Share

Bab 6

Author: Raka Nandaka
Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin melihat Alfan terus seperti ini. Kalau dibiarkan, dia bisa mati atau setidaknya hancur. Bagaimanapun juga, bocah ini adalah pria pertamanya. Dia tidak mungkin membiarkan Alfan celaka begitu saja.

Dia berjalan mendekat dengan cepat, lalu menempel ke telinga Alfan dan berbisik pelan, "Kamu bisa berhenti bikin masalah nggak?"

"Bu Rhea, tolong carikan beberapa jarum perak untuk akupunktur." Alfan seolah tidak mendengar ucapannya, malah memberi perintah.

Diana mendekat. "Bu Rhea, selama masih ada sedikit harapan, kalian harus berusaha. Biarkan Pak Alfan menyembuhkan putriku."

Rhea hanya bisa menggeleng tak berdaya. Sampai di titik ini, dia hanya bisa berdoa dalam hati agar anak ini tidak kehilangan nyawanya karena hal ini.

Wajah Alfan menjadi serius. Tangannya menekan bagian bawah perut Cindy. Di mata semua orang, tindakannya itu seperti cari mati.

Mana mungkin putri Dylan dibiarkan disentuh seperti itu oleh seorang pemuda sembarangan?

Diana berdiri di samping. Hatinya dipenuhi kekhawatiran untuk putrinya. Namun saat melihat adegan itu, wajahnya juga menjadi suram.

Jika anak ini benar-benar bisa menyembuhkan putrinya, dia pasti akan memberikan imbalan besar.

Namun jika tidak berhasil, berarti Alfan punya niat buruk. Dia ingin memanfaatkan situasi untuk menyentuh putrinya dan mengambil keuntungan. Kalau sampai begitu, dia tidak akan membiarkan Alfan hidup tenang.

"Bu Rhea, cepatlah, carikan aku sekotak jarum perak untuk akupunktur."

Rhea juga merasa bingung. Sampai di tahap ini, kalau dia menyuruh Alfan berhenti, situasinya juga sudah sulit diperbaiki.

Semuanya sudah telanjur terjadi di depan semua orang. Dia hanya bisa bertanya kepada para dokter senior di sampingnya, "Ada jarum akupunktur?"

Seorang dokter pria berusia sekitar 40 tahun segera mengeluarkan sekotak jarum perak dari saku dan menyerahkannya. Rhea menerimanya lalu memberikannya kepada Alfan. Tatapannya penuh kekhawatiran.

Namun, Alfan sama sekali tidak peduli.

Di depan ruang gawat darurat, puluhan pasang mata menatap lurus ke arahnya.

Tiba-tiba seolah teringat sesuatu, Alfan meletakkan jarum itu di samping, lalu menarik rok Cindy kembali ke bawah dan menutup perutnya.

Melihat situasi itu, hati Darian langsung berbunga-bunga. Dia salah mengira Alfan sudah menunjukkan sifat aslinya dan berniat menyerah. Dia segera berkata, "Pak Alfan, bukankah kamu tadi bilang waktunya sangat mendesak? Kalau begitu cepatlah mulai mengobati Nona Cindy."

"Caraku mengobati pasien bersifat rahasia, nggak semua orang boleh melihatnya. Bu Diana, Bu Rhea, kalian berdua boleh tinggal. Yang lain silakan keluar."

"Pak Alfan, biarkan kami juga menambah wawasan," kata Darian pura-pura.

"Nggak bisa. Kalian semua keluar. Tubuh Nona Cindy sangat berharga, bukan sesuatu yang bisa dilihat oleh kalian para pria tua."

Darian hanya bisa berkata, "Baiklah, kami tunggu kabar baikmu di luar."

Semua orang pun keluar. Saat Diana hendak menutup pintu, Rhea diam-diam mencubit keras pinggang Alfan dan menatapnya tajam. Karena Diana ada di samping, dia tidak bisa mengatakan apa-apa, jadi hanya bisa memperingatkan Alfan dengan cara itu.

Namun yang tidak disangka Rhea, anak itu malah diam-diam meraba pinggangnya, bahkan terkesan genit.

Rhea sampai menggertakkan gigi karena marah. Kalau bukan karena Diana ada di sana, dia pasti sudah mencekik anak ini.

Setelah pintu ditutup, Diana berbalik dan berjalan mendekati mereka, lalu bertanya dengan tatapan penuh harap, "Pak Alfan, putriku benar-benar masih bisa diselamatkan?"

"Bu Diana tenang saja. Selama aku di sini, putri Bu Diana pasti sudah bisa bangun dalam setengah jam dan bergerak seperti biasa."

"Benarkah? Kalau begitu, apa pun yang kamu minta akan aku berikan."

Mendengar putrinya masih bisa diselamatkan, Diana sangat gembira.

"Kalau begitu, aku baru ingat. Putrimu memang harus aku selamatkan, tapi kamu harus memberiku satu miliar."

Alfan tersenyum sambil mengangkat satu jari.

Rhea hampir menangis. Dalam hati dia berpikir, 'Anak ini benar-benar sudah gila. Kenapa dia bisa nggak masuk akal begini? Pasien saja belum ditangani, tapi sudah bicara soal bayaran.'

Lagi pula, dokter biasanya punya standar biaya yang jelas. Bahkan jika dia benar-benar berhasil menyelamatkan Cindy, jumlah itu juga tidak masuk akal. Bukan karena nyawa Cindy tidak sebanding dengan uang sebesar itu, tetapi karena Alfan bahkan tidak menggunakan alat medis atau obat yang mahal.

Diana mengangguk dengan serius dan berkata, "Pak Alfan, selama kamu bisa menyelamatkan putriku, jangankan satu miliar. Mau 10 atau 100 miliar juga akan kuberikan."

Rhea merasa kepalanya semakin pusing. Apa sebenarnya yang dipikirkan anak ini? Dia tidak bisa menahan diri dan diam-diam menusuk punggung Alfan dua kali. Namun, Alfan bahkan tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia tidak ada.

"Baik, kalau begitu kita sepakat. Lima menit saja, lihat bagaimana aku menyelamatkan putrimu." Sambil membuka kotak jarum perak, Alfan berkata dengan santai.

"Pak Alfan, sebenarnya sakit apa putriku ini?" Melihat putrinya yang terbaring dengan mata terpejam, Diana benar-benar tidak mengerti.

"Hamil."

"Apa?!"

"Apa?!"

Rhea dan Diana berseru bersamaan.

Rhea masih ingat dengan jelas, beberapa menit yang lalu Charista ditampar hanya karena mengatakan hal yang sama.

"Pak Alfan, kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Putriku baru lulus SMA dan baru diterima di universitas. Tahun ini dia baru 19 tahun. Selama liburan ini dia selalu bersamaku dan perutnya baru membesar dalam beberapa hari terakhir. Mana mungkin dia hamil?"

Nada bicara Diana langsung menjadi dingin.

Alfan tetap tersenyum. "Kehamilan yang dia alami bukan kehamilan manusia biasa. Yang dia kandung adalah janin energi."

"Janin energi?"

Rhea benar-benar bingung. Dia belajar kedokteran lima tahun di dalam negeri, lalu melanjutkan S2 dan doktor di luar negeri. Dia belum pernah mendengar istilah seperti itu.

Diana juga tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa itu janin energi?"

"Janin energi sebenarnya adalah janin spiritual. Nggak berbentuk, tapi ada."

Baik Diana maupun Rhea sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Alfan. Keduanya saling berpandangan dengan penuh kebingungan.

"Pak Alfan, kalau begitu cepatlah obati putriku."

"Baik. Tolong angkat rok putrimu, lalu turunkan sedikit pakaian dalamnya."

Pada saat yang sama, para dokter ahli Rumah Sakit Prima yang berada di luar pintu semuanya menempel di dekat pintu dan memasang telinga untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam.

Saat mendengar Alfan langsung meminta satu miliar di awal, wajah Darian memperlihatkan ekspresi meremehkan. "Masih muda begini, memangnya dia punya kemampuan?"

Salah satu bawahan Darian langsung memahami maksud ucapannya dan juga tahu tentang konflik antara Dexton dan Alfan. Dia tersenyum meremehkan. "Dia cuma dokter magang kecil, memangnya dia punya kemampuan apa? Kalau nggak cari masalah sih, dia nggak akan celaka. Kita lihat saja gimana dia mengakhiri kejadian ini nanti."

"Anak itu bahkan mau menurunkan pakaian dalam Nona Cindy. Ini jelas cari mati."

Dokter lain yang sedang menguping di celah pintu, menoleh dan berkata kepada Darian dengan perasaan senang melihat Aflan yang tertimpa kemalangan.

Darian merasa sangat puas dalam hati.

'Alfan, kamu sudah menendang anakku sampai kehilangan satu buah zakarnya. Hari ini aku akan membuatmu menjadi cacat.'

Darian sudah merencanakan semuanya. Setelah Alfan gagal menyelamatkan pasien, dia akan menambah-nambahkan cerita di depan Diana. Lalu, dia akan membiarkan Keluarga Sudarso langsung menghancurkan Alfan atau setidaknya membuatnya cacat supaya Alfan hanya bisa merangkak untuk mengemis di jalanan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 50

    Alfan mengernyit, menerima kartu bank itu, lalu membolak-balikkannya beberapa kali."Kamu kasih aku hadiah? Sepertinya nggak masuk akal, 'kan?"Alfan merasa sangat heran. Hari pertama masuk kerja sudah ada yang memberinya uang? Ini jelas tidak masuk akal."Dua miliar ini kamu terima. Mulai hari ini, jangan lagi mengobati Cindy."Alfan langsung mengerti. Ternyata begitu. Dia mendorong kembali kartu bank itu dengan pelan ke arah wanita itu."Cantik, jangan lupa, aku ini dokter. Tugasku adalah menyembuhkan dan menyelamatkan orang. Aku mengobati Cindy adalah hal yang wajar. Kenapa harus menghalangiku?""Nggak perlu alasan. Kalau kamu berhenti mengobati Cindy, kamu dapat 2 miliar, ayah angkatku dapat 20 miliar. Kita sama-sama untung. Kalau kamu menolak dan tetap bersikeras mengobati Cindy, di kota ini nggak akan ada tempat untukmu. Masalah ini bahkan bisa menyeret keluargamu."Punggung Alfan terasa dingin. Bukan karena dia takut pada ancaman wanita ini, melainkan dia samar-samar merasa bahw

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 49

    Rhea langsung tercengang. Dia agak tidak percaya dengan perkataan Alfan."Yang benar saja? Kamu cuma berdiri sebentar di depan pintu, tapi sudah bisa melihatnya?""Ya, aku melihatnya.""Dia gila ya? Masuk ke kantorku buat pasang kamera?""Tujuannya memang untuk mengincarmu dan aku. Kalau jejak hubungan kita berdua tertangkap olehnya, dia akan merekam video kita bersama. Dia sekongkol dengan suamimu. Kemarin mereka gagal menangkap basah kita. Mereka pasti nggak akan menyerah begitu saja."Mendengar penjelasan Alfan, wajah Rhea berubah karena marah."Orang tua itu benar-benar keterlaluan. Untung kamu menemukannya. Kalau sampai terekam, bukankah bakal jadi masalah besar?"Alfan mengangkat bahu. Wajahnya sedikit menunjukkan kekecewaan. "Ya, kalau di ruangan itu nggak ada kamera, kita bisa bermesraan kapan saja dan di mana saja."Rhea langsung mencubit keras pinggangnya. "Alfan, bisa nggak kamu lebih menahan diri? Gimana sekarang? Apa perlu aku lapor polisi?""Jangan lapor polisi dulu. Bebe

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 48

    Di dalam ruang rawat, Dexton duduk di atas ranjang. Wajahnya suram dan tatapannya penuh kebencian.Ketika mendengar bahwa satu-satunya buah zakar yang tersisa pun tidak bisa diselamatkan, dia hampir putus asa.Charista membawa semangkuk bubur dan mendekat. "Sayang, makan sedikit ya, aku suapi."Dia menyendok sesendok bubur dan menyuapkannya ke mulut Dexton.Dexton tiba-tiba mengangkat tangan dan menepis mangkuk itu dengan keras hingga jatuh ke lantai. Mangkuk porselen putih langsung pecah berkeping-keping dan bubur pun tercecer di mana-mana."Perempuan jalang, kamu pembawa sial! Kalau bukan karena kamu, apa aku akan jadi seperti ini?""Sayang, kamu nggak bisa menyalahkanku. Aku setia padamu. Masa kamu nggak tahu perasaanku padamu?"Mata Charista memerah. Dengan perasaan terhina, dia membungkuk, memunguti pecahan porselen di lantai."Pergi dari sini! Sejauh mungkin! Aku nggak mau melihatmu!"Pintu kamar terbuka. Darian masuk dengan mengenakan topi."Dexton, ngapain kamu mengamuk? Kondis

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 47

    Hati Alfan berbunga-bunga. Dia menggoda, "Belum tentu, aku keras di mana-mana."Setelah berkata begitu, dia berbalik dan mematikan lampu, lalu langsung memeluk Rhea."Bajingan, mau apa sih? Kenapa terburu-buru? Malam ini masih panjang, nggak bisa biarkan aku istirahat dulu?""Kita istirahat bersama."....Satu malam akhirnya berlalu. Dalam sekejap, sudah keesokan harinya. Di luar masih remang-remang, cahaya belum terang.Lampu kamar masih menyala. Alfan berbaring di ranjang dan yang terbaring di sampingnya adalah Rhea.Semalam mereka hampir tidak tidur. Alfan benar-benar merasakan kelembutan Rhea, Rhea juga benar-benar merasakan kejantanan Alfan.Yang paling penting, dalam semalam Alfan menyerap sangat banyak energi negatif. Energi negatif yang dia serap malam ini saja, jika tidak digunakan dalam beberapa hari ke depan, sudah cukup untuk menghilangkan Kutukan Gadis Suci di tubuh Cindy.Melihat Rhea yang terbaring di sampingnya, hati Alfan agak kacau. Dia tidak tahu bagaimana harus meng

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 46

    Melihat pesan yang dikirim oleh Rhea, Alfan agak tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.[ Yang benar saja? Kebahagiaan datang secepat ini? ][ Aku sudah bilang kirim alamat, kamu mau kirim atau nggak? Kuberi waktu satu menit. Kalau kamu kirim, aku akan datang mencarimu. Kalau nggak kirim, aku nggak jadi datang. ]Rhea segera membalas lagi.Alfan tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan wanita ini, tetapi tetap mengirimkan alamat hotel dan nomor kamar kepadanya dengan cepat.Setelah mengirimnya, dia segera masuk ke kamar mandi untuk mandi, bahkan menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya.Dengan balutan handuk putih bersih, dia berbaring di tempat tidur dan menunggu dengan tenang.Waktu berlalu detik demi detik. Dalam sekejap, sudah lebih dari setengah jam. Namun, di luar sama sekali tidak ada pergerakan apa pun.Saat itu, Alfan mulai merasa Rhea hanya sedang mempermainkannya. Wanita ini murni seperti air. Malam itu, mereka bisa melakukan hal seperti itu karena Rhea dikendalikan o

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 45

    Rhea mengetuk dahi Alfan. "Bocah berengsek, kukira orang desa itu semuanya jujur. Ternyata kamu licik sekali. Katakan yang sebenarnya, dengan cara seperti ini, sudah berapa gadis yang kamu tipu?"Alfan tersenyum pahit tanpa berkata apa-apa. Awalnya dia hanya ingin mengarahkan pembicaraan ke Teknik Sembilan Niskala. Namun, dia sama sekali tidak menyangka wanita ini akan salah paham, mengira dia sedang menggunakan cara lain untuk merayunya tidur bersama.Alfan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Bu Rhea yang terhormat, jujur saja, kamu wanita pertamaku. Sebelum bertemu denganmu, aku masih perjaka.""Siapa yang percaya? Kamu pacaran lima tahun dengan Charista dan kamu bilang masih perjaka? Mau nipu siapa?"Alfan mengerutkan kening. "Kamu nikah dua tahun dengan suamimu, bukankah kamu juga tetap perawan?"Rhea tersenyum pahit, lalu menenggak habis anggur di gelasnya."Sudahlah. Malam ini kamu tetap harus pergi. Aku kasih kamu uang. Kamu cari hotel untuk nginap. Jangan tinggal di sini lagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status