LOGIN"Kalau kamu sangat membenciku, kenapa kamu berusaha menikahiku, bahkan berjuang mendapatkan hatiku?" tanya Griceliene Albert, putri tunggal keluarga Marques Albert. Wajah cantiknya kini tampak layu penuh kepedihan, pipinya yang dulu chubby berubah menjadi cekung. Griceliene, yang dulunya dikenal sebagai wanita tercantik di Kekaisaran Utara, kini bagaikan bunga yang layu hampir mati. Tubuhnya yang kurus seolah tak berdaya tersapu angin. Hidupnya berubah drastis setelah Kaisar Devone Lorens—yang tak lain paman suaminya—meninggal dunia akibat pemberontakan, dan keluarganya dieksekusi. Yang lebih parah lagi, orang yang mengeksekusi kedua orang tuanya adalah suaminya sendiri, tepat di hadapannya dan di depan seluruh rakyat Kekaisaran Utara. Duke Camille Lorens membalas pertanyaan istrinya dengan tawa penuh penghinaan. Ia mencengkram dagu Griceliene dengan kasar. "Artinya kamu kalah, karena aku berhasil merebut hatimu. Griceliene, semua ini baru permulaan. Penderitaanmu yang sesungguhnya akan segera menantimu," ucap Camille sebelum mengunci pintu loteng, tempat Griceliene dikurung selama ini.
View MoreLady Griceliene Albert putri tunggal dari Marquess Albert tak pernah membayangkan, jika hari dimana pernikahannya di langsungkan adalah hari dimana kedua orang tuanya di tangkap dan di eksekusi didepannya dan di depan rakyat kekaisaran Utara.
Setelah Griceliene Albert dan juga suaminya Grand Duke Camille Lorens selesai mengucapkan janji suci pernikahan, para kesatria itu langsung menyerbu masuk bersama dengan penasihat kekasiaran. Ketika penasihat kaisar melangkah mendekat altar dimana Griceliene berada, suara beratnya menggema, "Kaisar Devone Lorens sudah di eksekusi atas tuduhan pembunuhan Kaisar sebelumnya, pemberontakan dan bersekutu dengan negara musuh." "Adapun, Keluarga Duke Alves, keluarga Marquess Albert dan beberapa faksi pendukung kaisar Lorens akan dieksekusi hari ini atas tuduhan pemberontakan, pengkhianatan dan pembunuhan berencana dari orang tua Duke Camille Lorens sepuluh tahun lalu." Kata-kata itu seperti palu godam yang menghancurkan segala asa Griceliene. "Tidak ... Tidak mungkin kedua orang tuaku terlibat dengan kematian kedua orang tua Camille," gumam Griceliene lirih dan putus asa. Ia menggigit keras bibir bagian bawahnya sampai berdarah, mengingat Camille yang masih berdiri terpaku tak jauh darinya, membuat Griceliene menundukkan wajahnya. Karena ia tak mampu menatap wajah pria yang begitu sangat dicintai. Suara gaduh langsung memenuhi gereja yang megah, gema langkah kaki tamu yang berlari terburu-buru dan teriakan panik membanjiri ruang sakral itu. Debu beterbangan saat beberapa prajurit berwajah dingin dan bersenjata lengkap dengan paksa menyeret kedua orang tua Griceliene keluar gereja. Wajah mereka yang dulu penuh kasih kini tampak ketakutan dan lemah, tangan mereka terikat, mata memancarkan ketidakberdayaan di tengah kerumunan yang semakin kacau. Griceliene berdiri terpaku, dadanya naik turun berat, jantungnya seperti tercekik, masih sulit baginya untuk mempercayai semua kenyataan ini. Duke Camille Lorens masih berdiri tegap di altar, wajahnya yang baru saja bersinar dengan kebahagiaan usai mengucapkan janji suci kini berubah menjadi senyum dingin yang menusuk hati. Griceliene mendengar rintihan lirih ibunya, sontak ia pun sedikit mendongakkan wajahnya untuk mencari sumber suara. Matanya membulat tak percaya, ayah ibunya yang sebelumnya selalu di perlakukan terhormat. Sekarang terlihat lebih buruk dari binatang yang akan di sembelih, para kesatria istana menyeret ibunya dengan menjambak rambut ibunya yang biasanya tersanggul dengan rapi. Bahkan ayahnya ... Sungguh Griceliene tidak sanggup melihatnya lagi, napasnya terasa sesak dan hatinya tercabik-cabik. Bayang-bayang kehidupannya yang selama ini selalu bahagia bersama kedua orang tuanya berputar dalam benaknya. Sebelumnya Griceliene pernah bermimpi, untuk memiliki rumah tangga yang harmonis seperti kedua orang tuanya, dengan seorang anak yang begitu dicintai. Namun, sekarang apakah semua mimpinya itu mungkin terjadi setelah semua tragedi yang terjadi sekarang ini? Griceliene memberanikan diri, untuk mendongak dan menatap ke arah suaminya. Bukankah suaminya harusnya bersimpati dengan apa yang menimpa mertuanya? Namun, hal itu membuat Griceliene tertegun, tatapan suaminya tidak menunjukkan setitik pun belas kasihan. "Camille, tolong… tolong selamatkan orang tuaku," suara Griceliene bergetar, napasnya tersendat-sendat. Ia memaksa untuk terus menatap suaminya lalu melangkah mendekat, tangan gemetar meraih jas suami yang tegak di hadapannya. Namun, Camille hanya tertawa kecil, suara itu seperti derai es yang menembus kehangatan harapan Griceliene. Ia membiarkan tatapan kosong itu menusuk, tanpa sepatah kata pun untuk membantunya. Griceliene terjatuh berlutut, air mata mengalir deras tanpa henti, wajahnya memucat. Ia menggenggam tangan Camille dengan putus asa, "Camille, aku memohon… jangan biarkan mereka mati. Aku pasti akan membuktikan ketidakbersalahan mereka." Namun, lelaki itu hanya memalingkan wajahnya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian dan tawa getir yang membekukan hati. Griceliene kembali memohon, "tolong bantu kedua orang tuaku. Demi aku, bukankah sebelumnya kamu mengatakan mencintai ku dan akan melakukan semua hal untuk ku?" Namun Camille malah menepis kasar kedua tangan istrinya, bahkan dengan ekspresi jijik mengambil sapu tangan dari dalam jasnya dan mengelap tangannya yang baru saja Griceliene pegang. "Tidak perlu memohon seperti itu, aku akan membantu meringankan dosa-dosa kedua orang tuamu dengan mengeksekusi mereka dengan tanganku sendiri didepan mu. Haha." Kata Camille dengan suara tajam dan menusuk di sertai suara tawa yang kejam. Tubuh Griceliene benar-benar limbung sekarang benar-benar sudah kehilangan kekuatan. Ia tidak percaya perubahan sikap Camille yang begitu tiba-tiba padanya. Griceliene teringat dengan perkataan ayahnya seminggu lalu. "Ada sebuah rahasia tentang keluarga Camille yang selama ini diam-diam aku selidiki, Griceliene sebenarnya kedua orang tua Camille adalah sahabatku, setelah dua tahun kematian kedua orang tua Camille aku dan ibumu selalu bimbang." "Mengingat kamu dan Camille sudah terikat sumpah darah yang di buat waktu kamu masih bayi, untuk terikat sebagai pasangan seumur hidup dengan Camille. Setelah dua tahun kematian orang tua Camille, aku dan ibumu akhirnya memutuskan untuk bergabung faksi pemberontak guna mencari bukti dan mencari orang yang terlibat dalam pembunuhan orangtua Camille. Dan sekarang aku sudah mempunyai semua buktinya yang tersimpan rapat di kotak ini." Setelah mengingat semua perkataan ayahnya, Griceliene memaksakan diri untuk bangkit, ia berlari sekuat tenaga keluar dari gereja menuju rumahnya. Waktu itu ayahnya sudah berkali-kali meminta Camille untuk bertemu, namun selalu saja gagal. "Celine, masih ada kesempatan. Kamu harus pulang dan mencari bukti itu sebelum kedua orang tuamu di eksekusi," gumam Griceliene dengan air mata yang terus berderai. Beberapa kesatria menatap Camille, seolah-olah bertanya 'apakah mereka harus mengejar dan menangkap Griceliene?'. Namun Camille hanya mengayunkan tangannya dengan wajah yang menyeramkan. Setelah tubuh Griceliene menghilang dari pandangannya, senyuman Camille pun ikut lenyap. Ada rasa tak nyaman yang sekarang ini menyergap Camille, "bukankah seharusnya sekarang ini aku senang? Tapi kenapa perasaanku terasa aneh?" Saat Camille merasa ragu akan keputusannya, karena teringat akan foto kebersamaan orang tuanya dan orang tua Griceliene yang tak sengaja di temukan di gudang. Tiba-tiba Loria Ivon memegang lengannya dengan lembut, "Camille, akhirnya kamu berhasil membalaskan dendam kedua orang tuamu." Dengan wajah tak nyaman, Camille menjauhkan tangan Loria dengan lembut. "Lady Loria, tolong jaga tingkah laku Anda." Loria Ivon, putri dari Viscount Ivon langsung memundurkan langkah kakinya. "Maafkan saya Tuan Grand Duke Camille Lorens, saya hanya terlalu senang dengan apa yang sudah anda capai." "Nanti malam datang ke mansion, aku akan memberikan hukuman untukmu." Sahut Camille pura-pura marah. Sementara Loria semakin menundukkan wajahnya, pura-pura menangis. Untungnya, semua tamu bangsawan yang hadir sebagai tamu pernikahan sudah keluar dari gereja, jadi Loria tak perlu lama-lama berpura-pura bersedih. Para kesatria pun segera mengalihkan pandangan, bahkan meninggalkan gereja satu per satu. Tak berselang lama, gereja benar-benar menyisakan Loria sendirian. "Haha, Griceliene, aku sungguh bahagia melihat kehancuran keluargamu. Semua ini gara-gara kesombongan orang tuamu yang memenjarakan ayahku sepuluh tahun lalu karena penggelapan pajak. Selain membuat orang tuamu tersiksa di neraka, aku juga sudah merebut pria yang kau cintai," kata Loria dengan tawa penuh kebencian. Ia teringat betul akan kesombongan Marquess Albert sepuluh tahun lalu, yang menolak dua puluh peti koin emas demi menolak membantu ayahnya. "Aku benar-benar tak sabar melihat orang yang kau cintai menghancurkan mu sampai berkeping-keping.""Akh ... Miele, ini geli." Kata Griceliene dengan nada suara yang menggemaskan. Hal itu semakin membangkitkan hasrat dalam diri Camille. Camille perlahan bangkit berdiri, tubuhnya yang tanpa sehelai benang terlihat jelas di bawah sinar bulan yang menusuk lewat jendela kamar. Hal itu membuat Griceliene berusaha memalingkan wajahnya berkali-kali. Walaupun rasa penasaran mengguncang batinnya. Cahaya lembut itu memantul di kulitnya, menciptakan siluet yang penuh kerinduan dan penyesalan. Griceliene merasa bingung dengan ekspresi wajah suaminya. "Apakah aku harus mencari tahu? Sepertinya ada sesuatu yang aneh dan di sembunyikan oleh suamiku." Griceliene merasa penasaran dan ingin sekali mencari tahu, tapi tetap saja masih ada rasa takut yang mengganjal. Sementara mata Camille terpaku pada sosok Griceliene, istrinya yang juga telanjang, dengan rambut pink nya yang acak-acakan terurai di atas bantal. Dengan gerakan penuh kelembutan, Camille mengangkat tangan dan menyentuh pip
Akhirnya Camille menunda kepulangannya ke Grand Duchy, ia memilih kembali ke Vila miliknya yang ada di perbatasan.Setalah sampai kamar, Camille langsung menutup pintu kamarnya dengan suara pelan namun tegas, menolak semua permintaan para pelayan yang ingin masuk untuk membantu. Di balik pintu itu, hanya ada dia dan Griceliene, istrinya yang sedang terbaring lemah di ranjang mewah vila perbatasan mereka. Camille sendiri yang dengan hati-hati mengusap keringat di dahi Griceliene, sesekali menyuapinya dengan sendok kecil berisi obat. Matanya tajam, penuh perhatian tapi juga terselubung kegelisahan, bukan hanya cinta, tapi obsesi yang mencekam.Griceliene memejamkan mata, napasnya masih tersengal-sengal, tubuhnya panas dingin. Camille terus menjaga, menyiapkan air hangat untuk mandi dan memastikan istrinya tak kesepian. Ia tak membiarkan siapapun menggantikan perannya hari-hari itu. Seminggu pun berlalu, demam Griceliene mulai menurun, tubuhnya yang tadinya lemas mulai menunjukkan
Pagi itu langit kelabu seolah turut berduka di atas istana Sira. Di halaman megah, upacara pemakaman berlangsung dengan hening yang menusuk, diiringi gemuruh langkah para bangsawan yang berbaris rapi. Ratu Diana berdiri tegak di sisi keranda permaisuri, wajahnya terbalut senyum sinis yang sulit dibaca. Upacara ini terpaksa Diana lakukan sebagai formalitas, karena kesalahan suaminya. Tiba-tiba mengangkat permaisuri tanpa rundingan terlebih dulu dengannya. Mengingat faksi terlanjur terpecah, apalagi ia memiliki aib tentang putra kandungnya, yaitu sang Putra Mahkota, jadi waktu itu terpaksa tidak bisa melayangkan protes, karena takut aib sang putra akan ikut di bahas. Matanya yang tajam menyapu barisan tamu, menyaksikan bagaimana faksi -faksi bangsawan yang sebelumnya berpihak pada permaisuri kini bergeser perlahan ke kubunya, seperti burung-burung yang mencari sarang baru. Sorot mata Grand Duke Camille lorens dari kekasiaran Utara tiba-tiba bertemu pandang dengan Ratu, sosok yang
Perjalanan menuju kerajaan Sira terasa singkat berkat keberadaan gate teleportasi yang memudahkan perpindahan jarak jauh. Namun, setiap kali melewati gerbang bercahaya itu, tubuh Griceliene selalu dihantui demam yang membara, membuat wajahnya pucat dan keringat dingin menetes di pelipisnya. Camille dengan penuh perhatian merawat dan dalam perjalanan ia terus memangku tubuh istrinya, menatapnya dengan mata yang penuh kekhawatiran namun berusaha menahan rasa cemas agar tidak terlihat oleh rombongan. Griceliene sendiri tampak lemah, matanya tertutup rapat dalam tidur yang nyenyak namun penuh ketegangan, hanya terbangun sesekali untuk makan sedikit dan ke kamar kecil.Di sisi lain, Putra Mahkota Dirian duduk terpaku di kereta kuda, tatapannya mengerut penuh tanda tanya. Ada keganjilan yang ia rasakan, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia memperhatikan Camille yang begitu sabar menjaga Griceliene, dan Griceliene yang tampak seperti terperangkap dalam tubuhnya sendiri


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.