Alvandra Zayn Malik, harus menelan pil pahit pernikahan atas pengkhianatan yang dilakukan oleh istrinya, Hanum Attabina. Pada awalnya Hanum menerima pekerjaan Alvandra yang hanya sebagai supir angkot, tetapi hal itu justru membuatnya selalu mendapat hinaan dan cacian dari mertua, bahkan dikucilkan oleh keluarga Hanum. Hingga akhirnya Alvandra menerima tawaran bekerja di Malaysia demi merubah nasib. Tetapi saat ia menyempatkan diri untuk pulang ke Indonesia, ia mendapati istrinya sedang bergumul dengan seorang lelaki di kamar pribadinya. Dan dengan lantangnya, sang istri memilih lelaki tersebut hanya karena ia orang yang berpangkat. Alvandra pun kembali lagi ke Malaysia dengan hati hancur, dan di sana dia sempat mengenal yang namanya minuman keras. Namun tak lama, Alvandra kembali sadar. Ia pun bertekad akan merubah hidupnya agar tidak menjadi bahan hinaan dan cacian lagi. Bagaimana kah nasib Alvandra selanjutnya?
Lihat lebih banyakAlmaira baru saja bangun dari tidurnya. Ia mengucek-ucek kedua matanya dan setelah itu ia mengenakan kacamatanya untuk melihat jam di ponselnya. Terlihat jam sudah menunjukkan waktu pukul delapan pagi. Setelah itu ia pun terbangun dan menaruh kacamata itu kembali sebelum ia masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi dan menuju ke restoran di mana tempat ia bekerja.
Ia sendiri bekerja di restoran milik sahabatnya yang bernama Alam. Berkat Alam pula ia bisa mempunyai pekerjaan untuk membiayai adiknya yang bernama Silvia yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Ayah Almaira sudah lama meninggal, sementara ibunya hanya bekerja sebagai penjahit pakaian yang penghasilannya tidak menentu. Jadi, setelah lulus dari kuliah Almaira pun bekerja di cafe milik sahabatnya Alam.
Di usia yang masih muda dan baru saja lulus dari sekolah dan baru memasuki bangku kuliah, Alam sudah bisa memegang usaha keluarganya itu. Dan setelah lulus kuliah Alam fokus dengan cafe miliknya. Dan tak tanggung-tanggung kini akhirnya Alam bisa meraih sukses dengan cafe yang ia pegang itu.
Setelah mandi dan bersiap-siap Almaira pun segera keluar dari kamarnya dan menuju meja makan untuk sarapan.
Ibu Ranti, Ibunya Almaira, telah menyiapkan sarapan untuk dirinya.
"Selamat pagi, Bu," sapa Almaira pada ibunya.
"Pagi, Almaira," kata Ibu Ranti balik menyapa.
Almaira menggeret kursi dan duduk di depan meja makan. Di meja makan sudah ada nasi goreng dengan telur ceplok serta kerupuk sebagai lauknya.
"Kamu berangkat agak siang Almaira?" tanya Ibu Ranti yang kemudian duduk di sebelah putrinya.
"Iya Bu. Apa Silvia sudah berangkat, Bu?" kata Almaira menanyakan adiknya.
"Sudah sayang."
"Oh iya! lagi pula ini kan sudah agak siang," katanya sambil melihat jam di tangannya.
Ibu Ranti tersenyum pada Almaira sambil memegang tangan putrinya. "Kamu sarapan dulu saja Almaira, Ibu akan melanjutkan pekerjaan Ibu."
"Apa Ibu tidak sarapan?"
"Ibu sudah sarapan sayang," jawab Ibu Ranti sambil dengan tersenyum pada Almaira.
Almaira pun melanjutkan sarapannya. Saat ia baru saja selesai sarapan, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ia pun melihat panggilan yang masuk dan segera mengangkat panggilan itu.
"Iya halo ... ada apa Alam?" tanya Almaira di telpon.
"Almaira! Cepatlah kamu segera datang ke rumah!" bentak Alam pada Almaira di telpon dengan nada tidak seperti biasanya. Dan terdengar sangat marah.
"Iya, bentar aku lagi sarapan," jawab Almaira dengan santainya dan ia masih mengunyah nasi gorengnya yang baru ia masukkan kedalam mulutnya yang sedang terbuka seperti lubang buaya.
"Cepatlah Almaira ...," keluh Alam.
"Memangnya ada apa sih?!" tanya Almaira yang sedikit gugup dengan keluhan Alam yang sudah tidak bisa ditahan itu.
"Aku mencari celana jeansku yang kemarin kamu pinjam. Apa kamu sudah kembalikan padaku?"
Almaira menepuk keningnya sendiri, "Sorry Alam, celananya masih ada di rumahku. Bentar, aku akan ke rumahmu untuk mengembalikannya. Lagi pula apa kamu tidak punya celana lain selain celana jeans kamu itu?" kata Almaira balik bertanya.
"Ada banyak Almaira, tapi itu celana yang dipilihkan oleh Yunita. Aku sekarang mau pergi keluar dengan Yunita. Aku tidak ingin cewek itu marah, kalau aku nggak memakai celana itu," jelas Alam pada Almaira.
"Iya ... iya bentar. Bawel!"
Almaira langsung menutup telpon dari Alam, dan ia langsung mengambil celana yang ia pinjam dari Alam waktu itu. Dan segera pergi berangkat menuju kerumah Alam. Tapi sebelumnya ia berpamitan dulu pada ibunya.
"Bu, Almaira berangkat dulu Bu," pamit Almaira pada ibunya.
"Iya Almaira. Hati-hati di jalan," pesan ibunya pada Almaira.
Almaira kemudian berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya yang berada di ujung jalan dari gang rumahnya.
****
Alam yang masih telanjang dada dan menutupi area pribadinya dengan celana kolor masih mondar-mandir di kamarnya. Ia sedang sibuk menunggu Almaira datang untuk mengembalikan celana jeans miliknya.
"Kenapa lama banget sih, Almaira? bisa-bisa aku terlambat untuk bertemu dengan Yunita," keluh Alam sambil mondar mandir di kamar.
Tiba-tiba laptop miliknya berbunyi. Seperti ada e-mail yang masuk. Ia pun membuka laptopnya. Dan memang itu adalah e-mail dari papanya. Papanya meminta Alam untuk segera datang ke cafe milik papanya sebab ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Karena papanya akan membuka cabang baru buat Alam yang lokasinya tidak jauh dari cafe yang lama.
"Sial! kenapa juga papa memintaku untuk datang ke cafe miliknya hari ini? aku kan ada janji dengan Yunita. Bahkan aku juga mau bilang ke Almaira untuk mengurus cafe selama aku pergi dengan Yunita," keluh Alam dan mengaca-acak sendiri rambutnya.
Alam pun segera menghubungi Yunita untuk membatalkan pertemuan dengannya hari ini.
Alam mengambil ponselnya dan mencari nomer Yunita. Ia pun segera menelpon Yunita.
"Halo, Yunita?"
"Iya sayang ... apa kamu akan datang menjemput ku?" tanya Yunita di seberang sana dengan nada senang saat Alam menelpon.
"Maaf sayang, sepertinya kita harus menunda acara kita sayang. Hari ini papa memintaku ke cafe yang lama, sebab papa mau membuka cabang baru, sayang."
Langsung saja suara ceria Yunita tak terdengar lagi dan terdiam di telpon.
"Aku minta maaf sayang. Bagaimana kalau besok saja? aku pasti akan datang menjemput kamu di rumah dan mengajak kamu pergi jalan-jalan," bujuk Alam pada Yunita di telpon.
Alam tahu pasti Yunita sekarang sedang ngambek.
"Baiklah, kamu janji ya?"
"Iya sayang, aku janji. Besok aku akan menjemputmu jam sembilan pagi, oke?"
"Oke, sampai jumpa besok," jawab Yunita di seberang sana dan menutup telponnya.
Setelah itu Alam segera menutup telponnya.
Alam kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk mandi, sebab ia baru saja habis olahraga pagi. Jadi badannya bau keringat.
Saat Alam masuk ke dalam kamar mandi ia tidak tahu kalau Almaira sudah datang dan berada di ruang tamu.
"Selamat pagi, Tante," sapa Almaira pada Mama Alam, Tante Ratih.
"Almaira?"
"Iya, Tante," jawab Almaira sambil tersenyum dan menunjukkan gigi-giginya yang berbaris rapi.
"Kamu ke sini pasti mau bertemu dengan Alam, 'kan Almaira?" tanya Tante Ratih.
"Iya,Tante," jawab Almaira.
"Kamu langsung saja masuk ke kamarnya Alam. Bukankah kamu sering ke sini dan biasanya juga langsung masuk ke kamar Alam?"
"Iya, Tante," jawab Almaira sambil meringis dan menunjukkan gigi-giginya yang rapi itu kembali.
"Cepetan kamu masuk sana! Pasti Alam sudah lama nungguin kamu," perintah Tante Ratih dengan nada sinis.
"Iya, Tante. Kalau begitu saya permisi dulu, Tante," kata Almaira yang kemudian langsung masuk menuju kamar Alam yang berada di atas.
Tante Ratih, sebenarnya tidak begitu suka dengan kedekatan Alam dengan Almaira. Kalau bukan almarhum ayah Almaira pernah berjasa pada keluarganya, dan pernah menolong papa Alam dari kecelakaan, dan mengorbankan keselamatannya sendiri bagi papa Alam. Kemungkinan besar tante Ratih tidak akan memperbolehkan Alam untuk dekat-dekat dengan Almaira.
Almaira masuk kedalam kamar Alam. Ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, langsun nyelonong masuk begitu saja. Saat Almaira masuk kamar Alam. Ia pun kaget dengan apa yang telah ia lihat di depannya.
"Aaaaa ...!!"
Bersambung ....
Polisi datang ke lokasi pemakaman berikut dengan mobil ambulan setelah mendapat laporan. Mereka langsung memasang garis polisi di lokasi Gibran terkapar. Semua orang yang berada di area pemakaman dilarang membubarkan diri sebab akan dimintai keterangannya.Alvandra meminta izin pada polisi supaya istri dan anaknya bisa pulang lebih dulu sebab hari semakin petang. Akhirnya yang pertama diperiksa polisi adalah Aluna, selanjutnya Camilla lalu yang lainnya.Acara pengajian di rumah tetap digelar meskipun Alvandra belum pulang sebab harus mengurus jenazah Gibran sekaligus melaporkan kasus tabrak lari yang dialami kakeknya, walaupun sang kakek sudah meninggal. Justru karena Ghazi meninggal, ia jadi ingin mengusut kasus itu.Alvandra tiba di rumah larut malam karena banyak sekali yang harus ia urus terkait kematian Gibran. Polisi menetapkan Gibran meninggal karena tembakan peluru tepat di kepalanya, hanya siapa pelakunya masih menjadi misteri. Mereka sudah menyisir seluruh area pemakaman, na
Deru napas Alvandra terdengar memburu. Rahangnya mengeras dengan gigi yang saling gemerutuk. Amarahnya kembali naik ke permukaan setelah sekian bulan bersembunyi di palung hati terdalam.Sang putra tercinta berada dalam dekapan pria yang selama ini ia cari, namun tak kunjung ditemukan. Entah di mana pria itu bersembunyi. Alvandra jadi berpikir kalau pelaku tabrak lari itu adalah si mantan asisten."Pengecut! Lepaskan dia!" pekik Alvandra kencang sehingga mengalihkan perhatian para pelayat yang sedang mengikuti prosesi pemakaman kepadanya.Kasak-kusuk terdengar dari para pelayat. Mereka yang sebagian besar rekan bisnis Alvandra, tentu saja mengenal Gibran. Mereka jadi menduga-duga masalah yang terjadi antara keduanya."Hahaha ... tidak semudah itu, Tuan Muda! Kalau Anda ingin anak kecil ini lepas, ada syarat yang harus Anda penuhi," teriak Gibran terbahak-bahak, dan itu membuat Leon terkejut.Bocah kecil itu menangis dalam kungkungan tangan kekar lelaki bertubuh tinggi besar tersebut s
Kabar yang Alvandra dengar seperti suara petir di tengah hujan badai, menggelegar memekakkan telinga. Tubuhnya seketika kaku, ponsel yang ia pegang pun jatuh begitu saja ke lantai berlapiskan marmer hingga retak layarnya."Tuan! Tuan Alvan!"Bodyguard terus memanggil Alvandra yang mematung setelah menerima telepon. Tak ada respon, ia memberanikan diri menepuk pundak Alvandra pelan. Kelopak mata Alvandra mengerjap cepat kemudian ia menoleh pada bodyguard yang berdiri di sampingnya."Siapkan mobil!" perintah Alvandra cepat. Ia tak boleh terpuruk, ia harus tegar sebab kini ada dua orang yang bergantung padanya. Bodyguard segera berbalik keluar melaksanakan perintah sang majikan.Mengambil ponsel di lantai, Alvandra kemudian mengecek kondisi benda canggih tersebut dan ternyata masih bisa digunakan. Lekas ia mencari nomor Abrisam kemudian mengabari sang mertua, setelah itu Alvandra berjalan cepat menuju kamarnya untuk berpamitan pada sang istri."Memangnya kamu mau ke mana, Mas?" Aluna ter
Beberapa bulan berlalu, Gibran masih belum ditemukan. Ia menghilang tanpa jejak seolah ditelan bumi. Bukannya senang dengan kondisi ini, justru Alvandra semakin was-was. Ia khawatir sewaktu-waktu kejutan akan datang dari pria Arab itu.Berbicara tentang kejutan, baik Alvandra juga Ghazi dibuat geleng kepala akan ulah Gibran. Mantan asisten mereka itu membuat perusahaan fiktif lalu mengajukan kerjasama dengan perusahaan investasi Alvandra. Kerjasama itu tentu saja terjalin dengan baik sebab saat itu Gibran menjadi orang kepercayaan untuk mengurus perusahaan investasi karena Alvandra tengah sibuk dengan perusahaan milik mendiang ayahnya.Perusahaan fiktif itu terbongkar saat Alvandra menyelidiki kasus foto vulgarnya. Setelah ditelusuri, ternyata yang membuat janji temu dengannya adalah perusahaan yang dibuat Gibran.Kerugian yang diderita Alvandra cukup besar. Semua rekening yang berkaitan dengan perusahaan fiktif Gibran sudah dinonaktifkan oleh Gibran sendiri dengan saldo nol rupiah. A
Alvandra segera bertindak cepat. Saat itu juga dia menelpon Fahmi dan memintanya menghubungi semua stasiun televisi yang menayangkan berita itu untuk segera menghapus beritanya. Portal berita online pun tak luput dari daftarnya.Kalau mereka menolak, Alvandra akan menuntut pihak penyebar berita dengan tuduhan pencemaran nama baik. Alvandra berani berkata itu karena memiliki bukti bahwa dia tidak bersalah.Ponsel Alvandra tak henti-hentinya berdering. Rata-rata para peneleponnya adalah rekan bisnis yang ingin menanyakan kebenaran berita itu. Sebagai pengusaha muda yang sedang naik daun dan dikenal setia, tentu saja hal itu membuat para rekan Alvandra penasaran. Alvandra berjanji akan membuat konferensi pers untuk menjawab semua pertanyaan mereka. Ghazi pun mendatangi kediaman Abrisam. Ia ingin mengonfirmasi berita yang baru saja dilihatnya."Van, bagaimana ceritanya bisa sampai ada berita seperti itu?" tanya Ghazi mewakili Abrisam juga Camilla yang sedari tadi penasaran.Kini mereka s
Alvandra mengirimkan rekaman CCTV yang ia dapat ke nomor Aluna. Ia merasa itu adalah cara terbaik untuk membuktikan pada istrinya kalau ia tak berbuat aneh-aneh. Pria tampan itu pun segera menghubungi Jaka dan memintanya datang ke rumah Abrisam secepatnya.Dari hotel, Alvandra langsung pulang ke rumah Abrisam, bermaksud menjemput Aluna dan Leon. Awalnya ia berniat nanti saja menjemput sang istri setelah masalahnya beres dan para pelaku berhasil ditangkap, tapi itu pasti membutuhkan waktu yang lama. Dan tentu saja masalah rumah tangganya pun akan semakin berlarut-larut tanpa penjelasan darinya.Saat mobil Alvandra memasuki halaman rumah besar tersebut, bertepatan dengan mobil Abrisam yang baru melewati gerbang. Alvandra menahan dulu langkahnya sampai sang mertua turun dari mobil."Kamu pulang ke sini, Van. Memangnya Luna ada di sini?" tanya Abrisam sedikit heran begitu Alvandra menghampiri."Iya, Dad. Tadi siang telpon katanya mau ke sini. Ya udah, Alvan langsung ke sini dari kantor,"
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen