MasukAku pernah berlari demi cinta. Dan aku juga pernah jatuh karena cinta yang sama. Suatu hari aku mengerti… Bahwa restu bukan hanya izin, tapi perlindungan. Dan seseorang yang dulu kupilih dengan mata tertutup, akhirnya harus kulepaskan dengan mata terbuka.
Lihat lebih banyakPukul dua belas malam, pesawat yang membawa Devano akhirnya mendarat di Bandara Kota B. Roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan ringan, menandai dimulainya sesuatu yang sudah lama ia rencanakan.Devano melangkah keluar bersama arus penumpang lain. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tapi matanya bergerak cepat, mengamati sekitar. Kota ini terasa asing, tapi justru itu yang membuatnya nyaman.Ia berhenti sejenak di depan pintu kedatangan, mengeluarkan ponsel untuk memberi kabar kepada Aksa. Setelahnya, ia kembali memasukkan ponsel tersebut ke saku celananya.“ Tunggu gue, Reina,” gumamnya pelan, hampir seperti janji untuk dirinya sendiri.“Gue udah siapin rencana yang sempurna buat lo.”Devano melangkah ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Tanpa banyak bicara, ia menyebutkan tujuan.Mobil itu melaju, meninggalkan bandara yang perlahan tenggelam di belakang mereka.Di dalam taksi, Devano kembali membuka ponselnya. Jemarinya bergerak cepat. Ia memesan sebuah kamar hot
Saat ini, Reina dan Kalandra berjalan santai menyusuri kota setelah membeli nomor baru. Nomor yang sunyi, tak tercatat di ingatan siapa pun, tak terhubung ke masa lalu mana pun.Reina melirik ke arah Kalandra yang tengah fokus menyetir. Lampu-lampu jalan memantul lembut di kaca mobil.“Kamu belum aktifin ponsel kamu kan, yang?” tanya Reina pelan.“Belum,” jawab Kalandra tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, “Sejak semalam malah belum aku sentuh sama sekali.”Reina tersenyum kecil. Berbeda dengannya yang sudah menyalakan ponsel, mencari arah, membaca kota, menyesuaikan diri dengan tempat baru. Kalandra memilih diam dari dunia luar.“Bagus deh,” ucap Reina lirih, “Nanti aktifin kalau nomornya udah ke pasangan aja sekalian,”“Iya, sayang.”Jawaban itu disertai gerakan kecil. Kalandra meraih tangan Reina, menggenggamnya hangat. Tidak erat, tidak menuntut, cukup untuk mengatakan “aku di sini”.Reina membiarkan genggaman itu. Jarinya membalas pelan, seolah menguatkan ikatan yang terasa am
“Aku kepikiran…” Reina menelan ludah susah payah, “Takutnya itu orang suruhan Papa.”Kalandra menangkap gelisah di wajah Reina. Ia tak ingin kecemasan itu tumbuh lebih jauh. Tangannya meraih tangan Reina, menggenggamnya pelan, seolah ingin menahan pikirannya agar tak ke mana-mana.“Jangan terlalu banyak mikir, ya? Nggak mungkin itu orang dari Papa kamu.” Ucap Kalandra lembut, untuk menenangkan sang kekasih.Reina menoleh, ragu. Matanya mencari wajah Kalandra, seolah berharap menemukan sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya. Keraguan itu masih jelas tergambar di sorot matanya.“Kamu pergi dari rumah dalam keadaan bertengkar,” lanjut Kalandra tenang, suaranya stabil, meyakinkan.“Kalau pun Papa kamu mau hubungi kamu, harusnya dari tadi. Bukan sekarang, dan bukan pakai nomor aneh,”“Tapi… masa iya salah kirim?” Reina masih belum sepenuhnya yakin.“Kemungkinannya banyak, sayang.” Kalandra mengusap punggung tangan Reina dengan ibu jarinya.“Bisa aja nomor yang mau dia hubungi cuma beda s
Aksa mengantarkan Devano sampai ke area keberangkatan. Ia berjalan di samping pemuda itu lebih lama dari yang perlu, seolah masih ingin memastikan sesuatu, atau mungkin menunda perpisahan.“Hati-hati ya, Dev,” ucap Aksa akhirnya. Suaranya melemah, lelahnya tak lagi ia sembunyikan, “Om titip Reina,”Devano berhenti sejenak. Ia menoleh, menatap Aksa dengan wajah serius namun tenang, “Iya, Om. Sebisa mungkin, aku bakal jaga dia.”Tatapannya sempat menyapu sekeliling. Deretan penumpang sudah mulai mengantre, suara pengumuman menggema samar di udara bandara. Waktu tak menunggu siapa pun.“Aku berangkat dulu ya, Om,” pamit Devano.Aksa menatapnya sesaat lebih lama, lalu mengangguk kecil, “Iya, Dev. Hati-hati.”Devano melangkah maju. Langkahnya tegap, tanpa ragu. Ia ikut mengantre bersama penumpang lain, membaur di antara wajah-wajah asing dan kali ini, ia tak menoleh ke belakang.Aksa tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya tak lepas ke arah punggung Devano hingga sosok itu perlahan menghi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.