로그인Gamma Tyrell (Ty) Cloudwater is a loyal footsoldier to King Aidan, he was killed along with Drax and Aidan in a coup by their best friend and blood-brother over a thousand years ago. These events led to him being reborn as one of the most powerful Supreme Beings with Aidan and Drax. Their mission is to keep the supernatural in line to maintain peace. On his journey expanding from revenge to love, he had to make a sacrifice in order to kill an evil entity, one he will regret or will he? Follow Gamma Ty as he seeks to find his way back from hating the woman who cost him something he was destined to have. Will he continue to hate her or will they eventually fall in love? The relationship is also polyamorous The book can be read as a standalone but it is wise to read books 1, 2, and 3 for context
더 보기“Ahh… sakit, Pak…” rintih gadis itu setengah sadar, suaranya serak dan hampir tak terdengar. Tubuhnya sedikit meliuk, berusaha menjauh dari rasa perih yang menusuk.
“Maaf, saya akan pelan-pelan,” ujar sang pria dengan suara tenang, meski sorot matanya jelas menyimpan kegelisahan. Reihan kembali duduk di samping Alya, menahan kain kompres di lengan gadis itu sambil berusaha menjaga tangannya tetap stabil. Dari dekat, kondisi Alya benar-benar memprihatinkan. Ia terbaring lemah dengan pakaian robek, sementara Reihan menunduk di atasnya. Dilihat sekilas, posisi itu bisa menimbulkan salah paham. Tapi kenyataan di baliknya jauh lebih gelap. Beberapa menit sebelumnya, Alya dibegal di jalanan sepi dekat kampus. Motor dan ponselnya dirampas, dan para pelaku sempat menyeretnya ke semak gelap untuk melecehkannya. Beruntung, Reihan sang dosen muda sekaligus kepala prodi di kampus Alya kebetulan lewat dan menghentikan mereka sebelum terlambat. Karena shock dan luka yang cukup parah, Reihan membawa Alya ke rumahnya yang paling dekat. Sekarang, jam hampir menuju angka 10, di ruang tamu remang dengan udara dingin menusuk, Reihan berusaha merawatnya sebisanya. Alya mencoba membuka mata, tapi pandangannya berputar. Napasnya tersengal, tubuhnya hampir tidak sanggup bergerak. Reihan menatap sobekan besar di baju bagian bahu gadis itu. Kain hangat di tangannya terhenti. Reihan menarik napas pelan, berusaha tetap tenang meski rasa khawatirnya jelas terlihat. “Alya…” panggilnya pelan. Gadis itu hanya memberi respons berupa gerakan mata, seperti anggukan kecil yang hampir tak terlihat. Reihan menelan ludah, suaranya tetap datar meski pikirannya penuh kekhawatiran. “Bajumu… sudah terlalu kotor dan sobek. Kita harus ganti. Kalau tidak, lukamu bisa makin iritasi.” Alya tidak menjawab. Hanya diam, tubuhnya sedikit bergetar karena dingin, juga rasa terkejut yang masih belum sepenuhnya hilang. “Alya … kamu dengar saya?” Reihan menunduk sedikit, memastikan gadis itu benar-benar sadar. Alya akhirnya mengangguk perlahan. “Saya gak ada baju ganti, Pak.” Reihan bangkit, pandangannya masih fokus pada Alya yang setengah melamun. “Saya pinjami baju saya, tunggu sebentar. Kamu minum dulu tehnya ya.” Reihan berbalik dan pergi ke arah kamar, dan begitu pria itu hilang di balik lorong, Alya menarik napas pelan dan mencoba bangun sedikit. Setelah mencoba beberapa kali dengan tenaga seadanya, akhirnya Alya berhasil duduk lebih tegak. Tangan gemetarnya meraih cangkir teh di meja. Saat menyesapnya, kepalanya sedikit tertunduk. Matanya kosong, masih memantulkan shock yang belum benar-benar hilang. Teh hangat itu membantu, tapi hanya sebatas membuat tenggorokan tidak terlalu kering. Tak sampai satu menit, suara langkah Reihan kembali terdengar. “Alya, saya cuma ada kaos dan celana training,” ujar Reihan sambil memberikan pakaian itu. “Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan.” Tanpa banyak basa basi, Alya menerimanya. “Saya pinjam toilet sebentar ya, Pak.” Alya mencoba berdiri, tapi lututnya langsung goyah. Ia buru-buru memegang sandaran sofa, napasnya pendek. Reihan refleks maju, tangannya menahan lengan Alya sebelum gadis itu sempat jatuh, lalu berkata singkat, “Saya bantu.” Alya mengangguk pelan. Saat ini, ia seolah telah melupakan status mahasiswa dan dosen itu karena kondisi tubuhnya. Jika tidak, sudah pasti ia tidak akan berani seperti ini dengan dosennya. Mereka berjalan perlahan menuju toilet. Tangan Reihan masih terus menahan bahu Alya, seolah memberi topangan pada tubuhnya yang lemas. Di depan pintu, Reihan berhenti. “Kalau mau bersihkan badan, di dalam ada air hangat. Kalau pusing atau butuh bantuan, panggil saya,” katanya, suaranya tetap tenang meski jelas masih menahan cemas. Alya memeluk pakaian ganti itu erat-erat. “Iya, Pak… terima kasih.” Reihan mengangguk sedikit, lalu mendorong pintu toilet terbuka untuknya. Di dalam, Alya menatap cermin sambil melepas bajunya perlahan. Tubuhnya penuh memar, rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya masih kosong menahan shock. Alya menghela napas pasrah, lalu mulai membersihkan tubuh seadanya. Begitu selesai, ia langsung memakai pakaian yang diberikan oleh sang dosen. Pakaian itu menggantung longgar di tubuhnya, tapi justru membuatnya merasa sedikit terlindungi, ketimbang bajunya sebelumnya yang telah robek. Sejenak Alya merasa bersyukur karena ia masih selamat dari kejadian itu. Meskipun rasanya sulit dipercaya karena yang menolongnya justru dosen yang terkenal dingin, berwibawa, dan menjaga jarak interaksi dengan semua mahasiswanya. Setelah selesai, Alya melangkah keluar dari toilet dengan napas yang masih berat. Namun baru satu langkah, ia langsung terhenti kaku. Beberapa warga berdiri memenuhi ruang tamu, wajah-wajah mereka penuh kecurigaan. Pembicaraan langsung mengarah padanya, menusuk tanpa ampun. “Nah itu, perempuannya bahkan sudah pakai bajunya Pak Reihan. Kalau sudah begini, mau alasan apa lagi, Pak?” seru seorang pria, alisnya terangkat sinis saat melihat Alya yang mengenakan kaos kebesaran milik Reihan. “Sudahlah, Pak. Banyak warga lihat bapak gendong perempuan itu masuk rumah tengah malam,” timpal yang lain. “Bapak ini dosen, apa nggak malu?” “Pak Reihan, lebih baik terima saja konsekuensinya,” suara yang paling lantang itu akhirnya keluar dari pria berperut buncit yang berdiri di tengah kerumunan. Pak RT. Wajahnya tegang, nada bicara menggurui. “Kalian harus dinikahkan. Kalau tidak, nama komplek ini yang tercemar.” Reihan menghela napas panjang, tapi belum sempat bicara, Alya langsung menegakkan tubuhnya dan berjalan sedikit terseok ke arah ruang tamu meski lututnya masih lemah. “Tidak!” suaranya pecah, namun tegas. Semua kepala langsung menoleh padanya. “Sa–saya dan Pak Reihan tidak berbuat mesum!” bantah Alya lagi, kedua tangannya meremas ujung kaos kebesaran yang ia pakai. “Saya habis dibegal dan hampir dilecehkan, lalu … Pak Reihan menolong saya …” Namun, tatapan warga itu sama sekali tak menunjukkan rasa percaya. “Kalau memang dibegal, harusnya dibawa ke rumah sakit atau kantor polisi. Bukan malah ke rumah laki-laki yang bukan siapa-siapanya,” sahut ibu-ibu berkerudung ungu, matanya menatap Alya tajam dari atas ke bawah. Seorang lelaki tua yang sedari tadi menatap kaos kebesaran di tubuh Alya dan kemeja sobeknya yang tergeletak di sofa menggeleng pelan. “Beginilah jadinya kalau sudah malam-malam bawa perempuan, lalu perempuan itu pakai baju Bapak. Orang mau percaya dari mana?” Pak RT mengangkat tangan, menyuruh semua diam. “Pokoknya sudah jelas. Untuk menjaga nama baik komplek ini, kalian harus dinikahkan. Tidak ada opsi lain.” Alya membeku. Napasnya terputus-putus, tubuhnya sempat goyah. “Pa—Pak… itu nggak benar…” bisiknya, hampir menangis. Reihan akhirnya berdiri lebih dekat, memberi jarak antara Alya dan kerumunan. “Kita nggak bisa menang lawan mereka, Alya,” ujar Reihan dengan suaranya rendah. “Semakin kita bantah, semakin mereka yakin kita menyembunyikan sesuatu. Warga sini memang keras.” Alya menggeleng kecil, napasnya patah, “Tapi… Pak… kita nggak…” “Saya paham, tapi sekarang kita gak bisa berbuat apa-apa,” sahut Reihan lagi, tapannya tampak serius ke arah Alya. “Alya… untuk sekarang, kita ikuti dulu kemauan warga. Nggak apa-apa ya?” Alya terpaku. “Maksudnya… kita harus… menikah?” Reihan menarik napas panjang, lalu akhirnya menjawab dengan tegas, “Ya. Itu satu-satunya cara biar keadaan nggak makin kacau.”Supreme Delta Toffe Cloudwater has had a rough start after being released from prison, he tried to kill his brother's murderer which is what landed him in prison, he was imprisoned for over a thousand years since his brother's demised along with King Aidan and Drax in a coup by their best friend and blood-brother. These events made him more determined to prove his loyalty to his family as he felt like he had let them down when they died. The Supremes are known to be mated to two mates to appease their wolf and vampire but Toffe is still without his second destined mate years later. After a brief fling and one night in the heat of passion with a warrior he cared about, he ended up with a son but certain circumstances made her runaway unknown to him. Follow Delta Toffe as he seeks to find the reason why he hasn't found his second mate or has he? Will his unknown son forgive him for not being around all these years? Will he forgive his second mate for disappearing on him and mating som
(Sexual Content) One Year Later Sheila It's been a year since Vivianne's death and things have quieted down in the Realm, I had my son a few months back and his name is Milo. The moon goddess came to me before he was born and told me she was sending my son back and he would be my firstborn, I woke up happy and told Ty, and he was the happiest ever. Rusev was more than happy to have his son back, we eventually took the original remains of Kiev, Vlad, Davien, Rusev, Jade, and baby Milo and put them in the Valley of the Kings in their coffins and had them sealed. Their resting place was part of the showroom behind magic-proof glass where visitors could see their names above each coffin and people showed their respect daily. The magic from the remains has been locked inside the room and no one can feel it from the outside or draw from it. My son was asleep in his cot on the patio as I was reading a book keeping an eye on him and I heard a link coming through saying, "How is daddy's lit
Johrir I went to my kids and took them to meet Elijah and hopefully, Amara when she returned to Ravena, I had explained to them what happened to me but they didn't believe me so I had Toffe show them everything. Jocque cried but he was willing to accept it, Jonas wanted the proof for himself, he never wanted to believe his mother was this evil witch everyone was afraid of. After meeting with their older brother, Varek, and explaining everything to them, it was not adding up in their brains so we brought them with us so they could see their mother in action for themselves, Malia was shocked but joined us. The car ride to the cabin area was silent, I could feel my children's nervousness, they loved their mother and could not understand what we were talking about, I felt Jonas angry at me, he didn't believe me so he was the one I needed to convince more than ever. We made it over in good time and Mace was talking to his father, the boys knew each other from school and Mace kept them wit
Vivianne It was late evening and I had just risen from a brief nap, Johrir had tired me out earlier since the kids were camping with friends later that night. I smiled and linked him, and he said he loved me and would be working late, I told him I loved him too and I remained in bed, I was looking for a movie when a link came through and it was Rusev. "Viv, we need to talk, I will give you my seed if you promise to leave us alone for good," he said. I jumped up and said, "Name a place and we can have a little fun," he told me to meet him at the lake house on the pack's property, it would be isolated and we could handle business there. However, did he think I was going to show up by myself? I contacted my four anchors that would keep him at bay so he would not harm me, I was prepared for this moment. Once I have his child, I will be able to be immortal and have all the power I need to stay young, beautiful, and powerful. I jumped in the shower and wore a nice dress with a pair of blac
Two Weeks Later Ty I have been with Sheila at our private cabin helping her control her blood lust, something was in the bullets that sent her hunger crazy, the enemy wanted her to hurt our people so they would rise against her. She was not the most popular mate and that is partially due to the way
Sheila/Jade I have been still getting threatening letters and I hid them from Ty, he has too much to deal with on his plate and I will handle this myself, I went for a run and Meadow was enjoying the greenery around the palace. We felt so at peace and I lay down next to the lake letting the wind blo
(Sexual Content) Sheila I went over to finally talk to Elijah, Jade was ready to talk to him, he hadn't come to me as yet and I hoped that he would but Jade was excited to know that Johrir at least lived and had a family. Elijah wasn't in his office, he was in a meeting so I was waiting for him, I s
One Month Later Mace It was a long weekend and I was not staying in the dorm, so I went home, my mother was expecting me. Hannah had decided to work in the library as she finds peace in reading and History. I guess she wanted to learn everything about Ravena, she has been learning to control her mag
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.