LOGINSemua yang Julian janjikan pada hari itu ternyata benar-benar ia tepati.Tidak ada relokasi, tidak ada penggusuran, tidak ada rumah yang diratakan seperti ketakutan warga beberapa hari sebelumnya.Sebaliknya, hanya dalam waktu dua minggu, kawasan kecil itu justru mulai berubah perlahan.Jalanan yang sebelumnya rusak mulai diperbaiki. Saluran air yang bertahun-tahun tersumbat mulai dibersihkan. Lampu jalan yang dulu sering mati kini menyala terang setiap malam.Dan yang paling membuat warga terkejut, tak satu pun dari mereka diminta pindah.Awalnya banyak yang curiga. Namun setelah pihak Aegis benar-benar turun langsung melakukan penataan kawasan tanpa menggusur warga, ketakutan itu perlahan berubah menjadi rasa lega.Lalu berubah lagi menjadi rasa malu. Karena mereka sudah sadar bahwa orang yang dulu mereka hina justru menjadi alasan kawasan itu diselamatkan.Sejak hari itu, sikap warga terhadap Bunga berubah total. Tak ada lagi bisik-bisik sinis saat ia lewat, tidak ada lagi tatapan
Siang harinya...Bunga akhirnya menyerah.Dengan wajah setengah kesal dan setengah malu, ia berdiri di depan gedung pusat Aegis Group sambil memandangi bangunan tinggi menjulang itu.“Gila,” gumamnya pelan lagi.Satpam depan bahkan langsung membungkuk hormat begitu melihatnya.“Selamat siang, Ibu.”Bunga langsung kikuk sendiri.“I-iya…”“Bapak Surya sudah menunggu di atas.”Bunga langsung melotot kecil, “Tunggu dulu, saya, kan, belum bilang mau ketemu dia.”Satpam itu tampak bingung. “Maaf, Bu… soalnya tadi sudah ada instruksi khusus.”Bunga langsung menutup mata sebentar, “Dasar Julian...”Laki-laki itu benar-benar sudah menebaknya akan datang. Dan yang lebih menyebalkan, nyata Bunga memang datang.Lift bergerak naik perlahan hingga ke lantai paling atas. Begitu pintunya terbuka… Bunga langsung berhenti melangkah.Ruangan itu sepi, tidak ada sekretaris, tidak ada staff, apalagi suara meeting.Hanya ada Surya.Laki-laki itu duduk santai di sofa dekat jendela besar sambil memegang cang
Beberapa hari setelah malam pengakuan itu, hidup mereka berubah pelan-pelan. Tidak meledak, tidak dramatis, dan justru terlalu sunyi.Setelah semuanya, kini Adam akhirnya tahu semuanya.Tentang siapa Bunga bagi Surya sebenarnya, tentang nama wanita bernama Flow yang sering ayahnya sebutkan selama ini. Berikut cerita bagaimana dirinya terpisah dari ibu kandungnya sejak bayi. Tentang bagaimana semua orang di ruangan itu sama-sama terlambat menemukan kebenaran.Dan setelah tangis panjang malam itu… yang tersisa hanyalah kecanggungan.Adam masih berusaha menerima fakta bahwa pasangan itu memiliki kisah hidup kelam yang baru terkuak saat ini. Lalu Hana, dia sibuk menjadi penengah setiap suasana mulai terasa terlalu berat.Sementara Bunga…Bunga memilih menjauh sebentar, bukan karena membenci Surya. Justru karena terlalu banyak rasa yang kembali hidup setelah bertahun-tahun ia kubur mati-matian.“Aku cuma mau nenangin diri dulu,” katanya waktu itu pelan pada Surya. “Jangan datang dulu bebera
Ruang belakang rumah makan kecil itu sunyi. Hanya suara angin malam yang berdesis lembut di celah jendela. Bunga—atau Flo—berdiri dengan kedua tangannya saling meremas, sementara Surya menutup pintu perlahan, seolah takut suara itu akan memecahkan sesuatu yang rapuh di antara mereka.Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.Tatapan dua orang yang pernah saling mencintai, lalu terpisah oleh takdir yang kejam.Surya menghela napas panjang. Bahunya turun, wajahnya melemah. “Flo… aku—”Suaranya pecah. Ia menunduk, menutup mata, berusaha menarik kekuatan dari udara yang terasa berat.Bunga memandangnya dengan mata yang mulai berkaca. “Kamu bisa bicara, Julian. Aku di sini.”Surya tersenyum getir mendengar nama itu. Nama lama yang hanya dia dan Flo kenal. Nama yang pernah ia pikir sudah mati bersama masa mudanya.“Aku dulu berpikir kamu… meninggal,” katanya pelan. “Aku benar-benar percaya kabar itu, Flo.”Bunga mengerjap. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Aku tahu. Aku dengar it
Suasana sore di dapur rumah Hana terasa tenang, hanya terdengar suara sendok beradu pelan di cangkir teh yang baru saja ia aduk. Udara membawa aroma jahe hangat yang menenangkan. Tapi hati Hana justru sebaliknya, penuh tanda tanya yang menumpuk sejak kejadian di pasar tadi.Ia memandangi jendela, di mana bayangan pepohonan menari karena hembusan angin. “Papa kenal Tante Bunga…” gumamnya lirih, seolah mengulang potongan adegan yang baru saja berlalu. Tatapan Surya kepada Bunga atau Flo, seperti yang ia dengar tadi, masih tergambar jelas di kepalanya. Tatapan yang terlalu dalam untuk sekadar pertemuan antara orang lama.Langkah kaki terdengar dari arah ruang tamu. Adam baru pulang dari meeting luar, wajahnya tampak lelah tapi mata itu… mata itu melirik sesuatu yang berbeda dari Hana.Ada kekosongan, juga resah yang tidak biasa.“Sayang,” sapa Hana pelan sambil mendekat, “Kamu pulang? Kok aku nggak dengar suara mobil, ya?" Adam menatapnya sebentar, mencoba tersenyum, tapi senyum, “Hayo
Suara itu nyaris tak terdengar, hanya getar di udara.Surya menunduk sedikit, menatapnya dengan mata yang basah tapi tenang,.“Iya, Flo. Aku.”Bisikan itu cukup untuk membuat beberapa orang yang masih mengamati menahan napas. Ibu penjual daging yang tadi lantang kini sibuk menutup mulut dengan tangan, wajahnya merah padam, “Ma–maaf, saya… saya nggak tahu…”Suara itu gemetar, tapi Surya hanya menatapnya sebentar, lalu menghela napas.“Tidak apa-apa, Bu. Tapi lain kali, berhati-hatilah menilai seseorang. Lidah bisa lebih tajam dari pisau daging di depan Anda.”Kalimat itu membuat beberapa orang mengangguk pelan. Ada yang bahkan menepuk bahu Bunga, memberi senyum simpati, sementara Surya menggenggam tangannya dengan mantap, seolah takut jika melepaskan, semuanya akan hilang lagi.Di kejauhan, Hana yang baru selesai menawar ikan menatap dengan dahi berkerut, belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dari cara Surya berdiri, ia tahu itu bukan orang asing. Kerumunan pasar mulai mencair,
Lampu gantung berwarna keemasan memantulkan cahaya lembut di meja tempat Hana dan Om Surya duduk. Di depan mereka, dua piring steak masih mengepulkan aroma gurih. Musik piano mengalun pelan, menambah suasana makan malam itu terasa hangat dan akrab.Hana tersenyum kecil, menatap pria paruh baya itu
Malam sudah jauh lewat tengah malam. Hujan gerimis tipis mulai turun di luar ruko, mengetuk-ngetuk genting seperti bunyi jarum yang jatuh satu-satu.Hana sudah tertidur di kamar, napasnya teratur dan damai. Tapi di ruang tengah, Bunga masih duduk di sofa yang sama, di depan cangkir teh yang sejak t
Malam semakin larut. Restoran hotel mulai sepi, hanya tersisa beberapa tamu yang menikmati dessert di sudut ruangan. Setelah obrolan panjang dan tawa yang hangat, Om Surya akhirnya memutuskan naik ke kamarnya untuk beristirahat.“Besok pagi kita sarapan bareng, ya,” katanya sebelum pamit, menepuk b
Lobi Grand Hotel Meridian sore itu dipenuhi cahaya keemasan dari lampu gantung kristal. Aroma kopi dan lilin vanila menyambut setiap tamu yang baru tiba. Di antara lalu-lalang orang dan suara koper berderit di lantai marmer, Hana dan Adam berdiri bersebelahan, menunggu dengan sabar tapi tak bisa me







