Share

Chapter 4

Dia pikir, dia siapa?

Menyalahkan ku begitu saja, menghujat seperti itu. Tanpa ada rasa bersalah di dalam dirinya.

Aku melihat ke arah layar monitor, ada sekitar 7 pasukan bersenjata sedang berada di dalam lift. Dengan persenjataan yang sangat lengkap, aku benar-benar merasa telah dikhianati.

Sambil mengepalkan tangan, aku menengok ke arah belakang dan melihat mereka yang masih berdiri di sisi ku, walaupun mereka tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Lepaskan mereka." Perintah ku.

"Tapi jika kita melepaskan mereka maka...." Kata seorang wanita cantik yang mengenakan jubah putih, layaknya seorang ilmuwan. Namun sangat disayangkan, kata-katanya belum sempat dia selesaikan.

Kemudian aku menatap tajam ke arah mereka, sebelum akhirnya mereka semua pergi meninggalkan ruangan ini dan hanya menyisakan ku bersama wanita itu.

Padahal ini semua aku mulai dari nol, apa yang tidak aku tahu dulu. Yang sangat tidak nyata, tapi pada akhirnya aku berhasil meraihnya, aku telah mencoba terlalu keras dan terlalu jauh hingga akhirnya aku kehilangan semuanya.

"Aku tak ingin mengucapkan selamat tinggal," katanya dari belakang.

Kata-katanya barusan membuat ku menengok kearahnya.

"Aku juga tak ingin melihatmu mati malam ini." Lanjutnya sambil mengambil sebuah pistol dari balik sakunya.

Pistol berwarna biru itu bukanlah senjata yang mematikan, namun sangat menyakitkan jika kau bermain dengan senjata itu.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku sambil mulai berjalan secara perlahan kearahnya.

Dia mengangkat pistol itu dan mengarahkan tepat ke arahku, namun aku juga dapat melihat jika tangannya ikut bergetar.

"Tenang, tenanglah." Kataku yang berjalan semakin dekat dengannya.

"Maaf... Maafkan aku!" Katanya dengan nada ingin menangis.

(TREEEETTTT......)

(BRUK!)

"Sialan!"

Aku terbangun dengan sangat terkejut dan merasa jika mimpi itu terasa begitu nyata, kepalaku sedikit sakit, tapi tidak sesakit sebelumnya.

"Sialan." Umpatku ketika terbayang mimpi tadi.

Rupanya aku masih berada didalam lift yang sama, namun dengan keadaan pintu yang sudah terbuka dan berada dilantai lainnya.

Aku ingat jika sebelumnya ada sebuah boneka di sini, tapi sangat disayangkan jika boneka itu sudah menghilang dan hanya meninggalkan jejak dengan bercak darah.

"Jejak apa ini?" Tanyaku.

Jejak ini mengarah ke suatu tempat, tapi sepertinya lantai ini terlihat tidak bersahabat karena banyak sekali lampu berwarna merah yang berkedip-kedip.

Seperti tanda darurat, aku sangat yakin, jika aku sedang tidak berada di dalam gedung pencakar langit karena tidak menemukan sebuah jendela mengarah keluar.

Lorong demi lorong aku lewati sambil mengikuti jejak yang menurut ku berasal dari boneka beruang sebelumnya.

Sambil berjalan, aku mulai mengambil Walkie Talkie dari dalam saku celana dan menaruh kedua batu baterai yang aku temukan sebelumnya.

(Tit--------)

Hanya suara itu yang keluar, saat aku secara asal menekan tombol-tombolnya atau memutarnya.

"Apa ini rusak?" Pikiranku.

Tanpa pikir panjang, aku kembali menaruh Walkie Talkie ke dalam saku celana dan melanjutkan perjalanan ku mengikuti jejak ini.

Tidak lama berselang, jejak ini akhirnya berhenti didalam sebuah ruangan yang tertutup oleh dua pintu.

Untungnya pintu ini tidak terkunci dan kemudian di dalamnya, aku melihat sebuah ruangan yang sangat rapih dan terlihat ada sebuah Mannequin yang berjalan kearah ku.

"Seharusnya itu tidak dapat berjalan." Pikiran ku.

Matanya memancarkan cahaya berwarna biru muda, tapi anehnya aku tidak merasakan takut akan kehadirannya.

"Memindai." Suara itu muncul dari Mannequin itu.

Dia terlihat menatapku dari atas sampai bawah.

"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia robot?" Pikiranku.

"Kesalahan! Kesalahan! Kesalahan!" Demikian suara pecah yang mengerikan keluar dari Mannequin sebelumnya.

Mata birunya redup dan berubah kemerahan dan dia terlihat kehabisan daya, kemudian tidak bergerak lagi.

Aku mencoba menyentuhnya sedikit dan hanya merasakan dinginnya besi tanpa terjadi apa-apa, kupikir dayanya habis.

Kemudian aku melihat ruangan ini, banyak sekali lemari kaca yang berisikan kotak obat. Sebagian masih terisi dan sebagian lainnya terlihat kosong, sepertinya ini adalah ruang obat.

Banyak obat di sini, tapi aku tidak tau apa manfaatnya dan akhirnya hanya melihat-lihat saja.

(Zzzzz----)

Walkie Talkie ku berbunyi, padahal aku tidak menyalakannya. Ini terjadi saat aku ingin keluar dari ruangan dan berjalan melewati Mannequin ini.

Aku melihat kearahnya dan tangannya sambil memegang sesuatu, seperti sebuah flashdisk. Di mana itu tertulis "Error".

"Mungkin, aku harus menyimpan ini didalam saku celana." Pikir ku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menjelajahi satu tempat ke tempat yang lain dan hanya merasa bahwa setiap ruangan di sini adalah gudang, banyak sekali barang tidak berguna dari ruangan penuh sampah hingga ruangan penuh barang bekas.

Kemudian, tibalah aku pada ruangan yang cukup bersih. Seperti tempat pemantauan CCTV atau tempat keamanan lebih jelasnya.

Di sini hanya ada komputer dan lampu yang menyala terang, kupikir aku bisa menggunakan komputer ini untuk membuka flashdisk.

Jadi, aku menyentuh keyboardnya dan tidak terjadi apa-apa. Apa ini mati, atau mungkin jika memang aku salah.

"Ah iya aku harus menyalakan CPUnya." Kata ku saat teringat cara mengoperasikannya.

Beruntung, komputer itu masih dapat menyala. Kini di depan layar monitor muncul gambar dari CCTV yang masih merekam secara langsung.

Setiap sudut ruangan dan setiap tempat, semua terlihat dengan jelas dari layar itu. Maksudnya tidak semua tempat, hanya beberapa tempat yang bahkan aku tidak tau itu di mana.

Selanjutnya aku langsung mencoba flashdisk yang bertuliskan "Error" dan mencari tau apa sebenarnya isi dari flashdisk ini, semoga bukan video yang aneh di dalamnya.

Setelah menunggu cukup lama saat komputer sedang membaca isi flashdisk itu, tiba-tiba layar komputer menjadi gelap.

Dan sebuah video terputar.

"Ketika virus sudah menginfeksi seluruh manusia di muka bumi, kami berlindung dibawah tanah." Demikian kata seorang dokter bermasker itu.

"Kami mencoba membuat banyak robot untuk membantu di sini, sangat disayangkan. Sebagian terkena virus malware yang bahkan kami tidak tau dari mana asalnya." Jelasnya dengan video yang mulai buram.

"Mereka menjadi mesin pembunuh, yang membunuh semuanya. Benra---"

"Jangan pernah mendekati mereka yang bermata merah! Jangan pernah!" Teriaknya histeris.

"Jika kau punya alat komunikasi seperti layar smartphone yang error cobalah untuk bersembunyi sampai layar itu kembali normal. Atau jika kau punya alat komunikasi seperti Walkie Talkie yang berbunyi saat dimatikan maka bersembunyilah."

"Kau tidak dapat melawan mesin! Sekarang mesin akan melawan kehendaknya! Dan kau hanya bisa bersembunyi!"

Kemudian video berhenti dan sekarang hanya ada video CCTV yang sedang merekam secara langsung.

Menurut ku, aku harus waspada terhadap mesin, maksudku adalah robot.

Jika video itu benar, maka sekarang kemungkinan aku berada dibawah tanah. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?

Percuma mengingat-ingatnya, aku tidak mendapatkan apapun kecuali kepala yang sakit.

"Cih!"

Seketika layar monitor berubah menjadi merah dan video CCTV yang sebelumnya terurai oleh beberapa bagian itu mulai fokus ke salah satu, sepertinya layar fokus ke video yang bergerak.

Aku melihat di video pertama ada sebuah Mannequin di lorong yang gelap, video berikutnya aku melihat beberapa barang yang jatuh dari meja.

"Dan video ku, diruang ini. Haha lucu sekali." Kataku.

Kini video kembali fokus ke arah Mannequin itu, matanya terlihat bersinar berwarna merah yang menyala.

Dia berjalan secara berlahan dan jika diperhatikan sepertinya aku melihat di lorong itu ada sebuah ruangan, terlihat dari pintunya yang terbuka sedikit dan didalamnya ada cahaya.

Mannequin itu semakin mendekati ruangan itu dan kini layar monitor ku mulai error.

"Tunggu dulu...."

"SIALAN!!" Umpatku.

Sepertinya Mannequin itu berada didekat ruangan ku, sekarang aku dalam keadaan panik dan langsung bergegas ke pintu keluar untuk bersembunyi.

Berharap dia tidak masuk, karena aku benar-benar berada dibelakang pintu ruangan. Satu-satunya jalan keluar dan tempat untuk bersembunyi.

"Ayolah! Ayolah! Pergi dari sini." Pikirku.

Sekarang Walkie Talkie ku mulai berbunyi cukup keras dan aku berusaha untuk meredam suara itu dengan memeluknya ke arah badan.

Pintu secara berlahan terbuka dan--

"Apa?"

Walkie Talkie ku sudah kembali normal sambil melihat dari kejauhan layar monitor juga kembali normal, sekarang aku menutup rapat-rapat pintu ruangan dan kembali mendekati monitor.

Memastikan bahwa dia tidak ada didekat sini.

Setiap video CCTV aku amati dengan baik dan tidak menemukan tanda-tanda adanya Mannequin itu, lagi, lagi, dan lagi.

Aku memastikan setiap slide video CCTV.

"WOAH!"

"Bangsat!"

"Sialan!"

Arggh, aku benar-benar terkejut melihatnya. Aku terlalu fokus dan akhirnya benar-benar terkejut.

Kini aku takut menatap layar monitor itu lagi, apalagi untuk mengintipnya.

Saat melihatnya lagi, dia sudah tidak ada. Monster dengan senyuman jahatnya sudah tidak ada.

Sekarang aku dapat bernafas lega, sangat lega. Bersyukur jika dia tidak selamanya menatap CCTV.

Aku benar-benar syok melihatnya.

(CLEK)

Seketika seluruh listrik padam, beruntung ruangan ini berwarna putih dan aku masih dapat melihat sedikit dengan pantulan warna ini.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju kearah pintu.

Dan aku mendengar suara rantai besi yang diseret diluar.

Suara itu terkesan menjauh dan aku hanya bisa memastikan jika aku mengintip dari balik pintu ini.

Sialan, bahkan aku tidak dapat melihat apa-apa dari balik pintunya.

Tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari ruangan ini, sambil berjalan dengan memegang tembok untuk mendapatkan petunjuk arah.

Sekarang aku berjalan dan terus berjalan, aku rasa aku tidak melewati tempat yang sama atau mungkin saja ini bukan tempat yang sama.

Lorongnya terlihat sama saat gelap dan deru nafasku terdengar mengerikan, jadi hanya itu yang menemaniku di tempat yang sunyi ini.

(Dug Dug Dug)

Aku mendengar suara langkah kaki besar di depan, mengarah kesini.

Aku berlari mencari ruangan untuk bersembunyi dan semakin lama suara itu semakin mendekat, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke arah ruangan tanpa pintu.

Dan bersembunyi disana, suara itu hilang dan listrik kembali menyala.

Jantungku masih berdegup kencang.

Ketika aku melihatnya, aku teringat dengan kata slenderman. Namun ini lebih nyata, tapi apa dia melihat kearah ku?

"Semoga tidak! Semoga tidak! Semoga tidak!" Pikiranku.

Dia kemudian pergi dari pintu entah kemana dan aku langsung bergegas keluar dari ruangan ini untuk mencari liftnya.

Kenapa lantai ini susah sekali untuk menemukan liftnya.

Aku berlari dan terus berlari, berharap secara cepat menemukan pintu lift berwarna putih itu dan pergi dari sini.

Tapi aku merasakan sebuah pintu kayu besar yang terlihat aneh dari kejauhan, pintu itu berbeda namun juga memiliki kesan menakutkan.

Secara perlahan aku membuka pintu itu dan mengejutkan rupanya ini adalah lift, juga ada sebuah boneka beruang didalamnya.

Memiliki warna coklat dan terlihat bersih, berbeda dari sebelumnya.

Kemudian aku langsung menekan tombol liftnya dan beristirahat didalam, mengambil boneka beruang itu dan memangku nya.

"Huh, betapa lucunya ini." Kataku.

(Mau melihat keajaiban?)

Itulah tulisan dari kertas yang tertempel dibelakang boneka itu, tapi aku tidak tau maknanya.

Aku menekan-nekan boneka itu dan menemukan sesuatu yang keras didalamnya, kupikir aku harus membukanya dan mengeluarkan kapas lembut dari dalam boneka ini.

(Stret)

Boneka ini sudah tidak terlihat mirip seperti sebelumnya, hanya kapas putih yang berantakan didalam lift.

Didalam aku menemukan sebuah walkie talkie, dengan batu batre yang kosong dan terlihat masih baru.

Sepertinya aku memang harus mencobanya, untuk melihat keajaiban apa yang akan terjadi.

(Zzzz--)

Sekarang suara yang menyeramkan muncul setelah aku memasang kedua batu batre kedalamnya.

Dan rupanya kekhawatiran ku benar-benar terjadi, liftnya belum jalan dan aku merasa bahwa diluar pintu kayu lift ini ada sebuah masalah.

(TING!)

Lonceng lift kemudian berbunyi dan lift mulai bergerak, sekarang walkie talkie ku tidak berbunyi seperti itu lagi.

"Huh...."

"Akhirnya."

Aku bisa jauh dari rasa khawatir dan tidak tau apa yang akan menungguku dilantai berikutnya, jadi aku hanya bisa menyalakan Walkie Talkie ini dan menunggu sesuatu.

Setidaknya aku masih bisa berharap untuk keluar dari sini dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status