LOGINAku pernah berlari demi cinta. Dan aku juga pernah jatuh karena cinta yang sama. Suatu hari aku mengerti… Bahwa restu bukan hanya izin, tapi perlindungan. Dan seseorang yang dulu kupilih dengan mata tertutup, akhirnya harus kulepaskan dengan mata terbuka.
View More"Pokoknya kamu nggak boleh menikah dengan laki-laki itu!" tegas seorang lelaki paruh baya pada putrinya, suaranya menggema memenuhi ruang keluarga.
"Tapi yang aku mau cuma dia, Pa! Aku nggak mau menikah sama orang lain selain dia!" balas Reina, meninggikan suara. Pipinya memerah, bukan karena malu, tapi karena emosi yang menumpuk sejak sore tadi. "Sudah, stop!" suara Hana, ibu Reina memotong pertikaian keduanya. Wanita itu berdiri di antara suami dan putrinya, seolah tubuh kurusnya mampu menghentikan pertikaian yang sudah berkali-kali terjadi. Malam yang tenang berubah panas di rumah keluarga Aksa. Bau wangi diffuser lavender yang biasanya menenangkan bahkan tidak mempan meredakan suasana. Ketegangan seperti asap pekat yang menempel di dinding, sulit hilang. Ini bukan pertama kalinya Reina Clarista dan ayahnya saling serang argumen. Keduanya sama-sama keras, sama-sama tidak mau kalah. Walaupun Hana mencoba menengahi, pertengkaran itu justru makin memanas. Reina melipat kedua tangan, memalingkan wajah, sedangkan Aksa berdiri dengan napas memburu, rahangnya mengeras. "Jangan hentikan Papa, Ma! Papa nggak mau anak kita salah arah!" seru Aksa dengan mata tajam menatap Reina. "Aku nggak akan salah arah, Pa! Papa aja yang nggak mau kenal Kalandra! Dia laki-laki yang baik!" Reina balas menatap tak kalah sengit, matanya berkaca-kaca meski ia mati-matian menahannya. Hana memijit pelipisnya. “Sudah, Pa, Rei! Mama pusing. Setiap kumpul selalu bertengkar begini.” "Kamu juga, Rei,” lanjut Hana, kini menatap putrinya tajam, “Dengerin kata Papa kamu kali ini saja, kenapa sih?" “Masih banyak laki-laki yang lebih baik daripada dia, Nak…” ucapnya lagi, kini dengan nada yang lebih lembut, namun tetap jelas menunjukkan ketidaksetujuannya. “Aku nggak mau, Ma! Aku cuma mau Kalandra!” tegas Reina, suaranya bergetar menahan amarah serta kecewa atas perkataan dari keluarganya itu. “Tapi nak—” "Ck! Ternyata Mama sama saja kayak Papa!" potong Reina dengan helaan napas kesal. Ia berdiri mendadak, kursi sedikit bergeser membuat suara berdecit tajam. "Kalian berdua nggak akan pernah ngerti perasaan aku!!!" Reina melangkah pergi dengan cepat. Aksa yang melihatnya pun berusaha menahan kepergian sang putri, “Papa belum selesai, Reina!!” Tapi Reina sudah tidak peduli. Ia setengah berlari menuju tangga, ingin menjauh dari suara-suara yang membuat dadanya terasa sesak. "Anak itu!" geram Aksa, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Sudah, Pa… sabar," ujar Hana sambil mengusap punggung suaminya. Kebiasaan lama yang selalu ia lakukan ketika Aksa mulai terpancing emosi. Aksa menghela napas panjang, mencoba menetralkan amarahnya. Hatinya tidak sepenuhnya marah, akan tetapi lebih pada takut. Takut keputusan Reina menghancurkan hidup putri sulung yang ia sayangi sejak kecil. "Kalandra bukan laki-laki yang baik, Ma," gumam Aksa lirih, nada suaranya berubah menjadi kekhawatiran tulus. “Papa nggak mau anak kita hancur karena laki-laki itu,” "Mama juga nggak setuju, Pa," jawab Hana. "Besok coba Papa bicarakan lagi sama Reina. Siapa tahu besok dia sudah lebih tenang dan mau mengerti alasan kita," lanjut Hana, menepuk tangan suaminya pelan. "Iya, Ma... besok pulang kerja Papa coba bicara lagi." akhirnya Aksa menyerah untuk malam itu. Untuk meredakan ketegangan, ia mengganti saluran televisi dari berita ke drama komedi, tapi bahkan tawa dari TV pun tak mampu mengisi kekosongan suasana. . Reina menaiki tangga dengan langkah lebar. Setengah jalan, ia bertemu adiknya, Iva Lovania. Gadis manis berusia delapan belas tahun. “Mau ke mana, Kak?” tanya Iva polos. “Tidur.” Jawab Reina singkat tanpa menoleh, membuat Iva mengerucutkan bibir. “Jutek banget… pasti habis berantem lagi sama Papa,” gumam Iva sambil berlalu ke dapur. . Sampai di kamar, Reina langsung mengunci pintu. Tekanan di dadanya seakan pecah begitu pintu tertutup rapat. Ia berjalan ke depan lemari besar, menatap bayangannya di cermin. “Gue nggak mau menikah sama orang lain…” bisiknya pelan tapi tegas. “Gue harus pergi dari sini. Gue harus.” Air matanya akhirnya jatuh, sesuatu yang tadi ia tahan di depan orang tuanya. Dengan tangan gemetar namun mantap, ia menarik dua koper besar dari bawah ranjang. Dia mulai memasukkan pakaiannya, dokumen penting, dan barang-barang berharga ke dalamnya. “Sayang… tunggu aku.” ia berbisik sambil membayangkan wajah Kalandra. “Aku bakal lakuin apa pun demi kita.” Suasana kamarnya menjadi saksi dari keputusan paling nekat dalam hidupnya. . Sementara itu, Iva menuju ke ruang keluarga sambil membawa segelas air. Ia duduk di antara ayah dan ibunya. “Kakak kenapa, Ma?” “Biasa,” jawab Hana sambil mengusap rambut Iva. “Dia menolak kalau disuruh menjauh dari kekasihnya.” “Kenapa sih Kak Rei nggak mau? Banyak cowok tampan di luar sana,” celetuk Iva tak memahami rumitnya hubungan orang dewasa. “Kakak kamu itu keras kepala. Susah dibilangin!” kali ini Aksa menjawab dengan nada sedikit geram. Iva memutar mata, kemudian duduk berpindah ke kursi lain. “Apa sih bagusnya cowok itu? Kerjaan aja nggak jelas. Bahkan kalau jalan, selalu Kakak yang bayarin. Cowok nggak punya modal banget! Tapi herannya Kakak masih mau sama model begitu!” Hana menghela napas. “Kakak kamu udah dibutakan cinta, Va. Dia nggak bisa bedain mana yang baik dan buruk.” “Nanti kalau kamu cari pasangan, jangan kayak Kakak kamu, ya?” pesan Hana lembut. “Pasti, Ma!” jawab Iva penuh percaya diri. Aksa menambahkan, “Status orang itu di bawah kita nggak apa. Tapi dia harus mau usaha buat bahagiain kamu. Jangan kayak pacar Kakak kamu itu, maunya dibahagiain sendiri.” Nada Aksa mengeras lagi saat ia melanjutkan, “Lihat sendiri kan? Ketemu Papa aja dia nggak berani. Apa bagusnya laki-laki pengecut begitu?” "Sudah, Pa," Hana kembali mencoba meredakan. “Jangan diingat lagi.” Iva terdiam. Dari wajah ayahnya, ia tahu topik ini sensitif bagi keluarga mereka. “Oh iya Va, gimana sekolah kamu?” Hana mencoba mengalihkan. “Baik kok Ma. Nggak ada masalah. Mungkin besok aku pulang sore lagi,” “Nggak apa-apa. Yang penting tetap semangat dan belajar sungguh-sungguh.” Balas Hana dengan senyum lembut, dan dijawab anggukan oleh Iva. . Di kamar atas, Reina menutup koper pertamanya dengan suara klik yang tegas. Sekali lagi ia menatap seluruh isi kamarnya: dinding warna pastel, foto-foto dirinya sejak kecil, dan ranjang empuk yang selama ini selalu menghangatkannya. Ruang itu terasa seperti tempat yang akan ia tinggalkan selamanya. Tangannya terhenti pada foto keluarganya di meja kecil. Wajah kecil Reina tersenyum diapit ayah dan ibunya yang bahagia. Satu detik, dua detik… lalu foto itu ia masukkan perlahan ke dalam tas. Walau ia marah, ia tetap mencintai mereka. "Maaf, Pa… Ma..." bisiknya lirih. “Tapi kali ini aku pilih dia.”Pukul dua belas malam, pesawat yang membawa Devano akhirnya mendarat di Bandara Kota B. Roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan ringan, menandai dimulainya sesuatu yang sudah lama ia rencanakan.Devano melangkah keluar bersama arus penumpang lain. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tapi matanya bergerak cepat, mengamati sekitar. Kota ini terasa asing, tapi justru itu yang membuatnya nyaman.Ia berhenti sejenak di depan pintu kedatangan, mengeluarkan ponsel untuk memberi kabar kepada Aksa. Setelahnya, ia kembali memasukkan ponsel tersebut ke saku celananya.“ Tunggu gue, Reina,” gumamnya pelan, hampir seperti janji untuk dirinya sendiri.“Gue udah siapin rencana yang sempurna buat lo.”Devano melangkah ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Tanpa banyak bicara, ia menyebutkan tujuan.Mobil itu melaju, meninggalkan bandara yang perlahan tenggelam di belakang mereka.Di dalam taksi, Devano kembali membuka ponselnya. Jemarinya bergerak cepat. Ia memesan sebuah kamar hot
Saat ini, Reina dan Kalandra berjalan santai menyusuri kota setelah membeli nomor baru. Nomor yang sunyi, tak tercatat di ingatan siapa pun, tak terhubung ke masa lalu mana pun.Reina melirik ke arah Kalandra yang tengah fokus menyetir. Lampu-lampu jalan memantul lembut di kaca mobil.“Kamu belum aktifin ponsel kamu kan, yang?” tanya Reina pelan.“Belum,” jawab Kalandra tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, “Sejak semalam malah belum aku sentuh sama sekali.”Reina tersenyum kecil. Berbeda dengannya yang sudah menyalakan ponsel, mencari arah, membaca kota, menyesuaikan diri dengan tempat baru. Kalandra memilih diam dari dunia luar.“Bagus deh,” ucap Reina lirih, “Nanti aktifin kalau nomornya udah ke pasangan aja sekalian,”“Iya, sayang.”Jawaban itu disertai gerakan kecil. Kalandra meraih tangan Reina, menggenggamnya hangat. Tidak erat, tidak menuntut, cukup untuk mengatakan “aku di sini”.Reina membiarkan genggaman itu. Jarinya membalas pelan, seolah menguatkan ikatan yang terasa am
“Aku kepikiran…” Reina menelan ludah susah payah, “Takutnya itu orang suruhan Papa.”Kalandra menangkap gelisah di wajah Reina. Ia tak ingin kecemasan itu tumbuh lebih jauh. Tangannya meraih tangan Reina, menggenggamnya pelan, seolah ingin menahan pikirannya agar tak ke mana-mana.“Jangan terlalu banyak mikir, ya? Nggak mungkin itu orang dari Papa kamu.” Ucap Kalandra lembut, untuk menenangkan sang kekasih.Reina menoleh, ragu. Matanya mencari wajah Kalandra, seolah berharap menemukan sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya. Keraguan itu masih jelas tergambar di sorot matanya.“Kamu pergi dari rumah dalam keadaan bertengkar,” lanjut Kalandra tenang, suaranya stabil, meyakinkan.“Kalau pun Papa kamu mau hubungi kamu, harusnya dari tadi. Bukan sekarang, dan bukan pakai nomor aneh,”“Tapi… masa iya salah kirim?” Reina masih belum sepenuhnya yakin.“Kemungkinannya banyak, sayang.” Kalandra mengusap punggung tangan Reina dengan ibu jarinya.“Bisa aja nomor yang mau dia hubungi cuma beda s
Aksa mengantarkan Devano sampai ke area keberangkatan. Ia berjalan di samping pemuda itu lebih lama dari yang perlu, seolah masih ingin memastikan sesuatu, atau mungkin menunda perpisahan.“Hati-hati ya, Dev,” ucap Aksa akhirnya. Suaranya melemah, lelahnya tak lagi ia sembunyikan, “Om titip Reina,”Devano berhenti sejenak. Ia menoleh, menatap Aksa dengan wajah serius namun tenang, “Iya, Om. Sebisa mungkin, aku bakal jaga dia.”Tatapannya sempat menyapu sekeliling. Deretan penumpang sudah mulai mengantre, suara pengumuman menggema samar di udara bandara. Waktu tak menunggu siapa pun.“Aku berangkat dulu ya, Om,” pamit Devano.Aksa menatapnya sesaat lebih lama, lalu mengangguk kecil, “Iya, Dev. Hati-hati.”Devano melangkah maju. Langkahnya tegap, tanpa ragu. Ia ikut mengantre bersama penumpang lain, membaur di antara wajah-wajah asing dan kali ini, ia tak menoleh ke belakang.Aksa tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya tak lepas ke arah punggung Devano hingga sosok itu perlahan menghi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.