Masuk"Jangan mencoba ingin pergi dariku, kau milikku dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita." Leon lah yanh mencegah Tasya ketika dia ingin pergi dari sana. "Tapi, Liora— "Dia memanggilmu, ada yang ingin dia bicarakan." Ucap Leon memotong perkataan Tasya. "Aku hanya takut, aku merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Liora saat ini. Kecelakaannya pasti karenaku." Matanya berkaca-kaca karena dia tidak mau terjadi sesuatu lagi dengan Liora ketika mereka memaksakan restu Liora yang tidak pernah memberikannya. "Masuklah, Sayang." Leon memaksa dan bahkan menggandeng tangan Tasya agar masuk ke dalam. Dia bisa melihat Liora yang sudah terduduk dan melihatnya. "Dulu kita bersahabat, tapi kita bertengkar karena kau menjalin hubungan diam-diam dengan ayahku." Ucap Liora memulai pembicaraan. "Maafkan aku. Aku— "Awalnya sejujurnya aku snagat marah dan kecewa padamu, aku terlalu percaya dengan ibuku sehingga aku tidak mempercayaimu dan malah mempercayai dia jika kaulah penyeba
Leon dan Tasya berlarian ke rumah sakit ketika mendapatkan kabar dari kepolisian jika anaknya terlibat kecelakaan. Bahkan Tasya sedari di mansion sudah menangis karena Liora di rawat di rumah sakit. Saat sampai di depan ruangan Liora, bertepatan dengan dokter yang keluar dari sana. "Dokter! Bagaimana putriku?" Tanya Leon yang jelas saja juga panik. "Dia— dia baik-baik saja, bukan?" Tasya yang tak kalah paniknya bahkan merasa pusing. "Kecelakaannya sangat parah— Belum dokter meneruskan perkataannya, Tasya sudah tidak sadarkan diri yang membuat Leon juga terkejut, beruntung dia menangkap tubuhnya dan akhirnya dia di bawa ke ruang rawat. "Tuan, maafkan aku. Maksutku memang kecelakannya sangat parah, tapi beruntung Nona Liora baik-baik saja dan bahkan langaung di bawah ke rumah sakit. Dia hanya mengalami cidera ringan di beberapa tubuhnya dan kepalanya, namun tidak ada hal serius di dalam tubuhnya, semua baik-baik saja." Ucap Dokter pada akhirnya yang membuat Leon merasa le
"Kau jadi tidak bisa kembali dengan Leon. Bukankah selama ini kau memanfaatkannya." Ucap Doni . "Ya, tapi percuma saja, aku selalu menghasutnya tapi dia yang tidak berhasil menghasut ayahnya, menyebalkan." Emma menggerutu namun tidak juga turun dari pangkuan Doni. "Kau harus bisa memcahkan hubungan Leon dan istri barunya, karena uangmu bahkan sudah habis, ingat! Jika kau masih menginginkanku untuk memuaskanmu, aku juga ingin dibayar." "Uangku bahkan semuanya untukmu sedari dulu, saat kita berselingkuh dari Leon, dan dia menceraikanku, hanya Liora yang bisa aku andalkan. Sekarang dia pergi. Seharusnya kau juga membayarku. Atau setidaknya kota sama-sama untung di sini, Bukankah kau juga menyukai tubuhku." Emma mengomel karena Doni hitung-hitungan dengannya. "Karena kecerobohanmu dulu akhirnya kita ketahuan selingkuh. Beruntungnya Leon tidak mengatakan yang sebenarnya tentang kebecatanku, kau juga dilepaskan olehnya. Jika kau hitung-hitungan denganku, maka aku akan mengadukanmu
Leon menghampiri istrinya yang sedang bermain putranya. "Daddy." Tristan langsung senang ketika melihat ayahnya dan bahkan menghampirinya. Leon jelas saja langsung menggendong anaknya dan menciumi pipi gembulnya. "Sus." Leon memanggil baby siter anaknya dan memberikannya kepadanya. "Kau marah dengan Liora." Leon menghampiri istrinya yang sedari tadi hanya diam saja. "Hanya kesal." Tasya akhirnya menghela nafas panjangnya lalu memeluk Leon. "Maafkan aku. Aku terlalu lelah karena sikap Liora, seharusnya kau mengatakan yang sebenarnya tentang ibunya. Dia masih mengira jika aku adalah penyebab perceraianmu dengan Emma." Lanjutnya. "Dia pasti akan tau. Tapi bukan kita yang memberitahu. Dia sudah terlalu menyanyangi dan percaya dengan ibunya. Jika kita memberitahunya yang sebenarnya, maka akan menjadi sia-sia dan mungkin saja Liora semakin membencimu karena mengira kau mengarang cerita dan menjelekkannya." Ucap Leon yang mengelus pelan rambut istrinya. "Lalu kapan dia akan m
Leon memang tidak benar-benar sakit. Dia hanya berpura-pura dan terpaksa melakukan sandiwara ini agar Liora mau pulang. Dan ternyata filingnya benar, jika dia pulang ketika mendengar dirinya yang sakit-sakitan. "Jika tidak begini, Liora tidak akan kembali. Sayang. Seharusnya sedari dulu kau memeprbolehkanku berakting seperti ini." "Aku tidak mau bermain-main dengan sakit-sakitan seperti ini." Jelas saja Tasya tidak setuju. "Sandiwara itu perlu untuk membujuk putrimu, dia sangat kaku." Ucap Leon. Kenyataannya infus yang diberikan kepadanya hanyalah vitamin, bukan karena dia sakit sungguhan. "Dia belum menerimaku." Tasya menghela nafas panjangnya, bahkan sedari tadi Liora benar-benar tidak mau berbicara dengannya. "Dia pasti menerimamu, Sayang. Bagaimanapun kau dulu sahabatnya, dia bahkan sangat menyayangimu." Leon menenangkan istrinya agar tidak terlalu sedih karena memang dia sendiri melihat bagaimana sikap Liora kepada Tasya. Tasya hanya bisa tersenyum dan akhirnya meng
Sedangkan di tempat lain, Alex berada di negara lain, dia terpaksa meninggalkan Liora karena dia lupa jika ada penerbangan pagi ini ke negara lain untuk menjemput ibunya. "Aku pikir kau tidak jadi menjemput ibumu." Alina menyindir putranya yang baru datang dan terlambat hampir satu jam menjemputnya. "Jika minta jemput, seharusnya mama meminta jemput di bandara, bukan menjemput di tempat seperti ini." Alex juga mengomel karena ibunya meminta dirinya menjemputmya di rumahnya. "Mana kekasihmu?" Tanya Alina. "Ingat perkataan mama, Alex. Jika kau belum memiliki kekasih atau bahkan belum menikah sampai akhir tahun ini, mama akan menjodohkanmu dengan anak teman mama." "Bukan jamannya jodoh-jodoh seperti itu, aku bisa mencari pasanganku sendiri, Ma." Alex benar-benar malas jika bertemu ibunya sudah pasti yang di tanyakan adalah pasangannya. "Kau sudah 26 tahun dan mama sampai sekarang belum melihat kau menggandeng wanita sama sekali, banyak wanita yang mengejarmu tapi kau malah m







