Share

Bab 2

Author: Raka Nandaka
Kenapa malam ini dia bisa terkena racun perangsang?

Tadi di dalam mobil, wanita itu pernah mengatakan bahwa racun itu diberikan oleh suaminya.

"Kenapa kamu belum pergi? Aku sudah punya nomor telepon kamu. Kalau ada apa-apa, aku akan menghubungimu," kata Rhea yang berdiri tanpa pakaian di depan lemari, sambil memilih baju tidur dengan santai.

"Aku pergi sekarang, Bu Rhea. Jangan lupa soal aku dan pacarku untuk masuk ke Rumah Sakit Ferrum."

"Nggak akan lupa."

Baru saja sampai di pintu, Rhea kembali memanggilnya dari belakang, "Tunggu sebentar."

"Bu Rhea, ada apa lagi?"

"Kalau mau jadi dokter, jalani dengan serius. Ke depannya jangan lagi jadi pengemudi ojek online."

Rhea sudah mengenakan baju tidur. Gaun tidur sutra berwarna merah muda pucat dengan renda itu membuatnya terlihat semakin lembut dan anggun.

"Aku dan pacarku sama-sama dokter magang, gajinya sangat kecil. Ulang tahun pacarku sudah dekat, aku ingin membelikannya iPhone baru, jadi di waktu luang malam hari aku keluar untuk menambah penghasilan."

Rhea mengangguk pelan tanpa sadar. "Pacarmu sangat beruntung."

Wanita itu berbalik dan membuka laci meja samping tempat tidur, lalu mengeluarkan sebuah kartu bank dan menyerahkannya. "Di dalamnya ada 200 juta, kata sandinya enam angka nol. Ambillah."

Alfan buru-buru menolak. "Ibu sudah bantu kami dapat pekerjaan, aku sudah sangat berterima kasih. Uang ini nggak bisa aku terima."

"Ini uang yang diberikan keluarga pasien setelah aku melakukan operasi. Aku nggak mau, tapi mereka memaksa. Aku memberikannya kepadamu, anggap saja dimanfaatkan dengan baik. Ambillah, keluargaku nggak kekurangan uang."

Nada bicara Rhea seperti perintah. Alfan tidak berani menolak lagi dan akhirnya menerima kartu bank tersebut.

Saat mengemudi pulang, Alfan merasa masih ada sesuatu yang tertinggal di hatinya. Bagaimanapun, Rhea adalah wanita pertama dalam hidupnya. Keadaan wanita itu di atas tempat tidur tadi dan perasaannya yang begitu lepas serta penuh gairah, tanpa sadar membuat Alfan sedikit terpesona.

Tiba-tiba, dia merasa ada yang tidak beres dengan matanya.

Penglihatannya menjadi buram. Rasanya perih dan terasa menekan. Dia segera menepikan mobil di pinggir jalan, berniat melepas kacamatanya untuk membersihkannya. Namun saat dia melepas kacamatanya, seketika dia mendapati bahwa semua yang ada di hadapannya menjadi sangat jelas.

Rasa perih dan tekanan di matanya juga langsung hilang.

'Kenapa bisa begini?'

Sejak sekolah, dia sudah rajin belajar hingga mengalami rabun jauh. Saat lulus kuliah, ukuran lensanya sudah mencapai 450 di satu mata dan 500 di mata lainnya.

Kenapa tiba-tiba bisa sembuh?

Pada saat yang sama, dia juga merasakan pendengarannya menjadi sangat tajam. Suara orang-orang di sekitar, bahkan percakapan dari kejauhan, bisa dia dengar dengan sangat jelas.

Perubahan mendadak ini membuatnya terkejut. Dia segera mengangkat pergelangan tangan kanannya. Dia melihat dengan jelas bahwa tanda berbentuk naga berwarna merah di pergelangan tangannya telah hilang.

'Nggak mungkin, apakah ini benar?'

Saat berusia tujuh tahun, dia pernah mengalami sakit parah dengan demam tinggi yang tidak kunjung turun. Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seorang lelaki tua berpakaian putih, berambut putih, dan berjanggut putih muncul di hadapannya.

Lelaki tua itu memperkenalkan diri sebagai Pertapa Naga Tidur. Dia mengatakan bahwa Alfan memiliki bakat luar biasa dan memiliki potensi untuk menempuh jalan kultivasi.

Kemudian, dia menyegel sebuah tanda berbentuk naga di lengannya.

Tanda naga itu bernama Teknik Sembilan Niskala. Setelah dia tumbuh dewasa, begitu dia memiliki hubungan dengan seorang wanita, tanda naga itu akan menghilang dan teknik tersebut akan mulai aktif di dalam tubuhnya.

Teknik ini bersifat negatif. Setiap kali dia menjalin hubungan dengan seorang wanita, tingkat kultivasinya akan naik satu tingkat. Wanita pertama yang bersamanya adalah kunci untuk membuka Teknik Sembilan Niskala.

Alfan perlahan menutup matanya.

Pada saat matanya terpejam, berbagai pengetahuan muncul di benaknya dengan begitu padat dan tak terhitung jumlahnya. Teknik kultivasi, ilmu pengobatan, berbagai metode latihan, kemampuan terbang, teknik pengusiran roh jahat, membuka mata spiritual, teknik gerak cepat, dan banyak lagi.

Melihat semua itu, hatinya dipenuhi kegembiraan.

Alfan sempat mengira semua itu hanya mimpi, tetapi ternyata semuanya nyata.

Wanita pertamanya, Rhea, telah menjadi kunci yang membuka pintu menuju dunia barunya. Sejak saat ini, dia telah menjadi tubuh seorang kultivator. Dia mengendarai mobil sambil bersenandung riang menuju rumah. Bahkan ketika sudah berdiri di depan pintu rumahnya, hatinya masih berdebar penuh semangat.

Malam ini dia mendapatkan banyak hal. Tidak hanya memperoleh 200 juta, tetapi dia dan pacarnya juga akan menjadi dokter tetap di Rumah Sakit Ferrum. Yang terpenting, Teknik Sembilan Niskala ternyata benar adanya. Sekarang dia telah menjadi seorang kultivator.

Alfan sudah tidak sabar ingin berbagi kebahagiaannya dengan pacarnya. Dia menekan bel pintu, tetapi Charista tidak langsung datang membukakan pintu seperti biasanya.

Biasanya Alfan pulang sekitar pukul sebelas malam, sementara sekarang baru pukul sembilan. Dia menunggu sebentar di depan pintu, lalu menekan bel lagi.

Lima atau enam menit kemudian, Charista akhirnya membuka pintu. Dia mengenakan pakaian dalam seksi berwarna hitam, rambutnya agak berantakan, dan tatapannya terlihat tidak biasa.

"Kenapa pulang lebih cepat hari ini? Biasanya 'kan kamu pulang jam sebelas. Cuacanya bagus, keluar lagi saja cari penumpang sebentar."

Charista berdiri di pintu, tak berniat membiarkannya masuk.

"Hari ini aku lagi beruntung, jadi nggak narik lagi. Aku mau kasih tahu kamu beberapa kabar baik."

"Kabar baik apa? Keluar lagi saja sebentar," kata Charista dengan tatapan gelisah dan tetap menghalangi di sana.

Melihat sikap Charista yang aneh, hati Alfan langsung terasa tidak nyaman. Pada saat yang sama, dia mencium bau seorang pria yang asing.

Sejak Teknik Sembilan Niskala menyatu dengan tubuhnya, penglihatan, pendengaran, dan penciumannya menjadi sangat tajam.

"Ada orang di dalam?" Dia langsung menerobos masuk dan bertanya dengan tegas.

"Kamu gila ya! Sejak tahun kedua kuliah aku sudah sama kamu. Kamu nggak tahu aku orang seperti apa? Mana mungkin ada pria lain di rumah!"

Charista langsung menjadi marah.

Kalau dulu, Alfan mungkin akan memercayai kata-katanya. Namun, sekarang dia lebih percaya pada perasaannya sendiri. Dia jelas mencium bau pria lain yang asing. Dia segera berjalan cepat menuju kamar tidur.

Charista buru-buru mengejarnya. "Kamu mau apa sebenarnya? Aku sudah setulus ini sama kamu, tapi kamu malah mencurigaiku?"

Alfan tidak menjawab. Dia langsung membuka satu-satunya lemari di rumah itu. Di bagian bawah lemari, berjongkok seorang pria yang hanya mengenakan celana dalam.

Pria itu bernama Dexton.

Alfan mengenalnya. Dia adalah putra dari wakil direktur Darian.

"Karena sudah ketahuan sama kamu, aku juga nggak usah pura-pura lagi. Aku dan Charista sudah lama bersama. Waktu kamu nggak di rumah, kami sudah berkali-kali datang ke sini dan tidur di rumahmu."

Dexton sama sekali tidak menyembunyikan kesombongannya, juga tidak terlihat sedikit pun rasa bersalah. Dia bahkan tersenyum santai sambil keluar dari dalam lemari.

Hati Alfan diliputi rasa getir.

Apakah ini balasan? Dia baru saja tidur dengan Rhea, lalu langsung mendapati pacarnya berselingkuh dengan pria lain.

Sampai pada titik ini, dia hanya ingin berpisah dengan baik-baik, tetapi di dalam hatinya tetap ada rasa tidak rela. Selama beberapa tahun berpacaran dengan Charista, tindakan paling jauh yang pernah mereka lakukan hanya tidur dalam satu ranjang sambil berpelukan.

Charista bahkan pernah berkata bahwa dia ingin menyimpan momen paling penting dan paling indah untuk malam pertama setelah menikah. Namun dia tidak pernah menyangka, wanita itu ternyata sudah lebih dulu tidur dengan pria ini.

Bahkan, sekarang Charista berpakaian dengan begitu menggoda.

"Alfan, aku memang salah, aku minta maaf. Tapi karena semuanya sudah ketahuan, lebih baik kita menjalani hidup sendiri masing-masing. Aku sudah ikut kamu lima tahun, tapi sampai sekarang masih hanya dokter magang."

"Pak Dexton bilang, beberapa hari lagi dia akan mengurus agar aku langsung diangkat menjadi pegawai tetap." Charista melepas semua kepura-puraannya dan berbicara terus terang.

"Alfan, kamu datang di waktu yang benar-benar nggak tepat. Kalau saja kamu datang sepuluh menit lebih lambat, kami sudah masuk ke suasana yang lebih baik. Sekarang cepat pergi saja. Kami masih mau melanjutkan."

Dexton merangkul pinggang Charista, tangannya bergerak di tubuh wanita itu.

Wajah Charista memerah, tetapi dia tidak menolak. Bahkan terlihat menikmati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 50

    Alfan mengernyit, menerima kartu bank itu, lalu membolak-balikkannya beberapa kali."Kamu kasih aku hadiah? Sepertinya nggak masuk akal, 'kan?"Alfan merasa sangat heran. Hari pertama masuk kerja sudah ada yang memberinya uang? Ini jelas tidak masuk akal."Dua miliar ini kamu terima. Mulai hari ini, jangan lagi mengobati Cindy."Alfan langsung mengerti. Ternyata begitu. Dia mendorong kembali kartu bank itu dengan pelan ke arah wanita itu."Cantik, jangan lupa, aku ini dokter. Tugasku adalah menyembuhkan dan menyelamatkan orang. Aku mengobati Cindy adalah hal yang wajar. Kenapa harus menghalangiku?""Nggak perlu alasan. Kalau kamu berhenti mengobati Cindy, kamu dapat 2 miliar, ayah angkatku dapat 20 miliar. Kita sama-sama untung. Kalau kamu menolak dan tetap bersikeras mengobati Cindy, di kota ini nggak akan ada tempat untukmu. Masalah ini bahkan bisa menyeret keluargamu."Punggung Alfan terasa dingin. Bukan karena dia takut pada ancaman wanita ini, melainkan dia samar-samar merasa bahw

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 49

    Rhea langsung tercengang. Dia agak tidak percaya dengan perkataan Alfan."Yang benar saja? Kamu cuma berdiri sebentar di depan pintu, tapi sudah bisa melihatnya?""Ya, aku melihatnya.""Dia gila ya? Masuk ke kantorku buat pasang kamera?""Tujuannya memang untuk mengincarmu dan aku. Kalau jejak hubungan kita berdua tertangkap olehnya, dia akan merekam video kita bersama. Dia sekongkol dengan suamimu. Kemarin mereka gagal menangkap basah kita. Mereka pasti nggak akan menyerah begitu saja."Mendengar penjelasan Alfan, wajah Rhea berubah karena marah."Orang tua itu benar-benar keterlaluan. Untung kamu menemukannya. Kalau sampai terekam, bukankah bakal jadi masalah besar?"Alfan mengangkat bahu. Wajahnya sedikit menunjukkan kekecewaan. "Ya, kalau di ruangan itu nggak ada kamera, kita bisa bermesraan kapan saja dan di mana saja."Rhea langsung mencubit keras pinggangnya. "Alfan, bisa nggak kamu lebih menahan diri? Gimana sekarang? Apa perlu aku lapor polisi?""Jangan lapor polisi dulu. Bebe

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 48

    Di dalam ruang rawat, Dexton duduk di atas ranjang. Wajahnya suram dan tatapannya penuh kebencian.Ketika mendengar bahwa satu-satunya buah zakar yang tersisa pun tidak bisa diselamatkan, dia hampir putus asa.Charista membawa semangkuk bubur dan mendekat. "Sayang, makan sedikit ya, aku suapi."Dia menyendok sesendok bubur dan menyuapkannya ke mulut Dexton.Dexton tiba-tiba mengangkat tangan dan menepis mangkuk itu dengan keras hingga jatuh ke lantai. Mangkuk porselen putih langsung pecah berkeping-keping dan bubur pun tercecer di mana-mana."Perempuan jalang, kamu pembawa sial! Kalau bukan karena kamu, apa aku akan jadi seperti ini?""Sayang, kamu nggak bisa menyalahkanku. Aku setia padamu. Masa kamu nggak tahu perasaanku padamu?"Mata Charista memerah. Dengan perasaan terhina, dia membungkuk, memunguti pecahan porselen di lantai."Pergi dari sini! Sejauh mungkin! Aku nggak mau melihatmu!"Pintu kamar terbuka. Darian masuk dengan mengenakan topi."Dexton, ngapain kamu mengamuk? Kondis

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 47

    Hati Alfan berbunga-bunga. Dia menggoda, "Belum tentu, aku keras di mana-mana."Setelah berkata begitu, dia berbalik dan mematikan lampu, lalu langsung memeluk Rhea."Bajingan, mau apa sih? Kenapa terburu-buru? Malam ini masih panjang, nggak bisa biarkan aku istirahat dulu?""Kita istirahat bersama."....Satu malam akhirnya berlalu. Dalam sekejap, sudah keesokan harinya. Di luar masih remang-remang, cahaya belum terang.Lampu kamar masih menyala. Alfan berbaring di ranjang dan yang terbaring di sampingnya adalah Rhea.Semalam mereka hampir tidak tidur. Alfan benar-benar merasakan kelembutan Rhea, Rhea juga benar-benar merasakan kejantanan Alfan.Yang paling penting, dalam semalam Alfan menyerap sangat banyak energi negatif. Energi negatif yang dia serap malam ini saja, jika tidak digunakan dalam beberapa hari ke depan, sudah cukup untuk menghilangkan Kutukan Gadis Suci di tubuh Cindy.Melihat Rhea yang terbaring di sampingnya, hati Alfan agak kacau. Dia tidak tahu bagaimana harus meng

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 46

    Melihat pesan yang dikirim oleh Rhea, Alfan agak tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.[ Yang benar saja? Kebahagiaan datang secepat ini? ][ Aku sudah bilang kirim alamat, kamu mau kirim atau nggak? Kuberi waktu satu menit. Kalau kamu kirim, aku akan datang mencarimu. Kalau nggak kirim, aku nggak jadi datang. ]Rhea segera membalas lagi.Alfan tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan wanita ini, tetapi tetap mengirimkan alamat hotel dan nomor kamar kepadanya dengan cepat.Setelah mengirimnya, dia segera masuk ke kamar mandi untuk mandi, bahkan menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya.Dengan balutan handuk putih bersih, dia berbaring di tempat tidur dan menunggu dengan tenang.Waktu berlalu detik demi detik. Dalam sekejap, sudah lebih dari setengah jam. Namun, di luar sama sekali tidak ada pergerakan apa pun.Saat itu, Alfan mulai merasa Rhea hanya sedang mempermainkannya. Wanita ini murni seperti air. Malam itu, mereka bisa melakukan hal seperti itu karena Rhea dikendalikan o

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 45

    Rhea mengetuk dahi Alfan. "Bocah berengsek, kukira orang desa itu semuanya jujur. Ternyata kamu licik sekali. Katakan yang sebenarnya, dengan cara seperti ini, sudah berapa gadis yang kamu tipu?"Alfan tersenyum pahit tanpa berkata apa-apa. Awalnya dia hanya ingin mengarahkan pembicaraan ke Teknik Sembilan Niskala. Namun, dia sama sekali tidak menyangka wanita ini akan salah paham, mengira dia sedang menggunakan cara lain untuk merayunya tidur bersama.Alfan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Bu Rhea yang terhormat, jujur saja, kamu wanita pertamaku. Sebelum bertemu denganmu, aku masih perjaka.""Siapa yang percaya? Kamu pacaran lima tahun dengan Charista dan kamu bilang masih perjaka? Mau nipu siapa?"Alfan mengerutkan kening. "Kamu nikah dua tahun dengan suamimu, bukankah kamu juga tetap perawan?"Rhea tersenyum pahit, lalu menenggak habis anggur di gelasnya."Sudahlah. Malam ini kamu tetap harus pergi. Aku kasih kamu uang. Kamu cari hotel untuk nginap. Jangan tinggal di sini lagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status