LOGINJiyya sedang mengulur waktu. Tidak ada kata yang lebih tepat untuk menjelaskan kondisinya saat ini ketika ia tiba-tiba saja memberikan tawaran untuk membantu sang librarian baru yang sedang bertugas yang baru dimulai sepuluh menit sebelum ia seharusnya pulang. Ditambah percakapan ringan yang lebih panjang daripada biasanya dengan beberapa orang yang mengenalnya disepanjang jalan. Juga kenyataan bahwa ia berjalan dengan langkah paling lambat yang pernah ia lakukan tanpa menarik perhatian siapa pun. Sambil sesekali berhenti untuk sekadar melihat ke dalam hampir setiap jendela toko yang dilaluinya di perjalanan pulang.Ya, Jiyya tidak akan menampik bahwa ia memang sedang mengulur waktu. Karena kini ia masih belum menemukan cara untuk menghadapi Bestian ketika ia kembali ke rumah nanti. Berjam-jam lamanya ia mencoba menyusun ulang kekacauan pikiran di dalam kepala, dan satu satunya hal yang berhasil ia simpulkan dengan pasti adalah bahwa ia tak bisa berhubungan layaknya suami istri dengan
Dengan hatinya yang telah nyaris pecah belah oleh luka, duka, dan hasrat yang begitu dalam agar segalanya bisa berbeda, emosi yang terpancar dari kedua mata Joan dan dari suaranya saat ia mengatakan bahwa pria itu mencintainya menjadi sesuatu yang terlalu berat untuk ditanggung oleh Jiyya. Ia sama sekali tak memiliki harapan untuk melawan dirinya sendiri ketika bibir pria itu menyentuh bibirnya. Tak ada sedikit pun daya untuk menahan diri agar tidak membalas ciumannya. Malah ia justru tidak segan melingkarkan lengannya di leher sang pria dan berpegang padanya dengan seluruh keberanian yang tersisa di dalam diri.Untuk satu momen yang pendek. Satu momen yang mungkin akan menjadi momen terakhir. Dalam waktu yang teramat singkat itu, saat lidah mereka saling menyusup, saat gigi mereka saling menarik bibir satu sama lain, saat jari jari mereka mencengkeram tubuh masing-masing yang sarat dengan kebutuhan dilandasi keputusasaan. Jiyya membiarkan dirinya melakukan apa yang benar benar ia ing
Jiyya berada diperpustakaan, duduk di balik meja sendirian sembari menggosok kedua matanya perlahan dengan telapak tangan. Ia bisa saja berkata bahwa kepalanya pening karena terlalu berkonsentrasi selama ia menulis buku baru pagi itu. Namun sejatinya, semua lebih seperti rutinitas biasa. Ia nyaris tak perlu mengerahkan fokus berlebih untuk menuangkan beberapa kata dari imajinasi ke dalam laptopnya.Sebab alasan utama mengapa kepalanya terasa sakit bermula sejak ia berpisah dengan suaminya beberapa jam lalu, isi pikirannya tak mampu berhenti berkelana pada dua nama yang terus bertabrakan di disana. Joan dan Bestian.Suaminya.Apa yang akan ia lakukan sepulang kerja nanti, ketika ia dan Bestian hanya berdua di rumah? Ia telah berjanji akan melanjutkan apa yang sempat terhenti di kamar mandi, namun hanya membayangkannya saja membuat perutnya melilit, membuatnya merasa seolah mengkhianati Joan. Perasaan yang ia rasakan begitu absurd, mengingat justru Bestian lah yang sebenarnya sedang ia
Jiyya bersenandung kecil saat membilas sisa sampo dari rambutnya. Sesekali senyum lugu merekah di wajahnya, begitu cerah hingga ia harus menggigit bibir sendiri agar tidak tersenyum terlalu lebar.Joan membelikannya sebuah sisir. Terdengar konyol, memang. Hanya sebuah sisir. Namun ia benar-benar pergi keluar dan membelinya untuk Jiyya, hanya karena Jiyya pernah mengeluh tak bisa merapikan rambutnya terakhir kali. Ya, moment yang seharusnya menjadi yang terakhir tetapi malah ada lagi moment kebersamaan mereka yang bertambah.Jiyya menggeleng pelan, membuat butiran air memercik ke tirai kamar mandi.Ia seharusnya tenggelam dalam rasa bersalah, dalam sedih dan kecemasan karena telah melanggar tekadnya sendiri untuk tidak lagi tidur dengan Joan. Namun pikirannya, hatinya, seluruh inderanya terlalu dipenuhi oleh sosok pria itu. Yang tersisa hanyalah kebahagiaan dan dorongan kekanakan untuk menjerit girang, dorongan memalukan sulit ia kendalikan.Ia mematikan air dan lagi-lagi senyum itu mu
“Jo… an, aku harus pergi…” protes Jiyya, meski suaranya terdengar lebih seperti erangan daripada penolakan sungguhan, saat pria berambut hitam itu mendorong pahanya semakin terbuka dan perlahan menjilat pusat kenikmatannya seolah sengaja mengulur waktu sebisa mungkin. “Aku… nghh… harus mandi…”Lidah sang pria menyelinap masuk sejenak, lalu kembali menyusuri titik itu, memancing helaan napas tajam yang tak bisa ia cegah. Jiyya berusaha keras mempertahankan kewarasannya. “Joan… aku harus mandi…” Namun Joan tak mau peduli, pria itu justru mengulangi perbuatannya, dan tanpa sadar jari-jari Jiyya menyusup ke rambutnya. “…sebelum pulang…”“Mm,” gumamnya rendah dibawah sana, lalu menekan lidahnya dan menggerakkannya sepanjang lipatan tubuh Jiyya. “Kau bisa sedikit terlambat…” Suaranya yang dalam bergetar di kulit Jiyya yang sudah terbakar gairah ketika jari panjang pria itu masuk dan melengkung ke atas. “Percayalah.”“Ya Tuhan ahh…” Jiyya terengah, mencengkeram kepala Joan lebih erat, lalu m
Sebagai balasan, Joan menggigit lembut cuping telinga sang wanita dan menyambut dorongan Jiyya dengan geraknya sendiri. Miliknya dibawah sana telah menegang hampir sepenuhnya, panas dan keras, seakan tak sabar lagi. “Apakah kau ingin aku menidurimu, Jiyya?” bisiknya serak, bibirnya masih menyentuh telinga Jiyya, membiarkan kata-kata itu menggantung di antara napas mereka.Kali ini, ia tak mampu menyembunyikan kebutuhan di dalam suaranya. Ada ketakutan kecil di dada, harapan yang begitu besar dengan jantung berdebar agar Jiyya tak tersinggung oleh pertanyaannya yang terdengar kasar. Joan tak ingin Jiyya mengira bahwa cinta yang dia punya hanya sebatas hubungan fisik semaat. Ia tak ingin wanita itu berpikir bahwa ia hanya memanfaatkannya saja dan membuainya dengan sentuhan. Sebab yang Joan rasa untuknya lebih dari sekadar kata dan sentuhan fisik semata.Namun untungnya Jiyya sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan yang tak sengaja keluar barusan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya







