiliki?
もっと見る"Rapikan ranjang itu dengan sempurna. Ganti spreinya dengan sprei ebony black." Suara bariton menitahkan. Menunjuk ranjang besarnya yang tampak berserakan. Jauh sekali dari kata rapi karena tiga ujung sprei tersingkap hampir ke tengah. Membulatkan kedua mata wanita cantik di depannya.
"Ya?" spontan Sandra. Wanita cantik nan polos yang baru saja diterima kerja sebagai asisten pribadi dengan gaji tinggi. "Eb-ebony Black?" batin Sandra. Kondisi tubuhnya sudah semakin bergetar tak karuan. Karena sikap dingin Sean yang tak pernah menunjukkan keramahan, membuatnya ketakutan.
"Apa itu Ebony Black?" Sandra masih membatin.
Namun hanya mendapatkan lirikan tajam dari Sean yang masih berdiri tegap di hadapannya, mengintimidasi.
"I-Iya." Gugup Sandra, lebih baik bicara iya saja, meskipun ia sama sekali tak mengerti mengenai warna apa yang dimaksud oleh Sean. "Ebony black?" apa itu?" lagi lagi Sandra membatin, tak berani bertanya. Beberapa kali meremas jemari tangannya sendiri.
"Pastikan kamar selalu rapi disaat berantakan." Lanjut Sean menginformasikan.
"Ba-baik Pak,"
"Bos. Panggil aku Bos." Sahut Sean. "Apa kamu melihatku sebagai pria tua?"
"Tampan Bos." Jawaban spontan Sandra. Ia membulatkan mata, menyadari kesalahannya dalam berbicara. "Mak-maksud saya, muda."
"Nggak akan ada Asisten rumah tangga yang akan masuk ke dalam kamarku selain kamu." lanjut Sean tak menanggapi jawaban Sandra. Kembali mendengar sahutan spontan asisten pribadinya.
"Kenapa begitu?" tanya Sandra. Membekap mulutnya segera, mendapatkan tatapan nyalang dari sang majikan baru. "Ba-baik, Bos." Kembali memilih untuk menganggukkan kepalanya patuh.
"Jangan pernah membantah apapun tiap ucapan dari Bos Sean. Atau kamu akan menyesalinya." Pesan laki laki berbadan tegap beberapa saat yang lalu. Sang bodyguard Sean, kembali terngiang di kepala Sandra yang sedang berusaha untuk tetap bisa bersikap tenang diantara kondisi tubuhnya yang gemetar.
"Iya, Bos" Tambahan jawaban Sandra. Ia harus mengiyakan apapun perintah dari bos barunya, tak boleh mendebat, ataupun banyak bertanya. Apalagi menolak.
"Lima menit. Kamu harus bisa merapikan semuanya dalam waktu lima menit." Titah Sean.
"Lima menit Bos?" tersentaknya hati Sandra. "Kok cuma lima-" Protes Sandra memotong kalimatnya sendiri. Ia merutuki lamisnya bibir yang kenapa tak mau diam dan bilang iya saja.
"Baik," pasrah Sandra. Meskipun hatinya menangis, merasa bingung harus mencari warna sprei hitam yang seperti apa, saat ia tak tahu apa apa. "Lima menit?" batin Sandra menelan salivanya pelan.
Bagaimana bisa ia menyelesaikannya dalam waktu lima menit? juga ebony? apa itu ebony?" Sandra mengalihkan pandangan, mencari keberadaan almari yang harus dia tuju terlebih dahulu.
"Kenapa kamu diam dan hanya menoleh begitu?" protes Sean.
"Cari almari Bos," Jawab Sandra. Kemudian dibuat berjingkat oleh sentakan suara Sean yang tak sabar.
"Ayo cepat!".
"Ba...baik, Bos." Jawab cepat Sandra. "Haiss!" gumamnya pelan. Akan melangkah dan berlari, namun tertahan oleh suara Sean.
"Tunggu!"
Membalikkan cepat badan Sandra, kembali menghadap ke Bos besarnya. "Kenapa Bos?"
"Kamu tadi bilang apa?"
"Ha?"
"Kamu tadi bilang apa!" sentak Sean.
"Kenapa Bos?" jawab spontan Sandra. Selalu dibuat senam jantung oleh Seaan yang suka sekali menyentaknya.
"Sebelum itu!"
Membuang pandangan Sandra. "Sebelum itu?" frustasinya Sandra, ia benar benar lupa dan tak bisa bepikir.
"Sebelum itu saya bilang apa ya Bos?"
"Ck!" mendeliknya Sean.
Menjingkatkan kembali Sandra, mundur ke arah belakang.
"Pergi cepat!"
"I-iya Bos." Sandra kemudan berlari, akan menuju ruangan yang terhubung dengan kamar. Mungkin disana tempatnya.
Seiring dengan mengayunnya langkah Sean. Hendak duduk di atas kursi yang tersedia, sambil menggeser geser layar ponsel, akan mengecek harga saham di dalamnya.
Sama sekali tak tahu mengenai membulatnya kedua mata Sandra. Ia baru saja membuka salah satu pintu almari besar berwarna putih. Sudah disuguhi dengan banyaknya pakaian, juga celana berwarna hitam semua.
Namun tak hitam sempurna, melainkan ada yang sedikit keabu abuan ataupun sedikit kecoklatan. Hanya sedikit. Karena yang pasti gelap semuanya.
"Terserahlah." gumam Sandra. Tak ingin terpaku hanya karena sebuah warna baju. Karena tugasnya sekarang bukanlah itu. "Sprei? dimana sih letak sprei?" Sandra semakin frustasi. Kenapa pekerjaan pertamanya harus seperti ini. Tertekan sekali.
"Empat menit!" terdengar suara Sean berteriak.
Kian memompa ritme jantung Sandra yang tergesa. Baru saja menemukan almari untuk sprei di samping almari baju. Namun sayangnya ia tak bisa bernapas lega. Karena permintaan warna dari Sean yang tak kunjung dia dapatkan.
Tapi bagaimana bisa dia dapatkan? jika arti dari warna ebony black saja dia pun masih belum mengetahuinya.
"Sepuluh!" Sean kembali berteriak.
"Sembilan!" lanjut Sean menghitung mundur detik menuju habisnya waktu.
Kian mempercepat degupan di jantung Sandra yang semakin ketakutan. Masih dikuasai oleh rasa bingungnya. Segera mengambil asal salah satu sprei berwarna gelap.
"Astaga... kenapa susah sekali sih ini diambilnya." Gumam Sandra. Kian dibuat frustasi oleh tekanan yang terjadi.
Jantungnya bergejolak sebagai tanda dari rasa takutnya merajai hati. Hingga membuat jemari tangannya gemetar. Hanya untuk mengambil salah satu sprei dari tumpukan saja bingung sendiri.
"Lemot sekali sih kinerjamu!" sentak Sean tiba tiba, sudah berada di pintu penghubung diantara kamar dan juga ruangan ganti. Sungguh berhasil menjingkatkan tubuh Sandra yang segera menolehkan kepalanya cepat.
"Maaf maaf, Bos." Ucap Sandra tak kalah cepatnya, diantara gerakan tangannya masih menarik kuat salah satu lipatan sprei di dalam almari. Secara acak, tanpa melihat warna ataupun motifnya. Membuatnya tak sengaja menarik tumpukan yang paling bawah, dan...
"Aaaah!" pekik Sandra. Merasa terdorong oleh tarikan kuatnya sendiri, hingga membuat tubuhnya oleng ke arah belakang, sebelum akhirnya terjatuh dan terjungkal di atas lantai. Menyingkapkan dress floral coklat selutut yang dipakainya.
"Maaf, maaf, Bos." Sama sekali tak mengetahui, mengenai terpampangnya kulit paha putih mulus yang sedari tadi tertutup rapi. Tampak nyata di pandangan Sean yang dia buat terpaku. Membeku di tempat.
"Diam!" titah tegas Sean. Menghentikan gerakan tubuh Sandra yang akan beranjak bangun.
."Bos... lepas," cicit Sandra, mencoba menarik tangannya, namun Sean justru mempererat genggamannya, lalu menarik tubuh Sandra hingga bergeser lebih rapat di atas ranjang. "Biarkan seperti ini sebentar," bisik Sean rendah. Ia memejamkan matanya, lalu menyandarkan keningnya yang panas pada bahu kecil Sandra. Bobot tubuh tegapnya yang sedang melemah akibat demam bersandar sepenuhnya pada gadis itu. Ketegangan malam itu berlalu dengan menyisakan riak baru yang jauh lebih mencekik bagi Sandra. Alih-alih melunak setelah mendapatkan perawatan dan ketenangan dari asisten pribadinya, Sean justru bangun di pagi hari dengan insting kegelapan yang semakin meradang. Ketakutannya akan kehilangan kendali atas Sandra berubah wujud menjadi sebuah obsesi pertahanan yang agresif. Tanpa persetujuan, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya, Sean memerintahkan Aga untuk memindahkan seluruh barang milik Sandra dari kamar lamanya ke dalam kamar utama sang mafia. Ketika Sandra kembali dari dapur denga
Pria yang biasanya angkuh, kuat, dan menolak menunjukkan kelemahan di depan siapa pun ini, mendadak ingin mencicipi lebih banyak perhatian dari asisten pribadinya. Sean sengaja memejamkan matanya perlahan. Ia melepaskan ketegangan di bahunya, lalu membuat tubuh tegapnya limbung ke arah depan, berlagak seolah-olah kepalanya mendadak pusing hebat dan ia akan jatuh pingsan dari tepi ranjang. Dalam benaknya, Sean membayangkan tubuh mungil Sandra akan panik, melompat maju, dan menangkap tubuh besarnya ke dalam pelukan gadis itu. "Bos?!" suara anak buahnya terdengar cemas. Kalkulasi taktis Sean meleset total akibat kepatuhan anak buahnya yang terlalu sigap. Sebelum tubuh Sean sempat menyentuh jarak jangkauan tangan Sandra, dua orang pengawal bertubuh raksasa di dekatnya malah melompat maju dengan kecepatan kilat, akibat panik melihat sang bos besar akan tumbang. Grep! Dua pasang tangan kekar berotot milik anak buahnya langsung mencengkeram bahu dan pinggang Sean dengan ku
"Sandra!" suara Sean menggelegar, memecah keheningan pagi di dalam mansion. Pria itu menyentak selimutnya dengan kasar, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Kepalanya terasa pening luar biasa, dan seluruh persendiannya mendadak terasa ngilu. Efek dari luka sayatan sedalam sepuluh sentimeter di lengan kirinya ditambah aksi nekat menjahit sendiri di dalam mobil kemarin sore rupanya mulai menagih bayaran. Tubuh tegap itu kini diserang demam tinggi.Namun, alih-alih memedulikan rasa sakit di tubuhnya, netra elang Sean justru bergerak liar mengitari setiap sudut kamar. Sofa kulit panjang di sudut ruangan tampak rapi, kosong tanpa tanda-tanda keberadaan sang asisten pribadi."Sandra!" panggil Sean sekali lagi, kali ini suaranya naik satu oktav, sarat akan nada frustrasi dan amarah yang tertahan. Sialan. Ke mana gadis itu? Apakah dia melarikan diri saat ia tertidur lelap semalam? Mengingat usapan menenangkan Sandra di lengannya, Sean merasa tidak rela jika semua itu hanya bagian dari t
Sean terdiam menatap siluet mungil Sandra yang sedang meringkuk ketakutan di lantai kamarnya. Keheningan malam kembali mencekik ruangan itu, hanya menyisakan sisa-sisa kepanikan yang belum reda sepenuhnya. Melihat tangisan Sandra yang kali ini murni karena perbuatannya sendiri, ada rasa bersalah yang asing dan sangat tajam menusuk ulu hati Sean. Debaran jantungnya yang berpacu liar sejak terbangun dari mimpi buruk tadi kini terasa berbeda, debaran ini terasa kaku, tidak nyaman, dan dipenuhi oleh rasa tidak rela ketika melihat gadis itu terluka karena tangannya sendiri. Sisi gelap mafianya yang biasa mengabaikan nyawa manusia mendadak lumpuh menghadapi air mata asisten pribadinya. Sean menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan lampion berdarah dari kepalanya. Dengan gerakan perlahan agar tidak kembali mengejutkan Sandra, Sean ikut duduk di atas lantai marmer, tepat di hadapan Sandra. Bingung harus memulai kata darimana, saat ia tak mengetahui cara berbicara y
Memejamnya kedua mata Sean. Menghindari muncratnya darah merah segar dari dahi penyusup yang berhasil dia lumpuhkan. Roboh seketika."Aisss," gumamnya lirih. Memasang wajah jengahnya, sembari mengusap muncratan darah di pipi dan juga hidungnya. "Tikus satu ini ya," gumamnya kesal. "Apa kamu ngga
"Sandra!" "Sa-saya, Bos." Menegakkan kepalanya cepat, menurunkan tangannya tak kalah cepat. "Buatkan aku secangkir kopi," "Baik Bos." Seiring dengan ayunan langkah kaki Sean, masuk ke dalam kamar mandi. Kembali menciptakan helaan napas lega di bibir Sandra yang terdiam, sudah mulai bisa menge
Cepatnya degupan di jantung Sandra. Selepas membulatkan kedua matanya sempurna, namun kini harus dibuat memberingsut mundur oleh nyalangnya tatapan tajam milik Sean yang telah menegakkan kepala."Ke-kenapa saya harus membuka kancing kemeja Anda?" tanya Sandra terbata. Memberanikan diri demi untuk s
"Jadi aku harus berangkat dan pulang jam berapa?" tanya Sandra. Sesaat sebelum dibuat terhenyak, ia tercekat, mendengar jawaban. "Menginap disini. Hari sabtu siang setelah memastikan keperluan Bos Sean tersedia kamu boleh pulang, dan harus kembali lagi di hari minggu sebelum pukul dua belas siang.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.