Masuk“Jangan menggerakkan bagian tubuh kamu sedikitpun, Sandra. “Oke? atau aku akan,” lanjutnya menggantung, kini mengulaskan senyuman seringainya, sedikit mencondongkan kepalanya ke telinga Sandra. “Atau kamu akan menyesalinya.” Sean kembali berbisik.
Membiarkan harum napas hangatnya menerpa kulit telinga asisten pribadi barunya, kian meremangkan tubuh Sandra diantara ketakutannya yang medera.
“Kamu paham?” masih Sean yang bersuara. Kembali memandang Sandra dengan tatapan tegasnya, menganggukkan perlahan kepala asisten pribadinya.
“Iy-iya.” jawab Sandra terbata, membuatnya menahan napas. Hatinya takut sekali. Sama sekali tak berani melawan ataupun membantah, demi untuk keselamatan nyawa yang harus dia jaga.
Seiring dengan bergeraknya jari telunjuk Sean di atas bibir Sandra. Entah kenapa kini ia dibuat tertarik oleh keranuman bibir milik Sandra. Merah merona. Alami dan pastinya...
"Shit!" umpat Sean. Kian mempercepat debaran di jantungnya. Hatinya berdebar? “Ada apa ini? Kenapa jadi berdebar seperti ini?” batin Sean bingung sendiri.
Menghentikan seketika gerakan jemari tangannya, harus bisa memfokuskan diri dan juga pikiran ke arah rasa yang terbentuk, agar ia bisa menerka rasa apa yang tiba tiba saja tercipta, merasa bingung atas kondisi jantungnya saat ini.
Tak biasanya ia berdebar seperti ini.
"Berdiri!" titah Sean akhirnya. Lebih memilih untuk mengakhiri sesi mengamati dan menikmati, segera berdiri dari duduknya, sedikit memundurkan langkahnya. Menjauhi Sandra yang segera menganggukkan kepala cepat.
Secepat gerakan tubuh Sandra di dalam berdiri, menghilangkan posisi jatuhnya yang sempat membuatnya kehilangan harga diri.
Seiring dengan mengedarnya pandangan Sean, ke arah banyaknya sprei yang berserakan di atas lantai.
“Maafkan saya, Bos. Saya akan membereskan ini semua,” ucap Sandra. Seolah tahu apa yang ada dipikiran Sean, sungguh sama sekali tak ingin menciptakan masalah dengan bos besarnya yang tengah membisu. Sandra masih dikuasai oleh perasaan takutnya.
Sandra tak lagi bersuara, ia pun segera membuang pandangannya ke arah bawah. Akan memunguti beberapa sprei yang berserakan.
“Ebony Black" Suara bariton Sean kembali terdengar, menghentikan gerakan jemari tangan Sandra di atas sprei berwarna hitam. "Kamu nggak mengetahuinya?”
Menolehkan kepala Sandra, kembali jantungnya dipacu cepat, tak berani menjawab pertanyaan bos barunya.
"Hal yang paling nggak aku sukai adalah bertanya dua kali," datar Sean.
"Tidak Bos!" jawab Cepat Sandra. Menggelengkan kepalanya tak kalah cepat, segera menundukkan kepalanya dalam. Sesaat sebelum dibuat tersentak oleh sengitnya suara Sean.
"Tegakkan kepalamu!" sentak Sean.
"Ba-baik Bos." Hati Sandra patah, semangat juga rasa bahagianya yang tadi sempat mendera karena pekerjaan baru dengan gaji tinggi kini telah sirna entah kemana. Perasaannya tak nyaman, bekerja dengan penuh ketakutan begini sungguh membuat hatinya tak tenang.
“AGA!" Panggil Sean tak sabar.
Sedikit menjingkatkan tubuh Sandra yang tak lagi berani menundukkan kepala. Melihat datangnya laki laki bertubuh dempal mendekati.
Aga Abra namanya. Tangan kanan kepercayaan Sean. Hanya satu satunya. karena Sean tak memiliki kepercayaan kepada siapapun itu. Termasuk keluarganya sendiri.
“Saya,Bos.” Jawab Aga. Dengan begitu sigapnya masuk ke dalam kamar menghadap Bosnya.
“Apa kamu belum mengajari apapun ke dia? Apa yang aku suka dan aku nggak suka? Warna apa saja yang boleh ada di kamar ini dan warna apa saja yang nggak boleh ada di kamar ini?" Sengit Sean.
“Ebony, crow, midnight, ink, onys, grease, sable, jet black, spider!” lanjut Sean. Mengucapkan bermacam macam warna hitam dalam tarikan sekali napas.
Membulatkan kedua mata Sandra yang tak percaya, semakin dibuat bingung oleh nama nama yang baru saja disebutkan oleh Sean. Baru pertama kalinya mendengar itu semua.
“Belum semua, Bos.” Jawab Aga. Ikut diserang oleh rasa cemas, bersiap untuk menerima amukan dari Sean.
“Belum?”
“Belum semua,” berusaha untuk tak menundukkan kepala, meskipun hatinya tak berani memperhatikan tajamnya tatapan nyalang Sean.
“Keluar!” usir Sean kepada Sandra. Mengedikkan kepalanya tegas, mengejutkan hati asisten pribadi barunya.
“Ma-,”
“KELUAR!” potong Sean menyentak. Sungguh sama sekali tak suka dengan sanggahan atas titah yang dia berikan. Kembali menjingkatkan hati Sandra yang segera mengalihkan pandangannya ke arah Aga.
“Ba-baik Bos,” lirih Sandra terbata. Semakin diserang oleh dentuman keras di dalam dada. Sungguh jantungnya ini bisa bisa tak sehat jika setiap hari dihadapkan sama Bos kasar seperti Sean.
***
“Lebih baik aku mengundurkan diri,” ucap Sandra. Sudah keluar dari kamar Sean dan baru saja menuruni anak tangga terakhir, menolehkan kepala Aga di depannya. “Aku nggak bisa bekerja seperti ini. Benar benar tertekan dan ketakutan.” imbuhnya memutuskan.
Masih berusaha untuk menata gemuruhnya rasa di dalam dada, tak kunjung mendapatkan jawaban dari Aga yang terdiam, hanya mengayunkan langkah, mengacuhkan ucapannya.
“Pak,” Panggil Sandra. Merasa bingung harus memanggil Aga dengan sebutan apa.
“Aga. Panggil aku Aga.” Tak kalah dinginnya dengan suara Sean. Bedanya hanya datar dan tak emosional.
“Aga,” panggil Sandra kembali.
“Kita bicara di ruangan tengah.” Tegas Aga. Masih mengayunkan langkah lebarnya, sedikit jauh meninggalkan langkah cepat Sandra, susah sekali untuk mejajari.
“Silahkan duduk,” datar Aga, menunjuk sofa yang tersedia.
Hanya menganggukkan pelan kepala Sandra yang tak lagi bersuara. Kembali melangkah akan duduk di atas sofa kosong berwarna coklat tua cenderung hitam. Memperhatikan punggung Aga yang tampak sedang membuka salah satu laci di almari besar.
“Kamu lupa sama aturan ini?” ucap Aga. Ikut duduk di atas sofa di seberang Sandra, meletakkan map bening yang baru saja dia ambil, memperlihatkan surat perjanjian kerja di dalamnya.
Sandra memisu hanya melihat, kemudian memejamkan kedua mata dalam, melupakan sesuatu yang telah dia tandatangani tadi pagi.
“Ingat,” lemah Sandra. Lesu sudah dirinya, lunglai tanpa ada gairah untuk lagi berkilah, mengingat salah satu isi dari aturan yang tertera di dalam surat perjanjian.
."Bos... lepas," cicit Sandra, mencoba menarik tangannya, namun Sean justru mempererat genggamannya, lalu menarik tubuh Sandra hingga bergeser lebih rapat di atas ranjang. "Biarkan seperti ini sebentar," bisik Sean rendah. Ia memejamkan matanya, lalu menyandarkan keningnya yang panas pada bahu kecil Sandra. Bobot tubuh tegapnya yang sedang melemah akibat demam bersandar sepenuhnya pada gadis itu. Ketegangan malam itu berlalu dengan menyisakan riak baru yang jauh lebih mencekik bagi Sandra. Alih-alih melunak setelah mendapatkan perawatan dan ketenangan dari asisten pribadinya, Sean justru bangun di pagi hari dengan insting kegelapan yang semakin meradang. Ketakutannya akan kehilangan kendali atas Sandra berubah wujud menjadi sebuah obsesi pertahanan yang agresif. Tanpa persetujuan, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya, Sean memerintahkan Aga untuk memindahkan seluruh barang milik Sandra dari kamar lamanya ke dalam kamar utama sang mafia. Ketika Sandra kembali dari dapur denga
Pria yang biasanya angkuh, kuat, dan menolak menunjukkan kelemahan di depan siapa pun ini, mendadak ingin mencicipi lebih banyak perhatian dari asisten pribadinya. Sean sengaja memejamkan matanya perlahan. Ia melepaskan ketegangan di bahunya, lalu membuat tubuh tegapnya limbung ke arah depan, berlagak seolah-olah kepalanya mendadak pusing hebat dan ia akan jatuh pingsan dari tepi ranjang. Dalam benaknya, Sean membayangkan tubuh mungil Sandra akan panik, melompat maju, dan menangkap tubuh besarnya ke dalam pelukan gadis itu. "Bos?!" suara anak buahnya terdengar cemas. Kalkulasi taktis Sean meleset total akibat kepatuhan anak buahnya yang terlalu sigap. Sebelum tubuh Sean sempat menyentuh jarak jangkauan tangan Sandra, dua orang pengawal bertubuh raksasa di dekatnya malah melompat maju dengan kecepatan kilat, akibat panik melihat sang bos besar akan tumbang. Grep! Dua pasang tangan kekar berotot milik anak buahnya langsung mencengkeram bahu dan pinggang Sean dengan ku
"Sandra!" suara Sean menggelegar, memecah keheningan pagi di dalam mansion. Pria itu menyentak selimutnya dengan kasar, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Kepalanya terasa pening luar biasa, dan seluruh persendiannya mendadak terasa ngilu. Efek dari luka sayatan sedalam sepuluh sentimeter di lengan kirinya ditambah aksi nekat menjahit sendiri di dalam mobil kemarin sore rupanya mulai menagih bayaran. Tubuh tegap itu kini diserang demam tinggi.Namun, alih-alih memedulikan rasa sakit di tubuhnya, netra elang Sean justru bergerak liar mengitari setiap sudut kamar. Sofa kulit panjang di sudut ruangan tampak rapi, kosong tanpa tanda-tanda keberadaan sang asisten pribadi."Sandra!" panggil Sean sekali lagi, kali ini suaranya naik satu oktav, sarat akan nada frustrasi dan amarah yang tertahan. Sialan. Ke mana gadis itu? Apakah dia melarikan diri saat ia tertidur lelap semalam? Mengingat usapan menenangkan Sandra di lengannya, Sean merasa tidak rela jika semua itu hanya bagian dari t
Sean terdiam menatap siluet mungil Sandra yang sedang meringkuk ketakutan di lantai kamarnya. Keheningan malam kembali mencekik ruangan itu, hanya menyisakan sisa-sisa kepanikan yang belum reda sepenuhnya. Melihat tangisan Sandra yang kali ini murni karena perbuatannya sendiri, ada rasa bersalah yang asing dan sangat tajam menusuk ulu hati Sean. Debaran jantungnya yang berpacu liar sejak terbangun dari mimpi buruk tadi kini terasa berbeda, debaran ini terasa kaku, tidak nyaman, dan dipenuhi oleh rasa tidak rela ketika melihat gadis itu terluka karena tangannya sendiri. Sisi gelap mafianya yang biasa mengabaikan nyawa manusia mendadak lumpuh menghadapi air mata asisten pribadinya. Sean menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan lampion berdarah dari kepalanya. Dengan gerakan perlahan agar tidak kembali mengejutkan Sandra, Sean ikut duduk di atas lantai marmer, tepat di hadapan Sandra. Bingung harus memulai kata darimana, saat ia tak mengetahui cara berbicara y
Sandra membuka matanya perlahan, di dalam kegelapan kamar utama yang luas dan hanya menyisakan bias cahaya rembulan yang menerobos masuk melalui celah gorden yang tinggi. Ia bangun dari tidur lelapnya ketika samar-samar mendengar sebuah suara asing memecah keheningan malam. Suara erangan rendah yang sarat akan siksaan batin. Sebuah suara yang penuh keputusasaan, datang dari arah tempat tidur king-size di seberangnya. Itu suara Sean. Sandra menolehkan kepalanya. Di atas ranjang mewah di seberangnya, siluet kepala Sean tampak bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Napas pria itu pun terdengar memburu, pendek-pendek, dan terputus-putus seperti orang yang sedang kehabisan udara di tengah kepungan lumpur hisap. Sean sedang bermimpi buruk. Seorang mafia kejam, berdarah dingin, dan tak kenal takut yang siang tadi menjahit lukanya sendiri tanpa mengedipkan mata, malam ini tampak begitu rapuh dan tersiksa di balik selimutnya. Di dalam tidurnya yang kelam, kesadaran Sean terkun
Malam pun semakin larut, melingkupi mansion mewah itu dalam keheningan yang kaku. Di dalam kamar utama, lampu-lampu temaram dinyalakan, memantulkan bayangan di dinding marmer. Sean masih bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, menampilkan balutan perban putih di lengan kirinya yang kontras dengan warna kulitnya. Tatapannya yang tajam tertuju pada Sandra yang baru saja masuk dari dapur lantai bawah, membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. "duduk di sini," titah Sean, menepuk sisi ranjang di dekatnya. "Dan layani aku makan." Sandra menarik napas pendek, mencoba menekan egonya dalam-dalam. Dengan langkah anggun yang kaku, ia mendekat dan duduk di tepi kasur, menaruh nampan itu di atas pangkuannya. Ia menyendok bubur perlahan, meniupnya sedikit sebelum mengarahkannya ke depan bibir Sean. Ada yang aneh dari sikap Sean malam ini. Pria yang biasanya memancarkan aura predator yang dominan dan tak kenal takut, kini tampak melepaskan topeng be
Sandra membulatkan mata, tubuhnya menegang di kursi penumpang mobil hitam itu. “A-apa maksudnya, Bos?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar di antara dentuman pelan musik jazz yang mengalun dari speaker.Sean menoleh dengan senyum tipis,, senyum yang lebih mirip ancaman daripada ramah. “Kamu ngg
Membulatnya kedua mata Sandra. Sambil membekap mulutnya segera, bagaimana bisa ia tetap banyak tanya setelah diancam oleh Sean?"Mak-maksud saya."Tiga menit.Waktu kamu untuk bersiap siap nggak boleh lebih dari tiga menit." dinginnya ucapan Sean.Kian menghenyakkan hati Sandra yang semakin dia buat ter
Memejamnya kedua mata Sean. Menghindari muncratnya darah merah segar dari dahi penyusup yang berhasil dia lumpuhkan. Roboh seketika."Aisss," gumamnya lirih. Memasang wajah jengahnya, sembari mengusap muncratan darah di pipi dan juga hidungnya. "Tikus satu ini ya," gumamnya kesal. "Apa kamu ngga
"Rapikan ranjang itu dengan sempurna. Ganti spreinya dengan sprei ebony black." Suara bariton menitahkan. Menunjuk ranjang besarnya yang tampak berserakan. Jauh sekali dari kata rapi karena tiga ujung sprei tersingkap hampir ke tengah. Membulatkan kedua mata wanita cantik di depannya."Ya?" spontan







