Share

Bab 2

last update Last Updated: 2021-11-07 16:52:19

    Arsitek itu sedang memandangi gambarannya. Ia merasa ada bagian yang masih kurang dari gambar tersebut. Akan tetapi, setelah lebih dari setengah jam ia putar-putar kertas itu, tetap saja ia tidak menemukan dimana letak kurangnya.

    "Serius amat arsitek satu ini!" sebuah suara mengagetkannya.

    Arjuna yang sedang suntuk melihat kekasihnya langsung tersenyum. Arjuna memeluk kekasihnya dan memberikan kecupan hangat.

    "Udah selesai kuliahnya?" tanya Arjuna seraya tetap memeluk tubuh langsing perempuan di hadapannya.

    "Udah dong. Mulai besok aku mau persiapan buat pameran. Nanti kamu dateng di pameran aku, kan?"

    Arjuna melepaskan pelukannya. Ia mengangkat dagu kekasihnya sebelum akhirnya mencium bibirnya. "Sayang, kamu kan tau aku pria sibuk. Kerjaan aku banyak banget. Aku nggak bisa dateng di pameran kamu. Maaf ya!"

    Nadhine, kekasih Arjuna langsung melepaskan tangan Arjuna dari wajahnya. "Kamu tuh apa-apa sibuk. Apa-apa yang diduluin kerjaan. Sesekali kamu tuh sempetin waktu buat aku kenapa sih? Emang cuma dateng ke pameran satu atau dua jam bikin kamu miskin ya? Enggak, kan?"

    Arjuna menghela napas panjang. Ia senang ketika Nadhine begitu manja padanya. Tetapi ketika sifat kekanakannya muncul seperti ini, Arjuna harus lebih memperbanyak rasa sabarnya.

    "Bukan gitu, Sayang. Tapi ini proyek lagi banyak banget. Aku harus tetep profesional sama semua kerjaan aku. Kamu tau sendiri aku disegani karena selalu kerja profesional. Aku cuma nggak mau mengecewakan klien."

    "Dan lebih memilih untuk mengecewakan aku gitu?" nada bicara Nadhine sudah semakin meninggi. Walaupun di dalam ruangannya cukup kedap suara, tetapi Arjuna tetap khawatir jika suara Nadhine bisa tembus keluar dan membuat rekan kerjanya yang lain mendengar.

    "Nadhine, profesionalisme kerja itu segalanya dalam dunia bisnis. Aku nggak mau ngecewain klien. Akupun juga nggak mau ngecewain kamu. Tolong ngertiin posisi aku sekarang, ya."

    Nadhine menghentakkan kakinya. "Pokoknya aku mau kamu dateng ke pameran aku, titik!" perempuan itu segera berjalan ke arah pintu dan keluar. Tak lupa Nadhine menutup pintu dengan kasar hingga membuat semua orang yang ada di dekat ruangan Arjuna terkejut bukan main.

    "Selalu, paling bisa membuat malu!" gumam Arjuna seraya menggeleng.

    ***

    Arjuna memarkir mobilnya tepat di belakang mobil sang Papa. Ia segera keluar dari mobil dengan wajah super kusut. Satpam di rumahnya sampai segan ketika akan menyapa Arjuna.

    "Selamat malam, anak kesayangan Mama!" sapa Andini dengan senyum lebar ketika Arjuna baru saja melangkahkan kakinya masuk rumah.

    Arjuna sedikit heran, tumben sekali Mamanya menyapa dengan keceriaan seperti itu. Biasanya hanya menyapa sekenanya. Tidak pernah terlihat seceria ini.

    "Malam, Ma!" Arjuna langsung mencium tangan Mamanya dan pipinya. Ia langsung duduk di meja makan, kebetulan Mamanya sedang menyiapkan makan malam.

    "Gimana kerjaan, Jun?" Giliran Wirawan yang menyambut Arjuna dengan pertanyaan. Mereka memang jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing.

    Arjuna mengangguk. "Ya, lumayan lancar, Pa. Makin banyak proyek. Makanya sampai malem!"

    Wirawan mengangguk sebelum akhirnya menyendok nasi. Ia memang tidak terbiasa dilayani istrinya. Ia tidak mau menjadi lelaki yang harus dilayani 24 jam.

    Ketiganya makan malam dengan khidmat. Hanya suara sendok dan garpu yang berdenting. Hingga kemudian, Wirawan berdeham membuat Arjuna menoleh.

    "Ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu. Papa harap kamu tidak terlalu kaget dengan apa yang akan Papa bicarakan. Dengarkan dulu apa yang Papa bicarakan, baru nanti tanggapi setelah Papa selesai. Bisa?"

    Arjuna mengangguk dengan masih menikmati makanannya.

    "Jadi, semasa kuliah dulu, Papa pernah membuat janji dengan teman Papa, Lesmana. Kalau kami akan menjodohkan anak kami nantinya."

    Uhuk! Arjuna langsung tersedak. Sang Mama yang berada di sebelahnya panik dan segera menyodorinya minum.

    "Pelan-pelan, Juna!" Mamanya mengelus punggung Arjuna.

    "Papa nggak salah?"

    Kening Wirawan berkerut. Apakah ini sebuah penolakan dari anaknya?

    "Kamu menolaknya?"

    Arjuna melongo. "Ya jelas menolak, Pa! Masak Papa mau ngejodohin aku sama Rio! Papa kira aku udah nggak doyan cewek? Cewek masih enak, Pa. Ngapain sama cowok!"

    Andini yang menyadari lebih dulu langsung tertawa terbahak-bahak. Sementara Wirawan hanya menggeleng sambil menahan tawanya.

    "Lah, kok Mama malah ketawa sih?"

    "Kamu salah paham, Sayang." Andini menghabiskan sisa tawanya. "Papa juga siih nggak jelasin dulu!"

    "Maksudnya?" Arjuna nampak kebingungan.

    "Jadi anak Lesmana itu ada dua. Laki-laki dan perempuan. Memang yang kamu kenal selama ini si Rio, tapi dia punya adik perempuan. Dia yang mau Papa jodohkan sama kamu. Bukan sama Rio. Ada-ada saja kamu ini!"

    Arjuna menepuk jidatnya seraya tertawa. "Kirain!"

    "Gimana? Kamu menerimanya?" giliran Andini yang menawarkan.

    Arjuna mengelap mulutnya dengan tisu. Ia membetulkan posisi duduknya.

    "Tapi, Ma. Mama kan tau sendiri Arjuna punya pacar. Arjuna masih punya Nadhine, Ma," Arjuna menjelaskan dengan sangat lembut. "Arjuna tau Mama nggak suka sama Nadhine karena dia seorang model. Tapi, Arjuna kan nggak bisa tiba-tiba ninggalin dia gitu aja, Ma."

    "Bukan hanya karena dia model, tapi karena dia juga terlalu banyak menyita waktumu!" nada bicara Andini mulai ketus.

    Arjuna tersenyum. Ia menggamit tangan Mamanya dan mengelusnya. "Ma, Arjuna tetap anak Mama kok. Arjuna nggak akan pernah pergi dari Mama. Bahkan Nadhine sekalipun nggak akan pernah bisa bawa Arjuna kemana-mana, jauh dari Mama."

    Andini tersenyum. "Kalau kamu memang anak Mama, kamu menerima perjodohan ini? Kamu sayang Mama, kan?"

    Apabila sang Mama sudah mengeluarkan kalimat itu, tentu Arjuna tidak bisa menolaknya.

    "Papa tidak memaksa kamu langsung bertunangan dengannya. Kalian tentu perlu saling mengenal terlebih dahulu. Papa akan beri kamu waktu untuk menjalani semuanya."

    Arjuna nampak menimbang ucapan Papanya. Ia adalah anak penurut. Apapun yang dipilihkan orang tuanya, ia akan dengan senang hati menerima itu.

    "Mama yakin, kamu pasti suka sama dia kalau sudah ketemu."

    Arjuna tersenyum. "Kasih aku waktu buat berkenalan dulu ya, Ma. Juna janji nggak akan mengecewakan Mama."

    Andini tersenyum dan balik mengelus tangan Arjuna. Kalau Andini sudah tersenyum begini, tentu sangat sulit bagi Arjuna untuk tidak mewujudkan keinginannya. Belum lagi Mamanya sangat benci karir Nadhine. Ia bilang, model sudah pasti sering dibawa laki-laki kemana-mana, mau ditiduri hanya demi mendapatkan banyak job pemotretan. Mamanya tidak mau Arjuna mendapatkan wanita dengan profesi yang suka memamerkan bentuk tubuhnya di depan khalayak ramai. Tentu saja hal ini menjadi tantangan paling berat selama lima bulan Arjuna berpacaran dengan Nadhine.

    Tiba-tiba ponsel Arjuna berbunyi. Menandakan ada pesan masuk. Segera ia membukanya.

    Hai. Apa kabar? Aku rindu pelukanmu dan sentuhanmu di leherku.

    Membaca pesan ini jantung Arjuna tiba-tiba berdetak dengan cepat. Darimana perempuan itu mendapatkan kontakku?

    ***

    

    

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 142

    Reni hampir seminggu berada di indekos Rendi. Selama itu pula hanya Nadya yang datang menemaninya. Arjuna, bahkan orang tuanya tidak ke sini. Ia lupa bahwa ponselnya dipegang oleh Ryo. Pagi ini, suasana hati Reni sudah lebih baik. Walaupun masih ada kekecewaan di hatinya, tetapi ia tak serapuh kemarin-kemarin. Hatinya jauh lebih kuat. "Yakin mau pulang sekarang?" tanya Rendi untuk yang kesekian kalinya. Ia yang paling terlihat khawatir akan kestabilan emosi Reni. Reni mengangguk yakin. Setelah satu minggu 'bertapa' di sini, ia memilih untuk berhenti menghindar dan menghadapi semuanya. Walaupun mungkin itu sangat menyakiti perasaannya, ia tak ingin lari lagi. Akhirnya Rendi memilih ikut ke rumah Reni dengan menjadi sopir mobilnya. Rasa kekhawatirannya benar-benar tidak bisa hilang. Reni mengiyakan saja apabila Rendi mau mengantarnya ke rumah. Sesampainya di depan gerbang rumah, Reni meminta untuk memarkir motornya di luar saja. Dengan langkah perlahan, Reni dite

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 142

    Pagi ini, Rendi memilih untuk mencuci motornya setelah setiap hari ia gunakan pulang-pergi ke tempat magang yang lumayan jauh. Beberapa kali memang sempat ia cuci. Akan tetapi, setelah sakit ia jadi malas mencuci motornya. Selagi cuaca cerah, Rendi dengan telaten membersihkan motor kesayangannya. Tak lupa, ia juga menjemur helm yang setiap hari ia pakai agar tidak bau apek. Ketika mengelap motornya agar semakin kinclong, sebuah mobil yang Rendi kenali memasuki halaman indekosnya. Keningnya berkerut tatkala pemilik mobil tak jua keluar. Rendi bergegas menghampiri mobil itu. Ia mengetuk kaca jendela mobil. Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya kaca jendela itu turun dan menampilkan wajah kalut Reni. "Kamu kenapaaa??" Rendi terkejut bukan main melihat mata sembab Reni. *** Ryo menarik napas sedikit lega ketika membuka pesan di ponsel Reni dan ada salah satu temannya yang didatangi. Bahkan, seseorang bernama Rendi itu berani bertaruh nyawanya apabila Reni

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 140

    Ketika terdengar keributan di bawah, Tania memeluk Reni erat. Ia tidak ingin adik iparnya ini semakin sedih. "Dia ngapain ke sini sih, Mbak?" bisik Reni menahan isak tangisnya. Tania mengelus punggung Reni. "Udah, nggak usah dipeduliin. Yang terpenting sekarang adalah kondisi kamu. Sesekali egois itu perlu kok!" Tania terus mendekap Reni. Ia berharap mampu menyalurkan energi positifnya pada Reni, agar kesedihan itu setidaknya berkurang. "Mbak, aku mau ke balkon cari angin!" desis Reni, menghapus sisa-sisa air matanya. "Mau mbak temenin nggak?" tawar Tania. Ternyata Reni menggeleng. "Beneran nggak apa-apa sendiri?" "Nggak apa-apa, Mbak. Sebentar aja!" Reni bangkit dari duduknya. Ia menuju wastafel untuk membasuh wajahnya. Setelah itu ia baru keluar setelah meyakinkan Tania bahwa ia baik-baik saja. Tanpa sepengetahuan Tania, Reni sudah mengantongi kunci mobilnya yang kebetulan terparkir di belakang. Reni berniat kabur dari rumah daripada ia harus meli

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 139

    Reni bangun ketika jendela kamarnya terbuka. Matanya perih terkena sinar matahari pagi setelah semalaman menangis. Ternyata papanya yang membuka gorden jendela kamar. "Bangun yuk. Udah siang ini!" Lesmana mendekati putrinya. Ia elus rambut putrinya yang berantakan. Reni masih terbaring di kasurnya. Padahal ia baru saja terbangun, tetapi rasanya melelahkan sekali. Ia seperti merasakan lelah yang tak berkesudahan. "Tuh, ada Tania. Kamu temuin dong!" Lesmana mencoba membuat putrinya bersemangat, walaupun ia tahu hal ini mungkin sia-sia. Reni malah melamun. Matanya terlihat sangat sembab setelah menangis sampai tertidur. Ia bahkan tidak sempat mengganti baju tidurnya. Pikirannya kacau, sangat kacau. *** Arjuna pulang dengan perasaan gelisah. Nada bicara Ryo yang penuh amarah semalam membuatnya kelabakan mencari tiket pesawat saat itu juga. Ia sempat beradu argumen dengan Sandra yang berusaha menahannya. "Palingan cuma masalah sepele!" begitu katanya. Arjuna

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 138

    Sepanjang jalan pulang, Reni terdiam. Minimnya cahaya dijadikan tameng untuknya menangis tanpa suara. Reni membuang muka menghadap ke jendela mobil agar tangisnya tak terlihat oleh Ryo. Sementara itu, di sebelahnya Ryo berusaha meredam amarah. Apa yang ia lihat di ponsel Reni tadi benar-benar mengejutkannya. Kenapa keadaan tiba-tiba menjadi begitu pelik untuk Reni lalui? Ini adalah masa-masa Reni membutuhkan kestabilan emosional karena ia harus mengerjakan tugas akhirnya. Tetapi keadaan menghempaskan Reni begitu saja. Sesampainya di rumah, tanpa basa-basi Reni langsung berlari ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Santi dan Lesmana yang sedang kedatangan tamu heran dengan sikap Reni. Ketika Ryo masuk, tatapan Santi penuh tanda tanya. Ryo sendiri memilih tetap di luar. Setelah menghabiskan rokoknya ia menelepon sang istri. "Yang, besok pagi bisa ke rumah nggak? Temenin Reni. Dia lagi ada masalah." ujarnya setelah telepon diangkat oleh Tania. Perempuan itu tidak b

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 137

    Reni keluar dari galeri dengan wajah lelah tetapi juga tergambar kegembiraan di sana. Ia sangat gembira bisa magang di tempat gurunya yang mengenalkan dunia fotografi padanya. Tadi ketika acara perpisahan, Aldo bahkan memberikan hadiah pada Rendi dan Reni karena menjadi anak magang yang baik sepanjang masa. "Ini oleh-oleh buat kalian. Karena selama aku nerima anak magang, baru kali ini galeri bisa sangat seramai ini. Bahkan ada pengunjung yang bela-belain ke sini setiap hari cuma kepingin di-guide sama Rendi. Ini benar-benar pencapaian besar. Galeri bakalan sangat kehilangan kalian!" ucapan Aldo membuat semua yang ada di ruangan itu mendadak sedih. Lagi pula, siapa yang suka dengan momen perpisahan? "Mau langsung pulang atau kemana gitu?" tawar Rendi sembari menyerahkan helm pada Reni. Perempuan itu segera mengenakan helm. "Pulang dulu, besok aja main. Inget, kamu masih hutang ngajakin aku makan mie yamin yaa?" Rendi tertawa. Beberapa bulan selama magang ini hariny

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 136

    Hari ini adalah hari terakhir Reni magang. Semalam, ia sudah menyelesaikan laporan magangnya selama tiga bulan ini. Nanti sepulang dari tempat magang, Ryo berjanji akan mentraktirnya sebagai hadiah karena Reni berhasil menyelesaikan magang tanpa kendala apapun. Selama magang, Reni memang lebih sering di rumah daripada di apartemen. Ini pun atas titah Mamanya, agar beliau tetap bisa memantau Reni. Santi takut apabila magang Reni memilih tinggal di apartemen, ia malah tidak pulang. "Mama lebay!" desisnya saat itu. Santi tidak peduli apapun perkataan putrinya. Yang terpenting adalah kebaikan Reni sekarang. Santi pun juga sudah mendengar tentang renggangnya hubungan Arjuna dengan putrinya. Andini sempat bercerita ketika keduanya bertemu di salah satu butik langganan mereka. "Aku bener-bener minta maaf lho, Jeng. Karena kesibukan Arjuna bikin Reni jadi merasa terabaikan. Jadinya malah mereka bertengkar." Andini menggenggam tangan Santi. Santi mengangguk mafhum.

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 135

    Seharian Sandra hanya marah-marah. Ia kesal karena Arjuna mulai sering tidak fokus dan sering menengok ponselnya, meskipun itu sedang meeting penting dengan kontraktor. Sandra sudah memperingatkannya beberapa kali, tetapi nihil. Arjuna masih saja tidak fokus. "Kamu tuh kenapa sih? Ini kita udah hampir sebulan loh di sini! Kita udah jalanin proyek hampir tiga puluh persen dan kamu mulai sering nggak fokus. Kamu mau ngerusak karir kamu sendiri hah?!" pekik Sandra berapi-api ketika keduanya sampai di rumah. Ia sudah tidak bisa menahan diri karena kali ini Arjuna kehilangan profesionalismenya. "Aku nggak bisa konsen karena akhir-akhir ini Reni sering banget ngilang. Dia jadi super sibuk sampai nggak bisa dihubungi." jawab Arjuna enteng. Sandra mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan pernyataan yang Arjuna lontarkan dengan entengnya barusan. "Jadi profesionalisme kamu hilang gara-gara kamu bucin?" nada bicara Sandra sudah tidak mampu ia kontrol.

  • Garis Pikat Sang Arsitek   Bab 134

    Sepanjang perjalanan menuju galeri, Reni mengunci rapat-rapat mulutnya. Ia tidak mengucapkan apapun setelah badannya dibuat panas dingin oleh Rendi. "Kamu kenapa sih? Sariawan?" tanya Rendi saat motornya berhenti di lampu merah. Rendi mengarahkan spionnya tepat ke wajah Reni. Reni sama sekali tidak mengeluarkan suara. Ia hanya menggeleng pelan. Hal ini membuat Rendi gemas. "Ya udah kalau sariawan, nanti aku beliin mie jontor. Katanya ampih buat bikin sembuh sariawan." ujarnya yang kemudian mendapatkan pelototan dari Reni. Ia tidak peduli dan langsung mengegas motornya saat lampu berubah menjadi hijau. Reni menoyor helm Rendi sampai lelaki itu menunduk cukup dalam. "Aduh, aku lagi nyetir ini, Ren! Nanti kalo nabrak gimana?" omel Rendi seraya mengelus hidungnya yang mencium spidometer motor. "Biarin!" Rendi tertawa. Tiba-tiba muncul ide konyol di pikirannya. "Oh, kamu pengen sehidup semati sama aku? Bilang atuh, Ren!" ujarnya sebelum kemudian memperce

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status