LOGIN"Tolong pelan-pelan... " "Apa ini pertama kalinya bagimu?" _________________________ Lilyan tak pernah menyangka kalau dirinya akan terjebak dalam cinta segitiga dengan Rega, bosnya sendiri yang tak lain adalah saudara tiri dari tunangannya. Bahkan yang lebih parahnya, Rega justru jadi lelaki pertama yang berhasil merenggut kesucian Lilyan. Lalu bagaimana nasib pertunangannya dengan Vano, sang tunangan? Apakah semuanya akan baik-baik saja atau justru hancur berantakan?
View More"Kau yakin ingin melakukannya denganku?" suara husky seorang pria terdengar berat di telinga sang gadis.
Gadis itu menengadah dengan bibir sedikit terbuka saat kecupan lembut menyentuh tubuh bagian atasnya. Pakaian kantornya telah lama lolos meninggalkan tubuhnya. Kini ia tengah berada di bawah kungkungan seorang pria bermanik abu, nyaris tenggelam di balik tubuh kokohnya. "Sentuh aku, bukankah kau sudah lama ingin melakukan ini?" tanya lirih wanita cantik itu dengan mata terpejam menikmati setiap sentuhan lelaki itu. Tubuhnya meremang seperti ada sengatan listrik yang membuat aliran darahnya semakin deras. Bibir sang lelaki tersenyum samar, hampir tak terlihat. Telunjuk besar pria itu menyentuh lembut di bagian bawah, membangkitkan desiran halus dalam tubuh sang wanita. "Pelan-pelan, ini pertama kalinya bagiku... " Perempuan itu merintih kesakitan. Namun entah kenapa tak ada sedikitpun keinginan untuk menghentikan aksi itu. "Apa kau masih suci?" Kedua mata pria itu membelalak tak percaya. Ini sungguh di luar dugaannya. Detik berikutnya keduanya tenggelam dalam permainan yang lebih panas lagi. *** Cahaya pagi menembus tirai tipis, membelai wajah Lilyan yang masih tertidur lelap. Suara detak jam dinding menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar yang asing. Ini bukan kamarnya. Bukan juga apartemen miliknya. Hatinya mencelos. Saat ia menoleh ke samping, tubuhnya membeku. Di sisi ranjang yang lain, seorang pria tengah terlelap dengan dada terbuka, napasnya berat tapi teratur. Rega Angkasa. Nama itu langsung membuat darahnya berdesir hebat, wajahnya pucat seketika. Jadi, tadi malam dia tidak bercinta dengan Vano? Tapi dengan Rega? Bosnya. CEO perusahaannya yang selama ini selalu bersikap tak acuh padanya, dingin, tegas, dan tak tersentuh, sekaligus saudara tiri Vano, tunangannya. Pria tampan itu bekerja sebagai pemimpin Angkasa Mining Corporation. Sebuah perusahaan kontruksi besar yang memiliki banyak cabang di negeri ini. “Ya Tuhan… kenapa aku bisa ada di sini?” bisiknya nyaris tanpa suara. Ia buru-buru menarik selimut, menutupi tubuh polosnya. Kepalanya berdenyut, pusing, dan potongan kenangan semalam mulai menyeruak dalam ingatan. Tadi malam ia mabuk setelah menghabiskan 4 gelas wine saat mereka duduk bersama klien dari Jepang, membahas kontrak kerjasama dengan perusahaan milik Rega. Lilyan terpaksa menerima tawaran untuk bersulang dan entah 4 gelas wine yang ia habiskan. Yang jelas kesadaran Lilyan mulai hilang setelah itu. "Tidak mungkin aku dan Pak Rega..." Bibir Lilyan bergetar menahan tangis. Ia yakin sesuatu telah terjadi padanya dan Rega. Namun belum sempat Lilyan berpikir lebih jauh, suara berat yang familiar itu membuatnya terlonjak. “Sudah bangun?” Lilyan menoleh, terlihat Rega menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi datar. Tidak ada keterkejutan di matanya, seolah ia sudah tahu sejak awal bagaimana pagi ini akan berjalan. Lilyan menelan ludah, jari-jarinya meremas ujung selimut. “P—Pak Rega, kenapa kita...” Lilyan terlihat bingung. "Semalam kau yang memintanya sendiri. Tenang saja, aku akan bertanggung jawab,” potongnya datar. Kedua mata Lilyan membola, bulu matanya yang lentik bergetar. Tidak mungkin dia yang meminta Rega untuk menyentuhnya. Pria berdarah campuran itu bangun dari ranjang, mengambil kemejanyq yang tergeletak di lantai lalu memakainya tanpa mengancingkannya. Dia membiarkan dada bidang dan perut kotak-kotaknya terekspos dan membuat Lilyan menelan ludah. "Aku tahu kau tidak akan percaya dengan ucapanku. Aku punya buktinya kalau kau sendiri yang meminta." Rega meraih ponselnya dan memutar video tadi malam saat Lilyan merengek meminta Rega menyentuhnya. "Astaga..." Lilyan langsung membuang muka dengan pipi yang merona merah. Tak percaya kalau ia akan serendah itu meminta Rega menyentuhnya. "Sekarang kau percaya?" Alis pria tampan itu terangkat tipis. "Tapi meskipun begitu, aku bukan lelaki yang akan lari dari tanggung jawab. Aku akan menikahimu jika kau mau," cetus Rega dengan penuh keyakinan. Kalimat itu menampar keras. Sesuatu di dada Lilyan terasa sesak, bagaimana ia bisa menikah dengan Rega jika dia adalah tunangan dari Vano, saudara Rega sendiri. Itu tidak mungkin terjadi. Lilyan menghela napasnya. Dunia serasa gelap rasanya. "Lupakan saja Pak. Anggap saja tadi malam tidak terjadi apapun di antara kita." Lilyan berusaha tenang meskipun hatinya bergejolak dan jauh dari kata tenang. "Apa maksudmu?" Rega menyipitkan matanya. "Saya tidak mungkin menikah dengan Bapak. Saya sudah bertunangan dengan Vano." Lilyan bangun dari tempat tidur. Ia gunakan selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya. "Bagaimana kau akan menikah dengan Vano jika kau telah kehilangan kesucianmu?" Rega berdecak dan tersenyum miring. "Itu akan jadi urusan saya." Lilyan tak ingin banyak bicara. Dia memungut bajunya yang berserakan di lantai dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. "Lilyan, aku yakin Vano tidak akan mau menerima perempuan yang telah tidur denganku. Pikirkan lagi keputusanmu itu!" Kata-kata Rega membuat langkah Lilyan terhenti sejenak. Ia menghela napas berat. Tapi keputusan untuk menerima tawaran Rega pun bukan keputusan mudah. "Saya tidak akan memberitahu Vano tentang hal ini. Dan saya harap Pak Rega juga mau merahasiakan hal ini darinya," tegas Lilyan dengan yakin. Rega berdecak tak percaya kalau Lilyan telah menolaknya mentah-mentah. Tak lama Lilyan keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapih. Ia bergegas pergi dari hadapan Rega. Jalannya pelan karena bagian bawah tubuhnya terasa sakit. Air mata mengalir dari sudut matanya. Ini semua masih seperti mimpi baginya. Kehilangan kesucian tanpa ia rencanakan sama sekali. Melakukannya dengan seseorang yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. *** Pagi itu, Lilyan Pramesti melangkah ke kantor dengan langkah berat, berusaha menenangkan diri. Pikirannya masih bergelayut pada malam yang tak mungkin ia lupakan. "Selamat Pagi Bu!" sapa beberapa karyawan dengan sopan. Kedudukan Lilyan yang menjadi tunangan Vano sekaligus asisten pribadinya membuatnya disegani banyak orang di perusahaan itu. "Pagi!" jawab Lilyan dengan senyum tipis di bibirnya. Langkahnya tergesa menuju ruangannya. Di ujung koridor matanya membentur sosok Rega yang sudah berpenampilan rapih dan gagah khas eksekutif muda. Pandangannya sempat terhenti sejenak saat beradu tatap dengan Lilyan. Namun lelaki itu bergegas masuk ke dalam ruangannya tanpa mengindahkan Lilyan. Lilyan menghela napas berat. Apakah ia sanggup melewati semuanya tanpa rasa canggung setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Rega tadi malam? "Kau pasti bisa Lilyan." Gadis itu memberi semangat pada dirinya sendiri. "Lilyan!" Baru saja dia akan duduk, tiba-tiba suara berat seseorang memanggilnya. Vano muncul dengan senyum canggung. "Aku minta maaf Ly, aku terpaksa mengutusmu menghadiri rapat yang seharusnya aku datangi bersama Rega tadi malam.” Lilyan menghela napas panjang, menatap Vano dengan mata sedikit kesal. “Jadi, sebenarnya hal apa yang membuatmu tidak bisa menghadiri rapat tadi malam. Kenapa aku yang harus pergi?” tanyanya, mencoba terdengar tegas meski jantungnya berdebar. Vano tampak gugup. Ia menggaruk kepala, menunduk sebentar sebelum menjawab, “Ada… ada urusan mendadak, Ly..." "Urusan apa?" cecar Lilyan. “Ibuku… minta tolong aku untuk mengantarnya ke rumah sakit, jadi semalam aku menemani dia.” Lilyan sejenak terdiam. Ia percaya pada jawaban Vano. Namun jauh di lubuk hatinya ada hal penting yang ia sesalkan dari keputusan Vano tersebut. Seandainya Vano yang pergi tadi malam, tentu one night stand itu tidak akan pernah terjadi. Tok tok tok! Suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Seseorang masuk ke dalam ruangan membawa satu buah amplop. "Ini surat dari Pak Rega untuk Bu Lilyan," ucap orang itu dengan sopan. Alis Lilyan berkerut dan mengambil amplop berisi surat tersebut. Lalu membukanya dengan tangan bergetar. "Apa isinya?" Vano ikut penasaran. Lilyan membacanya sejenak sebelum kedua matanya membesar.Langit sore Jakarta mulai memerah saat Rega menutup rapat pintu ruangannya di kantor barunya. Ia berdiri sejenak di balik jendela besar lantai 15, memandangi hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di belakangnya, terdengar suara langkah kaki Lilyan yang datang membawa dua cangkir kopi hangat. "Istirahat dulu, Pak CEO. Nanti kepalamu kebakar lagi," ucap Lilyan sambil tersenyum lembut. Rega menoleh dan tertawa pelan. "Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah tumbang dari kemarin," jawabnya sambil menerima kopi itu. Mereka duduk berdampingan di sofa kecil di sudut ruangan. Kantor mereka belum semewah perusahaan lama, tapi atmosfernya hangat dan penuh semangat. Sejak memutuskan membangun perusahaan barunya secara diam-diam, Rega hanya mempercayai segelintir orang, termasuk dua sahabat lamanya yang kini menjadi mitra bisnisnya, serta Lilyan yang ia percayai sepenuh hati. "Kamu yakin masih mau sembunyi dari keluargamu?" tanya Lilyan sambil menyeruput kopinya perlahan. "
Pagi itu langit tampak bersih, seolah menyambut semangat baru yang mulai tumbuh dalam diri Rega. Ia berdiri di depan kaca, mengenakan kemeja putihnya.Dulu, kemeja itu biasa ia kenakan saat menghadiri rapat besar dengan para investor Angkasa Mining Corp. Kini, kemeja itu kembali ia kenakan, bukan untuk nostalgia, melainkan sebagai lambang kebangkitan."Kamu tampan sekali Sayang," puji Lilyan sembari memasang dasi suaminya.Rega hanya tersenyum tipis. Ia menatap wajah istri cantiknya yang terlihat lebih segar pagi ini. Setelah semalam mereka melewati malam panasnya lagi."Doakan aku Sayang, agar semua urusan hari ini lancar." Rega meminta doa."Pasti Sayang. Doaku selalu menyertaimu." Lilyan menarik dasi yang telah terpasang di leher Rega dan hal itu membuat Rega menunduk, itu sengaja Lilyan lakukan agar dirinya dengan mudah mencium bibir Rega.Rega tidak menolaknya. Ia langsung me lu mat bibir ranum istrinya dengan lembut."Apa tadi malam masih belum cukup?" tanya Rega sambil tersenyu
Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika Lilyan berdiri di depan jendela apartemen Rega. Tangannya refleks mengusap perutnya yang membuncit gerakan kecil yang kini terasa begitu alami baginya. Ada kehidupan yang tumbuh di sana, buah cinta yang lahir dari luka, kehilangan, dan penantian panjang. “Jangan berdiri terlalu lama,” suara Rega terdengar dari belakang. “Aku cuma berdiri sebentar,” Lilyan tersenyum kecil, mencoba menenangkan.Rega tidak peduli ia berjalan dan akhirnya menuntun Lilyan untuk duduk di sofa. Ia lalu berjongkok di depan Lilyan, menempelkan telinganya ke perut Lilyan yang tertutup kain longgar. “Kamu dengar tidak?” bisiknya. Lilyan terkekeh pelan. “Mendengar apa?” “Dia tadi bergerak. Aku yakin.” Rega menempelkan telapak tangannya dengan hati-hati. “Kamu harus makan lebih banyak hari ini. Jangan sampai telat.” Nada suaranya bukan memerintah, tapi penuh ketakutan yang ditahan rapat. Ketakutan kehilangan—lagi.Lilyan terkekeh pelan. Ia mengusap kepala Re
Vano berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang direksi. Jas mahal itu terasa pas di tubuhnya, seolah kursi direktur utama memang sudah lama menunggunya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum kemenangan yang selama ini ia impikan. Rapat dewan direksi baru saja usai. Tak satu pun dari mereka membantah keputusannya. Bahkan beberapa anggota dewan yang dulu terang-terangan mendukung Rega kini mulai condong padanya. Vano tahu, kepercayaan itu belum sepenuhnya tulus, tapi cukup untuk membuatnya berkuasa. “Keputusan yang berani, Pak Vano,” ujar salah satu direktur senior sebelum meninggalkan ruangan. “Perusahaan butuh pemimpin yang fokus, bukan yang sibuk dengan urusan pribadi.” Vano hanya mengangguk tenang, meski di dalam dadanya ada kepuasan yang membuncah. Nama Rega tak lagi disebut dengan hormat—melainkan sebagai contoh kegagalan. Dan itu membuatnya semakin percaya diri. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Vano melonggarkan das












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews