เข้าสู่ระบบVano berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang direksi. Jas mahal itu terasa pas di tubuhnya, seolah kursi direktur utama memang sudah lama menunggunya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum kemenangan yang selama ini ia impikan. Rapat dewan direksi baru saja usai. Tak satu pun dari mereka membantah keputusannya. Bahkan beberapa anggota dewan yang dulu terang-terangan mendukung Rega kini mulai condong padanya. Vano tahu, kepercayaan itu belum sepenuhnya tulus, tapi cukup untuk membuatnya berkuasa. “Keputusan yang berani, Pak Vano,” ujar salah satu direktur senior sebelum meninggalkan ruangan. “Perusahaan butuh pemimpin yang fokus, bukan yang sibuk dengan urusan pribadi.” Vano hanya mengangguk tenang, meski di dalam dadanya ada kepuasan yang membuncah. Nama Rega tak lagi disebut dengan hormat—melainkan sebagai contoh kegagalan. Dan itu membuatnya semakin percaya diri. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Vano melonggarkan das
Apartemen itu masih sama, megah dan dingin, tetapi bagi Lilyan rasanya begitu asing. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti sejenak. Kenangan lama menyeruak. Dimana ia pernah menghabiskan waktunya bersama Rega di apartemen mewah itu. Dan kali ini dia kembali menjejakkan lagi kakinya di sana. Sebagai kekasih resmi Rega. "Masuklah dan tinggallah di sini, jangan pergi lagi." Rega membawa Lilyan masuk ke dalam. “Pelan,” ucap Rega lirih. “Dokter bilang kamu belum boleh banyak bergerak.” Lilyan mengangguk, meski sebenarnya ia ingin berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi kali ini ia tak boleh egois, mungkin ia kuat tapi bayi dalam kandungannya belum tentu. Bu Laras ikut masuk di belakang mereka. Matanya menyapu apartemen luas itu dengan perasaan campur aduk. Ia masih sulit mencerna kenyataan bahwa putrinya mengandung anaknya Rega. Sebuah kenyataan yang masih sulit ia terima. Saat Rega meminta dirinya ikut tinggal sementara, Bu Laras tak sanggup menolak—demi Lilyan, demi cucuny
Sore itu, Gina duduk di salah satu sudut restoran favoritnya dengan Vano. Sore itu ia sengaja ingin bernegosiasi lagi dengan Vano. Tak lama kemudian, Vano datang dengan ekspresi datar. Ia melangkah menuju meja tempat Gina duduk dan langsung menjatuhkan diri ke kursi di depannya. Tatapannya dingin, tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat. “Ada apa?” tanya Vano sambil membuka jasnya. Gina menelan ludah. Ia mencoba tersenyum, meski gugup tak tertahankan. “Aku sebentar lagi mau melahirkan Mas,” ucapnya akhirnya, lirih tapi jelas. Ia menatap wajah Vano, mencoba menangkap reaksi yang akan keluar dari sana. Namun, bukannya terkejut atau bahagia, Vano malah mengernyit. Wajahnya berubah gelap, dan dagunya terangkat tinggi. "Terus, apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Vano dengan sikapnya yang masih dingin. Gina menahan napasnya sejenak. Melihat sikap Vano yang seperti ini ia ragu apakah ini saat yang tepat untuk meminta pertanggung jawaban atau bukan. Namun Gina masih ingin ber
Mobil ambulans rumah sakit swasta itu melaju dengan pengawalan ketat. Rega duduk di samping ranjang dorong Lilyan, matanya tak lepas dari wajah pucat wanita yang selama berbulan-bulan ia cari tanpa henti. Tangannya menggenggam jemari Lilyan erat, seolah takut jika ia lengah sedikit saja, Lilyan akan kembali menghilang dari hidupnya. Begitu tiba, tim medis langsung bergerak cepat. Lilyan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif khusus ibu hamil berisiko tinggi. Rega terpaksa melepaskan genggaman tangannya ketika dokter meminta keluarga menunggu di luar. Langkah Lilyan menjauh di balik pintu kaca itu membuat dada Rega terasa seperti diremas kuat. Ia berdiri kaku di lorong rumah sakit yang dingin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rega berdoa dengan sungguh-sungguh. Bukan untuk perusahaan, bukan untuk jabatannya, melainkan untuk dua nyawa yang kini menjadi segalanya baginya. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan menjelaskan kondisi Lilyan. Tubuhnya sangat kelelahan
Tangannya menerima sebuah kartu identitas yang sedikit lecek. Rega hampir saja menyerahkannya kembali tanpa membaca, namun entah kenapa pandangannya tertahan pada satu foto. Foto Lilyan yang begitu jelas. Dunia seolah berhenti berputar. Jari-jarinya bergetar hebat saat membaca ulang nama itu, memastikan matanya tidak salah. Alamat kontrakan, usia, dan keterangan lain terasa kabur, seolah huruf-hurufnya menari di depan mata. Tapi satu hal tak terbantahkan—nama itu adalah nama yang selama berbulan-bulan ia cari sampai hampir kehilangan kewarasan. “Ini… pasiennya?” suaranya serak, nyaris tak keluar. Petugas mengangguk cepat. “Iya, Pak. Kondisinya lemah sekali. Hamil besar, kemungkinan dehidrasi dan kurang nutrisi. Kami sedang berusaha menstabilkan.” Kata hamil menghantam Rega tanpa ampun. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Kakinya terasa lemas, namun ia memaksa bergerak. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Rega berlari menyusuri lorong rumah sakit, mengikuti arah tandu yang b
Beberapa bulan kemudian. Hari itu udara terasa lebih berat dari biasanya ketika Lilyan melangkah keluar dari sebuah klinik kandungan sederhana di sudut kota. Bau obat-obatan masih menempel di hidungnya, bercampur dengan rasa sesak yang sejak tadi menekan dadanya. Tangannya menggenggam erat hasil pemeriksaan yang baru saja ia terima, kertas tipis yang seolah memiliki bobot jauh lebih berat dari seharusnya. Dokter tadi berbicara dengan nada hati-hati, namun setiap kata tetap terasa seperti pukulan. Bayinya kekurangan nutrisi. Kondisi tubuh Lilyan terlalu lelah, terlalu dipaksa bekerja, hingga berdampak pada kesehatan janin yang dikandungnya. Ia disarankan untuk banyak istirahat, memperbaiki asupan makanan, dan mengurangi aktivitas berat. Saran yang terdengar mustahil bagi Lilyan. Langkahnya terhenti di pinggir trotoar. Ia menunduk, satu tangannya perlahan menyentuh perutnya yang mulai membesar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, satu demi satu, tanpa suara.







