Share

Bab 3

Author: Raka Nandaka
Melihat sikap Charista yang genit, sedikit rasa bersalah yang tersisa di hati Alfan pun lenyap. Dia mencibir dan berkata, "Kalian berdua melakukan hal nggak tahu malu di ranjangku, apa kalian nggak perlu memberiku penjelasan?"

Dexton tidak peduli, dia malah memeluk Charista lebih erat. "Sudah kubilang, dia memang bukan laki-laki. Dengan kondisi seperti dia masih berani minta penjelasan dariku. Kalau dia berani menyentuhku sedikit saja, aku akan buat dia keluar dari Rumah Sakit Prima besok dan pulang kampung jadi petani."

Menghadapi provokasi Dexton, Alfan mendengus dingin. "Oh ya?"

"Dengan badan kecilmu itu, memangnya kamu bisa berbuat apa padaku? Aku sudah tidur dengan pacarmu, ayo pukul aku kalau berani!"

Dexton mengandalkan tubuhnya yang lebih tinggi dan kekar dari Alfan. Ditambah lagi, dia pernah belajar silat dan taekwondo, jadi dia sama sekali tidak menganggap Alfan layah bertarung dengannya.

Charista memeluk lengan Dexton, lalu menggoyangkan tubuhnya dengan manja. "Sayang, dia bahkan belum pernah sentuh tubuhku, jangan provokasi dia terus."

Lalu, dia berkata kepada Alfan, "Hubungan kita sudah berakhir. Sisakan sedikit harga diri dan juga jalan keluar untuk dirimu sendiri. Jangan menyinggung Pak Dexton. Kalau kamu membuatnya marah, pekerjaanmu juga nggak akan bisa dipertahankan."

"Malam ini kamu pergi saja, biarkan Pak Dexton tinggal di sini. Besok. Meskipun kamu ingin menahanku, kamu juga nggak akan bisa. Aku akan ikut dia tinggal di vilanya."

Melihat sikap Charista yang begitu murahan, Alfan malah merasa beruntung.

Untung mereka hanya berpacaran dan belum menikah. Kalau benar-benar menikah dengan wanita seperti itu, entah berapa kali lagi dia harus diselingkuhi.

"Aku yang sewa rumah ini, ranjang juga aku yang beli. Mau bersenang-senang di ranjangku? Jangan mimpi."

"Nggak mau pergi? Akan kupukul kau sampai merangkak keluar seperti anjing."

Dexton yang hanya mengenakan celana pendek langsung menerjang dan mencengkeram leher Alfan, lalu mengangkat tinjunya dan menghantam ke arah wajah Alfan.

Namun, Alfan yang sekarang sudah berbeda dari dulu. Saat tinju Dexton masih berjarak setengah meter dari wajahnya, Alfan tiba-tiba mengangkat kaki dan menendang keras ke arah perut bawahnya.

Buk!

Dexton langsung memegangi perutnya, lalu berjongkok sambil merintih kesakitan.

"Sayang, kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa?" Charista buru-buru berjongkok, lalu memeluk leher Dexton dan bertanya dengan cemas.

Dexton langsung mendorongnya. "Pergi sana!"

Dexton perlahan berdiri, lalu menggertakkan gigi dan menatap Alfan dengan kejam. "Bajingan, akan kubuat kamu cacat hari ini. Besok kamu juga nggak perlu lagi pergi ke rumah sakit. Kamu sudah dipecat."

Setelah berkata demikian, dia mengayunkan tinjunya dan menerjang ke arah Alfan.

Alfan tampak tenang, bahkan tidak memandangnya dengan serius. Dia tiba-tiba melompat dan menendang keras ke bagian vital Dexton.

"Berani-beraninya kamu naik ke ranjangku, akan kubuat kamu nggak bisa punya keturunan lagi hari ini!"

Bruk!

Dexton merasakan bagian bawah tubuhnya terasa panas. Setengah detik kemudian, terdengar jeritan yang menyayat hati. Dia menutup bagian vitalnya dengan kedua tangan, keringat langsung mengalir deras di wajahnya.

Beberapa saat kemudian, dia mengerang pelan, lalu seluruh tubuhnya lemas dan pingsan.

"Sayang, kamu kenapa? Jangan buat aku takut!" Sambil menopang tubuh Dexton, Charista menatap Alfan dengan penuh kebencian. "Habis sudah kamu. Masa depanmu tamat. Hidupmu juga tamat. Dengan koneksinya, mudah sekali baginya untuk menghancurkanmu!"

"Belum tentu," kata Alfan dengan dingin. "Aku sudah memberimu kesempatan. Sekarang bawa dia dan segera menghilang dari hadapanku. Kalau nggak, aku nggak bisa menjamin dia bisa keluar dari sini hidup-hidup."

Melihat tatapan dingin Alfan, Charista tidak berani berkata apa-apa. Tanpa memedulikan rasa malu, dia menyeret Dexton yang hanya mengenakan celana dalam untuk buru-buru keluar. Kemudian, mereka turun ke bawah dengan lift dan naik taksi menuju rumah sakit.

Melihat ruangan yang berantakan, hati Alfan dipenuhi kesedihan.

Dulu dia mengira, selama memberikan ketulusan, dia akan mendapatkan cinta yang setara. Demi membelikan wanita itu sebuah ponsel, Alfan bahkan masih bekerja sebagai pengemudi online meski kelelahan setelah pulang kerja.

Namun dia tidak pernah menyangka, wanita itu diam-diam melakukan hal yang begitu menjijikkan.

Yang diberikan Alfan adalah ketulusan, tetapi malah dirinya sendiri yang merasa terharu secara sepihak dan kini yang dia dapatkan hanyalah kesepian.

Untungnya, Rhea telah membangkitkan Teknik Sembilan Niskala dalam dirinya. Mulai sekarang, dia akan hidup untuk dirinya sendiri.

Tadi dia sempat terpikir untuk memanfaatkan Charista dan menyerap energi negatif darinya. Namun ketika membayangkan dirinya bersama Dexton, dia merasa jijik. Wanita seperti itu terlalu kotor, hanya pantas untuk bajingan.

Masih tersisa bau Dexton dan Charista di dalam rumah itu. Hanya menciumnya saja sudah membuatnya muak. Alfan merasa tidak bisa tinggal di sini lagi.

Tepat pada saat itu, dia tiba-tiba menerima telepon dari Rhea.

"Bu Rhea."

"Kalau nggak ada orang, jangan panggil aku Bu lagi, panggil saja Kakak. Aku sudah telepon direktur di Rumah Sakit Ferrum. Besok kamu bawa pacarmu ke sana, langsung bisa masuk kerja tanpa masa magang, status pegawai tetap." Nada bicara Rhea terdengar cukup hangat.

"Kak, aku nggak mau ke Rumah Sakit Ferrum. Aku mau ke Rumah Sakit Prima."

Barusan Alfan sudah membuat Dexton kehilangan salah satu bagian vitalnya. Dia yakin pria itu tidak akan tinggal diam. Sekarang tugas utamanya adalah menjadi lebih kuat.

Menurut pengaturan Teknik Sembilan Niskala, wanita pertama yang berhubungan dengannya bukan hanya kunci untuk membuka teknik itu, tetapi tubuh wanita tersebut juga memiliki kegunaan khusus. Mengenai apa kegunaannya, Alfan harus menelitinya sendiri.

"Kamu mau ke Rumah Sakit Prima? Kamu ini mau apa sebenarnya?"

"Aku cuma ingin lebih dekat denganmu. Aku ingin bekerja di Rumah Sakit Prima supaya kamu bisa melindungiku. Tapi tenang saja, soal kejadian semalam, aku nggak akan kasih tahu siapa pun."

Di seberang sana terdiam sejenak, lalu suaranya menjadi lebih dingin. "Dasar nggak tahu diri, kamu 'kan punya pacar. Apa kamu nggak takut dia menyadari sesuatu yang mencurigakan?"

"Sudah putus. Baru saja putus."

"Apa? Kenapa?"

"Aku terus terang saja ngomong sama Kakak. Wanita itu diam-diam selingkuh sama pria lain."

"Serius? Meskipun begitu, kamu tetap nggak boleh datang ke Rumah Sakit Prima. Kita nggak boleh bertemu lagi."

Rhea berdiri di depan jendela, memegang ponsel sambil menatap malam yang gelap di luar. Kata-katanya terdengar tegas, tetapi hatinya tidak sejalan.

Selama dua tahun pernikahan, baru kali ini dia merasakan keindahan yang diberikan seorang pria dari Alfan. Namun, akalnya mengatakan bahwa jika Alfan datang bekerja di Rumah Sakit Prima, akibatnya akan sulit dikendalikan.

"Kak, aku harus ke Rumah Sakit Prima."

"Dasar keras kepala! Kenapa kamu harus memaksa begini?" Rhea kesal sampai mengentakkan kaki.

"Kalau aku bekerja di Rumah Sakit Prima, itu lebih baik untuk kita berdua."

"Kalau begitu, datang saja ke rumahku sekarang. Kalau kamu bisa memberiku alasan yang masuk akal, aku akan membiarkanmu tetap di Rumah Sakit Prima."

Hati Rhea sangat bertentangan. Sejak kecil, dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap seorang pria. Dia ingin bertemu dengan Alfan, tetapi juga takut jika benar-benar bertemu.

"Baik! Tunggu aku."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 50

    Alfan mengernyit, menerima kartu bank itu, lalu membolak-balikkannya beberapa kali."Kamu kasih aku hadiah? Sepertinya nggak masuk akal, 'kan?"Alfan merasa sangat heran. Hari pertama masuk kerja sudah ada yang memberinya uang? Ini jelas tidak masuk akal."Dua miliar ini kamu terima. Mulai hari ini, jangan lagi mengobati Cindy."Alfan langsung mengerti. Ternyata begitu. Dia mendorong kembali kartu bank itu dengan pelan ke arah wanita itu."Cantik, jangan lupa, aku ini dokter. Tugasku adalah menyembuhkan dan menyelamatkan orang. Aku mengobati Cindy adalah hal yang wajar. Kenapa harus menghalangiku?""Nggak perlu alasan. Kalau kamu berhenti mengobati Cindy, kamu dapat 2 miliar, ayah angkatku dapat 20 miliar. Kita sama-sama untung. Kalau kamu menolak dan tetap bersikeras mengobati Cindy, di kota ini nggak akan ada tempat untukmu. Masalah ini bahkan bisa menyeret keluargamu."Punggung Alfan terasa dingin. Bukan karena dia takut pada ancaman wanita ini, melainkan dia samar-samar merasa bahw

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 49

    Rhea langsung tercengang. Dia agak tidak percaya dengan perkataan Alfan."Yang benar saja? Kamu cuma berdiri sebentar di depan pintu, tapi sudah bisa melihatnya?""Ya, aku melihatnya.""Dia gila ya? Masuk ke kantorku buat pasang kamera?""Tujuannya memang untuk mengincarmu dan aku. Kalau jejak hubungan kita berdua tertangkap olehnya, dia akan merekam video kita bersama. Dia sekongkol dengan suamimu. Kemarin mereka gagal menangkap basah kita. Mereka pasti nggak akan menyerah begitu saja."Mendengar penjelasan Alfan, wajah Rhea berubah karena marah."Orang tua itu benar-benar keterlaluan. Untung kamu menemukannya. Kalau sampai terekam, bukankah bakal jadi masalah besar?"Alfan mengangkat bahu. Wajahnya sedikit menunjukkan kekecewaan. "Ya, kalau di ruangan itu nggak ada kamera, kita bisa bermesraan kapan saja dan di mana saja."Rhea langsung mencubit keras pinggangnya. "Alfan, bisa nggak kamu lebih menahan diri? Gimana sekarang? Apa perlu aku lapor polisi?""Jangan lapor polisi dulu. Bebe

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 48

    Di dalam ruang rawat, Dexton duduk di atas ranjang. Wajahnya suram dan tatapannya penuh kebencian.Ketika mendengar bahwa satu-satunya buah zakar yang tersisa pun tidak bisa diselamatkan, dia hampir putus asa.Charista membawa semangkuk bubur dan mendekat. "Sayang, makan sedikit ya, aku suapi."Dia menyendok sesendok bubur dan menyuapkannya ke mulut Dexton.Dexton tiba-tiba mengangkat tangan dan menepis mangkuk itu dengan keras hingga jatuh ke lantai. Mangkuk porselen putih langsung pecah berkeping-keping dan bubur pun tercecer di mana-mana."Perempuan jalang, kamu pembawa sial! Kalau bukan karena kamu, apa aku akan jadi seperti ini?""Sayang, kamu nggak bisa menyalahkanku. Aku setia padamu. Masa kamu nggak tahu perasaanku padamu?"Mata Charista memerah. Dengan perasaan terhina, dia membungkuk, memunguti pecahan porselen di lantai."Pergi dari sini! Sejauh mungkin! Aku nggak mau melihatmu!"Pintu kamar terbuka. Darian masuk dengan mengenakan topi."Dexton, ngapain kamu mengamuk? Kondis

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 47

    Hati Alfan berbunga-bunga. Dia menggoda, "Belum tentu, aku keras di mana-mana."Setelah berkata begitu, dia berbalik dan mematikan lampu, lalu langsung memeluk Rhea."Bajingan, mau apa sih? Kenapa terburu-buru? Malam ini masih panjang, nggak bisa biarkan aku istirahat dulu?""Kita istirahat bersama."....Satu malam akhirnya berlalu. Dalam sekejap, sudah keesokan harinya. Di luar masih remang-remang, cahaya belum terang.Lampu kamar masih menyala. Alfan berbaring di ranjang dan yang terbaring di sampingnya adalah Rhea.Semalam mereka hampir tidak tidur. Alfan benar-benar merasakan kelembutan Rhea, Rhea juga benar-benar merasakan kejantanan Alfan.Yang paling penting, dalam semalam Alfan menyerap sangat banyak energi negatif. Energi negatif yang dia serap malam ini saja, jika tidak digunakan dalam beberapa hari ke depan, sudah cukup untuk menghilangkan Kutukan Gadis Suci di tubuh Cindy.Melihat Rhea yang terbaring di sampingnya, hati Alfan agak kacau. Dia tidak tahu bagaimana harus meng

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 46

    Melihat pesan yang dikirim oleh Rhea, Alfan agak tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.[ Yang benar saja? Kebahagiaan datang secepat ini? ][ Aku sudah bilang kirim alamat, kamu mau kirim atau nggak? Kuberi waktu satu menit. Kalau kamu kirim, aku akan datang mencarimu. Kalau nggak kirim, aku nggak jadi datang. ]Rhea segera membalas lagi.Alfan tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan wanita ini, tetapi tetap mengirimkan alamat hotel dan nomor kamar kepadanya dengan cepat.Setelah mengirimnya, dia segera masuk ke kamar mandi untuk mandi, bahkan menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya.Dengan balutan handuk putih bersih, dia berbaring di tempat tidur dan menunggu dengan tenang.Waktu berlalu detik demi detik. Dalam sekejap, sudah lebih dari setengah jam. Namun, di luar sama sekali tidak ada pergerakan apa pun.Saat itu, Alfan mulai merasa Rhea hanya sedang mempermainkannya. Wanita ini murni seperti air. Malam itu, mereka bisa melakukan hal seperti itu karena Rhea dikendalikan o

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 45

    Rhea mengetuk dahi Alfan. "Bocah berengsek, kukira orang desa itu semuanya jujur. Ternyata kamu licik sekali. Katakan yang sebenarnya, dengan cara seperti ini, sudah berapa gadis yang kamu tipu?"Alfan tersenyum pahit tanpa berkata apa-apa. Awalnya dia hanya ingin mengarahkan pembicaraan ke Teknik Sembilan Niskala. Namun, dia sama sekali tidak menyangka wanita ini akan salah paham, mengira dia sedang menggunakan cara lain untuk merayunya tidur bersama.Alfan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Bu Rhea yang terhormat, jujur saja, kamu wanita pertamaku. Sebelum bertemu denganmu, aku masih perjaka.""Siapa yang percaya? Kamu pacaran lima tahun dengan Charista dan kamu bilang masih perjaka? Mau nipu siapa?"Alfan mengerutkan kening. "Kamu nikah dua tahun dengan suamimu, bukankah kamu juga tetap perawan?"Rhea tersenyum pahit, lalu menenggak habis anggur di gelasnya."Sudahlah. Malam ini kamu tetap harus pergi. Aku kasih kamu uang. Kamu cari hotel untuk nginap. Jangan tinggal di sini lagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status