LOGINKarena membutuhkan biaya yang banyak untuk perawatan adiknya. Natasya Grey terpaksa menjadi simpanan seorang duda tampan dan menjadi Sugar Daddy untuknya. Leonardo Stell. Namun apa jadinya jika ternyata Sugar Daddy-nya selama ini adalah ayah dari sahabatnya sendiri. Liora Stell. Liora yang tau jika ayahnya memiliki hubungan dengan sahabatnya sangat murka dan menginginkan mereka berpisah karena dia masih menginginkan ayahnya kembali bersatu dengan ibu kandungnya. Karena tidak ingin persahabatnya dengan Liora hancur, Natasya ingin meninggalkan Leon, namun saat dia ingin pergi, ternyata dia baru tau jika dirinya sedang hamil. Lalu apakah yang terjadi selanjutnya? Apakah Natasya bisa bersatu dengan Leon mengingat Liora tidak menyetujui hubungan mereka.
View MoreKetika aku tahu pikiran gilamu, sedang kamu tidak menyadari hatiku yang menggila. Sialan kamu, Sam!!!
Dan malam itu, disebuah kamar hotel bintang 5 tipe Deluxe aku terjebak diantara sepasang suami istri yang bersetubuh untuk pertama kalinya diusia enam bulan pernikahan mereka. GILA! Aku tak menyangka Sam telah menyusun rencana gila dalam kepalanya dengan melibatkan aku di dalamnya.
Pukul 07.15 malam. Aku sedang asyik scroll I*******m setelah sebelumnya menelepon suami dan anakku di rumah untuk melepaskan rindu dan sekadar berbagi kabar, dengan santainya telentang di sofa samping jendela kaca yang menampakkan suasana malam kota Surabaya di ketinggian lantai 32. Sementara Nia, rekan kerjaku yang berada di kamar hotel yang sama, tampak berbaring nyaman di kasur. Sampai tiba-tiba terdengar dering handphone milik Nia, dia tampak terkejut melihat nama si penelepon lantas terduduk dengan cepat.
“Ya, Mas?” sapa Nia, dia tidak berhasil menyembunyikan keterkejutan dalam nada bicaranya.
Aku menoleh sebentar lalu kembali fokus pada handphoneku, saat aku yakin yang meneleponnya adalah Sam, suaminya yang juga merupakan atasanku di kantor.
“Aku di hotel.” jawab Nia, yang sepertinya Sam menanyakan posisi keberadaannya.
Nada bicara Nia terdengar pelan, antara canggung, malu, gugup, dan resah. Dia selalu seperti itu, ekspresi wajah, gestur tubuh, bahkan nada bicaranya tidak dapat menyembunyikan apapun.
“Tidak, aku tidak sendiri, tentu ada Mala juga … ia, setahuku Mala sudah menyelesaikan pekerjaannya … Ia mas, seperti yang mas sarankan, hotel bintang 5 Deluxe Room, kita di lantai 32 di kamar 301. Apa tidak apa-apa mas? Untuk dinas luar karyawan dengan tarif hotel bintang 5 tipe deluxe, bukankah itu terlalu berlebihan? Apa tidak akan menyebabkan masalah atau keributan di kantor?" tanya Nia khawatir.
"Ia, memang mas adalah CEO di kantor. Justru karena mas adalah CEO di kantor, bukankah harus lebih berhati-hati agar tidak memancing kecurigaan karyawan lainnya?” tanya Nia lagi, jelas hatinya sangat tidak tenang.
Aku masih asyik dengan handphone, berpura-pura tidak mendengarkan Nia yang berbicara dengan suaminya tentang kekhawatiran statusnya sebagai istri simpanan CEO di kantornya diketahui karyawan lain. Yang sepertinya memang tidak ada yang tahu selain aku. Aku bahkan tidak mengerti mengapa untuk pekerjaanku Sam harus menyertakan Nia yang bahkan tidak ada kaitannya dengan permasalahan dalam pekerjaan kali ini.
“Mala, kamu pergi dengan Nia!” itu yang Sam katakan saat aku mengajukan persetujuan surat dinas luar kantor padanya, untuk kepergianku ke Surabaya menangani kantor cabang yang memang tengah ada masalah dalam peluncuran produk baru.
“Saya tidak masalah dengan itu pak, apabila memang Nia bersedia. Karena pekerjaan ini bahkan tidak ada sangkutannya dengan Nia dan saya yakin dapat menyelesaikannya. Khawatirnya mungkin merepotkan Nia karena harus ikut ke Surabaya.” ujarku cemas.
“Tidak apa-apa, dan perpanjang waktunya menjadi 4 hari. 3 hari kamu bisa bekerja, dan hari terakhir bisa kalian gunakan untuk jalan-jalan. Pesan kamar hotel yang bagus dan nyaman.” Sam menyodorkan berkas persetujuannya kembali padaku untuk direvisi. “Bikin reservasi di hotel JK untuk 1 kamar tipe deluxe.”
“Bapak mau ada tugas ke Surabaya juga?” tanyaku heran saat dia minta dipesankan kamar di hotel bintang 5.
Sam menatapku sesaat, namun tatapannya tampak aneh dan sulit dimengerti. Entah itu pandangan yang menggambarkan keterkejutan, atau cemas, atau khawatir. Yang pasti bukan marah. Tapi hanya sesaat. “Tidak.” jawabnya kemudian. “Itu untukmu dan Nia, agar kalian bisa nyaman setelah bekerja.”
Aku tercenung sesaat, memang sejak Sam kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk fokus menangani perusahaan, sering kali aku mendapati tatapan Sam yang tidak bisa kubaca dan aku tak pahami.
“Ummm, terimakasih banyak atas perhatiannya. Tapi hotel bintang 5 dengan tipe kamar deluxe, apa tidak apa-apa untuk sekadar karyawan dinas luar?” tanyaku ragu. Bukannya aku menolak, kapan lagi aku bisa menginap di hotel bintang 5 kan? Hanya saja karena ini tugas kantor dan menggunakan dana perusahaan, aku agak khawatir dengan pandangan karyawan lain.
“Sudahlah, aku yang menyetujui, tidak apa-apa. Dan lagi Mal, sebenarnya aku agak merasa bersalah pada Nia. Kamu tahu dia istriku, tapi aku terlalu sibuk untuk memperhatikannya. Jadi aku minta tolong padamu sebagai sahabatnya, tolong ajak dia bersenang-senang di Surabaya. Tidak usah memikirkan biaya, aku yang akan menanggung semuanya. Aku tidak bisa menemaninya, meski begitu aku harap dia masih bisa bersenang-senang dengan sahabatnya.” tuturnya.
Tak ada ekspresi di wajahnya saat mengatakannya, dia datar seperti biasa, meski nada bicaranya terdengar agak sedih. Dan aku tidak bisa berkata-kata lagi. Apa yang harus kukomentari? Meski mungkin barusan Sam yang adalah CEO dikantorku sedang berbicara mengenai hal pribadinya, namun aku masih merasa canggung. kita tidak dekat atau bersahabat, hanya sekadar aku tahu bahwa dia menikah dengan Nia yang adalah sahabatku. dan aku juga khawatir salah berucap.
Akhirnya aku berbalik meninggalkan ruangan Sam untuk segera merevisi pengajuan surat dinas yang disesuaikan dengan permintaannya. lalu kembali menyodorkannya kepada Sam setelah kuperbaiki dengan rapih. Dia menandatanginya meski budget untuk perjalanan dinas kali ini 4 kali lebih besar dari biasanya, Sam bahkan memberikan kartu kreditnya padaku untuk aku gunakan mengajak Nia jalan-jalan dan berbelanja di Surabaya.
Lagi aku merasa canggung, “Apa kartunya tidak sebaiknya Bapak berikan kepada Nia saja?” tanyaku tak enak hati.
Sam terdiam sesaat, dengan menopang dagunya dia menatapku. seperti tatapan yang lembut dan anehnya dadaku berdesir. aku tidak punya pikiran buruk atau niat jahat, sungguh aku sadar benar Sam adalah suami dari sahabatku, Nia. Tapi Sam memang menawan, dia tampan dan posturnya gagah, dimataku Sam memang seorang CEO laki-laki dengan penampilan yang hampir tampa cela!
Terdengan Sam mendesah berat. “Aku sudah memberikan kartu lain kepada Nia, tapi kamu tahu Nia seperti apa, dia selalu segan menggunakannya. Jadi kali ini aku mohon bantuannya. Kamu pegang kartu ini, beli apapun yang kalian mau, dan makanlah makanan apapun yang kalian mau, tolong kamu pegang kartunya, gunakan dengan sebaiknya.” mohon Sam.
Sesaat aku terdiam, “Terimakasih.” ucapku seraya menundukkan kepala, dan kemudian keluar dari ruangan Sam dengan hati riang. Perjalanan dinas kali ini akan menyenangkan, bahkan bukan seperti bekerja, lebih terasa seperti liburan. Hotel mewah dengan kartu kredit unlimited. Keberuntunganku menjadi sahabat dari istri seorang CEO!
Itu yang aku pikirkan awalnya. Aku tidak menyangka aku harus membayar mahal untuk kemewahan itu …
“Apa?! Mas ada di depan pintu kamar?!” pekik Nia kaget, yang sontak membuatku ikut terhenyak juga mendengarnya.
Hari-hari berlalu, hubungan Alex dan Liora semakin dekat, bahkan mereka sudah pindah ke negara Alex karena memang Liora di boyong ke sana olehnya. Hubungan mereka benar-benar layaknya suami istri, Liora sendiri juga sudah mencintai suaminya ini karena seringnya mereka berhubungan dan selalu bersama. Kini Liora mengunjungi kantor suaminya dengan perut yang sudah sedikit membesar. Liora langsung masuk ke dalam sana tanpa mengetu pintu ruangan Alex. Di sana ternyata dia sedang menerima telefon dari keliennya namun ketika melihat istrinya yang masuk, dia tersenyum dan mengkodenya untuk mendekat. Liora duduk di atas pangkuan Alex namun dia masih mengobrol dengan rekan kerjanya. Cukup lama akhirnya membuat Liora menjadi bosan sendiri. Dia bahkan cemberut karena Alex masih sibuk dengan kliennya. Tadinya dia tidak ingin mengganggu dan ingin turun dari pangkuan Alex, namun dia menahannya dan meminta Liora untuk tetap di atas pangkuannya. "Menyebalkan sekali!" Batinnya yanh kesal
Malam harinya, semua orang berkumpul karena ingin makan malam bersama, namun Alex di kejutkan oleh perkataan Liora ketika dia mengatakan ingin tidur dengan ibu sambungnya."Sayang, kau bilang tadi ingin tidur bersamaku." Alex bahkan protes dan tidak peduli jika di depannya masih ada mertuanya."Entahlah! Aku malam ini sedang ingin tidur dengan Mommy, tidak apa kan?" Liora bahkan memohon yang membuat Akex sebenarnya kesal namun tidak bisa apapun dan hanya bisa menyetujuinya.Padahal dia sudah membayangkan bercinta kembali dengan Liora dan dalam keadaan sadar, pasarinya rasanya akan jauh lebih nikmat dibandingkan waktu itu Liora keadaan mabuk."Tidak! Kau harus tidur dengan suamimu, Liora!" Leon yang kini memprotes karena putrinya ingin merebut istrinya malam ini. Padahal dia juga merencanakan hal lain terhadap istrinya."Daddy biasanya setiap malam sudah tidur bersamanya, aku sedang ingin. Tidak apa kan, Mom!" Liora memandang Tadya yang terlihat bingung.Sejujurnya dia tau maksut prote
Alex dengan buru-buru juga mengganti pakaiannya dan menutupnya dengan bathrobe. Dia turun ke bawah dan menyusul Liora ternyata sudah berenang di sana. Dia tersenyum bahkan sudah bisa melihat tubuh Liora dari atas sana. Alex turun ke bawah yang membuat Liora sudah ada di tepi menoleh. Dia tersenyum ketika Alex menghampirinya. "Jangan terlalu lama berenang nanti, ingat jika kau sedang hamil." Ucap Alex memberitahu yang di angguki oleh Liora. Liora kembali berenang dan akhirnya di susul oleh Alex. Dia ikut berenang beberapa kali namun terakhir dia menarik tubuh Liora yang membuat Liora jelas saja terkejut."Sudah cukup." Alex merengkuh tubuh Lior dan menepikannya di samping kolam.Liora terkekeh dan akhirnya menurut saja karena dia sendiri juga sudah cukup puas."Kenapa kau memandangiku seperti itu." Liora tersenyum karena Alex memandanginya dan bahkan masih merengkuh tubuhnya."Mengagumi kecantikan istriku."Perkataan Alex hanya di tanggapi Liora dengan senyuman.Tangannya refle
Setelah makan siang, Leon, Tasya dan putranya pulang ke mansion, sednagkan Alina masih ada di hotel karena dia akan kembali ke negaranya besok. Sama seperti Alina, Alex dan Liora juga masih ada di hotel dan akan pulang besok pagi. "Besok pesawat mama pagi?" Tanya Luora yang di angguki oleh Alex. "Jam 8 pagi, jam 6 mama sudah berangkat dari sini." Jawabnya yang di mengerti oleh Liora. "Kita kembali dalam satu minggu ini, kau ikut denganku ke megaraku, tidak apa kan, Sayang?" Alex memberitahu meskipun sebenarnya sebelumnya dia sudah berdiskusi dengan Liora dan keluarganya. "Iya, aku tau! Sebelum menikah kan kau sudah memberitahuku dan keluargaku. Aku memang harus mengikutimu." Perkataan Liora akhirnya membuat Alex tersenyum dan memeluknya dari belakang. Liora yang tadinya sedang mengganti menyisir rambutnya tentu saja terkejut namun tersenyum dan membiarkannya. "Terima kasih, Sayang." Akex mencium pipi Liora dan di tanggapi olehnya dengan anggukan dan senyuman. Liora
Alex seperti terkena angin segar, di mana Liora tiba-tiba mengirimkan pesan kepadanya setelah dua kali dia mengajaknya makan malam dan di tolak olehnya, namun kini Liora mengirimkan pesan kepadanya jika dia ingin di ajak makan malam dengannya. Jelas saja Alex langsung menyetujuinya meskipun Liora
Sore harinya. Alex menghubungi Liora namun dia tidak mengangkatnya. Alex dengan sabar menghubunginya lagi bahkan sampai hampirsepuluh kali. Usahanya tidak sia-sia dan akhirnya Liora mengangkatnya meskipun entah sudah ke berapa kalinya. "Ada apa? Kenapa kau menghubungiku berkali-kali. Kau mengang
Leon hanya diam saja ketika mereka kini sudah ada di ruangannya. "Sebelumnya aku minta maaf atas waktu itu. Aku benar-benar tidak tau jika putrimu adalah Liora. Aku menolaknya karena aku hanya meniduri satu wanita dan dia adalah Liora. Dan aku berencana akan menikahinya." Ucap Alex. Leon masih
Liora sendiri masih shock dengan apa yang di katakan Ares tadi kepadanya. "Aku tidak bisa membedakan dia mengatakan kebenaran atau tidak!" Gumamnya. "Dia mencintaiku karena foto sek-si ku?" Liora menghela nafas panjangnya dan sejujurnya lega dengan penjelasan Alex kepadanya. Dia sangat tau












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.