Share

Making Love With Me

Penulis: Money Angel
last update Tanggal publikasi: 2025-10-18 18:37:08

Pagi itu, suasana di dalam mobil terasa aneh, karena situasi membuat jantung Hana terus berdebar tanpa tahu kenapa. Ia duduk di kursi penumpang dengan posisi kaku, seperti robot yang sedang program loading.

Kedua tangannya menempel di paha, pandangan matanya lurus ke depan, tak berani menoleh sedikit pun ke arah Adam yang duduk di sebelahnya.

“Sabuk pengamannya belum kamu pasang,” suara Adam terdengar santai, tapi Hana pura-pura tidak mendengar.

Ia mencoba memasangnya sendiri, tapi tali sabuk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Bunga Itu Kembali

    Malam itu, setelah percakapannya dengan Hana selesai, Adam akhirnya kembali naik ke kamar hotel sambil membawa laptop dan beberapa dokumen digital yang terus masuk dari tim hukumnya.Dan tepat hampir pukul empat subuh, email yang ia tunggu akhirnya datang.Status pembatalan data kematian Bunga berhasil diproses lebih cepat dari perkiraan. Bahkan pihak Dinas Kependudukan bersedia melakukan verifikasi langsung pagi ini karena seluruh dokumen pendukung sudah lengkap.Adam membaca email itu lama sekali. Lalu tanpa sadar tersenyum kecil sendiri.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… mamanya akan benar-benar kembali “hidup” secara resmi di mata negara.Bukan lagi perempuan tanpa identitas, bukan lagi bayangan. Melainkan Bunga Indah Lestari yang sah.Adam langsung menoleh ke arah Hana yang sudah tertidur lebih dulu di atas ranjang hotel. Wajah perempuan itu tampak damai sambil memeluk bantal.Tatapan Adam langsung melembut. Pelan-pelan ia mematikan laptop, lalu mendekat ke ranjang da

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Big Boss Aegis

    Malam itu akhirnya berjalan seperti biasanya. Atau setidaknya… berusaha terlihat biasa.Karena begitu Surya datang ke rumah makan Bunga dengan alasan ‘kebetulan lewat’, Adam langsung tahu satu hal, bahwa sang Papa tidak akan pulang cepat.Dan benar saja. Satu jam pertama mereka masih makan bersama.Jam kedua Surya mulai membantu Bunga membereskan stok bahan makanan sambil sesekali mencuri perhatian perempuan itu dengan komentar-komentar kecil yang membuat Bunga salah tingkah sendiri.Dan masuk jam ketiga, Adam akhirnya menyerah. Ia melirik Hana yang sedang menahan tawa di sampingnya.“Kita pulang aja, yuk?”Hana mengangkat alis kecil. “Yakin?”Adam melirik ke arah dapur belakang tempat Surya dan Bunga masih terdengar berdebat kecil soal cara menyimpan mie basah.“Kalau kita tetap di sini,” bisiknya pelan, “aku takut Papa pura-pura nginep.”Hana spontan menutup mulut menahan tawa, “Ish, kamu.”“Aku serius.”Dan lima belas menit kemudian, mereka benar-benar pindah ke hotel.***Lampu ka

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Hadiah Untuk Mama

    Semua yang Julian janjikan pada hari itu ternyata benar-benar ia tepati.Tidak ada relokasi, tidak ada penggusuran, tidak ada rumah yang diratakan seperti ketakutan warga beberapa hari sebelumnya.Sebaliknya, hanya dalam waktu dua minggu, kawasan kecil itu justru mulai berubah perlahan.Jalanan yang sebelumnya rusak mulai diperbaiki. Saluran air yang bertahun-tahun tersumbat mulai dibersihkan. Lampu jalan yang dulu sering mati kini menyala terang setiap malam.Dan yang paling membuat warga terkejut, tak satu pun dari mereka diminta pindah.Awalnya banyak yang curiga. Namun setelah pihak Aegis benar-benar turun langsung melakukan penataan kawasan tanpa menggusur warga, ketakutan itu perlahan berubah menjadi rasa lega.Lalu berubah lagi menjadi rasa malu. Karena mereka sudah sadar bahwa orang yang dulu mereka hina justru menjadi alasan kawasan itu diselamatkan.Sejak hari itu, sikap warga terhadap Bunga berubah total. Tak ada lagi bisik-bisik sinis saat ia lewat, tidak ada lagi tatapan

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Semuanya Karenamu

    Siang harinya...Bunga akhirnya menyerah.Dengan wajah setengah kesal dan setengah malu, ia berdiri di depan gedung pusat Aegis Group sambil memandangi bangunan tinggi menjulang itu.“Gila,” gumamnya pelan lagi.Satpam depan bahkan langsung membungkuk hormat begitu melihatnya.“Selamat siang, Ibu.”Bunga langsung kikuk sendiri.“I-iya…”“Bapak Surya sudah menunggu di atas.”Bunga langsung melotot kecil, “Tunggu dulu, saya, kan, belum bilang mau ketemu dia.”Satpam itu tampak bingung. “Maaf, Bu… soalnya tadi sudah ada instruksi khusus.”Bunga langsung menutup mata sebentar, “Dasar Julian...”Laki-laki itu benar-benar sudah menebaknya akan datang. Dan yang lebih menyebalkan, nyata Bunga memang datang.Lift bergerak naik perlahan hingga ke lantai paling atas. Begitu pintunya terbuka… Bunga langsung berhenti melangkah.Ruangan itu sepi, tidak ada sekretaris, tidak ada staff, apalagi suara meeting.Hanya ada Surya.Laki-laki itu duduk santai di sofa dekat jendela besar sambil memegang cang

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Kekanakan

    Beberapa hari setelah malam pengakuan itu, hidup mereka berubah pelan-pelan. Tidak meledak, tidak dramatis, dan justru terlalu sunyi.Setelah semuanya, kini Adam akhirnya tahu semuanya.Tentang siapa Bunga bagi Surya sebenarnya, tentang nama wanita bernama Flow yang sering ayahnya sebutkan selama ini. Berikut cerita bagaimana dirinya terpisah dari ibu kandungnya sejak bayi. Tentang bagaimana semua orang di ruangan itu sama-sama terlambat menemukan kebenaran.Dan setelah tangis panjang malam itu… yang tersisa hanyalah kecanggungan.Adam masih berusaha menerima fakta bahwa pasangan itu memiliki kisah hidup kelam yang baru terkuak saat ini. Lalu Hana, dia sibuk menjadi penengah setiap suasana mulai terasa terlalu berat.Sementara Bunga…Bunga memilih menjauh sebentar, bukan karena membenci Surya. Justru karena terlalu banyak rasa yang kembali hidup setelah bertahun-tahun ia kubur mati-matian.“Aku cuma mau nenangin diri dulu,” katanya waktu itu pelan pada Surya. “Jangan datang dulu bebera

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   82 Fakta Miris Masa Lalu

    Ruang belakang rumah makan kecil itu sunyi. Hanya suara angin malam yang berdesis lembut di celah jendela. Bunga—atau Flo—berdiri dengan kedua tangannya saling meremas, sementara Surya menutup pintu perlahan, seolah takut suara itu akan memecahkan sesuatu yang rapuh di antara mereka.Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.Tatapan dua orang yang pernah saling mencintai, lalu terpisah oleh takdir yang kejam.Surya menghela napas panjang. Bahunya turun, wajahnya melemah. “Flo… aku—”Suaranya pecah. Ia menunduk, menutup mata, berusaha menarik kekuatan dari udara yang terasa berat.Bunga memandangnya dengan mata yang mulai berkaca. “Kamu bisa bicara, Julian. Aku di sini.”Surya tersenyum getir mendengar nama itu. Nama lama yang hanya dia dan Flo kenal. Nama yang pernah ia pikir sudah mati bersama masa mudanya.“Aku dulu berpikir kamu… meninggal,” katanya pelan. “Aku benar-benar percaya kabar itu, Flo.”Bunga mengerjap. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Aku tahu. Aku dengar it

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Dia Mamaku

    Suasana sore di dapur rumah Hana terasa tenang, hanya terdengar suara sendok beradu pelan di cangkir teh yang baru saja ia aduk. Udara membawa aroma jahe hangat yang menenangkan. Tapi hati Hana justru sebaliknya, penuh tanda tanya yang menumpuk sejak kejadian di pasar tadi.Ia memandangi jendela, d

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Aku Belum Siap

    Suara itu nyaris tak terdengar, hanya getar di udara.Surya menunduk sedikit, menatapnya dengan mata yang basah tapi tenang,.“Iya, Flo. Aku.”Bisikan itu cukup untuk membuat beberapa orang yang masih mengamati menahan napas. Ibu penjual daging yang tadi lantang kini sibuk menutup mulut dengan tang

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Pertemuan Julian Dan Flo

    Pagi itu langit belum terlalu terik. Pasar tradisional penuh suara teriakan pedagang, gesekan plastik, dan aroma sayur segar yang berpadu dengan bau tanah basah sisa hujan semalam.Surya berjalan di belakang Hana, membawa tas belanjaan besar yang setengah penuh. Menantunya itu asyik menawar ikan te

  • Gelora Cinta Bos Berondong Manisku   Sama-sama Menunggu

    Sore itu, aroma masakan memenuhi seluruh rumah. Bunga dan Hana sibuk di dapur sejak siang. Meja makan sudah tertata rapi dengan sup ayam bening, ikan bakar kesukaan Adam, dan puding mangga favorit Hana.“Wah, Tante serius banget, nih,” kata Hana sambil tersenyum kagum. Bunga hanya tertawa kecil. “N

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status