Share

Bab 64

Penulis: Irma W
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-05 18:58:26

Bab 64

Suara Liam terdengar lemah, nyaris parau, namun garis rahangnya mengeras jelas—sebuah kontradiksi yang mencolok. Tatapannya mengunci Sabrina, tajam tapi tak fokus sepenuhnya, seolah pikirannya terpecah di antara kesadaran dan sesuatu yang lebih gelap. Seluruh tubuhnya gemetaran seperti dilanda dingin yang menusuk tulang, padahal dari jarak sedekat ini Sabrina justru merasakan panas yang menyengat dari kulit pria itu.

Sabrina hendak maju selangkah, nalurinya memerintah untuk mendekat, nam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 102

    Bab 102Lampu-lampu di halaman motel memancarkan cahaya kekuningan yang temaram. Bangunan satu lantai itu tampak tua, cat dindingnya mulai kusam dimakan waktu. Di sampingnya, sebuah minimarket kecil masih terang benderang—satu-satunya tanda kehidupan di tengah jalan lintas yang lengang pada jam dini hari.Di seberang jalan, pom bensin masih beroperasi. Beberapa kendaraan besar terparkir rapi, pengemudinya berdiri sambil menunggu giliran, wajah-wajah lelah yang terlalu akrab dengan perjalanan panjang.Mobil mereka berhenti. Bill turun lebih dulu, menutup pintu dengan hati-hati sebelum melangkah menuju lobi motel untuk memesan kamar.Sementara itu, Liam dan Sabrina melangkah ke arah minimarket.Pintu kaca terbuka dengan bunyi ting pelan. Udara dingin langsung menyergap kulit, bercampur aroma plastik, kopi instan, dan roti kemasan. Lampu neon putih memantul di lantai keramik yang mengilap.Mereka menyusuri lorong-lorong sempit di antara rak etalase, menenteng keranjang belanja yang masih

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 101

    Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku    Bab 100

    Bab 100Liam dan Bill telah menempuh hampir seperempat perjalanan menuju panti yang menjadi tempat tinggal Bibi Ellen. Mobil hitam itu melaju stabil di jalur antarkota, meninggalkan deretan gedung tinggi dan hiruk pikuk pusat bisnis. Udara terasa lebih lembap, langit mendung menggantung rendah seolah menyimpan firasat yang tak nyaman.Namun, sebelum benar-benar keluar dari batas kota, barikade polisi lalu lintas menghentikan laju mereka.Beberapa mobil di depan bahkan terlihat memutar balik, klakson bersahutan, suasana mendadak kacau.“Ada apa ini, Bill?” tanya Liam, tubuhnya condong ke depan, dahi berkerut.“Saya kurang tahu, Tuan,” jawab Bill singkat, matanya waspada menatap ke depan.Seorang polisi menghampiri. Bill segera menurunkan kaca mobil dan sedikit menyembulkan tubuhnya keluar. Polisi itu memberi hormat singkat sebelum berbicara.“Mohon maaf, Tuan. Perjalanan Anda terganggu,” ucapnya sopan. “Beberapa pohon tumbang akibat hujan semalam. Jalan utama tidak bisa dilalui. Kami a

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 99

    Bab 99Sabrina menggenggam kunci apartemen itu agak terlalu erat. Apartemen milik Amanda—tempat yang dulu dihuni sahabatnya sebelum pindah ke rumah Jonas—kini menjadi pelabuhan sementaranya. Satu ruang singgah bagi hidup yang mendadak tercerabut dari akarnya.Amanda dan Jonas masih bertunangan. Secara logika, seharusnya mereka belum tinggal seatap. Namun keluarga mereka tampaknya memilih menutup mata. Mungkin karena persiapan pernikahan yang kian dekat, mungkin pula karena kelelahan menghadapi aturan yang terlalu banyak. Sabrina tak pernah benar-benar tahu—dan saat ini, ia juga tak cukup peduli untuk bertanya.Pikirannya sudah terlalu penuh.Sejak meninggalkan restoran tadi, bayangan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Di meja makan yang tidak pernah hangat sejsk awal, Sabrina hanya membicarakan satu hal: bagaimana ia “dibebaskan” dari rumah yang selama ini ia sebut rumah.Amanda terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya lebih tenang, lebih terukur—seakan sebagian dirinya me

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 98

    Bab 98Sabrina meringis getir sambil menyeret koper besarnya menjauh dari rumah itu. Roda koper berdecit lirih di atas aspal kompleks, bunyinya terdengar menyakitkan—seolah ikut memprotes nasibnya. Ia berhenti sejenak di ujung gerbang, menoleh ke belakang.Bangunan berlantai dua itu berdiri tenang, terlalu tenang. Rumah yang biaya sewanya dilunasi Liam. Rumah yang sempat memberinya ilusi tentang “pulang”.Dan kini, rumah itu pula yang menutup pintunya.Lucu.Atau mungkin menyedihkan.“Kenapa mereka mendadak mengusirku?” gumam Sabrina pelan.Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang menyapu pepohonan di sepanjang jalan, membuat dedaunan kering berjatuhan di kakinya. Sabrina menunduk, kembali melangkah, bahunya sedikit membungkuk menahan berat koper—dan berat di dadanya.“Mereka melupakan jasaku begitu saja,” desisnya. Nada suaranya mengeras, getir. “Menyebalkan sekali.”Tangannya mengepal di gagang koper. Rahangnya mengencang.“Lihat saja,” lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 97

    Bab 97Ruangan itu dijaga pada suhu sedang, namun ketegangan membuat udara terasa menekan, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Karpet tebal meredam langkah, tirai berat menutup cahaya siang, dan meja kerja besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya batas tak kasatmata antara dua generasi yang kini saling berhadapan.Jacob duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya tidak ada di jadwalnya hari ini. Liam duduk berseberangan, sikapnya santai di permukaan, namun bahunya sedikit menegang, rahang mengeras setiap kali Jacob menggeser posisi duduk.Seharusnya Jacob sudah kembali ke ruang rapat, menemui klien yang ia tinggalkan. Namun kehadiran Liam memaksanya menunda segalanya.“Sepertinya ada hal penting,” ucap Jacob akhirnya, suaranya rendah dan terukur.Liam berdehem. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan bertumpu pada sandaran, seolah ingin terlihat santai—padahal matany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status